Sekretaris Canduku

Sekretaris Canduku
Dinner


__ADS_3

□□□


Bara berlari mengejar Sela hingga ke parkiran.


"Sela tunggu," kata Bara berlari untuk bisa menghampiri Sela.


Sela masuk ke dalam mobil Rendy dengan cepat Bara berlari untuk menghentikan Sela.


Bara membuka pintu mobil Rendy lalu menatap Sela.


"Ayo pulang sama aku," ajak Bara padq Sela.


"Enggak saya sama Rendy aja pulangnya," kata Sela menolak sambil memberi isyarat pada Rendy agar cepat pergi.


Bara tidak punya pilihan lain, dengan terpaksa Bara membopong Sela keluar dari mobil Rendy.


"Ren lo balik aja gih besok gue aja yang hadiri acaranya," suruh Bara pada Rendy lalu pergi menuju mobilnya dengan Sela yang terus memberontak.


"Heleh bilang aja lo mau berduaan kan sama Sela? Dari jaman dulu lo itu paling benci sama yang namanya seminar," gumam Rendy sambil menatap mobil Bara yang sudah meninggalkan parkir.


"Oh ya mending gue pulang aja, pasti si Reno kangen sama gue," kata Rendy langsung melajukan mobilnya untuk kembali ke hotel dan berkemas.


Mumpung si Bara lagi di luar negeri, Rendy mau jalan- jalan sama Reno buat ngabisin uangnya Bara.


Bara melajukan mobilnya dengan sangat cepat menuju hotel.


Padahal jarak antara hotel dengan gedung Clay tidaklah begitu jauh.


Kenapa harus buru- buru coba.


Sedangkan Sela sejak tadi hanya diam tak berbicara sedikitpun dan hanya menatap keluar.


Cittttt


Mobil Bara terhenti, buru- buru Bara turun untuk membukakan pintu Sela.


Tapi terburu Sela sudah turun sendiri dan masuk ke dalam hotel lebih dulu.


Bara hanya bisa mengikuti Sela dari belakang.


Tapi saat Sela hendak masuk ke dalam kamar hotelnya, buru- buru Bara membopongnya layaknya sekarung beras menuju kamar hotelnya.


"Tuan lepasin saya mau istirahat," kata Sela sambil memukuli punggung Bara.


Bara tidak menggubris ucapan Sela, Bara masuk ke dalam kamar lalu mendudukkan Sela pelan di king sizenya.


Sela hendak keluar untuk kembali ke kamarnya namun Bara dengan cepat menarik tangannya hingga Sela menabrak dada bidangnya.


Bara memeluk Sela erat dan berkali- kali menciumi puncak kepala Sela.


"Seharusnya kita berdua tidak bertemu agar semua tidak akan seperti ini," Bara menggeleng kuat menolak ucapan Sela.


"Tidak, aku tidak pernah menyesali pertemuan ini," kata Bara dengan memeluk erat Sela.


"Andai cinta ini tidak segitiga, mungkin tidak akan ada pihak yang tersakiti," Bara melepaskan pelukannya memegang kedua bahu Sela dan menatapnya lekat.


"Sampai kapan kamu terus memikirkan perasaan orang lain, belum tentu Gabriela memikirkan perasaanmu," kata Bara mencoba menyadarkan Sela untuk lebih memikirkan perasaannya.


"Tapi bertahun- tahun kita berteman hingga menjadi saudara dekat, tapi hanya karena cinta dia berubah seketika," Sela menunduk lemas dengan air mata yang terus turun membasahi pipinya.


Bara mengangkat dagu Sela agar menatap wajahnya.


"Dalam persahabatan tidak sepatutnya kamu begitu dekat dengannya, karena merekalah musuh terbesarmu, di mana mereka juga bisa mengangkatmu lebih tinggi juga bisa menghancurkan dirimu,"


"Kedekatan itu yang menimbulkan dia tahu segala kehidupanmu dan dari situ mulai muncul sifat iri atau benci karena dia tahu segala hal tentang yang kita punya," jelas Bara membuat Sela terdiam.


Memang ada benarnya ucapan Bara, selama Sela berteman dengan Gabriela.


Terkadang dia juga selalu iri atau marah saat Sela mempunyai sesuatu yang tidak dia punya.


Sela langsung memeluk Bara dan menyembunyikan tangisnya di dada bidangnya.


Bara tersenyum melihat sikap Sela yang dewasa, tidak terlalu gegabah untuk marah.


Bara merasakan kemejanya basah dan tidak ada pergerakan lagi dari Sela.


Bara langsung membopong Sela ke king sizenya dan membaringkan Sela dengan pelan.


Bara duduk di tepi king size sambil menatap mata sembab dan merah Sela.


Karena terus menangis dia menjadi mengantuk.


Bara menggenggam tangan Sela lalu berkali- kali menciuminya.


Kemudian beralih untuk mencium keningnya lalu kedua matanya yang sembab.


Hingga Bara berhenti tepat di depan bibirnya Sela menahan senyumnya.


"Kalau ini besok aja," gumam Bara sambil memandangi bibir ranum Sela.


Bara meraih ponselnya lalu mendial nomor Dea.


"Halo tuan,"


"Dea, gaun yang saya minta apa sudah selesai?"


"Sudah tuan,"


"Ok, kamu berikan pada pak Asep untuk mengantarnya ke Washington dengan pesawat pribadi saya,"


"Nanti alamatnya saya kirimkan,"


"Baik tuan," Bara mematikan sambungan teleponnya lalu duduk di sofa.


Bara memilih beberapa tempat yang cocok untuk dinner bersama Sela.


Setelah menemukannya, Bara memesan untuk mendekornya sebagus mungkin.


Setelah selesai kini Bara beralih untuk memilih cincin untuk Sela.


Ok, semua sudah siap tinggal menunggu besok malam.



"Ok nona cantik sebentar lagi kau akan menjadi wanitaku," gumam lirih Bara sambil memandangi wajah cantik Sela yang tertidur.


Bara melepas jasnya berniat untuk mandi, sebelum itu Bara mengatur suhu penghangat pada ruangan karena Sela tidur masih memakai gaun.


.

__ADS_1


.


.


.


.


Sela membuka matanya, kepalanya sedikit pusing.


Sela melihat sekitar, tidak ada satupun dan gorden masih ditutup rapat.


Ini Sela terlalu pagi bangunnya atau memang dia tidur hingga malam lagi.


Sela melihat ponselnya, pukul 5 sore.


Sela melotot tidak percaya, kenapa tidak ada yang membangunkannya.


Sela melihat sticky notes tertempel di lampu atas nakas.


Sela mengambilnya lalu membaca tulisan tangan Bara.


*Nanti malam pakailah gaun yang telah disiapkan. Bodyguard akan menjemputmu.


^^^-Calon suami*-^^^


Sela menganga tidak percaya, sama apa yang baru saja dia baca.


"Astaga, apa dia selalu berhalu seperti itu?" tanya Sela pada dirinya sendiri.


Sela berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan bersiap.


Setelah selesai Sela berjalan menuju sofa untuk melihat gaun yang telah Bara siapkan.


Sela terpukau dengan gaun yang terlihat sangat elegan dan mewah.


Sela langsung pergi menuju walk in closet untuk memakai gaunnya.


Beberapa menit Sela sudah selesai dengan semua persiapannya.


Kringgg


Bel berbunyi, Sela buru- buru membukanya.


"Nona, apa anda sudah siap?" tanya bodyguard itu dengan sopan.


Sela hanya mengangguk lalu kembali ke dalam untuk mengambil ponsel juga tasnya.


Sela kira hanya satu bodyguard yang akan mengantarnya.


Tapi siapa sangka saat keluar dari hotel Sela melihat 5 mobil bodyguard terparkir rapi di depan lobi.


Ya tuhan, kenapa harus sebanyak ini.


Para bodyguard mulai melajukan mobilnya menuju tempat yang Bara perintahkan.


Sela hanya diam sambil mengamati pemandangan jalan di malam hari.


Ternyata Amerika juga sangat indah saat malam hari, batin Sela.


Andai saja ibunya sudah sadar Sela ingin mengajak ibunya untuk berkeliling dunia.


Cittt


"Nona kita sudah sampai," kata bodyguard membuat Sela tersadar dari lamunanya.


Sela melihat kanan kiri kenapa sepi, apa jangan- jangan Bara membohonginya.


"Mari nona akan saya antar," kata bodyguard sambil membukakan pintu untuk Sela.


Sela turun dari mobil melihat sekeliling.


"Nona mari saya antar," kata bodyguard itu mengantar Sela.


Hingga tiba di tempat yang sedikit remang- remang Sela ditinggal sendiri oleh bodyguard tadi.


Tidak berapa lama lampu menyala satu persatu hingga terlihat dekorasi yang sangat indah.



Perlahan Sela berjalan menuju meja makan.


Sela mengernyit saat menemukan kertas yang bertuliskan


Ikuti lilin yang menyala


Sela melihat ke samping memang ada lilin yang berjejer kanan kiri di atas pasir putih menyusuri jalan.


Sela langsung berjalan menyusuri lilin untuk membawanya ke tempat tujuan.


Hingga telah tiba di tempatnya, Sela terpukau dengan apa yang berada di depannya.



Bara keluar dari balik pohon dengan senyum manis andalannya.


Dirinya sempat terpana akan kecantikan Sela malam ini.


Ya tuhan, Dea kenapa kau membuat gaun yang enggak ada akhlak.



Bara berjalan perlahan menghampiri Sela dengan bibir yang terus tersenyum.


"Kukira kamu tidak akan datang," kata Bara berdiri tepat di depan Sela.


"Tuan, kenapa anda meminta saya datang kesini?" tanya Sela sambil melihat sekeliling penuh dengan lilin yang menyala.


Sangat indah.


Bara bersimpuh di depan Sela sambil membuka kotak cincin di depan Sela.



"Malam ini saya ingin mengatakan sesuatu padamu. Sebelum kamu pergi ke Hardvard untuk menggapai cita- citamu,"


"Saya ingin memperjelas hubungan kita berdua. Karena itu, maukah kamu menikah dengan saya? Menjadi perempuan satu- satunya?" tanya Bara membuat Sela berkaca- kaca menatap Bara bersimpuh di depannya.


Sela dulu sangat ingin sekali dilamar seperti ini.

__ADS_1


Layaknya di layar tv, tapi malam ini keinginan itu telah diwujudkan oleh Bara.


Sela menatap lekat Bara, serasa ini seperti mimpi.


"Tuan anda tidak sedang bercanda kan?" tanya Sela membuat Bara tertawa mendengar pertanyaan Sela.


"Enggak Sela sayang," kata Bara membuat Sela merona merah, untungnya di sini lumayan remang- remang cahayanya.


"Bagaimana, will you marry me?" tanya Bara sekali lagi untuk menyakinkan Sela jika ini memang nyata.


Tes


Air mata Sela turun begitu saja bersamaan dengan anggukan Sela.


Bara tersenyum bahagia, lalu Bara berdiri untuk memasangkan cincin itu di jari manis Sela.


"Tuan bukankah ini cincin termahal?" tanya Sela sambil memandangi cincin berlian yang kini sudah terpasang tepat di jari manisnya.


"Ini tidak sebanding dengan cintamu yang begitu mahal padaku," goda Bara sambil menatap lekat Sela yang malam ini tampak begitu cantik.


"Kamu malam ini sangat cantik," puji Bara sambil mengelus lembut pipi Sela lalu mencium kening Sela dengan sangat lembut dan sayang.


Mereka saling menatap satu sama lain dalam diam. Bara meraih tengkuk Sela dengan mata tertutup.


Sedangkan Sela merasa begitu gugup, karena kali pertamanya bagi Sela.


"Tuan jangan di sini, malu," gumam lirih Sela sambil menahan dada bidang Bara.


Bara membuka matanya perlahan dan menghembuskan napasnya kasar.


Terlihat sekali jika Bara sangat kesal pada Sela.


"Ayo kita makan dulu, saya sangat lapar," kata Sela salah tingkah dan langsung pergi menuju meja makan meninggalkan Bara sendiri.


"Ya tuhan terus apa gunanya gue nyewa tempat ini buat kita berdua," keluh Bara sambil menatap Sela sendu.


"Susahnya dapetin cewek mahal kayak dia," gumam Bara sambil berjalan menghampiri Sela yang sudah duduk di tempat yang Bara siapkan.



Bara melepaskan jasnya untuk menutupi tubuh Sela agar tidak dingin.


Setelah itu, Bara ikut duduk di samping Sela.


"Hari ini adalah hari yang paling bersejarah dalam hidup saya," kata Bara sambil memandangi langit.


"Bagaimana denganmu?" tanya Bara ingin tahu perasaan Sela.


Sela menatap ke samping, beberapa detik Sela menatap lekat mata Bara dan tersenyum hingga membuat Bara salah tingkah.


"Dulu saya selalu berandai bisa dilamar dengan cara manis seperti ini, layaknya drama di layar tv,"


"Tapi siapa yang tahu jika malam ini tuan telah mewujudkannya. Bahkan saya masih tidak percaya jika anda melamar saya," Bara tertawa renyah mendengar pernyataan Sela.


"Saya pikir anda akan ngeprank saya lalu menertawakan saya," kata Sela membuat Bara tertawa lepas.


"Ya tuhan kenapa kamu bisa berpikir seperti itu. Saya enggak pernah main- main sama perempuan, apalagi sama kamu," kata Bara membuat Sela tersenyum indah.


"Bukan begitu, jika mengingat standar kita beda....,"


"Sssttt, mama aja bilang jika dia tidak pernah berkeinginan punya menantu yang sebanding sama putranya, tapi mama hanya berkeinginan anaknya bisa menemukan cinta sejatinya," kata Bara sambil menempelkan jari telunjuknya pada bibir Sela.


"Sejak kapan anda menyukai saya?" tanya Sela sambil meneliti mata Bara.


"Bukankah saya sudah bilang, sejak awal kita bertemu saya sudah jatuh hati sama kamu," ungkap Bara akan perasaannya.


"Lantas kenapa anda baru bilang sekarang? Dan menunggu lama," Bara tersenyum manis sambil membelai pipi manis Sela.


"Karena saya ingin hati kamu hanya untuk saya bukan yang lain," kata Bara pelan.


Sela merasakan jika cinta Bara memang sangat tulus.


Begitupun dengan Bara yang merasakan indahnya jatuh cinta dengan Sela.


Bara meraih tengkuk Sela dan mencium bibir ranum dan manis Sela.


Sela hanya memejamkan matanya tanpa berniat untuk membuka bibirnya agar memberi akses pada Bara.


Bara membuka matanya dan menatap wajah Sela.


Jarak mereka bahkan sangat dekat dan saling merasakan hembusan napasnya.


Sela menatap lekat kedua mata Bara. Lalu Sela mengalungkan kedua tangannya pada leher Bara.


Bara kembali mencium bibir ranum Sela dengan sangat lembut dan pelan tanpa menuntut.


Keduanya saling menikmati diiringi angin malam dari pantai.


Bara turun menyusuri jenjang leher Sela dengan cepat Sela menahan dada bidang Bara.


"Besok masih kuliah jangan bikin ulah dehh," kesal Sela membuat Bara terkekeh.


Bara kembali mencium bibir Sela sekilas lalu tidur di pangkuan Sela.


Bara memeluk erat tangan Sela dan berkali- kali menciuminya.


Sela tersenyum melihat perlakuan Bara padanya.


Sela membelai rambut Bara pelan dan sayang membuat Bara merasa jika perutnya kini sedang bertebaran banyak kupu- kupu.


Angin sepoi dan juga belaian Sela di kepalanya membuat Bara mulai tertidur.


Sela memandang langit malam dan juga menikmati suara air pantai yang begitu tenang.


Sela melihat Bara sudah tertidur pulas sambil memeluk erat tangannya.


Sela tersenyum samar jika mengingat perlakuan Bara padanya beberapa menit yang lalu.


"Tuan lihatlah ada bintang jatuh," beberapa detik Sela baru sadar jika Bara sudah tertidur.


Sela memejamkan matanya memulai untuk membuat permohonan.


"Semoga kelak kaulah yang akan menjadi pengganti ayahku," gumam Sela lirih lalu dengan sangat hati- hati Sela mencium pipi Bara dengan lembut.


Sela tersenyum samar lalu kembali membelai rambut Bara.


Percayalah saat kau dipertemukan dengan laki- laki yang tepat


Kau akan diperlakukan layaknya ratu.

__ADS_1


▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎


__ADS_2