
○○○
Gabriela menatap kertas di depannya sudah hampir 30 menit.
Antara ingin sekali menuruti keinginannya atau mempertahankan apa yang dia punya.
Gabriela menatap sang ayah yang masih terbaring di atas spring bed usang.
Kehidupan Gabriela hanya begini- begini saja, beda sama Sela yang seperti kejatuhan banyak keberuntungan.
Andai dirinya bisa seberuntung Sela, apakah semua kehidupannya akan berubah.
Jika dipikir- pikir, mereka tidak punya hubungan yang spesial.
Lalu kenapa bisa Aldebaran begitu memperhatikan Sela.
Kuliah? Sela bahkan untuk makan saja harus kerja pontang- panting sana- sini.
Terlebih lagi, ibunya juga sakit- sakitan sama seperti nasib dirinya, tidak beda jauh.
Namun, dewi fortuna lebih berpihak pada Sela untuk saat ini.
Keinginan Gabriela sudah bulat dan dirinya juga sangat nekat.
Semua resiko Gabriela siap menanggungnya asal dia bisa memenuhi keinginannya.
Gabriela langsung bergegas bersiap dan pergi meninggalkan ayahnya yang masih pulas tertidur.
Gabriela menaiki motor vespanya, menyusuri jalan raya menuju tempat di mana dia bisa mendapatkan uang banyak.
Bisa memenuhi semua keinginannya dan mencoba merasakan keberuntungan seperti Sela.
Ok Sela, besok kita akan ketemu.
---☆☆☆---
Reynald sedang menunggu kedatangan Walles.
Hari ini perusahannya juga akan mengawali persiapan untuk proyek AS.
"Maaf aku terlambat," kata Walles langsung masuk ke dalam ruangan Reynald.
"Bagaimana dengan persiapan yang kamu lakukan, apa sudah selesai?" tanya Reynald to the point sama Walles.
"Semua sudah siap dan kini tinggal mengumpulkan desainer- desaier kecil untuk membantu melancarkan semua aksi kita,"kata Walles melaporkan semua persiapan yang telah dia siapkan sejak kemarin.
"Bagus, sekarang gue akan cari model yang cocok untuk busana kita nanti," kata Reynald sambil menatap Walles serius.
"Apa kau sudah mendengar tentang perusahaan ATF?" tanya Walles pada Reynald.
"Kenapa?" tanya balik Reynald.
"Mereka akan mengeluarkan tiga busana," perkataan Walles membuat Reynald sontak berdiri dan tersenyum miring.
"Bagaimana jika kita juga mengeluarkan tiga busana?" ide gila Reynald membuat Walles tertawa pelan.
"Apa kau gila, karyawan dan penjahit kita tidak seunggul perusahaan Bara dan kamu ingin mengikuti taktik mereka?" kata Walles semakin menyulut emosi Reynald.
"Kenapa, kita bisa merekrut semua desainer Kanada untuk cepat menyelesaikannya," kata Reynald menganggap semua akan mudah.
"Tidak segampang itu Rey," kata Walles berdiri sambil berkacak pinggang.
"Untuk merekrut semua desainer Kanada akan menimbulkan skandal baru bagi perusahaanmu dan berdampak buruk pada proyek AS," kasih tahu Walles pada Reynald.
"Selama kita bisa menutup mulut para media, semua aman," kata Reynald tetap keras kepala.
"Apa kau yakin dengan pilihanmu?" tanya Walles sekali lagi pada Reynald.
"Ya, sekarang perintahkan pada sekretarismu untuk merekrut semua desainer perusahan- perusahaan kecil," perintah Reynald pada Walles.
"Baiklah jika kamu bersikeras," kata Walles pasrah.
"Apa kau yakin dengan resikonya?" tanya Walles sekali lagi membuat Reynald geram pada Walles.
"Berapa kali kau tanya, jawabannya akan tetap sama," kata Reynald penuh penekanan lalu keluar dari ruangannya meninggalkan Walles sendiri.
"Halo," sapa Walles pada orang di seberang telepon.
"Lakukan yang kemarin saya perintahkan," perintahnya pada seseorang di seberang sana.
Walles menutup teleponnya, lalu keluar untuk memeriksa persiapan proyek.
♡♡♡
Pukul 3 sore, Bara masih di kantor menyelesaikan proposal yang minggu depan akan dia bawa ke AS.
Kring kring kring.
Bara berhenti menatap laptop lalu meraih ponselnya yang berbunyi.
"Halo ma," jawab Bara yang ternyata mamanya yang menelpon.
"Sayang, kamu sudah pulang atau masih di kantor?" tanya Rose.
"Di kantor, kenapa?" tanya Bara sambil melirik jam kecil di meja kerjanya.
"Sayang nanti malam kamu tolong dateng ya wakilin papa sama mama di pesta putrinya tuan James," kata Rose meminta pada Bara.
Bara menghembuskan napasnya pelan, lalu menyandarkan punggungnya di kursi.
"Kamu ajak Laura atau Sela juga boleh," kata mamanya membuat Bara sontak langsung sumringah.
"Beneran ma?" tanya Bara terkejut.
"Iya sayang, jadi gimana kamu mau kan nanti pergi wakilin papa sama mama?" tanya Rose sekali lagi.
"Ya nanti Bara dateng," jawab Bara dengan senyum yang tak pudar di bibirnya.
"Yaudah mama mau ketemu sama klien dulu, bye sayang," tutup Rose tanpa menunggu balasan dari Bara.
Bara langsung mencari nomor seseorang, dia membutuhkannya.
"Halo Ren," sapa Bara cepat ketika telponnya tersambung.
"Apa?" jawab Rendy di seberang telepon.
"Nanti malem ada pesta putrinya tuan James, lo masih inget kan?" tanya Bara pada Rendy.
"Ohh si Anna Taylor James?" kata Rendy mengingat nama putri tuan James.
"Ya, nanti malem mama suruh gue wakilin buat dateng ke pestanya, tolong lo bawa Sela ke salon terus lo pilihin baju di mal gue yang limited edition, tapi jangan yang baju haram, gue ajar lo sampai ngajarin yang enggak bener," ancam Bara membuat Rendy di seberang tertawa keras.
"Siap bos, laksanakan," kata Rendy lantang membuat Bara menjauhkan ponselnya dari telinganya.
"Oh iya, lo bawa bodyguard 10 aja, jaga dia nanti gue jemput jam 7," kata Bara sebelum mematikan sambungan teleponnya.
Bara kembali menatap jam kecil di mejanya, masih pukul 4, dia harus segera menyelesaikan proposal ini.
"Gue salah enggak ya, nyerahin Sela ke Rendy? Gue takut kalau Sela tersesat sama ajarannya si setan," gumam Bara bimbang ketika dia meminta Rendy untuk menjaga Sela.
.
.
.
__ADS_1
.
RUMAH BARA
Sela sedang mengerjakan tugas kuliahnya karena sudah 2 hari ini Bara tidak mengizinkannya untuk kuliah.
"Sela," panggil Rendy membuat Sela sangat terkejut.
"Ya tuhan Ren, lo ngagetin aja," dumel Sela kesal pada Rendy.
"Buruan siap- siap, tuan Bara nyuruh gue buat ngajak lo," kata Rendy membuat Sela mengernyit bingung.
"Kemana?" tanya Sela.
"Nikah. Udah deh ayo buruan siap- siap, gue tunggu di depan," kata Rendy mendorong Sela agar cepat bersiap.
"Kalau aja Bara di sini denger gue gombalin Sela, bisa- bisa dipenggal kepala gue," kata Rendy membayangkan hal yang mengerikan.
15 menit Sela datang dan menghampiri Rendy yang bersandar di mobil sedang menunggunya.
"Udah ayo," ajak Sela pada Rendy.
Rendy menatap sekilas penampilan Sela yang terlihat sangat simpel tapi aura dan pesonanya luar biasa.
Rendy mengangguk lalu memutari mobil menuju kemudi.
Di belakangnya sudah ada 2 mobil bodygaurd yang mengikuti.
"Kita emang mau kemana?" tanya Sela penasaran karena sejak tadi Rendy tidak juga memberitahunya.
"Tenang aja lo aman kok sama gue," kata Rendy membuat Sela berhenti bertanya.
Sekitar 25 menit mereka telah sampai di salon yang sangat terkenal.
Beauty Claravornia.
"Kita ngapain ke salon?" tanya Sela membuat Rendy yang tadinya hendak turun berhenti dan menatap Sela.
"Bantu ibu- ibu lahiran," kesal Rendy sama Sela yang polos kelewatan ini.
"Emang ada?" gumam Sela pada dirinya sendiri yang mempercayai ucapan Rendy.
Rendy masuk terlebih dahulu untuk memesan tempat, karena salon ini beda sama salon pada umumnya.
Salon Beauty Claravornia salah satu salon yang terkenal karena selain semua aspek dijamin no.1, salon ini yang sering dikunjungi oleh artis papan atas.
"Ayo," ajak Rendy ketika sudah mendapatkan nomor antrian.
"Selamat datang tuan," sapa para pegawai salon dengan sangat ramah dan sopan.
"Tolong dandanin dia yang cantik kalau perlu sihir dia jadi ratu," kata Rendy sambil mengedipkan sebelah matanya menggoda para pegawai itu.
"Baik tuan," jawab pegawai itu lalu langsung mengajak Sela untuk melakukan perawatan.
Rendy duduk di sofa sambil menunggu Sela di make up.
Rendy merogoh ponselnya di saku celana untuk menghubungi bodyguard yang dia suruh ke mal untuk mengambil gaun pesta buat Sela.
"Halo," kata Rendy pada bodyguard di seberang telepon.
"Bagaimana apa kamu sudah sampai?" tanyanya pada bodyguard yang dia suruh.
"Sudah tuan," jawabnya.
"Tolong kamu pilihkan gaun yang limited edition, suruh pegawai aja yang pilihin, bilang kalau gaun buat pesta, tuan Bara yang memintanya," kata Rendy pada bodyguard yang kini sedang berada di mal.
"Baik tuan," katanya lalu Rendy mematikan ponselnya dan kembali menunggu Sela yang masih di make up.
"Ok semua sudah beres tinggal nunggu pangeran berkuda putih datang bukan lebih tepatnya pangeran gila kerja," gumam Rendy sambil menatap Sela yang sibuk dirias.
Bukan lebih tepatnya gaun haram yang dipilihkan oleh Rendy.
"Ren sebenarnya kita mau kemana sih, ngapain harus pakai gaun segala," kesal Sela yang emang enggak suka berpenampilan belibet gitu.
"Udah nanti juga tahu," kata Rendy lalu kembali mengecek jam tangannya.
Sudah pukul 19.05 kemana perginya Bara, jarak kantornya sama salon ini tidak lumayan jauh.
Apa kantornya sekarang pindah ke bundaran HI.
"Ren," panggil Bara yang setengah berlari menghampiri Rendy.
"Mana Sela?" tanya Bara pada Rendy.
"Noh," kata Rendy sambil menatap Sela yang sedang duduk di sofa dengan penampilan yang sudah siap.
"Astaga gaun itu lagi," kata Bara sambil mengusap kasar wajahnya.
"Gimana kerja gue, ok kan? Cantik enggak Sela?" tanya Rendy membuat Bara menatapnya tajam.
"Bukankah sudah kubilang jangan memberikannya gaun seperti itu," marah Bara pada Rendy.
"Udah enggak usah banyak ceramah, sekarang giliran lo yang ganti, nih bajunya udah gue siapin," kata Rendy sambil memberikan setelan jas hitam keluaran terbaru pada Bara.
"Lo enggak mau bantuin gue makai baju?" tanya Bara menggoda Rendy.
"Gue curiga kalau lo suka sama gue," ucapan Rendy spontan membuat Bara langsung pergi dan berlagak sok muntah mendengar ucapannya.
Rendy kembali menatap dirinya di cermin, sangat tampan dan penuh karisma.
Bara sudah keluar dengan setelan jas yang Rendy pilihkan tadi.
Sangat tampan.
"Ren gimana penampilan gue?" tanya Bara sambil bercermin di belakang Rendy.
Rendy menatap dari pantulan cermin sambil sibuk merapikan jasnya.
"Gitu- gitu aja," jawab Rendy membuat Bara memukul punggung Rendy dengan keras.
"Bar lo lihat yang aneh enggak sih sama gue," tanya Rendy membuat Bara menatap curiga kearah Rendy.
"Kenapa?" tanya Bara sambil menatap Rendy dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Dan dengan songongnya si dia menjawab tanpa punya dosa.
"Gue selalu terlihat sangat tampan," jawaban Rendy seakan membuat mual perut Bara.
Bara pergi begitu, menghampiri Sela yang sejak tadi menunggunya.
Mata mereka saling bertemu, beberapa detik keduanya seakan sama- sama terkesima dengan penampilan mereka berdua.
"Ekhmm maaf di tempat umum dilarang uwuw karena yang jomblo cuma bisa halu," ucapan Rendy membuat para pegawai salon tertawa pelan.
Keduanya tersadar lalu bertingkah sedikit canggung.
"Sudah selesai?" tanya Bara pada Sela, Sela hanya mengangguk dan berdiri.
Beberapa orang di salon merasa jika Sela sangatlah beruntung bisa di samping Bara.
__ADS_1
Lihatlah mereka berdua begitu serasi dan sangat romantis.
"Ya gini nasib si jomblo selalu jadi obat nyamuk, kasian amat sih lo Ren," gumam Rendy pada dirinya sendiri lalu pergi menyusul mereka berdua.
.
.
.
.
.
KEDIAMAN TAYLOR JAMES
Mobil lamborgini Bara terparkir epic di kediaman Taylor James yang sangat luas ini.
Bara dan Sela berjalan berdampingan memasuki rumah tuan James yang kini sudah disulap jadi tempat pesta sangat mewah.
Dekorasi yang sangat indah dan juga warna yang kontras.
"Wow, sangat indah," puji Sela sambil menatap sekeliling.
"Apa kau suka?" tanya Bara sambil menatap wajah cantik Sela yang malam ini sangatlah bersinar.
Sela hanya mengangguk dengan sangat polos, membuat Bara tersenyum samar atau bahkan hampir tak terlihat.
"Kita duduk di sini aja, sebentar lagi pestanya akan dimulai," kata Bara sambil memundurkan kursi untuk Sela.
"Bara," panggil Laura dari kejauhan sambil melambaikan tangan.
Namun, raut wajahnya seketika berubah saat tahu Sela ikut bersama Bara.
"Ren gebetan lo dateng," kata Bara pada Rendy yang sibuk makan.
"Gue enggak mau yang modelan kayak nenek sihir gitu, gue seleranya Sela.....,"
Bugh
"Uhuk uhuk," Rendy tersedak kue yang belum dia telan karena Bara memukul bahunya.
"Dasar gila, lo mau bunuh gue," sentak Rendy pada Bara dengan wajah yang sudah memerah.
"Hei, gue boleh gabung enggak?" semua diam tak menjawab kecuali
"Boleh," Sela yang mempersilahkan Laura untuk bergabung.
Laura lalu duduk di samping Sela dengan hati yang setengah jengkel dan kesal sama Sela.
Bisa- bisanya Sela ikut dalam acara pesta besar ini sama Bara lagi.
"Ok semuanya, sepertinya semua tamu sudah datang dan sedang menanti acara puncak dari malam ini," sambut MC cantik itu pada semua tamu.
"Baiklah, tidak usah berlama- lama lagi mari kita sambut putri Anna Taylor James," tepuk tangan bergemuruh menyambut Anna.
Acara satu persatu mulai dari tiup lilin sampai potong kue sudah selesai, kini saatnya para tamu berpesta atau sekedar berdansa.
"Bara, apa kamu ingin berdansa denganku?" tanya Laura to the point tanpa ada rasa malu atau sungkan pada Bara.
"Aku tidak ingin berdansa," jawab Bara singkat membuat Rendy yang berada disebelahnya menahan tawa kuat- kuat.
"Hey, are you the name of Aldebaran?" tanya Anna yang menghampiri Bara.
Laura menatap sinis kearah Anna, antara tidak suka dan malas melihatnya.
"Yes, is there something?" tanya balik Bara dengan bahasa inggris.
"Dad is looking for you, can you meet him?" tanya Anna sambil melirik sekilas tatapan Laura padanya.
Bara hanya mengangguk lalu berdiri untuk menemui tuan James.
"Saya akan kembali," pesannya pada Sela lalu pergi bersama Anna.
Laura menatap sinis Sela.
"Ren, ayo temani bentar yuk, keliling liat sekitar," ajak Sela pada Rendy yang sejak tadi sudah menghabiskan 3 piring kecil berisi kue.
"Oh ayo,"kata Rendy langsung berdiri menemani Sela untuk berkeliling.
Laura mendengus sebal, semua orang meninggalkannya.
"Cewek kayak dia pantes buat dikasih pelajaran,"kata Laura sontak langsung berdiri dan menyusul perginya Sela dan Rendy.
Sela dan Rendy berhenti di dekat kolam renang yang juga dihiasi oleh beberapa balon dan lampu.
"Wow indah banget," kagum Sela sambil tersenyum manis membuat Rendy menatapnya sekilas.
"Lo suka?" tanya Rendy dan diangguki oleh Sela.
"Eh Sel bentar ponsel gue ketinggalan di meja tadi," kata Rendy panik ketika merogoh saku celananya.
"Ya tuhan kamu selalu aja ceroboh, kemarin mobil sekarang ponsel, entar kamu kalau punya cewek apa bakal bernasib sama kayak mobil sama ponsel," kata Sela heran sama sikap ceroboh Rendy.
"Hehe orang ganteng mah bebas, bentar ya," kata Rendy pergi untuk mengambil ponselnya.
Sela kembali menatap kolam renang yang indah ini.
Dia sangat menyukai apapun yang bercahaya.
Laura telah menemukan Sela yang sedang berdiri di dekat kolam renang.
Sendirian?
Kemana perginya Rendy, ok ini namanya kesempatan yang bagus.
Laura berjalan menghampiri Sela sambil membawa minuman di tangannya.
Bruk
Byurrr
Sela terjatuh ke dalam air, karena Laura yang dengan sengaja menyenggolnya.
"Sela," teriak Laura pura- pura panik saat Sela kesusahan berenang.
Semua orang seketika langsung panik saat ada yang terjatuh ke dalam kolam karena banyak lampu yang terpasang di atas kolam renang.
"Laura tolongin gue, kaki gue kram," kata Sela meminta tolong pada Laura.
Laura tersenyum miring melihat Sela yang kesusahan berenang terlebih kakinya juga kram.
Laura pergi begitu saja meninggalkan Sela yang masih berusaha untuk bisa mengambil napas.
Tidak ada orang yang berani menolong Sela, karena juga banyaknya lampu yang terpasang di atas kolam renang.
---☆☆☆---
__ADS_1