Sekretaris Canduku

Sekretaris Canduku
Emosi Bara


__ADS_3


KANTOR BODYGUARD PENGAWAL PRESIDEN


Di ruangan yang kedap suara ini mereka sedang melakukan rencana untuk acara minggu depan.


Di mana acara tersebut dihadiri oleh dua orang penting negara.


Dua presiden dari dua negara berbeda.


Jelas kedatangan mereka berdua mengundang marabahaya dan juga petaka.


Musuh bisa datang kapan saja juga bisa menjadi siapapun untuk mendekati dua orang penting ini.


"Bagaimana tuan untuk penjagaan tahun ini?" tanya pengawal pada pemimpinnya.


"Acara ini jelas seperti beberapa tahun yang lalu, akan memicu datangnya malapetaka ketika mereka tahu dua orang ini kembali bertemu," kata Bram, selaku pemimpin dari seluruh pengawal presiden ini.


"Benar tuan terlebih kali ini acara tuan Clay lebih besar dan megah," kata bodyguardnya.


"Kita harus benar- benar menjaga Presiden, karena siapa tahu Felix bisa menyamar jadi salah satu penonton atau sedang mengincar Presiden pada acara besar ini," kata Bram benar- benar teliti dan juga waspada akan sesuatu yang terjadi ke depannya.


Felix Thomas Herbes, penjahat kelas kakap yang kini menjadi incaran para polisi juga tentara AS dan Kanada.


Felix merupakan narapidana yang kabur saat akan dipindahkan ke sel yang berada di Kanada dan menghilang tanpa jejak hingga saat ini mereka belum juga menemukannya.


"Total keseluruhan bodyguard yang ada untuk saat ini sekitar 300 untuk pengawalan Presiden dan untuk penjagaan gedung, rumah Presiden mungkin berkisar 200 lebih untuk para pengawal juga para tentara," jelas asisten Bram membacakan jumlah keseluruhan pengawal presiden.


"Menurut kalian, bagaimana jika kita meminta bantuan pada tuan Aldebaran?" tanya Bram pada para anggotanya.


"Saya setuju, saya dengar tuan Aldebaran juga cukup berpengaruh dalam dunia keamanan dan beberapa negara, mungkin beliau bisa membantu kita dengan banyaknya jaringan yang dia punya," kata salah satu bodyguard yang setuju.


"Kamu benar, kalian semua siapkan apa yang perlu kita bawa, saya akan datang untuk menemui tuan Aldebaran," kata Bram lalu pergi untuk menemui Bara.


●●●


Sela sedang memasak di dapur, semalaman suntuk dirinya tidak bisa tidur karena memikirkan Gabriela.


Apa Gabriela akan marah dengannya, karena niat dari menginap ini kan mereka bisa tidur bareng, maraton drakor bareng, ehh malah sama Bara disuruh tidur di lantai atas.


Sela berkali- kali menatap kamar Gabriela, kenapa dia tidak juga keluar, apa dia marah sama Sela.


Sela ingin sekali membangunkannya, tapi takut menganggu tidurnya.


"Siapa yang menyuruhmu masak?" tanya Bara yang tiba- tiba datang ke dapur membuat Sela terkejut.


"Astaga, bisakah tuan jika datang memanggil atau sekedar bersuara, tuan mengejutkan saya," kata Sela sambil memegangi dadanya.


"Tuan duduklah, saya akan menyiapkan sarapannya," kata Sela meminta agar Bara duduk di meja makan.


"Apa temanmu belum bangun?" tanya Bara sambil membantu Sela membawa semangkuk nasi goreng ke meja makan.


"Entah, saya takut untuk membangunkannya," kata Sela sambil sesekali melirik kamar Gabriela.


"Yaudah kita sarapan aja," kata Bara membuat Sela melotot tidak percaya, masak iya mereka sarapan tanpa Gabriela.


"Hmm tuan sarapan aja dulu saya akan membangunkan Gabriela," kata Sela lalu memutuskan untuk membangunkan Gabriela.


Belum sempat Sela sampai di depan pintu kamar Gabriela, pintu sudah terbuka dan menampilkan Gabriela yang sudah terlihat siap dan juga rapi.


Tapi dengan pakaian yang bukan seperti biasanya. Bahkan Sela menatap Gabriela tidak percaya.



"Sel," panggil Gabriela berjalan menghampiri Sela yang masih mematung di tempatnya.


"Ela, kamu tumben pakai pakaian kayak gini," kata Sela sambil berjalan menuju meja makan.


"Kenapa, jelek ya," kata Gabriela sambil menatap penampilannya dari atas sampai bawah.


"Enggak kok, kamu cantik," kata Sela sambil menarik kursi yang berhadapan dengan Bara.


Sedangkan Gabriela duduk tepat di samping Bara bahkan sangat dekat.


Bara menghentikan makannya dan menatap sekilas Gabriela yang tersenyum kesenangan duduk di sampingnya.


"Bisakah kamu pindah?" tanya Bara membuat Gabriela mengernyit bingung.


"Kenapa?" tanya Gabriela membuat Bara langsung berdiri dan berpindah di samping Sela menyelesaikan sarapannya.


Sela seketika menjadi canggung karena situasi ini. Sela melirik kearah Gabriela lalu menatap sekilas Bara, merasa tidak enak dengan situasi ini.


Lalu mereka bertiga mulai sarapan meski dengan suasana sedikit canggung. Setelah sarapan Sela membersihkan semua piring di meja makan.


Sedangkan Gabriela kembali masuk ke dalam kamarnya dan Bara mengambil tas kerjanya.


"Sela," panggil Bara pertama kalinya memanggil Sela dengan sebutan namanya.


Bara berjalan menghampiri Sela dengan dasi di tangannya.


"Bisakah kamu jangan bersih- bersih dan pasangkan dasi saya," kata Bara membuat Sela tidak jadi mencuci piring.


Sela mengambil dasi di tangan Bara lalu memasangkannya pada jas putih Bara.


"Bisakah anda lebih menunduk," kata Sela pada Bara, bukannya mengikuti perkataan Sela, Bara malah mengangkat Sela duduk di atas meja makan.


"Makanya cepet tinggi," kata Bara membuat Sela menahan napasnya kala Bara mengangkat dirinya ke atas meja makan.


"Anda pasang aja sendiri dasinya," kata Sela bergegas turun dari meja makan, jantungnya kini sedang berdetak tak karuan, bisa- bisa Bara mendengarnya jika Sela berdekatan dengannya.


"Ehh tunggu, pasangin dulu dasinya," teriak Bara pada Sela yang sudah menaiki tangga dengan buru- buru.


Bara menahan tawanya agar tidak terdengar Sela, Bara melihat jika Sela sedang blushing karena itu Bara menggodanya.


Ceklek


Pintu kamar Gabriela terbuka, terlihat Gabriela yang sudah bersiap dengan tas dipundaknya.


Bara tidak memedulikannya, dia masih menunggu Sela untuk memasangkan dasinya.


"Tuan, di mana Sela?" tanya Gabriela pelan dan berdiri di samping Bara.


"Lantai atas," jawab Bara singkat padat dan jelas.


Gabriela menatap Bara yang sedang memainkan dasinya, Gabriela berniat untuk membantu memasangkan dasi Bara.


"Bagaimana jika saya aja yang memasangkan dasinya?" tawar Gabriela membuat Bara menatap Gabriela dengan tatapan dingin.


"Kerjakanlah pekerjaanmu dan bersikap sopan di rumah saya," kata Bara lalu pergi begitu saja meninggalkan Gabriela sendiri.


"Ihh ngeselin banget sih dia," dumel Gabriela sambil menatap kesal kearah Bara.

__ADS_1


Bara berada di lantai atas dan berdiri di depan pintu kamar Sela.


Tok tok tok


"Apa kamu tidak akan pergi kuliah?" tanya Bara sambil menempelkan kepalanya di pintu kamar Sela dengan bibir yang tak hentinya tersenyum manis.


"Tuan, bisakah anda menunggu di bawah?" teriak Sela di dalam kamar membuat Bara semakin semangat untuk menggodanya.


"Bagaimana jika saya masuk ke.....,"


Ceklek


Pintu terbuka dan menampilkan Sela dengan wajah marahnya dengan tas yang sudah bertengger di pundaknya.


Bara menyodorkan dasinya ke hadapan Sela membuat Sela melirik sekilas dasi di tangan Bara.


"Apa susahnya memasangkan dasi ini? Kamu bakal telat jika tidak menyelesaikan pekerjaanmu, apa kamu tidak kasian dengan temanmu?" tanya Bara membuat Sela meraih dasi Bara dengan terpaksa.


"Tidak usah menunduk, saya bisa mencapainya," kata Sela sambil memasang dasi Bara.


"Bagaimana jika kamu nanti punya suami seorang CEO, apa kamu akan menyuruh orang lain untuk memasangkan dasinya?" pertanyaan apa ini, Sela bahkan tidak mempunyai pemikiran jika suaminya nanti seorang CEO.


"Tentu saya yang memasangkannya," jawab Sela spontan tanpa menatap Bara.


"Yaudah kamu bayangin aja saya suami kamu...,"


"Uhuk uhuk uhuk," Bara terbatuk saat Sela memasang dasinya dengan sangat ketat hampir membuat Bara tidak bisa napas.


"Apa kamu ingin membunuh saya?" tanya Bara sambil melonggarkan sedikit dasinya.


"Makanya kalau bicara jangan sembarangan," kata Sela lalu pergi begitu saja menuruni tangga untuk menemui Gabriela.


"Bilang aja kamu blushing," gumam Bara sambil berjalan mengikuti Sela dari belakang.


.


.


.


.


.


.


.


Setelah selesai mengantarkan Sela ke kampus, Bara tidak pergi ke kantor melainkan ke tempat Peter.


"Tuan Al," panggil bodyguard Peter yang langsung menyambut kedatangan Bara.


"Apa bos kalian ada?" tanya Bara sambil berjalan menuju lift.


"Ada tuan, mari saya antar,"


"Tidak perlu saya akan menemuinya sendiri," tolak Bara yang langsung menaiki lift menuju ruangan Peter.


^^^Tolong lo jemput Sela, gue^^^


^^^ada urusan bentar^^^


Bara mengirimkan pesan pada Rendy karena ada sesuatu yang harus Bara diskusikan dengan Peter.


Ruang Futuristik.



Bara memasuki ruang Peter, terlihat mereka sedang sibuk bekerja.


"Peter," panggil Bara pada Peter yang sedang berdiskusi dengan para bodyguardnya.


"Heyyy," teriak Peter sambil memeluk Bara senang karena mereka jarang sekali bertemu.


"Wihh makin lama lo makin cakep aja nih," kata Peter memuji ketampanan Bara.


"Gue dari dulu emang sempurna," kata Bara membuat Peter tertawa keras melihat Bara yang selalu merasa percaya diri.


"Ehh tumben lo kesini, pasti ada sesuatu kan lo dateng temui gue," tebak Peter tentang kedatangan Bara.


"Kita ngobrol di ruangan lo aja," ajak Bara agar mereka bisa bicara dengan tenang tanpa ada gangguan.


"Kayaknya serius amat, ada apaan emang?" tanya Peter mulai serius kala melihat gerak- gerik Bara yang terlihat begitu dingin dan serius.


"Lo udah denger kan tentang acara tahunan tuan Clay," Peter mengangguk.


"Kali ini acara tuan Clay akan dihadiri oleh Presiden AS dan Presiden Kanada, Bram minta bantuan sama gue buat kerahin semua bodyguard gue yang ada, tapi menurut gue itu tidak begitu cukup," kata Bara sambil memberikan sketsa pada kertas yang ada di meja.


"Lantas apa rencanamu?" tanya Peter yang mengerti maksud dari Bara.


"Felix," Peter langsung terdiam seakan oksigen dalam ruangannya mendadak hilang, sangat sesak.


"Lo baik- baik aja kan?" tanya Bara pada Peter. Peter sangat sensitif kala mendengar nama Felix disebut.


"Apapun bakal gue lakuin buat bantu lo, tapi kalau itu berhubungan dengannya, sorry gue enggak bisa," kata Peter sambil menatap ke arah lain.


"Sorry, gue enggak bermaksud buat bicarain Felix, itu hanya dugaan gue," kata Bara yang mengerti perubahan sikap Peter.


"Gue hanya menebak jika Felix akan terpancing keluar untuk bisa memanfaatkan keadaan ini, karena itu gue meminta bantuan dari lo," kata Bara menjelaskan dari rencananya.


"Sorry, gue terlalu terbawa emosi," kata Peter menyadari akan perubahan sikapnya pada Bara.


"Ok kita lanjut," kata Bara mulai membicarakan strategi yang Bara buat.


.


.


.


.


.


.


Sedangkan di rumah Bara, Sela dan Gabriela sedang bercengkrama di kamar Gabriela.


"Sel gue pengin banget lihat kamar lo yang di atas, mumpung tuan Bara lagi keluar," kata Gabriela yang sejak tadi terus memaksa Sela untuk mengajaknya ke kamar atas.


"Tapi La, aku takut karena semua bodyguard tidak ada yang diperbolehkan untuk naik ke lantai atas," tolak Sela halus menjelaskan pelan- pelan pada Gabriela.

__ADS_1


"Tapi lo kenapa lo boleh naik ke lantai atas sedangkan gue enggak, gue kan cuma sekedar lihat doang Sel," kata Gabriela merajuk membuat Sela menjadi bingung dan salah tingkah.


"Hmm tapi sebentar aja yaa, bentar lagi tuan Bara akan datang," kata Sela spontan Gabriela sumringah dan memeluk Sela dengan erat.


"Beneran kok cuma sebentar," kata Gabriela membuat Sela mengangguk pelan.


Sela langsung saja membawa Gabriela menaiki lift untuk ke lantai atas. Sela benar- benar merasa takut dan bersalah pada Bara.


Sela membuka kamarnya membiarkan Gabriela untuk sekedar melihat lihat.


"Woww Sel, kamar lo bagus banget, lebih bagus dari kamar gue di lantai bawah," kata Gabriela namun Sela tidak menggubrisnya.


Sela sibuk berjaga di pintu takut jika Bara tiba- tiba saja datang.


Gabriela sudah puas berkeliling di kamar Sela, Gabriela menuju walk in closet, begitu banyak baju- baju mewah.


Gabriela membuka etalase dan memilih baju yang masih ada bandrol dan terlihat sangat baru.


Gabriela memilih satu dan memperlihatkannya pada Sela.


"Sel gue boleh enggak minjem baju lo yang ini?" tanya Gabriela, Sela menatap baju yang sedikit terbuka itu, jika dia kasihkan pada Gabriela mungkin Bara tidak akan tahu, Bara membeli baju sebanyak itu mana mungkin dia tahu.


"Iya boleh," jawab Sela membuat Gabriela melompat kesenangan.


"Yaudah Sel, gue turun ke bawah dulu ya, makasih bajunya," kata Gabriela pamit untuk kembali ke kamarnya sebelum Bara datang.


Sela mengawasi Gabriela, Sela was- was jika saja nanti Gabriela kepergok sama Bara bagaimana.


Sela yang takut Gabriela bertemu Bara di bawah, menaiki lift turun ke bawah untuk memeriksanya.


Ting


Pintu lift terbuka Sela hampir tersungkur ke belakang jika saja Bara tidak menopangnya.


"Hati- hati," kata Bara pada Sela, buru- buru Sela sedikit berjaga jarak dari Bara.


"Apa kamu menunggu saya?" tanya Bara menggoda Sela.


"Heh, bukan saya hanya ingin pergi ke dapur," kata Sela mencari alasan dan terlihat gugup ditatap Bara seperti itu.


"Oh ya?" goda Bara semakin mendekat ke arah Sela, Sela buru- buru keluar dari lift sebelum pintunya tertutup dan kembali ke lantai atas.


Pintu lift tertutup Bara menempelkan kepalanya di dinding lift sambil tertawa pelan melihat tingkah gemas Sela ketika sedang malu.


Setidaknya lelah Bara hari ini sudah terobati dengan melihat wajah lucu Sela.


Sedangkan Sela yang berada di dapur memegangi dadanya yang berdetak tidak beraturan.


"Ya tuhan, rasanya seperti selesai lari maraton," gumam Sela sambil menuangkan air putih untuk menetralkan detak jantungnya.


Sela akan menyiapkan makan malam untuk Bara, karena tadi Sela sudah memasaknya kini tinggal memanasi lagi.


Sedangkan Gabriela mengendap- endap untuk menaiki lift menuju lantai atas takut jika Sela melihatnya.


Gabriela berhasil menaiki lift dan menuju lantai atas. Gabriela langsung menuju kamar Bara, ternyata tidak di kunci.


Perlahan dan sangat pelan Gabriela membuka kamar Bara, takut jika Bara mengetahuinya.


Gabriela dapat melihat Bara sedang berdiri di samping king sizenya melepaskan dasi dan sepatunya.


Happ


Gabriela memeluk Bara dari belakang, tanpa membuka suara sedikit pun.


Bara sangat terkejut saat seseorang memeluknya dari belakang.


"Apa kamu selesai dari dapur?" tanya Bara yang hanya diangguki oleh Gabriela tanpa membuka suara sedikit pun.


Sedangkan Sela yang di bawah sudah selesai menyajikan semua hidangan makan malam. Sela berniat untuk memanggil Bara terlebih dulu baru Gabriela.


Sela menaiki lift menuju lantai atas untuk memanggil Bara makan malam.


Sela mengetuk pintu kamar Bara, namun tidak ada jawaban dari dalam. Sela kembali mengetuk pintunya dan memberanikan diri untuk membuka pintunya.


"Tuan Bar...," sontak Bara yang mendengar suara Sela langsung menghempaskan tangan yang melingkar di pinggangnya.


Gabriela.


"Maaf saya permisi," kata Sela kembali menutup pintunya dan turun ke lantai bawah.


Bara menatap tajam Gabriela yang duduk dengan santai di sofanya. Bara meneliti baju yang dipakai oleh Gabriela.


Baju Sela.



"Lo bener- bener enggak punya sopan santun," kata Bara lalu meninggalkan Gabriela sendiri.


Bara menaiki lift untuk turun ke bawah menyusul Sela.


Bara tidak melihat Sela di manapun, kemana dia pergi.


Bara melihat dari jendela kaca, terlihat Sela sedang di balkon menatap langit malam.


"Sela," panggil Bara.


"Maaf tuan, saya menganggu waktu anda," kata Sela sambil menunduk meminta maaf pada Bara.


"Apa kamu yang mengajak Gabriela ke lantai atas?" tanya Bara terdengar sangat marah dan emosi.


Sela masih terdiam dia takut dengan bentakan dari Bara.


"Jawab Selaaa," teriak Bara dengan lantang membuat Sela sedikit tersentak kaget.


"I iya tuan, maafkan saya," kata Sela merasa bersalah pada Bara. Bara menghembuskan napasnya kasar.


"Apa Gabriela meminjam bajumu?" tanya Bara kembali sambil memegang kedua bahu Sela dengan kuat.


Sela sedikit meringis menahan genggaman kuat dari tangan Bara.


"Saya yang meminjaminya," bohong Sela pada Bara.


"Sela," panggil Bara dengan nada dingin membuat Sela semakin takut.


"Lihat mata saya," intruksi Bara membuat Sela mengikutinya.


"Jangan berbohong, saya tidak menyukainya," kata Bara lalu melepaskan genggamannya pada bahu Sela dan pergi begitu saja meninggalkan Sela sendiri di balkon.


Sela menatap nanar punggung Bara yang semakin menjauh. Sela benar- benar orang yang tidak bisa menjaga kepercayaan Bara, pasti sekarang Bara akan marah besar padanya.


Ya tuhan bagaimana caranya meminta maaf pada Bara, dia terlihat sangat marah padanya.

__ADS_1


▪︎▪︎Bersambung▪︎▪︎


__ADS_2