
○○○
Mobil sport warna merah berhenti tepat di depan lobi kantor Reynald.
Jessy turun dari mobilnya dan disambut baik oleh dua orang bodyguard Reynald.
"Apa nona ada janji bertemu tuan Reynald?" tanya bodyguard sambil mengantar Jessy ke lantai atas.
"Ya," jawab Jessy sambil memainkan ponselnya .
"Mari saya antar," kata bodyguard mengantarkan Jessy ke lantai atas.
Jessy telah sampai di lantai atas dan mereka langsung mengantarkan ke studio foto.
"Tuan, nona sudah datang," kata bodyguard pada Reynald.
Reynald yang tadinya sibuk untuk memberikan gambaran pada fotografernya, berbalik dan melihat Jessy sudah datang.
"Hei," sapa Jessy menghampiri Reynald.
"Kenapa kau datang lebih awal?" tanya Jessy karena waktu pemotretan masih 30 menit lagi.
"Urusan di kantor udah selesai, jadi buru- buru gue ke sini," Jessy duduk di sofa sambil melihat studio sekitar Reynald, lumayan bagus.
"Yaudah kita langsung aja ya," kata Reynald tidak lagi membuang waktu. Jessy hanya mengangguk lalu Reynald mengantarnya untuk dimake up.
"Gue tinggal bentar ya," pamit Reynald pada Jessy yang hanya diangguki olehnya.
"Mbak, make upnya yang natural aja ya," kata Jessy pada wardrobe.
"Baik nona," lalu mulailah Jessy untuk dimake up.
Tidak butuh waktu lama hanya berkisar 15 menit Jessy selesai dimake up, lalu pergi ke ruang ganti untuk mencoba beberapa gaun dan baju yang telah tersedia.
"Nona anda sangat tinggi, anda akan cocok memakai baju ini dan terlihat cantik ditubuh anda," kata desainer itu sambil memperlihatkan gaun yang memang sangat simpel namun terkesan elegan.
"Baiklah, saya coba ini," kata Jessy yang mengikuti saran desainer itu.
Jessy keluar dengan baju modelnya yang sudah melekat ditubuhnya, sangat cocok sekali pada tubuh Jessy.
"Bagaimana nona, apa anda siap untuk pemotretan?" tanya fotografer yang sejak tadi menunggu Jessy bersiap. Jessy hanya mengangguk lalu mulai melakukan beberapa pose untuk pengambilan gambar.
Reynald yang baru saja kembali dari ruangannya, melihat Jessy sedang melakukan pose, terlihat sangat cantik dan beberapa menit Reynald merasa dirinya terkesima dengan kecantikan Jessy.
Reynald mengeluarkan ponselnya, tanpa sengaja Reynald memotret Jessy tanpa sepengetahuannya.
Sangat manis dan cantik, batin Reynald sambil mengamati hasil fotonya.
●●●
Setelah perdebatan yang panjang dan hampir telat pergi ke kampus.
Akhirnya Bara mau untuk mengantarkan Sela pergi ke kampus.
Mobil sport warna hitam Bara terhenti tepat di depan gedung kampusnya.
Buru- buru Sela membuka seal beatnya, karena sebentar lagi kuliah akan dimulai.
"Tunggu," kata Bara membuat Sela tidak jadi membuka pintunya dan menatap Bara setengah kesal.
"Bagaimana jika saya menyuruh beberapa bodyguard untuk menjagamu," ucapan Bara spontan membuat Sela menghembuskan napasnya kasar.
"Saya bukan anak kecil lagi, ngapain harus dijaga pula," tolak Sela yang tidak mau dikawal oleh bodyguard.
Apa kata mereka nanti jika Sela pergi ke kampus dikawal oleh bodyguard, yang ada satu kampus bisa geger karena dirinya.
"Bukan anak kecil tapi kenapa pulang dari kampus kamu selalu terluka, bukankah itu mirip seperti anak TK," ejek Bara membuat Sela menatapnya tajam.
"Ya, saya terluka karena tidak hati- hati," kata Sela membela dirinya.
Sela melupakan sesuatu, ya dia melupakan jika kuliah sudah dimulai saat ini, tepat pukul 8.
"Saya akan menelpon Rendy dan Reno untuk menjagamu," kata Bara meraih ponselnya di saku celana.
Buru- buru Sela menghentikan tangan Bara merogoh ponselnya dalam saku membuat jarak mereka begitu dekat dan Bara bahkan bisa menghirup aroma rambut Sela yang begitu wangi.
"Saya akan tidur di kamar saya di lantai atas," kata Sela cepat membuat Bara menahan senyumnya.
Kenapa dengan gadisnya ini?
"Percayalah tuan," kata Sela mulai memohon dan menunjukkan sisi imutnya.
"Bagaimana jika ada yang mengira kita sedang melakukan sesuatu," sontak Sela langsung menjauhkan dirinya dari Bara dan memalingkan wajahnya karena malu.
Bara menatap kearah luar jendela, tertawa sangat pelan melihat sikap Sela saat malu.
"Kau harus menepati," kata Bara membuat Sela mengangguk dengan antusias.
"Baiklah, sekarang masuklah," perintah Bara pada Sela. Sela membuka pintu, namun sesuatu terlintas dipikirannya, Sela kembali menutup pintunya.
"Tuan,"panggil Sela membuat Bara tidak jadi menyalakan mobilnya.
"Bolehkah saya meminta satu permintaan?" tanya Sela serius membuat Bara mengernyitkan keningnya.
"Hmm itu, anda masih ingat Gabriela bukan?" tanya Sela mencoba mengingatkan Gabriela pada Bara. Bara sedikit berpikir mencoba mengingat nama Gabriela.
"Sahabatmu yang di rumah sakit itu bukan?" tanya Bara membuat Sela mengangguk pelan.
"Kenapa?" tanya Bara memperhatikan setiap inci dari wajah Sela.
"Emm, dia itu apa ingin," kata Sela yang mendadak gugup saat ditatap oleh Bara.
"Kenapa kamu mendadak gagap," goda Bara yang langsung mendapatkan pukulan dari Sela.
Bugh
Sela memukul bahu Bara dengan sangat keras, udah serius juga malah diledekin.
"Kenapa kamu hobi sekali mukul saya," protes Bara pada Sela.
"Enggak jadi deh," kata Sela hendak keluar dari mobil tapi dengan cekatan Bara menarik tangan Sela membuat Sela berbalik dan lebih dekat dengan Bara.
Mata Sela bahkan bisa menatap wajah Bara dengan sangat dekat dan aroma maskulin yang begitu memabukkan.
"Apa?" tanya Bara pada Sela dengan tangan Bara yang masih menggenggam lengan Sela.
"Gabriela ingin menginap, apa boleh?" tanya Sela seperti anak kecil yang meminta izin untuk main dengan temannya.
"Kenapa tidak," jawab Bara membuat Sela tersenyum sumringah dan kesenangan.
"Hanya dua hari, sebagai gantinya Gabriela menginap di rumah anda, saya akan menuruti semua perintah anda," kata Sela tanpa memikirkan ucapannya.
Sontak Bara tidak percaya sama ucapan Sela barusan. Senyum devil terpancar di bibir Bara.
__ADS_1
"Semua perintah saya?" tanya Bara memastikan sekali lagi dengan ucapan Sela. Sela mengangguk antusias dan kesenangan.
"Ok nanti akan saya beritahu apa perintahnya," kata Bara sambil menahan kuat senyumnya agar Sela tidak mencurigainya.
"Tapi hanya 2 perintah yang akan saya turuti," spontan Bara kembali menatap Sela tidak percaya.
"Bagaimana bisa," protes Bara kesal dengan sikap Sela yang selalu main dengan aturannya sendiri.
"Gabriela hanya menginap dua hari bukan satu bulan," tegas Sela agar dia tidak dipermainkan oleh Bara yang suka sekali menjahilinya.
"Bagaimana jika dengan 3 perintah?" tawar Bara layaknya membeli barang.
"Kenapa anda menawar?" tanya balik Sela jengah dengan sikap Bara yang selalu menang sendiri.
"Bagaimana jika saya tidak mengizinkan Gabriela menginap," Bara sepertinya sedang mengibarkan bendera perang.
"Hihhhh kenapa anda selalu menyebalkan," kata Sela merasa putus asa menghadapi sikap Bara.
"Bagiamana, hanya 3?" tawar Bara membujuk Sela.
"Iyaya," jawab Sela kesal sambil memanyunkan bibirnya ke depan.
"Apa kamu akan terus di dalam mobil?" tanya Bara mengingatkan sesuatu pada Sela.
"Anda mengusir saya?" karena emosi Sela tidak mencerna baik ucapan Bara.
"Apa kamu akan kuliah di dalam mobil?" spontan Sela memukul keningnya karena melupakan sesuatu.
Sela menarik tangan Bara dan melihat jam tangan yang melingkar di tangan Bara.
Pukul 8.15 artinya Sela sudah terlambat 15 menit.
"Ihhh saya telat kan," kata Sela buru- buru keluar dari mobil dan setengah berlari menuju kelasnya.
Bara tertawa pelan melihat wajah kesal Sela yang kini membuatnya candu.
Bara merogoh ponselnya menghubungi seseorang.
"Halo Mr. John,"
"Halo, Bara,"
"Kekasih saya terlambat, tolong izinkan dia masuk, tadi ada sedikit kendala di jalan,"
"Baik, saya mengerti,"
"Terima kasih," Bara menutup teleponnya dan tersenyum kala mengingat perdebatannya dengan Sela.
Bara harus memikirkan baik- baik apa saja perintah yang harus dia perintahkan pada Sela.
Bara kembali mendial nomor Rendy.
"Halo,"
".....,"
"Belikan gue hamster warna putih,"
"....."
"3 aja cukup,"
"....."
.
.
.
.
.
.
.
Tok tok tok
Semua mata menuju ke ambang pintu, di mana Sela berdiri.
"Maaf sir, saya terlambat, apa saya boleh masuk?" tanya Sela sopan pada Mr. John, dosen yang terkenal sangat killer.
"Silahkan," kata Mr. John membuat semua seisi kelas menatapnya tidak percaya dan menganga.
Sela pun begitu, dia juga tidak percaya sama ucapan Mr. John barusan, buru- buru Sela masuk ke dalam kelas untuk mengikuti materinya.
Semua mata menatap kearah Sela tidak percaya, bisa- bisanya dia lolos dari dosen killer satu ini.
Sela menatap bangku depannya, tidur lagi ya tuhan.
Saat Mr. John melanjutkan kembali menulisnya, Sela menepuk pelan punggung Dewa agar terbangun.
Satu kali enggak mempan, dua kali sampai ketiga kalinya.
Dewa menengok ke samping kanan dan kiri lalu mengusap matanya karena sehabis tidur.
Dewa lalu berbalik menatap Sela seakan bertanya, ada apa.
"Jangan tidur," kata Sela pada Dewa.
Dewa menyandarkan punggungnya ke bangku dan menoleh sedikit ke belakang.
"Gue ngantuk banget," kata Dewa yang memang dia tidak bisa menahan kantuknya.
Sela mengambil permen yang selalu ia bawa ketika ada kuliah lalu memberikannya pada Dewa.
"Nih," kata Sela memberikan permen rasa stroberi.
"Enggak ada gitu yang warna coklat, kenapa harus pink," protes Dewa sambil menatap permen pemberian Sela.
"Yaudah sini balikin permennya," ketus Sela membuat Dewa tersenyum samar.
"Udah terlanjur gue buka," kata Dewa lalu memberikan bungkus permennya pada Sela.
"Dasar laki- laki," dumel Sela yang masih bisa di dengar oleh Dewa.
Sudah 45 menit berlangsung dan kuliah juga sudah usai.
Sandra yang melihat Mr. John keluar kelas buru- buru menghampiri Sela.
"Sel, lo kenapa bisa telat?" tanya Sandra lalu Jenifer ikut nimbrung di bangku Sela.
"Hehe tadi di jalanan macet," alasan Sela menutupi perdebatan hebat yang terjadi di mobil tadi.
__ADS_1
"Ehh Sel, lo kok bisa sih masuk kelas Mr. John tanpa dihukum?" tanya Jenifer heran sama sikap Mr. John pagi ini.
"Hehe mungkin Mr. John kali ini sedang baik hati," alibi Sela karena Sela sendiri juga bingung sama sikap Mr. John pagi tadi.
Biasanya beliau akan menghukum mahasiswi yang telat untuk membaca atau meringkas buku yang berkaitan dengan materinya.
"Kenalin gue Dewa," kata Dewa tiba- tiba berdiri dan berbalik menatap Sela sambil mengulurkan tangannya. Gabriela kemudian juga ikut nimbrung di bangku Sela.
"Sela," kata Sela tanpa membalas uluran tangan Dewa karena tatapan Laura padanya.
"Thanks permennya, besok gue ganti," kata Dewa lalu pergi begitu saja keluar kelas dan mengindahkan panggilan Laura.
"Yaudah Sel gue balik dulu ya," pamit Jenifer yang juga diangguki oleh Sandra.
"Iya hati- hati," kata Sela lalu menyambar tasnya dan berdiri di samping Gabriela.
Setelah Sandra dan Jenifer keluar kelas dan tidak ada siapapun di kelas, Sela menatap Gabriela.
"Gimana?" tanya Gabriela pada Sela. Sela hanya mengangguk dengan sangat antusias yang berarti itu artinya iya.
"Beneran?" tanya Gabriela tidak percaya dan Sela lagi- lagi mengangguk karena begitu senangnya Gabriela memeluk Sela.
"Yaudah tunggu apalagi, yuk turun pasti tuan Bara sudah nunggu," kata Gabriela mengajak Sela sambil memeluk lengan Sela.
Ternyata benar setelah sampai di parkiran, mobil sport warna hitam sudah terparkir epic di halaman kampus.
"Itu tuan Bara," kata Gabriela sambil menunjuk Bara yang sedang bersandar di mobil.
Sela dan Gabriela berjalan menghampiri Bara dengan senyum yang tidak pudar dari bibirnya.
"Pulang?" tanya Bara fokus pada Sela. Sela menatap Gabriela sekilas lalu kembali menatap Bara dan mengangguk semangat.
Bara memutari mobilnya lalu Sela dan Gabriela duduk di kemudi bagian belakang.
Bara yang duduk di kemudi menatap tempat kemudi sebelahnya, Sela duduk di belakang dengan Gabriela.
Bara menatap ke arah Sela dengan tatapan menahan kesal.
"Apa saya sopir kamu?" tanya Bara pada Sela.
"Kenapa?" tanya Sela dengan polosnya.
"Kembali duduk di depan," perintah Bara membuat Gabriela sedikit tertegun sedangkan Sela melotot kearah Bara.
"Yaudah saya aja yang duduk di depan," kata Gabriela hendak keluar dari mobil.
"Bukan kamu," kata Bara membuat Gabriela tidak jadi keluar dari mobil.
Dengan terpaksa dan setengah dongkol Sela keluar juga dari mobil untuk duduk di samping Bara.
Sela menatap tajam dan sinis ke arah Bara lalu duduk di kemudi tanpa memakai seal beatnya.
Bara melepaskan seal beatnya lalu mendekat kearah Sela.
Sela sedikit terkejut dengan Bara yang tiba- tiba memakaikannya seal beat dan dengan jahilnya Bara berhenti tepat di depan wajah Sela dan berkata
"Mulai sekarang, kalau kamu enggak nurut sama perintah saya, bakal ada hukumannya," Sela menahan salivanya membuat Bara tersenyum samar.
Sedangkan di belakang masih ada orang woiii, janganlah kalian bersikap uwu di depan orang dan selalu bertengkar saat tidak ada yang melihat.
Melting akutuh, hahaha.
"Ekhmm," deham Gabriela membuat Sela mengalihkan tatapannya keluar jendela sedangkan Bara menatap tajam kearah Gabriela.
Gabriela yang ditatap Bara seperti itu sedikit takut dan gugup.
Bara kembali ke tempat duduknya dan memasang seal beatnya.
Sebelum melajukan mobilnya Bara menatap sekilas Sela yang terus menatap kearah luar.
.
.
.
.
.
Mereka sudah sampai di rumah, Bara menaiki lift dengan Sela dan Gabriela.
Gabriela merasa sangat kagum melihat interior rumah mewah Bara yang juga dilengkapi lift meski hanya terdapat 3 lantai.
Ting
Pintu lift terbuka, Bara membawa mereka ke lantai dua.
"Kamar kamu di lantai 2, di sana," kata Bara sambil menunjuk kamar yang dulunya dipakai Sela dan sekarang kamar Sela berubah di lantai atas.
"Lalu Sela?" tanya Gabriela dengan sangat lancangnya, sedangkan Sela hanya menunduk merasa tidak enak pada Gabriela.
"Kenapa?" tanya Bara yang terkesan dingin.
"Hehe tidak ada, yaudah saya masuk dulu ke kamar," kata Gabriela pamit ke kamarnya, lalu Bara menarik pelan tangan Sela kembali ke lift untuk menuju ke lantai atas.
Gabriela sedikit mengintip mereka berdua, kenapa Sela berada di lantai atas sedangkan dia di lantai 2.
Dengus Gabriela sebal, lalu menutup pintunya dengan kasar.
Gabriela menatap sekitar kamarnya, lumayan mewah lah untuk dirinya. Gabriela langsung menghempaskan dirinya di queen size.
"Hah, lumayan gue bisa ngerasain apa yang Sela rasain," gumam Gabriela sambil berguling- guling di queen size.
"Tapi gue penasaran deh sama kamar Sela yang di atas, apa mereka sekamar? Atau Sela punya kamar sendiri di lantai atas?" tebak Gabriela sambil menatap langit- langit kamar.
●●●
Rendy dan Reno yang sudah di perjalanan pulang terpaksa harus putar balik ke toko hewan.
Bagaimana tidak, Bara tiba- tiba telpon dan menyuruh Rendy untuk membeli hamster.
"Heran gue sama Bara, ngapain sih beli hamster," dumel Rendy sebal, impian yang tadinya ingin pulang cepat tertunda karena bosnya.
"Mungkin si tuan, pengen melihara hamster," kata Reno yang sedang mengemudi.
"Apanya, kemarin aja beli ikan hampir satu kolam ujung- ujungnya gue juga yang melihara, tiap hari ngasih makan juga gue," kata Rendy membuat Reno menggelengkan kepalanya.
"Reno, lo tahu kan hamster kayak gimana?" tanya Rendy pada Reno.
"Saya kurang tahu tuan, sedikit saya tahu mereka hampir kayak tikus bentuknya," kata Reno memberitahu ciri- ciri hamster.
"Semoga bukan tikus nantinya yang kita beli," gumam Rendy sambil memijat kepalanya yang sedikit pening.
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
__ADS_1