
□■■□
Malam ini memang begitu dingin.
Namun terasa hangat saat dua putra ini sedang bersama ayahnya.
Ya Bradsiton sedang bersama Rendy dan Reno
Tadi Bradsiton yang menjemput Rendy dan Reno di kantor polisi.
"Son malam ini begitu dingin," kata Bradsiton sembari menatap pemandangan kota dari atas bukit indah ini.
"Tapi terasa hangat saat kita bersama papa," jawab Rendy membuat Bradsiton terkekeh.
"Pa, apa papa marah saat tahu kita tadi di kantor polisi?" tanya Reno takut jika Bradsiton marah.
"Haha mana ada marah, malahan papa bangga sama kalian, curhat perginya ke kantor polisi," seketika mereka bertiga tertawa jika mengingat hal itu.
"Asal papa tahu, kita ke kantor polisi itu tanpa sadar pa, enggak tahu kenapa tiba- tiba kita naik taksi terus nuju ke kantor polisi," jelas Rendy bagaimana bisa ia bisa berakhir di kantor polisi bersama Reno untuk sekedar curhat.
"Kalian memang hebat, bahkan kalian mabuk bersama komandan bukan di club melainkan langsung di kantor polisi," seketika mereka bertiga kembali tertawa.
"Apa efek patah hati separah itu?" tanya Bradsiton membuat Rendy tertawa beda sama Reno yang sedikit malu.
"Kita emang patah hati karena Sela sekarang udah menjadi istri Bara pa, tapi yang buat kita sedih kita enggak bisa sebebas dulu menggoda Sela meski untuk membuat Bara cemburu, kita enggak bisa sebebas dulu mengajak Sela pergi main ke dufan atau sekedar di cafetaria,"
"Dan yang lebih sedihnya waktu kita sudah semakin sedikit, di mana Bara yang akan fokus sama Sela, di mana waktu yang padat untuk mengurusi rumah tangganya, anak- anaknya nanti. Meski Bara jarang kumpul sama kita berdua tapi saat dia sudah menikah rasanya seperti beda," cerita panjang Rendy membuat Bradsiton tersentuh.
"Son apa kau tahu, meski Bara sudah menikah kalian masih bisa bermain bersamanya, kalian juga masih bisa mengajak Sela untuk sekedar jalan- jalan atau bermain di dufan, mungkin kalian tidak bisa mendapatkan Sela sebagai istri tapi bukankah Sela akan menjadi kakak ipar kalian,"
"Kalian juga bisa bertemu setiap hari, lalu apa yang kalian khawatirkan," kata Bradsiton membuat Rendy terkekeh.
"Tapi pa asal papa tahu, setelah Sela menjadi istrinya sekarang, Rendy yakin kalau tingkat keposesifan dan over protektifnya Bara bakal naik tingkat dewa," kata Rendy menebak sikap Bara yang sudah ia ketahui.
"Hahaha emang bener kamu son, papa deket sama Sela aja Bara udah kibarkan bendera perang rasanya sama papa, cuma mama yang enggak pernah merasakan intimidasi saat berdekatan dengan Sela," kata Bradsiton saat ia berdekatan dengan Sela.
"Jangankan mau deketan minta nomornya Sela aja nomor kita langsung diblok," ngaku Reno membuat Bradsiton lagi dan lagi tertawa.
"Dia emang seposesif itu dan begitu takut kehilangan Sela. Bahkan papa juga tidak menyangka saat Bara akan seserius ini hubungannya pada Sela," kata Bradsiton masih tidak percaya jika putranya sudah menikah.
"Jujur pa dalam lubuk hati, kita merasa bangga saat Bara bisa mendapatkan pendamping yang begitu sempurna seperti Sela, di mana perempuan yang selalu menjadi incaran para laki- laki di luaran sana," jujur Reno pada Bradsiton.
"Kita juga ikut senang saat Bara juga bahagia dengan pilihannya," tambah Rendy membuat Bradsiton memeluk bahu kedua putranya.
"Papa bangga sama kalian berdua, papa harap kalian akan terus bersama bertiga sampai tua nanti, jangan sampai kalian berpisah dari saudara kalian," kata Bradsiton yang terdengar begitu tulus membuat hati kedua putranya begitu hangat merasakan kasih sayang seorang ayah yang begitu tulus.
"Sekarang ganti papa yang tanya sama kalian berdua, apa kalian sudah memiliki pasangan?" tanya Bradsiton pada kedua putranya.
"Kalau Rendy udah ada Laura pa cuma....,"
"Ayo son beri kepastian padanya jangan buat ia menunggu lama, wanitamu butuh kepastian," dukung Bradsiton pada hubungan Rendy dan Laura.
"Rendy sudah melamarnya pa waktu kita liburan, tapi Rendy sekarang masih diam karena Laura yang menunggu mamanya di Jerman setelah pengadilan memutuskan pembebasannya," kata Rendy saat ingin sekali menikahi Laura.
"Bagus son, itu selangkah lebih maju, tunggu apalagi, segera menikahlah, papa akan urusankan tentang pembebasan mamanya Laura besok di Jerman," kata Bradsiton membuat Rendy begitu girang dan langsung memeluk Bradsiton.
"Beneran pa?" tanya Rendy yang tak percaya jika reaksi Bradsiton akan sebaik ini.
"Lalu bagaimana dengan kamu son?" tanya Bradsiton beralih bertanya pada Reno.
"Hmm anu pa, sebenarnya Ren gue punya seseorang yang gue suka," kata Reno mengatakannya pada Rendy karena malu mengatakan hal itu pada Bradsiton.
"Jangan bilang Sela udah nikah sama Bara lo beralih suka sama Laura," tebak Rendy membuat Reno menggampar kepalanya.
"Enak aja kalau ngomong, ya kali gue suka sama Laura," ketus Reno marah lalu Bradsiton memeluk bahu Reno.
"Lantas siapa yang akan jadi wanita pilihanmu son?" tanya Bradsiton pelan pada Reno.
Reno lalu menatap Rendy dan papanya secara bergantian.
Dia ingin mengatakannya namun malu.
Lalu Reno berbisik pada mereka berdua dengan sangat lirih.
□☆☆□
Laura sedang berada di rumah Bradsiton dan berada di dalam kamar Reno.
Entah kenapa tiba- tiba saja Rendy memintanya untuk berdandan.
Rendy mengajaknya dinner di apartemen barunya yang baru saja jadi setelah beberapa tahun lalu ia menabung untuk membangunnya.
Laura begitu gugup dan juga sibuk memilih gaun untuk dinner malam ini.
Tidak biasanya Rendy seserius ini, kira- kira ada apa ya?
Tok tok tok
"Ra," panggil Jessy saat pintu terbuka.
Oh ya, sekarang ini Jessy dan Laura tinggal di kediaman Bradsiton untuk menemani Rose yang sendiri.
Karena Reynald yang sedang ada urusan selama satu minggu di Jerman, karena itu Rose meminta pada Reynald akan menjaga Jessy yang sedang hamil.
Tadinya Jessy ingin ikut ke Jerman dan tinggal sementara dengan kedua orang tuanya namun Reynald melarang dengan keras agar Jessy tidak naik pesawat terbang.
Sedangkan Laura tinggal bersama Rose karena permintaan Bradsiton sembari menunggu hasil sidang pengadilan tentang mamanya Laura.
"Sedang apa?" tanya Jessy saat Laura hanya diam dan menatap dirinya di pantulan cermin.
"Jes, malam ini Rendy ngajakin dinner di apartemen barunya, kira- kira dia mau ngomong apa ya?" kata Laura mengadu pada Jessy.
Jessy hanya tersenyum dan memegang bahu Laura sembari menatapnya dari pantulan cermin.
"Mungkin Rendy mau ngomong sesuatu yang serius," kata Jessy.
"Aku bingung mau pakai gaun apa," gumam Laura pelan sambil mendongak untuk melihat wajah Jessy.
"Ok malem ini gue bakal dandanin lo yang cantik buat dinner sama Rendy," kata Jessy yang langsung menuju walk in closet.
.
.
.
__ADS_1
Sedangkan di tempat yang berbeda ada Dea yang sama halnya seperti Laura.
Ia sibuk mencari gaun, tapi Reno bilang untuk dandan yang cantik.
Emangnya mau kemana sore- sore gini?
"Kira- kira Reno mau apa ya?" gumam lirih Dea sembari menatap gaun dalam almarinya.
Oh ya, Dea berusia lebih tua dari Reno, terpaut 1 tahun.
Karena itu terkadang Reno sedikit sungkan untuk berdekatan dengan Dea.
"Ah kenapa malam ini aku begitu gugup, padahal Reno hanya mengajakku bertemu bukan dinner," gumam Dea mengingat dia dengan Reno hanya sebatas kerja.
"Yaudah lah ini aja," kata Dea pasrah sembari mengambil gaun seadanya.
Beberapa menit Dea sudah rapi dengan gaun cantiknya tinggal pergi ke tempat yang Reno minta bersama sopir yang ia kirimkan.
Dea sudah berangkat bersama sopirnya Reno.
Di perjalanan Dea merasa dia begitu gugup sekali.
Ada apa ini, padahal dia dan Reno selalu bertemu, kenapa rasanya seperti sudah berpisah lama.
"Nona sudah sampai," kata sopir saat mereka sudah sampai di tujuan.
Sebuah cafetaria yang begitu sepi.
"Hah, benarkah? Ya tuhan kenapa begitu cepat sekali," kata Dea sembari melihat tempat yang Reno kirimkan.
"Pak ini bener tempatnya?" tanya Dea saat ia merasa ragu karena tempatnya sepi seperti tak ada orang.
"Iya nona, tuan Reno meminta saya untuk mengantar kemari," kata sopir itu lalu membukakan pintu untuk Dea.
Ting
Dea melihat ponselnya ada pesan dari Reno.
Aku tunggu di parkiran
Dea lalu langsung pergi menuju parkiran untuk mendatangi mobil Reno.
Saat melihat mobil Reno, Dea langsung menghampiri mobilnya.
"Reno...,"
Tidak ada siapa- siapa hanya ada sebuket besar bunga mawar.
Lalu kemana perginya Reno?
Dea lalu mengambil note kecil yang terselip di antara bunga mawar.
Hehe cari aku enggak ketemu ya
Coba buka bagasinya
Dea menghembuskan napasnya pelan dan menahan senyumnya sekuat tenaga meski Reno tak ada di sini.
Ya tuhan kenapa harus ada tulisan Love dari sekian banyaknya kata.
Kenapa tidak tulisan lainnya.
Dea lalu mengambil note kecil yang tergantung bersama balon.
Hehe belum ketemu ya
Coba naik ke rooftop
Dea mendongak ke atas pada cafetaria yang hanya 5 tingkat.
Dengan langkah sedikit malu Dea mulai masuk ke dalam cafetaria untuk naik ke rooftop.
Kenapa jantung Dea berdetak tak karuan.
Dea telah sampai di rooftop dan kalian tahu apa yang membuat Dea diam membeku di tempatnya?
Ini dia⬇️
Dea mengusap air matanya yang berada di ujung kelopak mata.
Apa ini mimpi?
"Hei," kata Reno keluar dari persembunyiaannya sambil membawa sebuket bunga cantik.
Reno menatap Dea, kenapa dia hari ini terlihat begitu cantik sekali.
Reno berjalan menghampiri Dea lalu memberikan bunganya.
"Dea, gue memang bukan laki- laki yang romantis seperti Bara atau Rendy, tapi gue hari ini akan mengatakan sesuatu padamu," Reno bersimpuh di depan Dea sambil membuka kotak berudu cincin.
"Dea gue ingin punya pendamping untuk teman di waktu senja nanti. Bukan hanya di waktu senja tapi hingga rambut kita berubah warna. Dan gue sudah mutusin, wanita itu adalah kamu. Jadi,"
"Will you marry me?" Dea memalingkan wajahnya untuk tidak meneteskan air matanya.
"Reno, apa lo tahu bagaimana latar belakang gue. Gue cuma seorang gadis biasa yang hidup sebatang kara, bagaimana bisa lo milih gue sedangkan di luaran sana begitu banyak wanita berkelas?" kata Dea yang tak percaya jika Reno akan sejauh ini.
"Apa cinta butuh alasan?" tanya Reno membuat Dea mendongak ke atas untuk tidak meneteskan air mata.
"I said yes," kata Dea membuat Reno langsung berdiri dan memasangkan cincin itu di jari manis milik Dea.
Reno langsung meraih tengkuk Dea untuk ******* bibir tipisnya.
Dea hanya diam tak membalas karena Reno yang begitu tiba- tiba.
Reno menyesap bibir Dea yang terasa manis.
__ADS_1
"Dan malam ini aku akan membawamu ke rumah papa," kata Reno yang kini merubah panggilan mereka berdua membuat Dea tersipu malu.
"Kenapa begitu cepat sekali," kata Dea yang belum siap untuk bertemu keluarga Bradsiton.
"Sayang," kata Reno membuat Dea menganga tak percaya juga malu saat Reno memanggilnya dengan sangat manis.
"Apa boleh aku memanggilmu sayang?" tanya Reno menggoda Dea yang jelas lebih tua darinya.
"Kau bocah kecil yang sangat nakal," kata Dea sambil mencubit pinggang Reno. Reno hanya tertawa melihat rona merah di pipi Dea.
Reno menarik pinggang Dea untuk lebih dekat dengannya, karena jarak yang begitu dekat membuat mereka bisa saling merasakan hembusan napasnya.
Perlahan Reno kembali ******* bibir milik Dea dengan sangat pelan.
Dea juga perlahan mulai membalas ciuman Reno dan berpegangan pada pinggang kekar milik Reno.
.
.
.
.
Jika Reno dan Dea sudah bertemu.
Beda sama Laura yang sedang berdiri di depan apartemen milik Reno.
Laura mendongak melihat ke atas, lalu menghembuskan napasnya.
"Ok Laura, lo cuma harus rileks dan biasa saja," gumammya pelan lalu melangkah berani untuk masuk ke dalam apartemen.
Laura sudah berada di depan kamar Rendy.
Kenapa dia bimbang sekali untuk mengetuk pintunya.
Bagaimana jika saat Laura membuka pintunya dan Rendy memberikan kejutan yang membuatnya sakit.
Seperti di film- film, cowoknya selingkuh dan memberikan hal itu sebagai kejutan untuk wanitanya.
Laura menggelengkan kepalanya untuk menepis pikiran buruk itu.
"Tidak Laura, jangan memikirkan hal yang buruk. Ok sekarang tarik napas, buang," kata Laura berkali- kali menarik napas dan membuangnya.
Ceklek
Laura perlahan membuka matanya, suasananya sangat sepi.
Perlahan ia masuk, kemana Rendy?
Laura lalu berjalan menuju meja dekat king size di mana ada bunga, balon juga kue.
"Wow milik siapa ini? Apa iya ini untukku?" gumam lirih Laura ketika melihat kejutan manis ini.
"Itu untukmu cantik," kata Rendy dari belakang membuat Laura terkejut.
Ya tuhan semakin hari Rendy penampilannya semakin tidak sopan.
Lihatlah, dia bisa saja membunuh para wanita di luaran sana dengan damage coolnya yang seperti ini.
"Apa kamu sudah lama?" tanya Rendy sambil meletakkan vodkanya di balkon lalu diikuti Laura di belakangnya.
Wow ini dinner yang sangat romantis sekali.
"Silahkan duduk tuan putri," kata Rendy sambil menarikkan kursi untuk Laura duduk.
"Apa kamu yang menyiapkan semua ini?" tanya Laura melihat persiapan yang seromantis ini.
"Mau minta bantuan penjual mochi mana mungkin, yaudah aku kerjain sendiri," Laura tertawa mendengar jawaban Rendy.
"Lantas siapa yang memasak ini?" tanya Laura saat melihat menu kesukaannya.
"Percaya atau enggak, itu aku yang memasaknya," lalu keduanya saling tertawa bersama.
"Aku akan mencobanya," kata Laura langsung mencicipi masakan dari Rendy.
"Bagaimana rasanya?" tanya Rendy saat suapan pertama masuk ke dalam mulut Laura.
"Karena yang memasak adalah seorang fuckboy, rasanya jadi berbagai macam," canda Laura membuat Rendy tertawa keras.
"Meski ku fuckboy, percaya atau enggak wanitaku cuma kamu yang membuatku harus menyiapkan hal romantis seperti ini yang tidak pernah kulakukan," kata Rendy jujur pada Laura.
Laura begitu bahagia mendengar pengakuan dari Rendy.
"Oh ya kamu bilang mau mengatakan sesuatu, apa?" tanya Laura sambil menyuapi Rendy steak.
"Ra aku ingin hubungan kita lebih serius," perkataan Rendy membuat Laura berhenti mengunyah.
"Papa pengin kita cepat nikah, apa kamu siap menikah denganku?" tanya Rendy membuat Laura meletakkan sendok dan garpunya.
"Tapi bukannya kamu tahu, aku masih menunggu keputusan pengadilan tentang pembebasan mama," kata Laura lirih.
"Tenang saja, papa sekarang sedang mengurus segalanya untuk bisa membawa mama pulang dan datang di hari nikah kita," kata Rendy membuat mata Laura berbinar cantik.
"Kamu serius?" tanya Laura senang dan diangguki oleh Rendy.
Rendy lalu menuangkan vodka untuk Laura.
"Tapi, apa papa dan mama mau mempunyai menantu dari putri seorang penjahat?" tanya Laura membuat Rendy tersenyum lebar dan memegang tangan Laura.
"Papa bahkan tidak pernah mengintimidasi latar belakang calon menantunya, kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu?" kata Rendy menggoda Laura.
"Apaan sih kamu," kata Laura melepaskan genggaman tangan Rendy dan meraih gelasnya yang berisi vodka.
Karena saking panas pipinya dan malu ditatap intens oleh Rendy, Laura langsung meminum habis segelas vodkanya.
"Ahhh," kata Laura saat vodka itu membasahi tenggorokannya.
"Apa kamu tidak minum?" tanya Laura pada Rendy yang hanya menatap dirinya sejak tadi.
"Aku punya cara sendiri untuk meminumnya," kata Rendy lalu berdiri dan menghampiri Laura.
__ADS_1
Rendy mengangkat dagu Laura dan menyesap bibir tipisnya yang meninggalkan rasa vodka yang begitu pekat.
"Lebih manis saat dinikmati seperti ini," bisik Rendy pada Laura yang mendongak menatap dirinya.