Sekretaris Canduku

Sekretaris Canduku
Bara & Reynald


__ADS_3

♡♡♡



Di lorong rumah sakit mereka sedang menunggu Sela dan Rendy yang sedang diperiksa.


Terlihat Bara teringsut di lantai dengan perasaan yang tidak baik- baik saja.


Dua orang yang ia sayang terluka di depan mata Bara.


Dan Bara merasa tak berdaya karena tidak bisa melakukan apapun.


"Bar lo istirahat gih biar gue sama Reno yang jaga di sini," kata Peter saat melihat Bara terlihat begitu kacau.


"Kenapa gue enggak bisa lindungi mereka Ter," gumam Bara sambil menunduk lemah membuat Reno iba pada Bara.


Reno lalu berjongkok di depan Bara dan menepuk pelan bahunya.


"Percaya sama gue, mereka pasti bakal baik- baik aja, Rendy sama Sela pasti kuat," kata Reno mencoba menguatkan Bara.


Pasalnya sudah hampir 1 jam dokter belum juga keluar.


Baik itu di ruangan Sela ataupun Rendy.


"Gue salut sama Rendy, dia bahkan sesayang itu sama lo Bar," kata Reno jika mengingat betapa sayangnya Rendy pada Bara.


Bara berpikir sejenak, memang Bara tahu jika Rendy sangat menyayanginya dan menganggap Bara sebagai kakak laki- lakinya.


Karena itu Bara selalu menjaganya sejak ia masuk kuliah.


Dari situ Bara seakan mempunyai sosok adik yang selalu ceria dan menghiburnya.


Percaya atau enggak Bara terkadang diam- diam meminta bodyguardnya untuk mengawasi Rendy dan Reno tanpa sepengetahuan mereka.


Dan siapa yang tahu jika Bara dan Rendy sama- sama saling menyayangi satu sama lain tanpa mengucapkan sepatah katapun.


Bara melihat pada Laura yang terus menangis sesegukan yang ditemani Jessy.


"Lo inget kan, Rendy titip Laura sama kita, jadi lo harus kuat agar lo bisa yakinin Laura kalau Rendy pasti baik- baik saja," kata Reno pada Bara.


Bradsiton sedang terbang ke AS untuk permintaan sebagai saksi ditemani oleh istrinya.


Karena itu mereka berdua tidak bisa datang untuk menemani Bara di sini.


Bradsiton hanya mengirim dua dokter terbaik dari Jerman hanya untuk bisa menyelamatkan nyawa putra dan menantunya.


Bayangin sesayang itu Bradsiton pada mereka meski bisa kita tahu jika Rendy dan Sela tidak punya hubungan darah dengannya.


Ceklek


Semua langsung berdiri saat mendengar suara pintu dibuka.


Tapi ini ruangan Sela.


"Dok bagaimana keadaan Sela, apa dia baik- baik saja?" tanya Bara pada dokter Jerman itu.


"Ya dia baik- baik saja setelah kehilangan banyak darah. Tapi tolong jangan masuk dulu, biarkan dia tenang dan istirahat," kata dokter itu memberitahukan agar tidak masuk terlebih dahulu.


"Iya dok,"


"Kalau begitu saya pamit dulu tuan Aldebaran, permisi," pamit dokter itu setelah selesai memeriksa Sela.


Mereka hanya menunduk lalu Bara dapat bernafas dengan lega saat tahu jika Sela baik- baik saja meski beberapa saat tadi dia kehabisan darah.


"Syukurlah, salah satu dari mereka ada yang selamat. Sekarang giliran menunggu Rendy," gumam Reno membuat Bara seakan kembali sesak dan sulit untuk bernafas.


Bara merangkul bahu Reno untuk saling menguatkan.


"Semoga hasilnya baik- baik saja," kata Bara berharap yang terbaik, Reno hanya menganggukkan kepalanya.


Ceklek


Dokter tampan dan tinggi itu keluar sembar membuka maskernya.


Terlihat Laura berlari menghampiri dokter tampan ini.


"Dok bagaimana keadaan Rendy?" tanya Laura membuat dokter tampan asal Jerman ini tersenyum manis.


"Syukurlah operasi berjalan lancar dan sekarang Rendy selamat," semua menghembuskan napas lega.


Akhirnya, dua orang yang Bara sayang selamat setelah melewati perjuangan yang hampir di ambang kematian.


"Dok apa boleh saya melihatnya?" tanya Laura tak sabar ingin segera melihat Rendy.


Diam- diam Reno dan Bara tersenyum samar saat melihat Laura yang langsung masuk ke dalam ruangan.


"Saya pamit dulu tuan Aldebaran," pamit dokter tampan itu pada Bara.


Reno dan Bara saling menatap dan berpelukan ala pria.


"Akhirnya mereka selamat Ren," kata Bara sangat senang sekaligus begitu bahagia.


"Dunia rasanya begitu hampa Bar tanpa manusia pelawak itu," kata Reno membuat Bara tertawa pelan.


"Iya bener banget," kata Bara setuju akan argumen Reno.


"Bar gue cabut dulu ya," pamit Peter pada Bara.


"Eh enggak mau gue anter?" tanya Bara pada Peter.


"Biar gue aja dah yang anter yok," kata Reno yang langsung menarik Peter pergi.


Kini tinggal Jessy dan Bara.


"Jes ayo gue anter sekalian gue mau ke kantor Reynald," kata Bara pada Jessy.


"Enggak usah deh Bar, jagain aja Sela gue bisa pulang sendiri," kata Jessy menolak tawaran Bara.


"Udah gue anter," paksa Bara dan Jessy hanya bisa menuruti kemauan manusia yang kepala keras ini.


Sedangkan Laura sedang duduk di samping kanan brankar dan menatap lekat wajah Rendy.


__ADS_1


Laura menggenggam tangan Rendy dengan erat lalu menciumnya.


"Gue kira lo bakal mati tadi Ren, kenapa lo jahat banget sama gue," kata Laura mulai meneteskan air matanya saat mengingat kejadian pertarungan tadi.


"Kenapa lo pakai acara nitipin gue segala le Reno sama Bara," dumel Laura kesal pada Rendy.


"Lo enggak mau gitu nikahi gue, hiks hiks," Laura menangis sesegukan dan terus berbicara.


Laura menundukkan kepalanya dan menangis tersedu- sedu.


"Emang lo mau nikah sama gue," seketika Laura langsung mendongak saat mendengar suara Rendy.


"Rendy," panggil Laura lirih dan langsung memeluk Rendy tanpa memedulikan dada kiri Rendy yang terluka.


"Kenapa lo jahat hiks hiks banget sama aku hiks hiks," kata Laura yang masih menangis saat di pelukan Rendy.


Rendy tersenyum lebar mendengar tangisan juga ucapan Laura.


Sebenarnya sejak tadi dia mendengar ocehan Laura tapi merasa tidak tega melihat dia menangis jadi Rendy membuka matanya.


Laura kembali duduk di kursi dan menatap Rendy dengan kedua mata yang sangat sembab.


Bugh


"Awww," teriak Rendy kesakitan saat lukanya dipukul dengan gamblangnya oleh Laura.


"Ngapain bilang ke Bara sama Reno pakai acara nitipin gue segala, kalau gue nanti diambil Reno gimana? Emang lo enggak takut?" tanya Laura dengan wajah cemberutnya.


"Ngapain takut, lo sukanya cuma sama gue," jawab Rendy membuat Laura langsung menundukkan kepalanya malu.


Rendy tertawa pelan melihat tingkah manis Laura.


Laura kembali menatap Rendy, beberapa saat Rendy seakan baru sadar jika pipi Laura sedikit memar.


"Sakit banget enggak?" tanya Rendy sembari membelai pipi Laura. Laura memalingkan wajahnya saat Rendy memegang pipinya.


"Enggak papa nanti bisa aku kompres aja," kata Laura membuat Rendy tersenyum devil.


"Coba liat, gue enggak keliatan, parah enggak sih?" kata Rendy membuat Laura memperlihatkan pipinya.


"Sinian gue gak keliatan," kata Rendy membuat Laura mendengus sebal. Dengan terpaksa ia sedikit maju agar Rendy bisa melihatnya.


Cup


Laura melotot ke arah Rendy saat dia mencium pipinya yang terlihat memar.


"Udah enggak sakit kan?" tanya Rendy mencoba menggoda Laura dengan menahan tawanya.


"Rendyyyyy jangan suka bikin anak orang baper kenapa sihh," teriak Laura membuat Rendy tertawa keras.


Laura dengan pipi yang masih merona kembali duduk di kursi samping brankar Rendy.


"Kalau gue mati, lo bakal nikah sama siapa?" tanya Rendy iseng ingin menggoda Laura.


"Yaudah jadi perawan tua aja, mau gimana lagi," jawab Laura dengan polosnya.


"Gue enggak percaya," kata Rendy membuat Laura memicingkan kedua matanya.


"Yaudah lo coba mati aja kalau pengin lihat gue jadi perawan tua," seketika tawa Rendy meledak mendengar ucapan Laura.


Laura hanya diam lalu menatap Rendy seakan ragu.


"Emang boleh?" tanya balik Laura membuat Rendy mengangguk pelan.


Dengan ragu dan malu Laura naik ke atas brankar lalu berbaring di samping Rendy dengan lengan Rendy sebagai bantalannya.


"Emang kamu beneran mau nikah sama aku?" tanya Rendy membuat Laura mendongak ke atas untuk menatap wajah Rendy.


Kalau Rendy udah bilang aku- kamu, berarti bucin lagi mode on.


"Kenapa tanya begitu?" tanya balik Laura sambil mengamati rahang Rendy yang terlihat seksi di mata Laura.


"Aku tidak memiliki kehidupan yang jelas, ayah dan ibuku sudah meninggal dan aku hanya dipungut oleh Bara untuk tinggal bersama,"


"Jadi aku tidak memiliki apapaun apalagi harta yang hanya diberi oleh Bara," kata Rendy membuat Laura tersenyum samar.


"Aku bukan mencintai hartamu, tapi aku ingin mencari suami yang tepat untukku. Yang benar- benar mencintaiku," jawaban Laura di luar dugaan Rendy.


Keduanya saling diam satu sama lain.


Laura kembali mendongak untuk menatap wajah tampan Rendy.


"Beberapa saat tadi aku benar- benar takut kehilanganmu, aku hmpp..,"


Rendy langsung membungkam mulut Laura dengan mencium bibir manis Laura.


Pelan tanpa menuntut.


Dan saling menikmati satu sama lain.


Menurut Laura, harta dan uang tidak ada artinya.


Cinta yang tulus seperti Rendy yang selalu ia dambakan dari dulu.


Sayang sekali, kenapa tuhan baru mempertemukan Laura dengan Rendy saat ini.


Andai dari dulu mungkin Laura akan menjadi wanita paling bahagia di dunia.


Rendy semakin ganas dan agresif pada Laura.


Dengan menuruni leher jenjang milik Laura.


"Rendy hentikan ini di rumah sakit," kata Laura sembari memukul lengan Rendy.


Rendy menatap wajah Laura dan tersenyum geli.


Lalu Rendy memeluk erat Laura dan tidur bersama di brankar.


□■□■


Bara dan Jessy sedang berada di kantor Reynald.


Tok tok tok

__ADS_1


Jessy langsung membuka pintu ruangan Reynald.


Terlihat Reynald sedang menunduk lesu duduk di sofa.


"Hey ada apa?" tanya Jessy langsung menghampiri Reynald untuk menanyakan keadaannya.


Reynald langsung memeluk Jessy dan belum menyadari akan kedatangan Bara.


"Perusahaanku telah bangkrut dan perusahaan di Jerman yang nantinya untuk Dewa pun juga telah di ambil oleh Walles," adu Reynald membuat Jessy tersenyum manis.


"Heleh gitu aja nangis lo," ejek Bara membuat Reynald melepaskan pelukannya.


"Sejak kapan lo di sini?" tanya Reynald dengan muka juteknya.


Karena seingat Reynald ini baru kali pertamanya Bara ke perusahaannya setelah 15 tahun mereka bermusuhan.


"Gue cuma nganter Jessy," kata Bara sambil meletakkan kakinya di atas meja.


"Lo jadi tamu enggak sopan banget sih, turunin enggak kaki lo," kata Reynald sembari memukul kaki Bara yang berada di atas meja dengan majalah.


"Lo kan bukan pemiliknya sekarang," ejek Bara sambil menatap Reynald.


Jessy menahan tawa melihat mereka berdua kembali akur seperti ini.


Rasanya Jessy kembali ke masa mudanya.


"Aku mau kasih sesuatu sama kamu," kata Jessy mengambil sesuatu dari tasnya.


Jessy mengeluarkan beberapa berkas lalu memberikannya pada Reynald.


"Apa ini?"


"Buka aja," Reynald langsung membukanya, dia membaca dengan sangat detail dan teliti.


"Ini beneran?" tanya Reynald tak percaya dan diangguki oleh Jessy.


"Hilih banci lo, tadi aja nangis- nangis sekarang senyum- senyum kayak orang gila," goda Bara membuat Reynald langsung memicingkan kedua matanya.


"Dan ini semua berkat Bara yang mengatur keuangan perusahaanmu," jelas Jessy membuat Reynald terkejut.


"Hekm masih menerima ucapan terima kasih," sindir Bara sambil melonggarkan dasinya.


Reynald melirik Bara seakan tak percaya, musuh yang selama ini dia anggap jahat ternyata bagai malaikat saat dia sedang di ambang kesusahan.


"Dan Bara juga yang telah mengurus tentang pemalsuan surat perusahaan di Jerman untuk ditandatangani Walles dan perusahaan itu masih tetap sama dengan nama Dewa," lagi dan lagi Reynald dibuat tercengang oleh ucapan Jessy.


"Kamu serius?" tanya Reynald karena tak percaya. Jessy tersenyum manis dan mengangguk.


Bara menahan senyumnya sembari melirik Reynald.


Reynald meletakkan berkasnya lalu berjalan menuju Bara.


"Hekm," Reynald berdeham sambil memalingkan wajah karena malu.


"Gue enggak terima sogokan," kata Bara yang langsung membuat Reynald ingin sekali memaki Bara sekarang juga.


"Peluk gue sekarang," Bara dan Jessy terbuat diam karena ucapan Reynald.


Bara dan Jessy saling menatap seakan tak percaya sama apa yang mereka dengar.


"Lo ngomong apa barusan?" goda Bara sambil berdiri untuk mendekat ke arah Reynald.


"Enggak bisa diulang," jawab ketus Reynald sambil memalingkan wajahnya.


Reynald melirik Bara sekilas lalu langsung memeluknya ala pria.


"Makasih atas bantuan lo semua," kata Reynald terdengar sangat tulus.


Bara menepuk punggung Reynald dan mengangguk.


"Oh ya sepertinya kalian harus berbicara berdua, gue akan buatin kopi," kata Jessy yang tahu situasi langsung pergi keluar.


.


.


.



Bara dan Reynald sedang berada di balkon.


Menikmati udara malam dan pemandangan kota Kanada.


Ternyata sangat indah sekali.


"Enggak kerasa ya udah usia 27 ini kita bakal balik lagi jadi temen," celetuk Reynald membuat Bara menoleh.


Bara menghela napas pelan lalu memasukkan kedua tangannya di saku celana.


"Gue juga enggak nyangka kalau gue bisa temenan lagi sama lo," kata Bara jujur dalam lubuk hatinya.


"Gue pengin ngomong sesuatu sama lo Rey," setelah sekian lama Bara memanggil namanya yang selalu ia gunakan saat jadi mahasiswa dulu.


"Jangan nembak gue," kata Reynald untuk mengalihkan rasa terkejutnya.


"Cihh," kata Bara tidak percaya dengan apa yang dipikirkan oleh Reynald.


"Gue mau jelasin tentang pembunuh dari kedua orang tua lo," kata Bara membicarakan soal yang menurut Bara ini sangat sensitif.


"Gue udah tahu," kata Reynald membuat Bara langsung menoleh ke arah Reynald.


"Sela yang kasih tahu gue," kata Reynald menjawab rasa penasaran Bara.


"Bagaimana bisa?" tanya Bara pada Reynald.


"Dia menyelidikinya bersama Robert kemarin saat menyusun rencana penculikan Walles," Bara lagi dan lagi dibuat tercengang.


"Jadi kalian sudah tahu rencana Walles kalau bakal nyulik Sela?" tanya Bara. Dan diangguki oleh Reynald.


"Ya tuhan gue serasa diprank sama kalian semua, kenapa cuma gue yang enggak tahu," kata Bara merasa bodoh sekali.


"Percaya sama gue, lo adalah laki- laki paling beruntung bisa mendapatkan Sela," ucapan Reynald membuat Bara merasa bahagia dan benar- benar bangga.

__ADS_1


▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎


__ADS_2