
□□□
Walles sedang mengerjakan berkas kantor di ruang tv.
Hari ini dia tidak berniat untuk pergi ke kantor.
Dari arah dapur Belinda membawa nampan yang berisikan kopi juga kue kering.
"Ini pa kopinya," kata Belinda meletakkan nampannya di atas meja.
"Makasih ma," kata Walles yang masih fokus menatap layar laptop.
"Pa gimana sama pencarian putri Bradsiton, apa sudah ketemu?" tanya Belinda penasaran.
Walles menutup laptopnya sambil menghela napas berat dan mengambil kopinya.
"Belum ma," kata Walles membuat Belinda mendengus sebal.
"Sampai kapan sih pa kita sembunyi- sembunyi terus kayak gini, capek mama tahu enggak," keluh Belinda membuat Walles menatap sang istri.
"Sabar ma, dengan identitas papa yang baru membuat papa harus berhati- hati dalam melangkah," jelas Walles pada istrinya.
"Lalu bagaimana dengan keselamatan putri kita?" tanya Belinda mengkhawatirkan putrinya.
"Tenang saja, semua identitasnya sudah papa rubah dengan yang baru," Belinda tersenyum tenang.
"Menurut papa, apa istri Bradxiton masih hidup?" tanya Belinda lagi.
"Entah terakhir kali informasi yang diberikan anak buah papa dia menderita sakit keras kemungkinan saja dia sudah meninggal," kata Walles menebak.
Kring kring kring
Walles melihat pada ponselnya, tertera nama Reynald.
"Halo,"
"Di mana kamu sekarang?"
"Aku istirahat di rumah, apa ada hal penting?"
"Kemarilah, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan,"
"Apa?"
"Tentang proyek AS,"
"Baiklah aku akan segera ke sana,"
Walles mematikan sambungan teleponnya dan menghela napas.
"Kenapa pa, apa ada masalah di kantor?" tanya Belinda cemas.
"Bukan bocah ingusan itu terus memerintahku layaknya seperti temannya sendiri," dumel Walles akan sikap Reynald padanya yang terlewat santai.
"Bahkan dia tidak tahu caranya berbicara pada orang tua, enggak punya sopan santun," gerutu Walles sambil berjalan menuju kamarnya untuk ganti.
○○○
Rendy dan Reno sedang berjalan mengendap- endap masuk ke dalam rumah.
Pagi-pagi buta mereka memutuskan untuk pulang setelah Bara pergi ke kantor.
"Tuan bagaimana kalau nanti kita ketahuan sama tuan Bara?" tanya Reno takut sambil berjalan di belakang Rendy.
"Tenang aja, pasti Bara udah berangkat ke kantor," jawab Rendy sambil menekan tombol lift dan melihat kanan kiri.
"Saya sangat takut tuan, bahkan jantung saya terus berdetak," kata Reno pelan.
"Kalau enggak berdetak berarti lo mati bego, gimana sih," dumel Rendy kesal.
Ting
Pintu lift terbuka, mereka berada di lantai 2 untuk mencari sarapan.
Ternyata sarapan sudah tersaji dengan rapi dan begitu banyak.
Buru- buru mereka menuju meja makan untuk sarapan.
Dengan semangat 45 Rendy mengambil piring.
"Oh baru inget kalau punya rumah?" suara serak juga tegas terdengar di lantai 2 membuat Rendy juga Reno berbalik untuk melihat Bara.
"Hehe tuan Bara," kata Rendy kembali meletakkan piringnya lalu berjalan menghampiri Bara diikuti Reno di belakangnya.
Ting
Pintu lift terbuka menampilkan Sela dengan pakaian casualnya pergi ke kampus.
"Selaaaaa," teriak keduanya berlari dan berhambur memeluk Sela.
Bara menganga tidak percaya sama mereka berdua.
Bisa- bisanya mereka mengabaikan dirinya dan memeluk Sela dengan sembarangan.
"Rendy Reno," kata Sela terkejut saat mereka datang.
Ketiga berpelukan layaknya seperti sahabat.
"Gue rindu tahu sama lo Sel," kata Reno membuat Sela tersenyum samar.
"Lo tahu enggak gue tuh enggak bisa sehari enggak liat lo," kata Rendy terdengar seperti ahlinya buaya merayu cewek di luaran sana.
"Cih buktinya seminggu enggak pulang betah tuh," sahut Bara yang di belakang dan terabaikan oleh mereka bertiga.
"Aku kangen kalian tahu enggak sih, kalian kemana aja?" tanya Sela penasaran pasalnya mereka sudah tidak pulang selama seminggu setelah dari wahana.
"Hehe biasa kita lagi sibuk," jawab Rendy sambil mengedipkan sebelah matanya pada Reno.
"Sibuk apa?" tanya Sela membuat Rendy dan Reno kebingungan.
"Hindarin mautlah apalagi," sahut Bara membuat Sela mengernyit bingung.
Bara berjalan menghampiri mereka bertiga.
"Kalian berdua gue hukum, gara- gara kalian ngilang gue yang riweh sama urusan kantor," dumel Bara mengomeli keduanya.
"Hari ini kalian enggak usah ke kantor dulu, selesain aja hukuman kalian," kata Bara membuat Rendy juga Reno tersenyum kesenangan.
"Apaan hukumannya?" tanya Rendy tidak sabar.
"Emm satu lo urusin tuh hamster gue, dua bersihiin kolam renang, tiga belanja kebutuhan bahan makanan di supermarket tapi berangkatnya dianter pak Asep,"
"Lo berdua jangan naik mobil yang ada mobil gue lo tinggal lagi kayak waktu itu," Sela tertawa pelan mengingat kejadian malam itu.
"Kok banyak banget hukuman kita," protes Rendy kesal pada Bara.
__ADS_1
"Kalian berdua enggak pulang ke rumah berapa hari?" tanya Bara.
"Satu minggu," jawab keduanya kompak.
"Nah selama seminggu hukuman akan berlaku," keduanya melotot tidak percaya mendengar ucapan Bara.
"Em yang terakhir lo masakin gue sama Sela buat makan malam nanti, sisa hukumannya besok lagi," kata Bara sambil menahan senyumnya melihat ekspresi keduanya.
Bara menarik tangan Sela untuk menaiki lift dan tidak jadi sarapan karena mereka akan terlambat.
"Kan apa saya bilang tuan, coba aja kita waktu itu pulang, pasti enggak gini, bukannya dikurangin hukumannya ini malah numpuk hukuman," dumel Reno membuat Rendy menatap kesal Bara.
"Gue sebenarnya sekretaris atau pembantu sih, capek gue," gerutu Rendy sambil berkacak pinggang menatap ruangan sekeliling.
"Terus itu ART apa gunanya coba, kalau gue yang masak, belanja, bersihiin kolam," dumel Rendy yang tidak segera melaksanakan hukumannya.
"Liat aja 10 tahun lagi gue jadi miliader, gue suruh lo nyapu jalanan Toronto," gerutu Rendy lalu menyusul Reno ke dapur dengan langkah gontai.
Pulang ke rumah pagi- pagi buat cari sarapan enggak tahunya malah dikasih hukuman.
.
.
.
.
.
Sela baru saja sampai di kampus kurang dari 10 menit kelas akan masuk.
Untungnya Bara mengendarai dengan cepat.
Sela merasa jika beberapa mahasiswa memandangnya aneh.
Kenapa mereka semua saling berbisik dan menatap sinis Sela.
Apa ada yang salah dengan pakaiannya.
Apa karena Sela tidak masuk kuliah 2 hari jadi seperti ini.
"Selaa," teriak Sandra yang setengah berlari menghampirinya.
Dengan napas terengah- engah Sandra langsung menarik tangan Sela menuju kerumunan.
"Mending lo coba liat sendiri deh," pinta Sandra yang langsung dilakukan Sela.
Sela membelah kerumunan untuk melihat apa yang sedang mereka gosipkan.
Foto dia dengan Reynald di club kemarin malam.
Sela langsung mengambil semua foto yang tertempel di madding dan jadi tontonan banyak mahasiswa.
"Ya tuhan Sel gue kira lo anak baik- baik lo, ternyata ya ampun,"
"Lo malu- maluin kampus tahu enggak,"
"Lo itu mahasiswi atau perempuan ***** sih, kerjaannya di club,"
"Udah- udah bubar semuanyaaa, bubarrr," teriak Sandra mengusir mereka agar tidak terus menghina Sela.
Sandra merebut paksa foto yang berada di tangan Sela dan membuangnya di tempat sampah.
"Lo enggak papa kan?" tanya Sandra melihat Sela yang menunduk.
"Ayo masuk kelas," ajak Sandra karena sebentar lagi dosen akan datang.
Saat memasuki kelas semua mahasiswi yang tadinya saling berbisik kala melihat Sela masuk kelas langsung menatap sinis.
"Ya tuhan si ***** udah masuk kelas nihh," teriak Laura menyindir Sela.
"Laura kamu jangan ngomong sembarangan," teriak Sandra pada Laura.
Tatapan Sela bukan ke Laura melainkan fokus pada Gabriela yang sudah duduk di bangkunya dan fokus bermain ponsel.
"Lo ngapain sih masih mau temenan sama orang kayak dia," kata Laura sewot.
"Emang kenapa, daripada temenan orang kayak lo, munafik," jawab Sandra membuat Laura menatapnya sinis.
Dewa yang merasa tidurnya terusik karena suara para cewek, sontak berdiri.
"Lo bisa diem enggak sih, gak guna tahu enggak mulut lo itu," teriak Dewa sambil menatap nyalang Laura.
Seisi kelas sontak terkejut ketika Dewa tiba- tiba berteriak.
"Omong kosong," kata Dewa lalu kembali melanjutkan tidurnya.
Laura menatap kesal kearah Dewa sedangkan Sandra menahan tawanya melihat wajah kesal Laura.
"Selamat pagi semua," sapa dosen yang tiba- tiba masuk ke dalam kelas.
Spontan membuat seisi kelas langsung duduk di bangku masing- masing.
Laura menatap sinis Sela yang melewati bangkunya.
Sedangkan Sela fokus menatap Gabriela yang sibuk mengeluarkan bukunya.
Sela duduk di bangkunya lalu sedikit memajukan badannya ke depan.
"Wa makasih ya," bisik Sela dari belakang yang masih bisa di dengar oleh Dewa.
"Tapi harus ada biayanya sebagai gantinya," bisik Dewa sambil menengok ke belakang.
"Enggak tulus banget nolonginnya," kata Sela membuat Dewa tersenyum samar.
"Lo bawa permen jelly warna pink itu enggak, gue ngantuk tahu," kata Dewa membuat Sela langsung mengambilkan permen jelly di tasnya.
"Nih," kata Sela memberikannya pada Dewa.
"Ok makasih," kata Dewa langsung memakannya dan fokus melihat penjelasan dosen.
Semua interaksi keduanya tak lepas dari pantauan Laura juga Gabriela.
Sekitar 45 menit dosen sudah selesai mengajar.
"Sela setelah ini tolong kamu ke ruangan Mr. John ya," kata dosen sebelum keluar kelas.
Dengan buru- buru Sela memasukkan bukunya ke dalam tas.
"Sel gue temenin enggak?" tanya Sandra namun Jenifer langsung menarik tangan Sandra.
"Kan kita harus ke perpus hari ini," kata Jenifer membuat Sela hanya tersenyum.
"Aku sendiri aja San, kamu ke perpus aja gih," kata Sela sambil menepuk bahu Sandra dan keluar kelas menuju ruangan Mr. John.
Sela mengetuk pintu ruangan Mr. John lalu dengan pelan membuka pintunya.
__ADS_1
"Sela, masuklah," kata Mr. John mempersilahkan dan memang sudah menunggu kedatangan Sela.
"Mister memanggil saya?" tanya Sela memastikan.
"Ya, saya hanya ingin bertanya mengenai beberapa foto yang beredar di madding kampus, apa kamu bisa menjelaskan?" tanya Mr. John pada Sela.
"Mister memang benar kemarin malam saya pergi ke club namun saya tidak bermain hanya datang memenuhi permintaan Gabriela,"
"Tapi entah kenapa sudah lama saya menunggu, Gabriela tidak kunjung datang dan saya bertemu dengan lelaki yang berada di foto itu, kita hanya sebatas mengobrol tidak lebih," jelas Sela membuat Mr. John mengangguk paham.
Mr. John terdiam sambil berpikir sejenak mengenai masalah ini.
"Saya percaya sama kamu Sela, tapi saya tidak tahu bagaimana respon lainnya tentang penjelasan kamu karena itu," Mr. John tidak melanjutkan ucapannya.
"Dengan berat hati dan terpaksa, beasiswa kamu di sini juga di Hardvard di putus," Sela terkejut sejenak tatapan juga pikirannya kosong.
"Mister apa ini tidak bisa dibicarakan lagi?" tanya Sela siapa tahu Mr. John bisa mengubah keputusannya.
"Maaf Sela, semua keputusan ada di tangan kepala senat saya hanya bertugas untuk menyampaikan," Sela menunduk sedih.
Bagaimana bisa beasiswa yang dia perjuangkan selama 3 bulan ini bisa hancur dalam satu menit.
Hanya karena foto.
"Kalau begitu saya pamit dulu mister," pamit Sela keluar dari ruangan Mr. John.
Sela berjalan dengan langkah lunglai dan pikirannya yang tidak karuan.
Sela melihat Gabriela baru saja keluar dari kelas.
"Gabriela," panggil Sela lalu sedikit berlari untuk menghampiri Gabriela.
"La kenapa kemarin malem kamu enggak dateng ke club, aku nungguin kamu lama banget," kata Sela tapi Gabriela masih sibuk bermain ponsel.
"Enggak pengin aja pergi," jawab Gabriela santai membuat Sela tidak percaya sama ucapan Gabriela.
Sela yang geram sejak tadi Gabriela terus bermain ponsel langsung merebutnya.
Tatapan Sela tidak sengaja melihat akun samaran di ponsel Gabriela, Sela lalu memeriksanya.
"La apa akun ini milik kamu?" tanya Sela tidak percaya sama apa yang barusan dia baca.
"Upss ketahuan deh," kata Gabriela santai sambil merebut ponselnya di tangan Sela.
.
.
.
.
.
Bara sudah hampir 15 menit menunggu Sela keluar dari kelasnya.
Kelas sudah selesai sejak tadi lalu di mana Sela.
Bara yang mencemaskan keadaan Sela berniat masuk ke dalam kampus untuk mencarinya.
Bara berjalan di lorong menuju kelas Sela.
Langkah Bara terhenti saat melihat Sela dan Gabriela sedang berbicara di lorong yang sudah sepi.
Tadinya Bara akan menghampiri Sela, namun urung saat Bara mendengar obrolan mereka dan memilih untuk bersembunyi mencuri dengar obrolan keduanya.
"Kenapa kamu lakuin ini sama aku?" tanya Sela pelan pada Gabriela.
Gabriela tersenyum miring sambil menatap ke arah lain.
"Lo tanya kenapa gue lakuin ini?" Sela spontan mengangguk.
"Karna gue itu benci sama lo, gue paling benci sama orang kayak lo. Lo tahu kenapa, karena hidup gue enggak seberuntung lo enggak sebaik lo enggak seindah hidup lo,"
"Liat diri lo, lo bisa dapetin kasih sayang juga perhatian dari ayah gue, lo selalu punya banyak teman, lo disukai oleh banyak cowok, bahkan kita tumbuh di lingkungan yang sama, lantas apa yang membedakan keduanya,"
"Gue pikir keberuntungan lo ini hanyalah sebuah kebetulan, ternyata enggak, keberuntungan lo hingga detik ini masih sama kayak dulu,"
"Lihat sekarang, bahkan lo bisa deketin Aldebaran, lo bisa tinggal serumah, lo bisa curi hatinya, padahal lo tahu gue suka sama Bara sejak gue pertama kenal sama dia, tapi lo,"
"Lo malah semakin gencar deketin Bara. Kurang apa hidup lo, ibu lo di rawat di rumah sakit sedangkan ayah gue, cuma bisa minum obat dan baringan di rumah, lo bisa kuliah dengan gratis karena Bara sedangkan gue harus banting tulang buat bisa kuliah, apa itu adil?" air mata Sela terjun bebas begitu saja.
"Enggak, semua opsi kamu enggak benar, emang benar awalnya aku kuliah karena tuan Bara yang membiayai tapi setelahnya aku berusaha untuk bisa dapetin beasiswa dan mengembalikan semua biaya kuliah yang tuan Bara bayarkan untukku,"
"Sedangkan untuk perawatan ibu, kamu juga salah paham, aku rela menjual rumah milik ayah untuk mengganti semua biaya yang tuan Bara berikan, aku juga bekerja keras La buat bisa balikin uang tuan Bara, bukan cuma kamu doang," kata Sela menjelaskan dengan pelan.
Bara yang bersembunyi di balik dinding tertegun beberapa detik.
Jadi, selama ini Sela tidak pernah memakai semua biaya yang dia berikan untuk ibunya ataupun biaya kuliah.
Bara benar- benar kagum akan sosok Sela.
Sela hanya tinggal di rumahnya tapi tidak menggunakan uangnya, emang cewek idaman.
"Apa lo sekarang suka sama Bara?" tanya Gabriela mengintimidasi Sela dan menatapnya tajam.
Bara yang tadinya berniat untuk menghampiri Sela tidak jadi mendengar pertanyaan dari Gabriela.
Dia ingin sekali mendengar perasaan Sela padanya, kira- kira apa jawaban Sela.
"Jawab Sela," bentak Gabriela dengan sangat keras membuat Sela memejamkan matanya.
Sela mendongak lalu menghembuskan napasnya pelan.
"Ya, aku telah jatuh cinta sama tuan Bara," pengakuan Sela membuat Gabriela tidak percaya dan menatap arah lain.
Beda sama orang yang sedang bersembunyi di balik dinding.
Bara setelah mendengar jawaban Sela seketika melihat kanan kiri, keadaan sepi.
Bara langsung push up lalu dilanjut sit up kemudian berlarian kecil kesana kemari dan melompat- lompat enggak jelas.
Mungkin ini yang namanya definisi bahagia tidak bisa diungkapkan dengan kata- kata.
"Benar kan gue bilang, cewek kayak lo muka doang yang polos tapi enggak dengan hati,"
"Munafik," kata Gabriela penuh penekanan lalu pergi begitu saja meninggalkan Sela sendiri.
Sela teringsut di lantai, menatap kepergian Gabriela.
Sela menunduk membiarkan air matanya turun begitu saja.
Seseorang yang dulu dia anggap sebagai seorang saudara, kakak baginya, kini berubah menjadi orang asing bagi Sela.
Hanya karena sebuah kata bisa merubah segalanya.
CINTA
__ADS_1
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎