
○○○
Gabriela baru bangun dari tidurnya, dia dari kemarin memang pulang ke rumah.
Gabriela melihat jam weker, pukul 7 pagi, hari ini dia tidak akan kuliah, dia sangat capek sekali setelah bekerja paruh waktu.
Gabriela pergi ke kamar mandi untuk bersiap kembali ke rumah Bara.
Selesai mandi Gabriela pergi ke kamar ayahnya, masih tidur.
Kemudian Gabriela pergi ke dapur untuk memasak.
Hari ini dia akan memasak daging yang masih fresh untuk ayahnya dan juga akan membuatkan bubur untuk ayahnya.
Sekitar 30 menit Gabriela sudah selesai dengan memasaknya, lalu membawa nampan ke kamar ayahnya.
Gabriela meletakkan nampan di atas nakas, lalu membangunkan ayahnya dengan perlahan.
"Yah ayah," kata Gabriela dengan pelan menepuk tangan ayahnya.
"Nak," jawab ayahnya membuka mata dan berusaha untuk bangun.
"Ini Gabriela masakkan daging buat ayah, juga Gabriela buatkan bubur kesukaan ayah," kata Gabriela sambil menyuapi ayahnya.
"Nak kenapa kamu 3 hari tidak pulang dan hanya menyiapkan makanan untuk ayah, kemana kamu? Apa kamu lembur?" tanya ayahnya karena 3 hari tidak melihat Gabriela di rumah dan hanya ada makanan di atas nakas.
"Emm Gabriela akhir- akhir ini emang nglembur yah, jadi Gabriela tidur di rumah temen yang deket restoran," alibi Gabriela pada ayahnya.
"Jangan terlalu capek nak, kamu harus istirahat," kata ayahnya sambil menerima suapan dari Gabriela.
"Ayah tidak butuh daging setiap hari, cukup masakkan ayah secukupnya," hati Gabriela semakin sakit saat mendengar penuturan ayahnya.
" Apa obat ayah masih ada?" tanya Gabriela.
"Hanya sisa satu," kata ayahnya sambil menatap nakas di sampingnya di mana obatnya disimpan.
"Ayah malam ini Gabriella tidak akan pulang lagi mungkin sekitar 1 hari atau 2 hari," kata Gabriela pada ayahnya.
"Jaga kesehatanmu nak, jangan terlalu keras bekerja," kata ayahnya sangat perhatian. Gabriela hanya tersenyum dan mengangguk.
Setelah selesai menyuapi ayahnya, Gabriela masuk ke dalam kamar dan melihat baju- baju yang dia ambil dari kamar Sela.
Kira- kira malam ini Bara akan pulang tidak ya.
Gabriela sibuk memilih beberapa baju yang dia ambil kemarin saat Sela berada di rumah sakit.
Ahh sepertinya baju ini sangat bagus, pikir Gabriela lalu langsung mengganti bajunya dengan baju milik Sela.
Gabriela sedang bercermin, lalu tersenyum senang.
"Sangat perfect dengan Bara," gumamnya sambil membayangkan ekspresi Bara ketika melihatnya nanti.
Gabriela berjalan perlahan untuk mengintip ayahnya, apakah sudah tidur atau belum.
Ternyata sudah tidur, Gabriela berjalan mengendap- endap keluar rumah untuk kembali ke rumah Bara.
Gabriela tidak henti- hentinya tersenyum membayangkan wajah Bara saat melihat penampilannya yang tak kalah menariknya dengan Sela.
Pasti Bara akan menyukainya.
○○○
Kini Sela dan Rendy juga Reno sedang berdiri di lobi.
Mereka hampir 10 menit berdiri di sana, tidak berani menaiki lift.
Antara takut Bara mengamuk dan dihukum Bara.
Pasalnya si Bara suka sekali menghukum Rendy dan Reno saat melakukan kesalahan sekecil apapun.
"Rendy gimana ini?" tanya Sela sambil memegangi ujung bajunya dan menatap lift takut jika Bara keluar dari lift.
"Gue enggak bisa mikir jernih Sel, perut gue rasanya mau meledak gara- gara naik wahana itu," kata Rendy sambil memegangi perutnya merasa sangat mual.
"Reno, gimana ini?" tanya Sela beralih ke Reno, Sela benar- benar takut jika Bara akan marah, meski sudah bisa ditebak jika Bara pasti akan marah karena sikapnya.
"Sama Sel, gue rasanya hampir sekarat, gue enggak bisa mikir apa- apa," kata Reno yang sedang duduk berjongkok dengan tatapan kosong ke depan.
"Kalian cuma naik wahana gitu aja kenapa kayak yang mau ninggal aja sih," kesal Sela pasalnya ini ide gila dari Rendy.
"Lo enggak tahu Sel, beberapa menit yang lalu rasanya malaikat mau cabut nyawa gue karena kita naik wahana yang nantangin maut," kata Rendy mengatakan yang dia rasakan.
"Gue enggak akan balik lagi ke situ meski gue dibayar 1 milyar pun, rasanya ngeprank malaikat enggak ada baiknya," gumam Reno sambil perlahan berdiri.
"Ayo kita antar sampai ke lift entar lo masuk sendiri ke ruangan Bara," kata Rendy yang sudah berjalan menuju lift.
"Ayo Sel, gue anter ke persidangan rumah tangga," kata Reno berjalan dengan lemas menyusul Rendy.
"Hihhh dua orang ini benar- benar membuatku sangat gila," kata Sela sambil menghentakkan kakinya dan menyusul mereka berdua.
Mereka bertiga berada di lift menuju lantai atas.
Di mana hati mereka berdebar sangat cepat karena ketakutan mereka pada Bara.
"Rendy ayolah temeni ke ruangan tuan Bara, kan kamu yang ngajak keluar," paksa Sela pada Rendy agar mau ikut dirinya ke ruangan Bara.
"Percaya sama gue, Bara enggak bakal marahi lo, percaya deh," kata Rendy membuat Sela memukul bahu Rendy dengan keras.
"Terus kenapa kamu enggak mau nemeni aku kalau gitu," ketus Sela sedangkan Rendy sedang mengusap- usap bahunya.
"Lagi menghindar dari maut," sahut Reno pelan tapi mampu didengar Rendy.
__ADS_1
"Ayolah Rendy Reno temeni ke ruangan tuan Bara, kan kalian yang punya ide buat ke dufan," kata Sela merengek untuk ditemani ketemu Bara.
"Gimana kalau Reno aja yang nemenin?"
"Lah kok saya, kan tuan yang ngajak Sela buat ke dufan,"
"Ayolah Reno, bantu untuk saat ini,"
"Iya Reno ayo temeni ke ruangan tuan Bara,"
"Kenapa kalian berdua selalu mengorbankan saya untuk menghadapi maut,"
Ting
Pintu lift terbuka menampilkan Bara yang berdiri tepat di depan lift dengan ekpresi datar.
"Kalau ekpresinya kayak gini, kita cuma bisa pasrah dan berdoa," gumam Rendy membisiki Sela.
Bara menatap datar pada Sela sedangkan Sela benar- benar gugup juga takut.
"Keluar kalian," mereka bertiga keluar dari lift.
"Kecuali kamu," kata Bara sambil menatap Sela, lalu masuk ke dalam lift.
Rendy dan Reno hanya bisa menatap iba pada Sela.
Kira- kira apa yang bakal terjadi pada Sela?
Lift tertutup dan menyisakan Rendy dan Reno yang masih berdiri di depan lift.
"Reno kira- kira Sela bakal diapain ya sama Bara?" tanya Rendy pada Reno.
"Harusnya kita mikirin bagaimana nasib kita setelah Sela selesai disidang," kata Reno lalu pergi begitu saja meninggalkan Rendy.
"Bener juga tuh, apa gue harus pura- pura pingsan, atau pura- pura sakit, amnesia, atau pura- pura gila," gumam Rendy memikirkan cara agar bisa terhindar dari hukuman Bara.
"Kalau gue pura- pura gila yang ada Sela makin enggak mau sama gue, peluang Bara makin banyak dong buat dapetin Sela," kata Rendy berbicara pada dirinya sendiri.
Sedangkan di dalam lift Bara hanya diam saja tanpa mengatakan sepatah kata pada Sela.
Sela juga hanya diam sambil menunduk dan memainkan jarinya.
.
.
.
.
.
.
Sela enggak bisa terus diginikan, Sela harus meminta maaf.
Bara memasuki lift lalu diikuti Sela di belakangnya.
Bara memencet tombol 3 untuk ke lantai atas, Sela hanya bisa pasrah dan berdoa seperti yang dikatakan Rendy.
Bara keluar dari lift lalu langsung menuju ruang keluarga.
Sela hanya bisa mengikuti kemana Bara melangkah. Rasanya Sela ingin sekali menghampiri dan menyeret Rendy ke hadapan Bara.
Sela lalu duduk di hadapan Bara dan sesekali menatap Bara yang kini menatapnya dengan ekpresi datar.
"Tuan...,"
"Kamu ke kamar aja, saya ada tamu," kata Bara membuat Sela mengernyit bingung.
"Bara," panggil seseorang membuat Sela menoleh untuk melihat siapa yang datang.
Wow sangat cantik sekali dan juga elegan.
Perempuan cantik itu tersenyum manis pada Sela lalu berjalan menghampiri Bara.
Sela yang menyadari keberadaannya di tengah mereka berdua, langsung menuju kamar seperti yang diperintahkan Bara.
"Apa dia kekasihmu?" tanya Jessy membuat Bara hanya tersenyum manis.
"Dia sangat manis," puji Jessy pada Sela yang memang menurutnya sangat manis.
"Oh iya, gue bawa apa yang lo mau," kata Jessy sambil mengeluarkan berkas yang diminta oleh Bara.
"Apa ini sudah semua?" tanya Bara pada Jessy.
"Tentu," jawabnya.
"Menurutmu, apa Reynald tidak akan curiga jika keuangan perusahaan berkurang begitu banyak?" tanya Jessy yang takut jika dirinya ketahuan.
"Justru hal itu yang aku inginkan, kau yang menjadi umpan biarkan Walles yang menjadi sasaran," Jessy tersenyum miring.
"Kau memang cerdik," puji Jessy sambil sesekali melirik ke kamar Sela yang sedikit terbuka.
Jessy menahan senyumnya saat dia melihat Sela yang sedang mengintip dari kamarnya.
Bara yang menyadari tingkah Jessy mengernyit bingung.
"Kenapa kau menahan senyum?" tanya Bara.
__ADS_1
"Sepertinya kekasihmu sedang cemburu denganku," kata Jessy membuat sejuta kupu- kupu seakan terbang dari perut Bara.
"Biarkan, kita lanjutkan pekerjaan ini," kata Bara untuk menutupi rasa senangnya dari Jessy.
"Apa kamu sudah datang ke perusahaan Reynald hari ini?" tanya Bara
"Belum, setelah ini aku akan ke sana untuk melakukan pemotretan," jawab Jessy karena Reynald mengirimkan pesan padanya untuk datang.
"Apa dia menggunakan gaun untuk sesi pemotretanmu?"
"Hanya beberapa kali, sisanya memakai dress yang terlihat cukup bagus,"
"Apa perasaanmu masih sama dengannya?"
Tiba- tiba Bara menanyakan hal yang membuat Jessy seakan kembali mengingat memori pahit di masa lalu.
"Biarlah, aku tidak ingin membicarakannya,"
"Kenapa, apa kau akan menyerah begitu saja?"
"Aku hanya berusaha untuk melupakan apa yang dulu pernah kita jalani,"
"Dengan cara setiap hari kau menemuinya akan membuatmu semakin sakit dan sulit untuk melupakan semua memori tentangnya,"
"Aku punya cara sendiri untuk melupakan semua tentangnya,"
"Percayalah, lukamu akan semakin besar jika kau terus bersamanya,"
"Apa kau lupa aku seperti ini juga karena membantumu,"
ketus Jessy membuat Bara tertawa renyah.
"Apa aku boleh meminta bantuanmu?" tanya Bara.
"Bukannya tadi kamu bilang aku harus menjauhinya?"
"Untuk hal ini tolong dekati dirinya," goda Bara membuat Jessy melotot tidak percaya.
"Percayalah jika bukan kamu yang meminta, kupastikan aku akan mencabik- cabik mulutnya," kata Jessy membuat Bara kembali tertawa.
"Kau ingin aku membantumu apa?" tanya Jessy ketus, Bara lalu mendekat kearah Jessy untuk membisiki Jessy sesuatu.
"Hmm baiklah," kata Jessy sambil meraih ponselnya lalu berdiri untuk pamit ke perusahaan Reynald.
"Aku akan ke perusahaan Reynald, aku pergi dulu," kata Jessy pamit pergi namun sebelum masuk ke dalam lift Jessy kembali menatap Bara.
"Jangan membuatnya menunggu lama," Bara hanya mengacungkan jempolnya dan tersenyum pada Jessy.
Bara sedikit melirik ke kamar Sela yang kini sudah tertutup rapat.
Bara tersenyum samar, lalu turun ke lantai 2 untuk memasakkan Sela karena sekarang waktunya dia minum obat.
Bara berjalan menuju dapur tapi dirinya dikejutkan oleh Gabriela yang tiba- tiba datang.
"Tuan," panggil Gabriela sambil tersenyum manis kearah Bara.
Bara menatap penampilan Gabriela yang bisa dibilang cukup terbuka.
Bukan itu poin masalahnya melainkan baju yang dipakai Gabriela.
"Bukankah ini baju Sela?" tanya Bara mulai mengintrogasi Gabriela.
Tanpa punya rasa malu atau sungkan pada Bara, Gabriela mengangguk dengan antusias.
"Siapa yang menyuruhmu untuk memakai bajunya?" kata Bara berjalan mendekat kearah Gabriela.
"Saya hanya meminjamnya sebentar, nanti akan saya kembalikan, lagian Sela juga tidak menyukai gaun seperti ini," ucapan Gabriela membuat Bara geram dengan cewek di depannya ini.
"Apa kamu tidak punya malu?" tanya Bara pada Gabriela, namun Gabriela tidak menjawab hanya menatap mata elang Bara.
"Kembalikan semua baju yang kamu ambil, saya beli bukan untuk kamu pakai," kata Bara dengan suara yang dingin.
Gabriela seakan tuli, dia tidak menjawab hanya berfokus untuk menatap mata Bara.
Gabriela yang melihat pintu lift terbuka dan menampilkan Sela keluar dari lift, langsung menarik baju Bara.
Alhasil tanpa sengaja bibir mereka saling bersentuhan.
Sela yang melihat hal itu terkejut, dirinya mendadak salah tingkah, dia harus bagaimana.
Gabriela pura- pura mendorong Bara hingga terhuyung ke belakang, agar terlihat real jika Bara yang menciumnya terlebih dahulu dan pura- pura terkejut jika ada Sela.
"Sela," kata Gabriela sambil mengelap bibirnya.
Bara menoleh ke belakang di mana ada Sela yang sudah berpakaian rapi.
lalu kembali menatap Gabriela bengis.
"*****," gumam Bara pada Gabriela lalu kembali menatap Sela yang masih berdiri di sana.
"Kamu akan kemana?" tanya Bara pada Sela, Sela mendadak salah tingkah karena telah menganggu momen mereka.
"Hah, saya ingin pergi ke rumah sakit untuk menjenguk ibu," kata Sela terdengar sangat gemetar.
Bara lalu menghampiri Sela dan menarik tangannya pelan menuju lift untuk kembali ke lantai atas.
Sebelum pintu lift tertutup Bara menatap nyalang terhadap Gabriela yang kini menatapnya dengan senyum smirknya.
Ting
Pintu lift terbuka, Bara menarik tangan Sela menuju kamarnya.
__ADS_1
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎