
□■□■
Darrrrrrr
"Hahahahahaha," Walles tertawa puas dan sangat keras saat ia menjatuhkan Sela bersama dengan bomnya.
Citttt darrr
Cittt darrrr
Cittt darrrr
Seketika tawa Walles berhenti saat ia melihat cahaya dari langit.
Semua pun mendongak ke atas saat kembang api itu menghiasi langit malam.
"Tidak, bagaimana bisa bomnya berubah menjadi kembang api?" kaget Walles bertanya- tanya.
Gabriela dan Jenifer pun juga dibuat kebingungan.
Apalagi Bara dan Bradsiton yang melihatnya, mereka lebih bingung dua kali.
Sedangkan Dewa dan Laura yang sudah tahu siasat Sela hanya tersenyum dan saling menatap.
"Karena enggak semudah itu buat kalahin kita," semua langsung berbalik saat mendengar suara Sela.
Walles melebarkan kedua matanya saat melihat Sela masih baik- baik saja dan datang bersama Rendy, Reno dan ada juga Sandra dan Jessy. Tidak lupa para bodyguard Bara.
"Kau suka kejutannya?" tanya Sela yang membalikkan ucapan Jenifer.
Bahkan Gabriela dan Jenifer dibuat melongo karena melihat Sela masih dalam keadaan baik- baik saja.
Bara tersenyum sangat lebar saat melihat Sela begitupun Bradsiton yang masih berada di atas.
Mereka percaya pada Sela, jika wanita cantik ini pasti mempunyai siasat tersendiri di balik ini semua.
"Bagaimana kau suka Walles?" tanya Sela mengejek Walles dengan senyum manisnya.
"Duh kasian banget sih kalian, berkali- kali kena prank juga enggak kapok," ejek Rendy membuat Laura yang masih diikat dan duduk di kursi tertawa pelan.
"Bukankah sudah ku bilang, kau akan menyesal saat melakukan ini," kata Sela pada Walles mengingat saat Sela memperingati Walles di dalam mobil tadi.
Bara seakan puas dengan rencana Sela dan ia juga puas melihat wajah Walles yang sangat kecewa.
"Tapi aku masih memiliki mereka," kata Walles langsung menarik Laura dan menodongkan pistol di kepalanya.
"Iya aku tahu. Aku ingin memberitahumu, jika kau ingin melihat kembang api lagi, tembakkan pistolmu pada ransel Laura, nanti kau akan melihat kembang api yang indah," seketika gelak tawa dari mereka terdengar kecuali Walles dan kawanannya.
"Sela jangan main- main denganku, kau lihat ke atas, dua sniperku siap untuk menembakmu," kata Walles sembari menunjuk sniper yang berada di sisi gedung.
"Oh ya tolong perintahkan mereka untuk menembakku," pancing Sela membuat Walles menatap tajam Sela.
Walles mengangkat tangannya memberikan isyarat pada dua sniper suruhannya.
Seketika mereka tertawa saat lanser merah itu malah mengarah pada Walles.
"Say hello Felix," teriak tentara itu sambil melambaikan tangan ke arah Walles.
Walles melebarkan kedua matanya saat melihat siapa yang mengambil alih snipernya.
Dua agensi FBI.
"Noh disuruh melambaikan tangan ke arah kamera," ejek Rendy membuat Walles menggeram kesal.
"Lambaikan tanganmu Walles," teriak Reno lalu tertawa keras bersama Rendy.
Gabriela melirik Jenifer seakan memberikan kode padanya.
Darrr
Gabriela menembakkan pistolnya ke atas membuat semua orang langsung panik dan menatap Gabriela.
"Serang," teriak Gabriela dan Jenifer membuat Sela dan lainnya langsung siaga.
Para bodyguard langsung menolong Bara agar bisa lepas dari kungkungan anak buah Walles.
Sedangkan Gabriela langsung menuju sasarannya yang sejak tadi ia incar.
Sela
"Kau lawan aku sekarang," kata Gabriela saat sudah berhadapan dengan Sela.
Sedangkan Jessy melawan Jenifer yang sedikit agresif.
Dan Sandra sedang mencari celah untuk bisa melepaskan ikatan Dewa disaat semua sedang sibuk bertarung.
Sedangkan Bara berhadapan dengan Walles, hal itu Bara lakukan agar Laura bisa meminta bantuan yang lainnya untuk melepaskan ikatan di tangannya.
Bradsiton dan Pram memerintahkan semua pengawalnya untuk membantu Rendy dan Reno dalam menghadapi anak buah Walles yang begitu banyak.
Walles memang sengaja mengumpulkan anak buah sebanyak ini, dan semua itu adalah anggota dari mafia Jack.
Sedangkan Reynald membantu Rendy dan Reno yang sedikit kewalahan.
Di sisi lain Sela dan Gabriela bertarung dengan sengit.
"Gue akan lebih puas saat bisa membunuhmu," kata Gabriela saat terhuyung ke belakang karena tendangan Sela.
Sela melemparkan kacamatanya lalu melirik Gabriela dan tersenyum miring.
"Apalagi aku bisa singkirin psikopat sepertimu, akan jadi prestasi bagiku," kata Sela membalikkan ucapan Gabriela.
__ADS_1
"Kau semakin lama semakin menjengkelkan," kata Gabriela merasa geram saat omongannya terus Sela balikkan.
Sela hanya tersenyum miring mendengar ucapan Gabriela lalu kembali bertarung dengan sengit.
Rendy sesekali mencari keberadaan Laura.
"Ren buruan cari Laura, lo bantu dia," teriak Reno pada Rendy sambil melawan musuh di depannya.
Rendy langsung berhambur untuk mencari keberadaan sang kekasihnya.
"Laura," panggil Rendy saat Laura bersama Sandra dan Dewa.
Hap
Rendy memeluk erat tubuh Laura dan menatapnya memeriksa setiap inci bagian tubuhnya.
Rendy kembali memeluk Laura untuk menyalurkan rasa kekhawatirannya.
"Sekarang kalian bertiga, berlindunglah cari tempat aman," kata Rendy meminta pada Sandra dan Dewa begitu juga Laura.
"Tapi...,"
"Sudah jangan membantah, agar kami bisa fokus melawan mereka saat tahu kalian sudah selamat, jadi carilah tempat aman," kata Rendy lalu memberi isyarat pada Dewa.
Dewa yang mengerti maksud Rendy langsung menarik dua perempuan ini untuk menjauh dari keributan.
Helikopter Bradsiton dan Pram mendarat di depan gedung untuk mengamankan mereka yang telah selamat dari tahanan Walles.
Rendy kembali membantu Reno dan Reynald untuk mengatasi anak buah Walles.
Bara berhasil membuat Walles beberapa kali terhuyung ke belakang dan sedikit kewalahan.
"Aku akan membunuhmu atas perbuatanmu pada Sela," kata Bara penuh dengan penekanan.
"Coba saja kalau kau bisa," tantang Walles pada Bara karena ia tahu Bara tidak membawa senjata.
Bara terus menyerang Walles tanpa ampun agar energinya terkuras habis.
Reno dan Rendy telah menghabisi semua anak buah Walles.
Sedangkan Reynald izin untuk melihat keadaan Dewa.
"Kalian semua, kembalilah ke tempat, biar kami yang membantu mereka," kata Rendy menyuruh para bodyguard untuk pergi dari tempat sana.
"Tidak tuan kami ingin membantu tuan Bara,"
"Aku tahu tapi tolong selamatkan diri kalian, biar kami yang membantunya," kata Rendy pada mereka.
Dengan berat hati para bodyguard meninggalkan balkon dengan hati yang kecewa karena tidak bisa membantu Bara.
Kini tinggal Bara melawan Walles, Sela melawan Gabriela dan Jessy yang melawan Jenifer.
"Reno lo bantu Jessy buat hadapi Jenifer dan gue akan bantu Sela," kata Rendy memberi intruksi.
Keduanya langsung bergabung untuk membantu mereka yang masih bertarung.
Terlihat jika Jenifer sedikit kewalahan hal itu membuat Reno terus mendesaknya.
Jenifer langsung mengeluarkan pistolnya saat merasa kewalahan.
Reno dengan cepat langsung menendang tangan Jenifer hingga pistolnya terjatuh.
Bugh
Reno menendang Jenifer hingga tersungkur ke lantai.
Dengan cepat Jessy langsung menangkap Jenifer dengan mengikat dua tangannya ke belakang punggung.
"Satu sudah selesai," kata Reno pada Jessy saat Jenifer berhasil di tangkap.
Kini beralih pada Sela dan Rendy yang melawan Gabriela.
Benar- benar sangat kuat sekali lawan ini.
Sela yang terus menyerang dan Gabriela yang terus menghindar.
Rendy berusaha untuk bisa merebut pistol dan pisau pada saku celana belakang Gabriela namun selalu gagal.
"Psikopat satu ini benar- benar licik," gumam Rendy saat tidak bisa mengambil pistol dan pisau dari saku celana Gabriela.
*Wush
Wush
Wush*
Terlihat helikopter perang milik agen FBI berada di atas balkon.
Pintu helikopter terbuka dan menampilkan Robert yang tersenyum ke arah Walles.
"Felix akhirnya aku bisa menemukanmu," teriak Robert seakan mengejek Walles yang terduduk di lantai karena tendangan Bara.
"Cih bajingan ini," umpat Walles saat Robert tersenyum ke arahnya.
Walles melirik kanan kiri di mana keberadaan pistolnya.
Nah ketemu.
Walles meraih pistol yang tidak jauh darinya karena Bara menendangnya.
Sedangkan Bara menatap ke atas tak percaya pada Robert jika ini semua sudah di rencanakan dengan baik.
Rendy yang sedikit terhuyung ke belakang karena tendangan Gabriela melihat Walles meraih pistolnya dan mengarahkan pada Bara yang masih mendongak ke atas.
"Baraaa awasssss," teriak Rendy yang langsung berlari untuk mendorong Bara.
__ADS_1
Darrrr
"Rendyyyyyy," teriak Reno yang langsung berlari menghampiri Rendy.
Sela menoleh saat mendengar teriakan Rendy memanggil nama Bara.
Hal itu Gabriela manfaatkan untuk melukai Sela.
Srtttt
"Awwww," teriak Sela saat Gabriela melukai Sela tepat di perutnya.
"Selaaa," teriak Jessy berlari ke arah Sela membuat Bara melotot dan berlari ke arah Sela yang terduduk sambil memegangi perutnya.
Gabriela langsung melarikan diri namun itu sia- sia saja.
*Darrrr
Darrrr*
Gabriela terjatuh saat lanser merah dari sniper mengenai pungggung dan kakinya.
Robert langsung turun tangan untuk menangkap Walles yang berusaha untuk berlari.
Darrrr
Robert menembak kaki Walles dan berlari untuk menangkapnya sebelum berlari jauh.
Hap
Robert bisa menangkap Walles setelah beberapa tahun lamanya.
"Akhirnya aku bisa menangkapmu setelah beberapa tahun ini," kata Robert girang setelah menangkap Walles atau Felix.
Robert dan anggotanya mengamankan Walles dan Jenifer sedangkan Gabriela dibopong oleh dua agen FBI karena kaki dan punggungnya tertembak.
"Bara aku ingin bertemu Rendy," kata Sela sembari menggenggam erat tangan Bara.
Bara membopong Sela untuk melihat Rendy yang tergeletak di lantai berbantalkan paha Reno.
"Ren lo enggak papa kan?" tanya Sela sembari menahan rasa sakit di perutnya.
"Lo liat Ren, bisa- bisanya dia nanya gue enggak papa? Padahal dada gue sakit banget," kata Rendy mencoba melucu agar mereka tidak sedih melihat dirinya.
"Lo tuh manusia bukan sih, udah ditembak juga masih ngelawak," kata Reno kesal sambil memukul dada Rendy yang tertembak.
"Sakit goblok, lo mukulnya yang habis ditembak," kata Rendy meringis kesakitan saat lukanya main dipukul saja oleh Reno.
"Ren gue titip Laura ya, gue mau tidur bentar aja, gue capek jalan- jalan keliling dunia sama lo sekarang waktunya gue tidur," kata Rendy sambil memegang tangan Reno.
"Lo ngomong apaan sih, lo enggak bakal kemana- mana, lo pasti sembuh," kata Reno sambil menahan tangisnya agar tidak diejek oleh Rendy.
"Emang gue mau kemana, dada gue aja ketembak masak iya gue mau jalan- jalan," canda Rendy membuat Sela menahan tawanya.
"Ren lo jangan bikin bengek mulu, gue capek ketawa sekarang waktunya mellow," kata Reno sambil mendongakkan kepalanya agar air matanya tidak turun.
"Udah ya gue cuma mau bilang titip Laura, dada gue sakit banget," kata Rendy membuat Bara mengenggam tangan Rendy.
"Lo pasti kuat Ren, kita akan ke rumah sakit," kata Bara yang terakhir kali Rendy dengar sebelum ia pingsan.
"Bara," panggil papanya bersama Pram dan yang lainnya.
"Apa kamu terluka?" tanya Bradsiton cemas pada Bara.
"Astaga Rendy," kaget Bradsiton saat melihat dada Rendy bersimpuh darah.
"Rendyyyy," teriak Laura saat melihat Rendy yang terkulai di lantai dengan darah yang memenuhi dadanya.
"Kalian tolong angkat putra saya," perintah Bradsiton pada pengawalnya.
Mereka langsung mengangkat Rendy untuk di bawa ke rumah sakit diikuti Reno dan Laura.
Bugh
Sela terjatuh pingsan karena darah yang dikeluarkan begitu banyak.
"Selaaa," teriak Bara membuat Bradsiton terkejut.
"Bara apa yang terjadi dengan Sela?" tanyanya karena tidak tahu.
"Gabriela melukai perut Sela dengan pisau pa," kata Bara lalu membopong Sela untuk naik ke helikopter dan di bawa ke rumah sakit.
"Buruan ayo bawa dia ke rumah sakit," kata Bradsiton terlihat mencemaskan dua orang tersayangnya terluka.
Mereka semua pergi meninggalkan balkon setelah pertarungan beberapa jam tadi.
Rasanya sangat menegangkan dan juga di ambang kematian.
Mempertaruhkan nyawa demi seseorang yang kita sayang.
Rasanya ini seperti real life.
Begitu nyata.
Aku bisa merasakan betapa kuatnya mereka melindungi satu sama lain.
Dan mereka menganggap satu sama lain adalah keluarga sendiri.
Tapi ingat! Kebenaran selalu menang melawan kejahatan.
Percaya itu.
Karena mereka semua telah membuktikannya.
Dan cerita ini akan berakhir indah dengan bom yang sudah diganti dengan kembang api malam ini.
__ADS_1
Sampai jumpa.