
Sela terbangun saat alarm Bara berbunyi.
Ia melihat ke samping, Bara masih tidur pulas sambil memeluk erat pinggang Sela.
Cup
Sela mencium bibir Bara sekilas agar ia bangun.
Tapi Bara tidak bangun juga, Sela kembali mencium bibir Bara.
Dan dengan usilnya Bara mengulum bibir manis Sela.
"Sayang," rengek Sela membuat Bara membuka matanya dan menatap gemas Sela.
"Apa?" tanya Bara sambil menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Sela.
"Aku boleh enggak ikut ke kantor?" tanya Sela sambil membelai rambut lebat Bara.
"Mau ngapain di sana hmm?" tanya Bara yang terlalu gemas.
"Enggak ada, cuma mau nemenin kamu kerja aja," jawaban Sela membuat Bara tersenyum hangat.
Bara mencium leher jenjang Sela lalu menatap wajah cantik istrinya.
"Aku boleh tanya enggak?" tanya Bara dan diangguki oleh Sela.
"Kenapa sahammu 10% kamu berikan di perusahaanku? Terus kenapa kamu ikut bantu dirikan proyek katun yang aku bangun?" Sela terdiam bingung untuk menjelaskan.
"Emang harus banget ya dijawab?" tanya Sela membuat Bara menyerang pipi Sela dan menciumi seluruh wajahnya.
"Iya sayang, jelasin semua ke aku," kata Bara sambil menarik tubuh Sela agar lebih dekat dengannya.
"Cuma itu yang bisa kuberikan untuk membalas semua kebaikanmu, mulai dari membiayai ibu di rumah sakit, membiayai aku kuliah, sudah mau menampung aku, terus juga mengembalikan rumahku yang ku gadaikan di bank," jelas Sela dan Bara hanya diam dan menatap istrinya.
Bara mencium bibir manis Sela, ia ******* dan mengulumnya dengan sangat lembut.
Bibir yang selalu jadi candu baginya dan tidak pernah berubah sedikitpun.
Bara beralih menciumi leher jenjang Sela dan tak lupa selalu mengusap lembut perut Sela yang kini sudah sedikit membesar.
"Aku tidak pernah memperhitungkan itu semua, apa yang kuberikan untukmu berarti itu sudah menjadi milikmu," jelas Bara pada Sela.
Sela mengalungkan kedua tangannya di leher Bara, itu berarti manjanya lagi mode on.
"Aku boleh enggak jalan- jalan satu hari aja sama kamu?" Bara tertawa pelan mendengar permohonan Sela.
"Mau satu bulan juga boleh," kata Bara membuat Sela begitu girang dan langsung memeluk erat suaminya.
"Makasih," kata Sela dengan nada imut membuat Bara semakin bertambah gemas.
"Mau kemana hmm?" tanya Bara agar Sela yang menentukan reservasi tempatnya.
"Nanti aku kasih tahu setelah mandi, ok," kata Sela yang beranjak dari king size menuju kamar mandi.
Bara meraih ponselnya di atas nakas dan mengirimkan pesan pada pak Nam.
Tolong batalkan semua pertemuan hari ini, saya tidak bisa hadir.
"Sayang aku juga mau mandi," teriak Bara yang langsung menyusul Sela mandi.
.
.
.
Di sinilah mereka sekarang.
Prancis.
Sela bilang jika ia ingin sekali datang kemari bersama Bara.
Dan hal itu kini terjadi.
"Sayang kamu mau kemana?" tanya Bara dengan tangan yang tak lepas dari pinggang ramping Sela.
"Bentar jalan- jalan di sekitar sini dulu," kata Sela yang begitu menikmati suasana Prancis saat di pagi hari.
Bara hanya menuruti kemana langkah Sela pergi.
Ia ingin menghabiskan waktu lebih banyak bersama Sela.
Sudah banyak rintangan dan juga halangan yang membuat mereka terpisah jarak.
Kini mereka sudah terikat hubungan satu sama lain yang tidak akan bisa dipisahkan selain maut.
Jadi, Bara tidak akan menyia- nyiakan kesempatan ini untuk menghabiskan waktu bersama Sela.
Karena banyak laki- laki di luaran sana yang ingin mendapatkan Sela.
"Sayang aku pengin makan itu," tunjuk Sela pada jajanan di pinggir jalan.
"Tapi apa itu benar- benae bersih, tempatnya di pinggir jalan pasti banyak debunya," kata Bara sambil menatap jajanan pinggir jalan itu.
"Bersih- bersih, ayo dong makan," ajak Sela sambil menarik Bara ke tempat jajanan itu.
Sela memesan dua porsi dan yang lebih spesialnya, makanan ini khusus untuk pasangan.
Sela menarik Bara untuk duduk di lesehan yang disediakan dekat jembatan warna- warni.
"Sayang kita duduk di bangku taman aja yuk, di sini kotor banget," protes Bara yang belum terbiasa.
"Apanya sih yang kotor, udah duduk sini aja," paksa Sela agar Bara mau duduk di lesehan itu.
Perlahan Bara merasa nyaman dengan duduk di lesehan seperti ini.
__ADS_1
"Kamu tahu enggak, aku baru kali ini makan di tempat lesehan gini," ungkap Bara jujur membuat Sela tersenyum.
"Karena itu kamu harus coba hal baru ini," kata Sela membuat Bara mencium keningnya.
"Masih banyak hal yang belum aku lakuin sama kamu, jadi temani aku sampai nanti," Sela merasa tersentuh dengan ucapan Bara.
Sela langsung memeluk Bara manja.
"Awas sampai kamu poligami nanti," ancam Sela membuat Bara tertawa.
"Dapetin satu ini aja susahnya minta ampun, masak iya mau dimadu gitu aja," kata Bara membuat Sela tersipu malu.
"Ayo jalan lagi," ajak Sela setelah selesai makan.
"Mau kemana lagi hmm?" tanya Bara yang selalu menuruti kemauan Sela.
"Jalan pokoknya sama kamu," jawab Sela yang sudah beranjak berdiri.
"Perutmu sudah besar sayang, masak iya kamu enggak capek," kata Bara yang merasa capek meski hanya melihat Sela yang perutnya sekarang sudah membesar.
"Ayooo sayanggg buruan," rengek Sela yang membuat Bara langsung berdiri cepat.
Mereka lalu melanjutkan untuk jalan- jalan menyusuri kota Prancis.
"Tunggu, ini sepertinya tempat yang cocok untuk memotretmu," gumam Bara sembari melihat kanan kiri jalan.
"Apa?" tanya Sela karena tidak dengar.
"Sayang cobalah berpose jalan di trotoar sana, aku akan memotretmu," kata Bara sambil mengeluarkan kameranya.
Sela hanya menurut saja dan berpose sesuai permintaan Bara.
"It's perfect," kata Bara tersenyum pada Sela. Sela lalu mendekati Bara untuk melihat hasilnya.
"Wahh siapa wanita cantik itu?" tanya Sela membuat Bara tertawa geli.
"Entah, orang bilang sih istrinya Aldebaran, miliader itu," lalu mereka tertawa bersama.
"Ayo jalan lagi," ajak Sela sambil bergelayut manja di tangan kekar Bara.
Jujur, Bara lebih suka saat Sela manja padanya.
Karena jarang- jarang Sela menempel seperti ini pada Bara atau memanggilnya dengan sangat manis seperti 'sayang'.
"Bara aku pengin naik komedi putar," rengek Sela saat melihat komedi putar yang dipenuhi banyak pasangan.
"Enggak," tolak Bara tegas membuat Sela melepaskan pelukan di tangan Bara.
Sela menatap mata Bara, mata Sela sudah berkaca- kaca, artinya sebentar lagi ia akan menangis.
"Sayang, bagaimana mungkin kamu naik, lihatlah pakaianmu," kata Bara menjelaskan kenapa ia melarangnya.
Sela tidak kehabisan akal, ia melihat penjual baju di pinggir jalan.
"Bentar ya tunggu sini," kata Sela yang langsung berlari ke arah toko baju itu.
Tidak berapa lama Sela sudah kembali dengan pakaian yang ia beli.
Jaket dan syal.
"Udah tunggu apalagi, ayo naik," kata Sela yang langsung menarik Bara untuk menaiki komedi putar.
Bara hanya diam dan menuruti kemana Sela membawanya.
Termasuk ikut naik komedi putar.
Terlihat Sela begitu bahagia meski hanya naik komedi putar.
"Astaga, apa hal sekecil ini adalah salah satu kebahagiaanmu?" gumam Bara saat melihat istrinya tersenyum lebar.
Bara kembali mengeluarkan kameranya untuk mengabadikan momen bahagia ini.
"Sayang, lihatlah kemari," kata Bara agar Sela melihat kameranya.
"Gue ragu kalau dia istriku, kenapa bisa dia secantik ini, ahhh," gumam Bara lirih setelah memotret Sela dan hasilnya selalu memuaskan.
Setelah selesai menaiki komedi putar, mereka kembali jalan- jalan.
Hari juga sudah malam, jadi Bara mengajak Sela ke suatu tempat untuk melihat keindahan menara eiffel saat malam hari.
"Sayang kita mau kemana sih?" tanya Sela yang kesal dengan Bara karena tidak memberitahunya.
"Nanti juga tahu," kata Bara sambil menggandeng erat tangan Sela.
"Tunggu, aku mau beli itu," kata Sela menunjuk balon yang sangat indah itu.
"Ayo," kata Bara yang langsung menghampiri penjual balon itu.
Setelah selesai membeli balon, Bara belum memberitahu kemana mereka pergi.
"Sayang, aku laper," rengek Sela membuat Bara menaikkan sebelah alisnya.
"Sayang bagaimana mungkin kamu lapar, barusan baru beli jajanan," protes Bara saat Sela mengeluh lapar.
"Sayang, lihatlah papamu, masak kita lapar dimarahi," kata Sela sambil memegangi perutnya dan melirik sinis Bara.
Bara tidak bisa menahan tawanya melihat sikap gemas Sela.
"Uhhh kenapa kamu cantik banget sihhh," kata Bara sambil mengangkat tubuh Sela lalu menciumi seluruh wajahnya.
"Bara dilihatin banyak orang," kata Sela tersipu malu saat banyak orang tersenyum melihat mereka.
Bara lalu menurunkan Sela dan menggandeng tangannya menuju kedai makanan.
__ADS_1
"Udah sekarang mau makan apa?" tanya Bara saat mereka sampai di depan kedai.
Tanpa sungkan dan malu Sela langsung memesan sekitar 5 porsi untuk dirinya sendiri.
Bara tidak berhenti tertawa kecil melihat bumil satu ini.
"Udah ayo pergi," kata Sela sambil menarik tangan Bara saat ia sudah mendapatkan makanan.
Dan di sinilah mereka, di tempat yang Bara maksud.
Di gedung tinggi di mana mereka bisa menyaksikan keindahan Prancis saat malam hari.
Sela lalu duduk di tepi dan menggantungkan kedua kakinya sambil memegangi balon yang ia beli dengan mulut yang tak hentinya mengunyah.
Bara tak akan menyia- nyiakan kesempatan ini, ia langsung memotret Sela.
Sangat indah untuk malam ini.
Bara langsung mengunggah hal itu di sosial medianya, agar dunia tahu, jika Sela Gabriela Maxiton adalah miliknya, istri sahnya.
Bara tersenyum lebar, lalu ia duduk dan memeluk erat istrinya agar tidak kedinginan.
Cup
Sela mencium pipi Bara sekilas membuat Bara sedikit terkejut.
"Makasih ya udah nemenin jalan- jalan hari ini," kata Sela membuat Bara tersenyum lebar.
"Aku rasa jika kamu ingin berterima kasih bisakah lakukan sekali lagi?" tanya Bara membuat Sela memalingkan wajahnya malu.
Sela menghembuskan napasnya pelan lalu bersiap untuk mencium pipi Bara.
Namun dengan usil Bara menoleh hingga bibir mereka bertemu satu sama lain.
Bara mengulum lembut bibir tipis istrinya, terasa sangat manis karena Sela seharian ini makan- makanan yang manis.
"Percayalah, aku begitu bahagia malam ini dan untuk selamanya," gumam Bara pelan lalu memeluk erat Sela dan memandangi menara eiffel yang menjulang tinggi itu.
《♡♡♡》
Jika di sisi lain ada Bara dan Sela yang bahagia.
Ada kisah Rendy dan Laura untuk malam ini juga.
Entah kenapa Laura susah sekali dihubungi.
Hal itu membuat Rendy begitu cemas akan Laura.
Dengan sangat buru- buru Rendy naik helikopter Bara untuk pulang ke rumah.
Tadinya ia masih ada meeting bersama klien dari Belgia, tapi ia batalkan saat Laura sudah 3 jam tidak menelponnya.
Lalu beberapa menit kemudia ponselnya mati.
"Astaga Laura, semoga kamu baik- baik saja," gumam Rendy yang benar- benar mencemaskan keadaan Laura.
Rendy sudah sampai lalu ia bergegas turun dan berlari ke dalam rumah.
"Laura," teriak Rendy begitu keras saat rumah begitu sepi.
"Kemana perginya Reno dan Dea?" gumamnya pelan lalu naik lift untuk menuju kamarnya.
"Semoga tidak terjadi apa- apa," gumam Rendy yang begitu gelisah di dalam lift.
Ting
Rendy langsung berlari menuju kamarnya dan
Brakkk
Tunggu, siapa yang ulang tahun?
Lantas siapa yang mendekorasi semua ini?
Perlahan kaki Rendy masuk ke dalam kamar dan melihat kamarnya didekorasi seindah ini.
Rendy melihat sesuatu yang menarik perhatiannya.
Ia berjalan menuju king size agar bisa melihat dengan jelas.
"Tunggu, apa ini?" gumam Rendy tak ingin salah paham dan bersorak girang.
"Kejutannnn," teriak Laura yang muncul dari balik gorden membuat Rendy terkejut.
"Sayang, apa ini.....," Laura mengangguk membuat Rendy tak lagi bisa berkata lagi.
Rendy langsung mengangkat Laura dengan sangat girang.
"Akhirnya, sebentar lagi aku akan menjadi seorang ayah," teriak Rendy membuat Laura tertawa geli.
Cup
Laura mencium sekilas bibir seksi Rendy.
"Maaf membuatmu khawatir," kata Laura lalu memeluk erat Rendy.
"Aku begitu mencemaskanmu," gumam Rendy yang memeluk erat Laura.
Rendy lalu berjalan menuju balkon dan naik ke atas tepi.
"Dunia, apa ini yang kau maksud kebahagiaan paling sempurna?"
__ADS_1
"Aku telah menjadi seorang ayah,"
Tanpa Laura sadari ia meneteskan air matanya melihat Rendy begitu bahagia mendengar kehamilannya.