
□■■□
Setelah selesai persalinannya, Laura dan Dea dipindahkan ke ruang VVIP.
Mereka semua berkumpul di ruangan untuk melihat keadaan ibu juga bayinya.
Rendy yang berada di samping jendela terheran- heran melihat dua baby kembarnya ini.
"Untung cuma 2 kalau 3 kayak Bara bisa rame rumah mama sama papa," gumam Rendy sambil menatap kedua putranya.
"Untung gue satu," kata Reno sembari menatap gemas bayinya yang begitu menggemaskan.
"Wih selamat bro buat kalian berdua, selamat begadang, selamat mengurus anak dan selamat untuk jadi ayah," ejek Bara pada mereka berdua.
"Perasaan baru kemarin gue bikin kok udah jadi anak aja ya," gumam Rendy yang langsung mendapat tonyoran dari Reno dan Bara.
"Enak aja baru kemarin, lama bego 9 bulan," ketus Bara lalu duduk di sofa sembari menatap kedua saudaranya.
"Cihh gue enggak percaya kalau dua sejoli itu udah jadi bapak aja, mana mereka berdua labil banget lagi," gumam Bara sembari memfoto ruangan ini untuk diperlihatkan pada Sela.
"Rendy Reno," teriak Rose yang baru saja kembali dari lantai 2 untuk mencari coffe.
"Mana liat cucu mama," katanya sembari melemparkan tas brandednya ke sembarang arah dan langsung menghampiri mereka.
"Ya ampun unyu banget cucu- cucu mama. Mana banyak banget sekarang cucu mama ya," katanya sembari menggendong bayinya Rendy lalu Bradsiton menggendong bayinya Reno.
"Hey son kenapa kamu hanya buat satu, Rendy aja buat 2, Bara 3," kata Bradsiton membuat Rendy melebarkan kedua matanya.
"Papa kira buat anak kayak buat kue mochi apa?" Bradsiton terkekeh mendengar omelan Rendy.
"Pokoknya kita harus buat pesta besar," teriak Bradsiton girang.
Plak
"Pesta- pesta, udah tua aja banyak tingkah. Mabuk dikit aja banyak ulah," ketus Rose saat mengingat bagaimana Bradsiton kala mabuk.
"Kan waktu itu papa kebanyakan ma minumnya, kali ini enggak deh janji," semua tertawa melihat wajah takut Bradsiton pada Rose.
"Enggak usah," ketus Rose sambil membawa putra Rendy ke Laura.
"Sayang, kamu udah kasih nama belum?" tanya Rose pada Laura.
"Belum ma," Rose berpikir sejenak, kira- kira siapa nama yang pas untuk baby twin ini.
"Gimana kalau Earvin Earwine?" usul Rose lalu Bradsiton maju mendekatin Rose karena tak setuju.
"Enggak jelek itu," mereka semua mendongak dan menatap papa dengan kata hati yang berbicara sama.
Wah papa cari mati ini.
"Gimana kalau Daffa Daffi?" kini usul Bradsiton.
"Jelek enggak ada maknanya," balas Rose pada Bradsiton.
"Emang punya mama ada maknanya?" tanya Bradsiton kesal.
"Ada kenapa emang?" Bradsiton terdiam, dia tadi asal nyeplos aja mana tahu apa artinya nama itu.
"Udah- udah jangan berantem, gimana kalau namanya Earvin sama Daffa aja kan biar adil," kata Reno yang menengahi mereka berdua.
"Itu namanya enggak jadi kembar goblok, gimana sih lo," kesal Rendy dengan sikap Reno, mau sok dewasa malah jadi kelihatan oonnya.
"Terus gimana maunya?" tanya Bradsiton pada Rose.
"Bagusan Earvin Earwine," kata Rose yang tetep ngotot.
"Janganlah ma, nanti kita kalau tua sulit manggilnya," kata Bradsiton mencoba membujuk Rose.
"Udah- udah yang kasih nama biar bapaknya aja," kata Bara yang merasa terganggu dengan keributan kecil ini.
Rose dan Bradsiton hanya diam saja dan mengalah.
Rendy dan Laura saling menatap.
"Sayang kamu ada nama?" tanya Rendy dan Laura berpikir sejenak.
"Agam Adam?" usul Laura dan Rose mengangguk dengan setuju.
"Nama yang bagus," puji Bradsiton dan mereka semua setuju.
Kini beralih pada baby Reno.
"Terus putranya Reno, gimana sayang kamu mau namai siapa?" tanya Rose pada Reno.
"Gimana kalau Daffa?" Bradsiton yang paling girang dari lainnya karena namanya yang dipakai.
Akhirnya mereka setuju saja karena nama kan doa jadi harus dipertimbangkan dengan matang.
《♡♡♡》
Tepat 1 tahun kemudian
Rumah yang dulunya hanya ada beberapa orang, kini bertambah lebih banyak.
Dulu yang ramai hanya karena candaan kini berubah ramai karena suara tangisan juga rengekan buah hati mereka.
Hidup yang dulu bahagia kian tambah berwarna dengan bersatunya satu keluarga besar ini.
Bagaimana tidak, lihatlah mereka.
Ada Bara yang bangga dengan ketiga putranya ketika lahir dari rahim wanita yang ia idamkan selama ini.
Rendy yang selalu tak percaya jika ia kini jadi seorang ayah dari wanita yang tidak pernah ia sangka akan jadi istrinya.
__ADS_1
Dan Reno yang selalu bersyukur saat mendapatkan buah hati dari seorang perempuan yang lebih dewasa darinya dan berhati lembut.
Juga Sandra yang kini sedang mengandung menambah kebahagiaan keluarga besar ini.
Lalu kebahagiaan mana lagi yang akan mereka cari.
Semua sudah mereka miliki saat ini.
Sedangkan Rose dan Bradsiton yang kian bertambah usia di waktunya yang senja, semakin berbahagia kala melihat putra mereka juga cucunya.
Sayangnya mereka saat ini sedang ada di Swiss untuk liburan sejenak.
Pagi ini dimulai dari Rendy, Laura meminta agar ia memandikan putranya.
Laura sedang membantu Dea untuk masak besar bersama Sela karena hari ini Jessy dan juga Sandra akan datang.
Ditambah papa dan mama juga akan pulang dari liburannya.
Jadi, hari ini super duper sibuk, alhasil para suami hari ini akan menjadi baby sister semantara.
Rendy memandang kedua putranya yang ia dudukkan di sofa.
"Ok sayang, papa bakal mandiin kalian. Tapi sebelum itu papa harus kasih tanda sama kalian agar tidak tertukar," kata Rendy sembari mencari sesuatu sebagai tanda.
Kuncir rambut.
Rendy lalu menguncir rambut kedua putranya dengan dua warna yang berbeda.
"Baby Agam warna hijau, baby Adam warna biru. Ok sekarang saatnya kita mandi," kata Rendy yang langsung membawa kedua putranya ke kamar mandi.
Sekitar 25 menit lamanya, Rendy dan kedua putranya berkutat di kamar mandi dan kini sudah selesai.
"Bentar ya papa cariin baju," kata Rendy sembari mencarikan baju untuk kedua putranya.
"Sayang, kamu sudah mandikan mereka?" tanya Laura yang masuk ke dalam kamar untuk memeriksa pekerjaan suaminya.
"Astagaaaa Rendyyyyy, kau apakan putraku," teriak Laura membuat Rendy langsung keluar dari walk in closet.
Laura menatap kedua putranya yang sudah selesai dimandikan oleh Rendy.
"Kan biar kayak di sauna sayang," jawab Rendy sembari memakaikan baju pada putranya.
Bugh
"Yang bener aja kalau ngurus anak, awas sampai kamu buka salon di dalem kamar," peringati Laura lalu keluar kamar untuk kembali membantu Sela dan Dea.
"Biasa sayang mama kamu selain marah- marah enggak ada kerjaan lain. Jadi, harap maklum ya," gumamnya setelah selesai memakaikan baju pada kedua putranya.
"Tadi yang Agam yang Adam mana ya?" gumam Rendy bingung sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Sedangkan Bara juga sedang mengurus ketiga putranya, sama seperti Rendy.
"Wahh ternyata anak gue banyak juga ya," gumam Bara sembari menatap ketiga putranya.
"Ok sayang, kamu di sini bentar ya, papa mau ambil adik kamu," gumamnya setelah memandikan baby Al.
Setelah itu Bara ganti memandikan baby El di bak satunya.
Setelah selesai Bara langsung memindahkan baby El ke kolam kecil yang berada di samping baby Al.
Karena baby El lebih suka bermain dan lebih aktif dari baby Al.
"Ok baby Al sama El udah selesai, sekarang ganti Dante," kata Bara dengan cepat langsung mengambil Dante untuk dimandikan.
"Ya ampun sayang, sejak kapan mamamu memberimu baju perempuan," gumam Bara sambil melepaskan semua baju Dante dan langsung memandikannya.
Setelah selesai memandikan ketiga putranya, kini Bara sibuk memilihkan baju untuk ketiga putranya.
"Ya tuhan gue kira 3 itu sedikit, pas disuruh ngurus mereka ternyata capek juga ya," gumam Bara sembari memilihkan baju untuk putranya.
"Gini nih kalau waktu bikin enggak ada waktu senggangnya," gumam Bara yang sepertinya baru menyadari perbuatannya pada Sela.
Di sisi lain juga dialami oleh Reno yang juga sedang mengurus putranya.
Tapi Reno lebih mudah berhubung putranya hanya satu tidak seperti kedua saudaranya itu.
"Ok sayang, kamu sekarang sudah sangat tampan seperti papamu ini," kata Reno saat ia sudah selesai mengurus baby Daffa.
"Nyatanya mengurus anak lebih mudah daripada ngajakin Sela ke wahana permainan," gumam Reno yang begitu senang.
"Sayang, kamu udah.... Renooo kenapa kamu pakaikan bando pada putraku," teriak Dea kesal saat melihat putranya.
"Sayang, lagian rambutnya terlalu panjang, jadi aku pakaikan bandomu," kata Reno sambil membelai pipi gemoy putranya.
"Astaga, bahkan putraku kamu jadikan pelanggan salonmu," kata Dea setelah melepaskan bandonya.
"Sayang, udah sekarang kamu masak aja biar Daffa aku yang urus, ok," kata Reno sembari mendorong Dea untuk keluar kamar.
"Wiuhh baru juga dipakaikan bando dia sudah marah- marah, lalu bagaimana jika tadi aku memakaikannya lipbam," gumam Reno sembari menggendong putranya untuk bermain.
Reno menaiki lift menuju lantai atas di mana Bradsiton mendesain khusus untuk taman bermain cucunya.
Ting
__ADS_1
Reno melihat Bara dan Rendy sedang menunggu putranya bermain.
"Kalian di sini juga," kata Reno yang langsung duduk di samping Rendy dan membiarkan putranya bermain.
"Hmm jadi hari ini adalah hari di mana para suami jadi baby sister?" tanya Rendy dan diangguki oleh Bara dan Reno.
"Ternyata nasib kita enggak pernah semulus waktu muda ya Ren," kata Reno membuat Rendy mengangguk.
"Emang kenapa?" tanya Bara karena tidak mengerti.
"Kalau dulu kita masih lajang tiap hari jalan- jalan mulu, godain Sela, makan sana sini," kata Rendy memberitahukan kebiasaannya saat bersama Reno di waktu senggang ataupun di waktu jam kerja.
"Lah sekarang kita masing- masing udah nikah, bukannya bahagia serasa sengsara karena tiap hari di ajak ke wahana,"
"Kalau enggak nemenin Sela ke wahana, ya jadi mata- mata, jadi tukang kayu, jadi perantara, profesi seakan bertambah seiring kita menua," kata Rendy mengungkapkan isi hatinya.
"Ditambah sekarang anak gue ada dua, serasa dunia makin lama makin tua," gumam Rendy mengeluh karena tak bisa sebebas dulu.
"Hidup enggak harus selalu seneng- seneng terus, ada waktunya kita dewasa dan punya dunia baru. Sekarang tanggung jawab kita jauh lebih besar dengan beban yang kita pikul di bahu kita,"
"Selain jadi kepala keluarga kalian juga jadi suami dan seorang ayah yang harus bisa menaungi keluarga kalian," kata Bara memberikan nasehat pada Rendy dan Reno.
"Ya lo emang bener. Gue udah punya dunia baru jadi enggak selamanya dunia gue hanya jalan dan makan ataupun senang- senang," kata Rendy membenarkan ucapan Bara.
"Kita udah punya mereka sekarang," kata Bara sembari menatap ketiga putranya lalu Rendy dan Reno ikut menatap putra mereka.
Sedangkan di dapur bawah di lantai 1, mereka sibuk menyajikan hidangan untuk makan bersama.
"Akhirnya selesai juga," kata Sela yang duduk di kursi karena merasa lelah.
"Akhirnya jadi juga," kata Laura yang duduk di sebelah Sela sambil meregangkan ototnya.
Mereka masak banyak karena selain untuk keluarga besar juga untuk para pengawal dan bodyguard lainnya.
"Sayang, udah selesai belum masaknya," teriak Rendy yang baru saja keluar dari lift bersama Reno.
"Udah," jawab Laura lesu karena merasa lelah.
Rendy lalu pergi ke taman untuk menyambut Dewa juga Reynald yang baru saja datang.
"Selaaaa," teriak Sandra sembari berlari kecil menghampiri Sela.
"Kebiasaan ceroboh banget," gerutu Sela sambil menatap tajam Sandra.
"Hehe maaf," kata Sandra lalu memeluk Sela erat.
Lalu di belakang Sandra disusul Rose juga Jessy.
"Wahh ini kalian yang masak semua?" tanya Rose takjub saat melihat banyak makanan di atas meja.
"Iya ma, karena Sandra sama Jessy kan mau kesini, jadi sekalian aja kita masak besar buat makan siang bareng," kata Dea yang sedang dipijiti oleh Reno.
"Aduhhh sayang, kenapa kalian tidak meminta chef resort untuk memasak, terus gimana sama baby kalian," tanya Rose pada ketiga menantunya.
"Tenang ma, kita hari ini udah jadi baby sister yang baik," kata Rendy yang baru saja datang dari taman bersama Dewa dan Reynald.
Sela yang melihat Bara tidak juga muncul langsung pamit untuk menyusulnya.
Sela menuju kamarnya, siapa tahu Bara sedang menidurkan ketiga putranya.
Ceklek
Dengan pelan Sela masuk ke dalam kamar terlihat Bara tertidur pulas di sofa.
Ia tersenyum lebar saat ketiga putranya sudah tertidur.
"Wahh kalian sepertinya sangat penurut pada papa kalian," gumam Sela pelan sembari menciumi ketiga putranya.
Sela lalu beralih pada Bara yang sudah berbaring pulas di sofa.
Ia membelai rambut tebal suaminya itu.
"Kasian, pasti kamu capek banget hari ini," gumam Sela lalu mencium kening Bara sekilas.
Sela lalu memutuskan untuk pergi mandi sembari menunggu Bara bangun dan makan siang bersama.
Sela hari ini ingin berendam sejenak dan merilekskan tubuhnya.
Ia mengisi penuh bath up nya lalu menyiapkan lulur juga persiapan lainnya.
Saat Sela hendak melepas bajunya ia terkejut saat ada tangan kekar melingkar di perutnya.
"Kamu mau mandi hmm?" tanya Bara dengan mata terpejam dan dagu yang ia letakkan di atas bahu Sela.
"Bara aku mau mandi, kamu keluar dulu gihh," kata Sela mengusir Bara karena ia tidak bisa nyaman saat mandi bersamanya.
Bara lalu memutar tubuh Sela hingga menghadap dirinya.
"Kamu masih aja malu," kata Bara sembari meraih pinggang Sela untuk lebih dekat dengannya.
"Kalau kita berdua mandi siapa yang jagain putraku?" tanya Sela ketus membuat Bara tidak bisa menahan tawanya.
"Mereka tidur sayang," jawab Bara sambil membelai rambut Sela.
Bara yang faktanya tidak bisa menahan diri saat menatap Sela langsung melahap bibir manis istrinya.
Bara semakin melesakkan lidahnya di dalam mulut Sela.
Dengan pelan ia melepaskan baju Sela hingga tak tersisa satupun.
Sela melepaskan ciuman Bara dan merasa malu saat dirinya telanjang di depan Bara.
Bara tersenyum mengerti akan pikiran Sela.
Dengan cepat ia langsung membuka semua pakaiannya lalu kembali mengulum lembut bibir manis Sela.
__ADS_1
Bara turun ke bawah memberikan tanda yang tidak sedikit di leher jenjang Sela.
Bara menyalakan showernya membuat permainan semakin panas dan lama.