Sekretaris Canduku

Sekretaris Canduku
Kekecewaan Bara


__ADS_3

○●○●


"Sel gimana bisa jatuh sih?" heran Sandra pada Sela.


"Aku enggak tahu San kalau tasku ujungnya robek," keluh Sela yang menyesalinya.


"Besok gue beliin lo tas baru deh enggak usah lo pakai tuh tas. Padahal pacarnya miliader, mau apa tinggal ambil tapi lo diem aja," Sandra mulai mendumel membuat telinga Sela panas.


"San kamu pulang duluan aja gih," kata Sela meminta agar Sandra pulang duluan.


"Mana bisa yang ada gue dibunuh sama suami lo," gerutu Sandra yang tidak bisa didengar oleh Sela.


"Sel ayo pulang aja besok gue beliin deh ponsel baru," kata Sandra yang sudah jenuh menunggu sejak tadi.


"Enggak perlu tabung aja uangnya," tolak Sela halus agar tidak menyakiti hati sahabatnya.


"Hey cantik, lagi ngapain?" teriak seseorang di atas jembatan sembari menyorotkan senter ponselnya ke arah Sela dan Sandra.


"Lo lagi," ketus Sandra membuat lelaki tampan itu tertawa saat melihat wajah jutek Sandra.


"Ngapain malem- malem di sini?" tanyanya sambil melihat Sela yang mencari sesuatu di dalam air.


"Hey cantik kamu sedang mencari apa?" tanyanya pada Sela namun enggak dijawab.


"Dasar laki- laki buaya, semua cewek dibilang cantik," ketus Sandra membuat lelaki itu mengangkat alisnya.


"Loh kan bener semua cewek cantik, emang kamu tampan?" tanyanya sambil menahan tawanya.


Bugh


"Kenapa lo bisa di sini, oh atau jangan- jangan lo lagi buntutin kita ya?" tanya Sandra mengintimidasi laki- laki itu dan lupa akan membantu Sela.


"Kan asrama gue di deket sini," Sandra lagi- lagi melotot.


"Jadi lo sekampus sama kita?" laki- laki itu mengangguk dan tersenyum samar.


Dan sesekali melihat Sela yang masih mencari sesuatu di dalam air.


Laki- laki itu ikut terjun ke dalam air membantu Sela menemukan barangnya.


"Apa yang sedang kau cari?" tanyanya pada Sela.


"Ponsel," laki- laki itu tanpa banyak bicara langsung ikut membantu mencarinya.


Sandra yang tadi diam saja ikut terjun ke dalam air untuk menemukan ponsel Sela.


"Nih ketemu," teriak laki- laki tampan itu membuat Sela dan Sandra langsung menghampirinya dengan mata berbinar.


"Makasih ya," kata Sela sambil naik ke atas permukaan dengan sangat pelan karena licin.


"Emang masih bisa?" tanya laki- laki itu pada Sela yang memeriksa ponselnya.


"Semoga aja bisa," jawabnya sambil membolak- balikkan ponselnya.


Melihat Sela yang menggigil kedinginan karena kelamaan di dalam air, membuat laki- laki itu langsung melepas mantelnya dan memakaikan pada Sela.


"Heh," Sela terkejut lalu langsung melepaskan mantel laki- laki itu dan mengembalikannya.


"Maaf saya pulang dulu," pamit Sela yang pergi terlebih dahulu karena asrama juga sudah dekat.


"Kan gue udah bilang, dia udah punya suami, diterkam baru tahu rasa lo," kata Sandra menakut- nakuti lelaki itu.


"Masak sih dia udah punya suami? Kan masih kuliah mana boleh?" tanyanya penasaran dengan ucapan Sandra.


"Kenapa lo enggak percaya? Ketemu suaminya habis lo," kata Sandra menakut- nakuti laki- laki itu.


"Emang apa profesi suaminya?" tanyanya sekali lagi karena penasaran.


"Psikopat," jawab Sandra asal- asalan.


"Yaudah nih mantelnya buat lo aja," katanya sambil memakaikan mantelnya lalu pergi begitu saja meninggalkan Sandra.


"Hihh rese bener sih tuh cowok," gerutu Sandra dengan sikap laki- laki tampan itu.


.


.


.


Sandra mengeringkan rambutnya karena dia selesai mandi.


Sandra melihat Sela yang sedang mengeringkan ponselnya dengan hair dryer.


"Ya tuhan Sel, buang aja gih tuh ponsel besok gue beliin yang baru," kata Sandra yang geram pada Sela lalu duduk di tepi ranjang.


"Jangan San sayang tahu, ini masih bisa kok," kata Sela berusaha agar ponselnya bisa hidup kembali.


"Emang itu ponsel penting banget ya buat lo?" tanya Sandra penasaran.


Sela menghela napas pelan lalu menatap Sandra sendu.


"Ini ponsel kali pertama tuan Bara belikan dan juga kartu yang hanya khusus untuk satu kontak," Sandra menganga mendengar ucapan Sela.


"OMG masak sih? Pantesan lo selalu nolak kalau anak- anak kelas minta nomor lo," kata Sandra merasa terkejut dengan sikap Bara.


"Ya tuhan gue baru tahu kalau tuan Aldebaran yang dingin bisa seposesif itu sama lo," gumam Sandra sambil berbaring di samping Sela.


"Eh tapi Sel, kenapa lo bisa nyimpen nomor gue sama Gabriela?" tanya Sandra penasaran.


"Enggak tahu aku cuma nerima ponselnya dan udah tersedia semuanya," kata Sela dengan polosnya.


"Astaga cowoknya sebucin itu dan si ceweknya biasa- biasa aja," Sela memanyunkan bibirnya mendengar ucapan Sandra.


"Eh bentar tapi lo hafal kan sama nomornya tuan Aldebaran?" tanya Sandra mencurigai gelagat polos Sela.


Sela menatap Sandra dan benar saja tebakan Sandra.


"Enggak," kata Sela sambil menggelengkan kepalanya seperti tak punya dosa.


"Astaga Selaaaa bisa- bisanya lo cuma geleng kepala ditanya nomor cowok lo, masak gitu aja lo enggak hafal sih," tanya Sandra yang heran dengan sikap Sela.


"Materi kuliah aja banyak banget yang harus dihafal San, mana sempet buat hafalin nomor telepon," kata Sela dengan jujurnya.


"Bener juga sih," kata Sandra membenarnya pernyataan Sela.


"Terus gimana dong sekarang? Kan itu kartu cuma terhubung sama kontak Bara. Lagian kunjungan keluarga juga udah 1 bulan yang lalu, sekarang mana boleh berkunjung, terus gimana caranya lo ngabarin tuan Bara?" kata Sandra membuat Sela lemas.


"Oh aku tahu, gimana kalau kirim surat aja?" usul Sela membuat Sandra mengusap wajah cantiknya dengan putus asa.

__ADS_1


"Ya tuhan Selaaa, ini bukan jamannya surat- suratan, lo aja kuliah pulang sore habis itu kerja pulang malem, lo mau kirim suratnya kapan? Tengah malem? Mana mau tuh pak pos," kata Sandra yang sudah mengomeli Sela yang benar- benar enggak habis pikir.


"Ya terus gimana lagi San, daripada enggak kasih kabar sama sekali, nanti yang ada tuan Bara khawatir lagi," kata Sela yang juga merasa putus asa.


"Iyadeh terserah lo, selagi itu nyaman buat lo," kata Sandra mendukung keputusan Sela.


"Uh cayang- cayang, sini peluk," kata Sela dengan manjanya membuat Sandra berngidik ngeri.


"Aku tidur sini boleh ya?" tanyanya pada Sandra yang berlalu ke dapur.


"Ya tapi tidur di sofa," jawab Sandra membuat Sela tertawa pelan.


Mana mungkin Sandra akan membiarkannya tidur di sofa.


□♡□♡


Sinar mentari yang menembus kaca jendela mobil membuat tidur Bara terusik.


Bara membuka matanya dengan sinar mentari yang silau.


Dia melihat sekitar, kanan dan kiri, bukan kamarnya.


Oh ya dia lupa jika semalam dia pergi dari rumah dan terlalu lelah menangis hingga tertidur di dalam mobil.


Bara melihat ponselnya tergeletak di samping kemudi.


Dia melihat, tidak ada jawaban atau panggilan balik dari Sela.


Bara menghela napas pelan lalu mengemudikan mobilnya untuk pulang.


Pikirannya terus tertuju pada Sela yang tidak ada jawaban dari semalam.


Kemana dia sebenarnya?


Apa sesuatu telah terjadi padanya?


Bara semakin menancapkan gasnya agar cepat sampai di rumah.


Cittt


Semua memandang wajah Bara yang terlihat begitu murung dan sedih.


Para bodyguard hanya bisa prihatin dan iba melihat Bara seperti ini.


Bagi mereka keluarga Bradsiton adalah keluarga mereka sendiri.


Sudah 10 tahun lamanya mereka bersama Bradsiton bahkan sejak Bara kecil.


Bagaimana mungkin mereka tidak merasa kehilangan akan kepergian Bradsiton, jika mereka tinggal selama itu.


Tapi dalam hati mereka tertanam akan sebuah janji.


Janji jika mereka semua akan menjaga putra kecil mereka.


Aldebaran.


Bara langsung membersihkan diri, sekitar 15 menit dirinya berdiam diri di bath up, mendinginkan hati dan kepalanya.


Selesai mandi dan kini sudah rapi, Bara kembali memeriksa ponselnya.


Siapa tahu Sela menelponnya, tapi tidak ada satupun panggilan darinya.


Hati Bara tidak tenang dan pikirannya juga begitu kacau.


Tidak ada pilihan lain, Bara akan menemui Sela meski itu sedikit melanggar aturan kampus Hardvard.


.


.


.


.


.


Sandra dan Sela berada di cafe dekat asrama mereka setelah pulang dari kampus.



Sandra kesal dengan Sela yang terus menerus murung dan diam saja.


"Sel lo galaunya kayak janda ditinggal suami aja, nanti gue beliin yang baru deh tuh ponsel," kata Sandra yang sebal dengan Sela yang murung sejak kemarin ponselnya mati.


"San gimana kalau nanti tuan Bara mikirnya yang macem- macem sama aku, kira- kira tuh surat udah nyampe belum ya San?" kata Sela dengan nada sangat lemah dan menidurkan kepalany di atas meja.


"Kan yang penting lo udah ngirim surat Sela sayang, emang apalagi yang mau dikhawatirin?" tanya Sandra yang geram sendiri dengan Sela.


"Entar kalau enggak nyampe gimana?" tanya Sela yang membuat Sandra merasa emosi.


"Lo tanya sekali lagi gue bantai lo ya, lo kan ngirimnya ke kantor pos kan bukan merpati jadi pasti nyampelah," kata Sandra dengan wajah juteknya.


"Ayo dah pulang, capek gue, ayo gue masakin," kata Sandra sambil menyambar tasnya dan berdiri.


"Kamu duluan aja deh San, aku masih mau di sini nenangin pikiran," gumam Sela pelan membuat Sandra menghela napas kasar.


"Nenangin pikiran tuh jangan di sini," kata Sandra membuat Sela hanya meliriknya.


"Di mana?"


"Di makam," ketus Sandra lalu berjalan keluar cafe menuju asrama dengan meninggalkan Sela sendiri.


Sela kembali murung memikirkan tentang kabar Bara sekarang ini.


Apa dia sedang mengkhawatirkannya?


Atau dia sedang marah- marah mungkin karena tidak bisa menghubunginya?


Hati Sela tidak bisa tenang pikirannya juga tidak bisa fokus.


Bagaimana dia bisa kuliah dengan baik jika terus begini saja.


"Hey cantik," sapa seseorang yang duduk di depan Sela membuat Sela langsung mengangkat kepalanya dan terkejut.


"Kamu lagi?" kata Sela kesal sedangkan laki- laki itu hanya senyam- senyum.


"Kenalin gue Kevin," katanya memperkenalkan diri namun tak juga disambut oleh Sela.


"Kok diem aja, nama kamu siapa?" tanyanya dengan senyum yang tak pernah luntur.

__ADS_1


"Sela," jawabnya pelan sambil memandangi asrama cewek di seberang jalan.


"Kok sendiri, temenmu mana?" tanya Kevin yang jelas- jelas menanyakan Sandra.


"Ada di asrama," kata Sela pelan sambil kembali menidurkan kepalanya di atas kepala.


Kevin menatap Sela yang terlihat murung dan diam saja.


"Kamu ada masalah?" tanya Kevin ikut menidurkan kepalanya di atas meja dan menatap Sela.


"Vin kamu sebagai cowok kalau enggak dikasih kabar sama kekasihmu, apa kamu khawatir padanya?" tanya Sela dengan polosnya membuat Kevin menahan tawanya.


Sela mulai mau mengobrol dengannya.


"Oh jadi kamu dari tadi diem karena mikirin itu. Kalau menurut gue sih tergantung cowoknya aja," kata Kevin membuat Sela memperhatikannya baik- baik.


"Cowok yang emang tulus sayang sama lo, enggak ada sehari aja lo bakal dicariin apalagi sampek enggak ada kabar," kata Kevin membuat Sela berpikir.


Bara memang begitu tulus sayang dan mencintainya.


Sedangkan di jarak yang tak jauh dari mereka, sosok tulus itu sedang berdiri menatap wanitanya.


Aldebaran.


Ya dia datang untuk bertemu Sela, dia begitu mencemaskannya dan takut jika sesuatu terjadi padanya.


Bara berpikir positif thinking aja, siapa tahu dia teman kampus Sela yang sedang ngafe bersama.


Tapi langkah Bara terhenti kala Sela hanya diam saat laki- laki itu menggenggam tangannya.



Bara mengepalkan tangannya kuat- kuat berusaha untuk merendam emosinya.


Bukan saatnya dia meluapkan semua amarahnya.


Bara melangkahkan kakinya menghampiri Sela yang masih belum sadar jika dirinya datang.


"Sela," sontak keduanya terkejut dan laki- laki itu langsung menjauhkan tangannya dari tangan lembut Sela.


"Tuan," kata Sela benar- benar terkejut dengan kedatangan Bara yang tiba- tiba.


Masak ini suaminya Sela, ganteng sih tapi kalau psikopat mah kan ngeri. Mana badan gue ngilu lagi ditatap horor gitu, batin Kevin sambil menatap Bara.


Bara menarik Sela keluar cafe lalu membukakan pintu mobil dan melajukan mobilnya entah pergi ke mana.


.


.


.



Bara memberhentikan mobilnya di jembatan dekat London Eye.


Bara keluar dari mobil lalu memandangi London Eye disusul Sela yang berdiri di belakangnya.


"Tuan kenapa anda datang kemari?" tanya Sela sambil tersenyum lebar tanpa diketahui Bara.


"Apa anda tahu jika saya...,"


"Kenapa, apa kamu takut jika ketahuan sedang selingkuh?" tanya Bara membuat Sela mengernyit bingung.


"Apa maksud tuan?" tanya Sela lalu dia paham jika Bara salah paham terhadapnya.


"Oh saya tahu, laki- laki tadi adalah Kevin dia teman sekampus saya," kata Sela menjelaskan sebelum Bara salah paham padanya.


"Oh ya, temen sekampus? Apa harus temen sekampus berpegangan tangan?" tanya Bara membuat Sela geram untuk kembali menjelaskan.


"Terserah jika anda tidak percaya, setidaknya saya tidak melakukan hal seburuk itu" kata Sela pasrah karena capek menjelaskan.


"Apa hanya karena cowok itu kamu mematikan teleponmu? Tidak memberikan kabar sekalipun, kamu kira tidak ada orang yang mengkhawatirkanmu?" bentak Bara membuat mata Sela berkaca- kaca.


Dengan cepat Sela memalingkan wajahnya, kenapa di saat seperti ini mulutnya terasa ngilu.


Sela pikir Bara jauh- jauh datang kesini karena khawatir padanya yang tidak memberikan kabar.


Tapi siapa yang tahu jika dia datang disaat yang tidak tepat.


"Kenapa, apa itu semua benar?" tanya Bara yang terus mendesak pertanyaan pada Sela.


"Terserah anda mau percaya atau enggak, yang jelas apa yang anda bicarakan semua tidak benar," Bara memalingkan wajahnya sambil tersenyum miring.


"Bukankah kamu yang bilang untuk aku tidak mendekati wanita manapun dan menjaga hati untukmu. Lantas apa ini balasanmu?" teriak Bara membuat Sela menunduk malu sambil berusaha kuat menahan air matanya.


"Saya capek," gumam Sela pelan sambil menunduk pasrah.


Pluk


Mantel tebal tersampir di kedua bahu Sela membuat dirinya hangat.


Sela mendongak dan menatap sosok tersebut.


Sandra.


"Ayo pulang, enggak ada gunanya lo di sini," kata Sandra sambil melirik sinis dan nyalang ke arah Bara.


Sela menunduk malu saat dirinya jadi perhatian banyak orang.


Sela melepaskan cincin thanosnya dan memberikannya pada Bara.


"Sekarang anda bebas ingin dekat dengan wanita manapun," kata Sela lalu pergi begitu saja sambil mengusap kasar air matanya.


Bara menggenggam erat cincin dalam tangannya sambil menyaksikan kepergian Sela yang tak mau menyakinkan Bara jika tuduhannya tidak benar.


"Tuan enggak ada bedanya sama cowok di luar sana," kata Sandra lalu pergi menyusul Sela.


"Arghhhhhhh," teriak Bara sambil melempar cincin Thanos yang semula milik Sela kini akan menjadi mutiara dalam sungai di London ini.


"Tak seorang pun yang bisa memakai cincin Thanos itu selain Sela, batin Bara sambil menunduk dalam meneteskan air matanya.


Lagi- lagi hubungannya dengan Sela tak berjalan lancar.


Ada saja badai yang menerpa keduanya.


Kapan pelangi akan ada di antara keduanya menjadi penghias indah di tengah hubungan mereka berdua.


▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎

__ADS_1


__ADS_2