
♡♡♡
Setelah meminta bantuan papanya untuk mengalihkan mamanya, Bara berniat untuk mencari keberadaan wanitanya.
Sela.
Nah ketemu.
"Sayang," panggil Bara setengah berteriak membuat Sela yang memakan jajanannya menoleh.
Bara berjalan menghampiri Sela dan menatapnya gemas yang kini sedang memakan jajanananya.
Bara merengkuh pinggang Sela untuk lebih dekat dengannya.
"Awas dimarahi mama nanti kamu," kata Sela sambil meniup makanannya.
"Tenang aja, mama udah diamankan pawangnya," Sela menahan tawanya mendengar ucapan Bara.
Bara menatap Sela begitu menikmati makanannya hingga melupakan dirinya.
Sela menggigit makanannya lalu dengan gemasnya Bara memakan sisa yang ada di bibir Sela.
Bugh
"Uh kebiasaan, beli sendiri kenapa," kesal Sela karena Bara yang tak tahu tempat.
"Sayang, ayo kita jalan- jalan," ajak Bara yang memanfaatkan waktu untuk bisa bersama Sela.
"Ayo," kata Sela sangat antusias sekali, tapi sebelum pergi Bara meneliti penampilan Sela.
"Sayang tidak bisakah kamu memakai baju yang sedikit panjang?" tanya Bara karena kesal dengan tatapan para mata keranjang.
"Kenapa, apa ini terlihat jelek? Tadi mama yang beliin," kata Sela membuat Bara menahan napas sejenak.
Pantesan, mama yang beliin.
Mama ini mau uji nyali gue atau gimana sih? Gue juga pria normal kali dan juga dewasa yang punya nafsu tinggi.
"Ayo jadi jalan enggak?" tanya Sela pada Bara yang hanya diam saja.
"Ayo, jangan jauh- jauh dariku," kata Bara sembari merengkuh pinggang ramping Sela untuk lebih dekat dengannya.
Sela hanya bisa diam dan menuruti perkataannya daripada harus debat dengan Bara.
Mereka berjalan di sekitar pantai menikmati deburan ombak yang sangat menenangkan dan juga menenangkan pikiran.
"Sela," teriak Rose sembari melambaikan tangannya.
"Duh kah baru juga jalan udah dipanggil aja, ganggu banget sih mama," gerutu Bara yang membuat Sela tersenyum samar.
"Kamu tunggu aja di kapal sana, nanti aku akan menyusul," kata Sela pada Bara dan berlari menghampiri Rose.
Bara tak henti- hentinya menggerutu sembari berjalan menuju kapal.
"Enggak tahu apa orang mau berduaan, papa lagi masak jaga mama gitu aja enggak bisa. Rasa ingin berkata kasar," dumel Bara hingga naik ke atas kapal.
Bara sudah berada di atas kapal sembari menikmati angin pantai di siang hari.
Terlihat begitu menyejukkan dan memanjakan mata.
"Bara," panggil Sela membuat Bara yang tadinya fokus menatap pantai beralih untuk menatap gadisnya.
Terlihat Sela yang membawa rantang makanan sembari tersenyum manis ke arahnya.
"Ayo makan, tadi mama baru selesai masak buat kita," kata Sela sembari duduk di bangku yang tersedia dan menyajikan makan siang untuk keduanya.
Kini pikiran Bara tidak bisa fokus juga teralihkan pada penampilan Sela yang sudah berganti dengan pakaian baru.
"Sayang, kenapa kamu berganti baju?" tanya Bara pada Sela yang sibuk memakan buah jeruk.
"Kenapa jelek ya? Tadi kata mama suruh ganti kalau mau main air, enggak tahu mama yang kasih bajunya," jawab Sela dengan santai juga polosnya.
Bara mengusap wajahnya gusar sembari menatap arah lain.
Percayalah, jika Bara mati- matian menahan nafsunya, tapi entah mamanya itu sengaja atau bagaimana.
Yang pasti Bara tidak bisa melihat Sela berpakaian seperti ini dengan banyak laki- laki yang melihatnya.
"Ayo ikut," kata Bara sembari menarik tangan Sela masuk ke dalam kapal.
Sela bingung, kemana Bara akan membawanya? Apa Bara marah padanya karena penampilannya ini?
Bara membuka kamar suite yang ada di kapal lalu masuk ke dalam dan menguncinya.
Dengan napas sedikit terengah Bara menatap lekat Sela.
"Kita sudah sama- sama dewasa bukan, harusnya kamu tahu jika aku juga pria normal dan juga dewasa," Sela mulai mengerti kemana alur pembicaraan Bara.
"Memang kenapa? Apa ada yang salah? Kita juga belum memiliki ikatan, jadi terserah aku kan memakai apapun selama itu tidak melanggar aturan," kata Sela yang menanggapinya dengan santai.
Tapi tidak dengan Bara yang mendengar penuturan Sela yang katanya mereka tidak mempunyai ikatan.
Bara berjalan maju untuk mendekati Sela sedangkan Sela berusaha berjalan mundur untuk bisa menghindari Bara.
Hingga Sela tidak lagi bisa berjalan mundur saat kakinya sudah terhalang king size di belakangnya.
"Bara, lebih baik kita makan siang saja atau nanti mama akan mencari kita," kata Sela sembari memalingkan wajahnya.
"Tidak perlu makan siang, aku hanya ingin bersamamu," kata Bara sembari membuka kancing bajunya satu persatu membuat Sela semakin gugup.
"Bara apa yang kamu lakukan?" tanya Sela panik saat melihat Bara yang membuka kancing bajunya dan sudah terlihat setengah terbuka.
"Bukankah kamu bilang jika kita tidak mempunyai ikatan, karena itu aku ingin mengikatmu dengan caraku," kata Bara kini dengan baju yang sudah terbuka dan menampilkan absnya.
Sela terduduk di tepi king size karena Bara yang terus berjalan mendekatinya.
__ADS_1
"Bara Hmppp...,"
Bara mencium bibir merah Sela dan membaringkan badannya di atas king size agar lebih rileks.
Dengan pelan dan rileks Bara memangut bibir ranum Sela namun Sela hanya diam tak merespon sembari menahan dada bidang Bara.
Bara melepaskan pangutannya dan menatap kedua mata cantik Sela yang berada di bawahnya dengan lekat.
"Tidak bisakah kamu mengizinkanku?" tanya Bara pada Sela.
Dengan lama Sela mempertimbangkan segalanya dan tidak juga menjawab.
"Aku takut jika nantinya kita tidak ditakdirkan berjodoh," gumam lirih Sela membuat Bara membelai rambut halus Sela.
"Bukankah aku sudah mengikatmu dengan cincin, tinggal menggelar pernikahannya," kata Bara dengan santainya.
"Lalu apa yang perlu diragukan lagi?" tanya Bara yang perlahan membuat tangan Sela tidak lagi menahan dada bidang Bara melainkan mengalungkannya di leher Bara.
Sela dengan pelan memulai dengan mencium bibir tipis Bara.
Keduanya terhanyut dalam dunianya sendiri hingga Bara merasa mabuk kepayang untuk saat ini.
Perlahan Bara mulai turun pada leher jenjang Sela yang begitu putih dan mulus.
"Uhhh," keluh Sela saat Bara memberikan tanda kepemilikan padanya.
Sela mendorong dada bidang Bara untuk menghentikan hal ini.
"Tidak, sekarang belum saatnya," kata Sela membuat Bara merasa kesal disaat dia baru menikmati apa yang dia lakukan.
Sela mendorong Bara lalu beranjak berdiri, tapi Bara tentu tidak akan melepaskan Sela begitu saja.
Bara kembali menarik tangan Sela hingga terduduk ke pangkuannya.
Bara melingkarkan tangannya di perut Sela yang begitu rata dan pinggang yang begitu ramping dari belakang.
Dengan jahilnya Bara menyelusupkan kepalanya di ceruk leher Sela dan menghembuskan napas dengan santainya.
"Tidak bisakah aku segera mendapatkanmu," gumam Bara pelan dan mencoba menggoda Sela dengan menciumi leher jenjang Sela.
"Kumpulkan uangmu baru menikah," kata Sela sembari melepaskan pelukan Bara dan pergi keluar untuk melanjutkan makan siang.
Bara tertawa pelan mendengar ucapan Sela.
"Ya tuhan, uangnya udah kekumpul dari tahun lalu kali sayang, kamunya aja yang nolak mulu dengan alasan belum siap," gumam Bara yang heran dengan sikap Sela.
○●○●
Kini semua rombongan sudah kembali dari Bahama dan pulang ke rumah masing- masing.
Oh ya, pasti kalian nanya, emang satu negara Kanada enggak geger apa pas lihat Bradsiton sama Rose hidup kembali?
Bradsiton kan salah satu orang penting di negara Kanada.
Kan waktu itu beritanya mereka meninggal karena kecelakaan?
Jadi gini, Bradsiton tidak pernah main- main sama yang namanya ngatur strategi bahkan untuk memanipulasi musuhnya.
Dan semua rekan kerjanya, pegawainya dan semua teman pejabat tinggi juga koneksinya, ikut andil dalam sandiwara yang Bradsiton mainkan.
Dan satu lagi semua awak media Kanada baik besar maupun kecil juga ikut kerja sama dengan Bradsiton untuk menyebarkan berita kematiannya dengan istrinya akibat mobilnya terbakar dan pelaku belum juga ditemukan.
Jadi, mereka enggak akan kaget meski setelah 3 tahun ini tiba- tiba Bradsiton sudah kembali.
Dan pikir mereka, jika 3 tahun Bradsiton telah muncul, berarti misi sudah selesai.
Tinggal menunggu Walles untuk menerima semua hukuman yang harus ia terima.
Balik lagi ke Bradsiton dan keluarganya.
Bara merasa kesal sebal marah dan uring- uringan sendiri karena mamanya.
Bagaimana tidak kesal coba, mama mengajak Sela untuk tinggal di rumah mereka.
Bara kan masih rindu sama Sela.
Sela pun juga mendiamkan Bara sejak dari bandara tadi.
Pasti karena kelakuan Bara kemarin saat di Bahama.
Lagian si Sela pakai baju yang uji nafsu Bara, kan Aldebaran enggak tahan liatnya.
Sekarang Bara sedang berbaring di kamar Sela sembari menatap langit- langit kamar.
Kalau Bara sih udah ngebet banget pengin nikah.
Sela nya ini yang masih nolak mulu.
Bara emang harus ekstra sabar untuk bisa mendapatkan Sela seutuhnya.
Seketika Bara teringat sesuatu, ia langsung bergegas untuk membersihkan badan dan pergi ke kantor.
Dengan cepat Bara melajukan mobil Lamborgini Aventador menuju kantornya.
Semoga aja Laura tidak mendapatkan file miliknya.
Cittt
Bara langsung berlari masuk ke dalam kantor dan menaiki lift.
Bara langsung menuju ruangannya dan melihat laptopnya.
Klik
Bara bernapas lega saat semua file besar miliknya masih lengkap dalam laptopnya.
Lalu apa yang Laura salin waktu itu?
Ah masa bodoh dengan itu, asal file miliknya masih ada dalam laptopnya.
__ADS_1
Pasti Sela yang telah menukar file dalam laptopnya.
Ahh, Bara semakin terpesona dengan kecerdikan Sela.
Ok, Bara akan mengikuti bagaimana Laura bermain dalam perannya.
Sedangkan di kediaman Bradsiton, Rose sedang sibuk bercerita bersama dengan Sela.
Bahkan Bradsiton sudah duduk hampir 30 menit di dekat mereka, tapi bisa- bisanya mereka mengacuhkan Bradsiton begitu saja.
Lantas mereka anggap apa Bradsiton ini.
Dasar ya, perempuan kalau udah nemu temen curcol, serasa dunia milik mereka berdua.
"Makanya sayang kamu harus waspada, sikap Bara 11 12 kayak papanya. Selain protektif juga posesif mereka tuh paling benci kalau kita nguncir rambut atau pakai baju yang terbuka," kata Rose seperti menyindir Bradsiton yang sibuk melihat ponsel.
"Emang laki mana yang rela miliknya dilihat orang lain," sahut Bradsiton dengan wajah menahan kesal.
"Enggak usah di dengerin," kata Rose pada Sela membuat Sela menahan tawanya.
"Sayang nanti kalau kamu nikah sama Bara, kamu pengin milih gedung di mana? Terus mau yang semewah apa? Nanti gaunnya mama yang pilihin ya?" kata Rose yang sangat berantusias sekali.
"Ma, Sela tidak ingin mendahului takdir, biar semua berjalan semestinya," kata Sela membuat Rose memanyunkan bibirnya.
"Kok kamu ngomong gitu sih sayang, emang kamu enggak mau ya jadi menantu mama?" kata Rose yang salah paham dengan ucapan Sela.
"Bukan gitu ma, Sela tuh cuma enggak mau berharap lebih dan mendahului kuasa tuhan, biar semua takdir yang menentukan," kata Bradsiton membantu menjelaskan pada Rose.
Sela mengangguk membenarkan ucapan Bradsiton.
"Tapi mama cuma pengin kamu yang jadi menantunya," kata Rose sembari merengkuh Sela ke dalam pelukannya.
"Emang cuma mama, papa juga pengin kali," gumam Bradsiton membuat Sela menahan senyumnya.
Drttt Drttt
Ponsel Sela berbunyi, nama dokter Reza terpampang jelas di layar ponselnya.
"Bentar ya ma Sela angkat telepon dulu," izin Sela membuat Rose mengangguk dan membelai lembut rambut Sela.
"Halo dok,"
"......"
"Iya kita semua baru saja kembali dari Bahama,"
"......"
"Apa ada perkembangan dengan keadaan ibu?"
"....."
"Apa?" teriak Sela membuat Rose dan Bradsiton saling menatap satu sama lain karena terkejut.
Tes
Air mata Sela berhasil lolos begitu saja membuat Rose semakin cemas.
"Baik, saya akan segera kesana,"
Sela mengakhiri teleponnya lalu mengusap kasar air matanya.
"Ma pa Sela harus ke rumah sakit," kata Sela yang langsung beranjak berdiri di ikuti Rose dan Bradsiton.
"Sayang tenangin diri kamu dulu, ada apa? Cerita sama mama," kata Rose mencoba untuk menenangkan Sela.
Sela sudah tidak lagi mampu untuk berbicara membuat Rose langsung memeluk Sela dalam dekapannya.
.
.
.
.
.
Kini Rose dan Bradsiton hanya bisa menatap Sela iba dan sedih.
Tadi siang ibu Sela dikabarkan telah meninggal dunia.
Sela merasa semua dunianya gelap dan menghilang seketika.
Sedangkan Bradsiton sejak tadi terus menyalahkan dirinya.
Karena kecerobohannya dan ketidaksiapannya, semua menjadi berantakan.
Kenapa bisa Bradsiton lengah dalam menjaga istri sahabatnya.
Dia merasa tidak berguna untuk melindungi istri dan anak sahabatnya.
Bradsiton tahu, jika musuh menggunakan hal ini kala semua orang sedang berada di Bahama.
Jadi, mereka dengan leluasa dan enjoy nya bisa menggunakan waktu luang ini.
Bradsiton berjanji, dia akan mencari sampai ketemu dalang di balik ini semua.
"Pa kenapa Bara lama banget ya? Mama enggak tega lihat Sela seperti itu," kata Rose sembari menahan air matanya karena tidak tega melihat Sela menangis histeris sembari memeluk erat mayat ibunya.
"Sebentar lagi pasti dia akan datang," kata Bradsiton sembari mengusap punggung istrinya agar tidak panik.
"Pa kira- kira siapa dalang di balik ini semua?" tanya Rose pelan karena merasa sangat penasaran.
"Entahlah ma yang jelas dalang di balik ini semua adalah Walles, tapi tidak mungkin jika dia yang melakukannya, pasti ada boneka yang ia mainkan," kata Bradsiton mencurigai beberapa orang.
"Pa tolong cari pelakunya, mama enggak tega lihat Sela seperti ini," kata Rose memohon pada suaminya.
"Tenang aja ma, papa akan cari sampai ketemu siapa pelaku dan dalang di balik ini semua," kata Bradsiton sembari memeluk erat Rose ke dalam dekapannya.
__ADS_1
Brakkk