Sekretaris Canduku

Sekretaris Canduku
Kecelakaan


__ADS_3

□■□■


Brakkkkk


Citttttt


Darrrrrrr


Laura memejamkan matanya rapat- rapat kala mendengar suara benturan keras tersebut.


Kening Laura terlihat mengeluarkan darah karena terbentur stir.


Dengan rasa takut dan was- was Laura memberanikan diri untuk mendongak melihat bagaimana keadaan Sela.


Cittttt


Laura menoleh ke samping saat mobil Rendy berhenti di samping mobilnya.


Dengan cepat Laura keluar dari mobil untuk menemui Rendy.


Happp


Rendy langsung memeluk erat Laura saat dia baru saja keluar dari mobil.


Rendy bisa merasakan tangan dan seluruh badan Laura gemetar ketakutan.


"Kamu baik- baik saja?" tanya Rendy sembari menangkup kedua pipi Laura.


Terlihat darah segar mengalir dari kening Laura.


"Sela," kata Laura kala teringat Sela dan langsung berlari menghampiri mobil Bara yang sudah terguling tapi syukurlah tidak sampai terbalik.


"Arghhh," teriak Sela membuat Laura semakin panik dan Rendy langsung menaiki mobil yang terguling ke sisi kanan untuk menolong Sela.


"Ra kamu enggak papa?" tanya Sela sembari memegang pundak Laura dari belakang.


"Sel lo enggak papa kan? Gimana lo bisa keluar?" tanya Laura bingung karena posisi mobilnya yang terguling dan Sela sudah berada di luar.


Rendy yang melihat Sela sudah di keluar dari mobil langsung memeriksa keadaannya.


"Sel gimana lo bisa keluar?" tanya Rendy yang juga heran dan penasaran.


"Tadi sebelum mobilnya terguling aku buru- buru lompat keluar sebelum terjebak di dalemnya," kata Sela sembari menahan tangannya yang berdarah sebab serpihan kaca yang menghantam tangannya tadi.


Cittttt


Semua menoleh pada mobil lamborgini aventador orange.


Bara.


Ketiganya merasa jika oksigen mendadak hilang begitu saja saat Bara keluar dari mobil dan menatap tajam Sela.


Seakan auranya begitu menyekat semua oksigen yang ada.


Bara berjalan menghampiri Sela dengan tatapan yang tidak biasa.


Dia melihat mobil sportnya, tidak begitu parah, hanya desok di bagian samping.


Ia melirik sinis ke arah Rendy dan Laura, seakan ingin sekali membunuh keduanya saat tahu Sela terluka.


"Ayo pulang," ajak Bara lalu kembali ke mobil tanpa menanyakan bagaimana keadaan Sela sekarang.


"Sel sorry ya tangan lo luka karna gue dan thanks buat hari ini," kata Laura sembari menunduk lemah membuat Rendy yang ada di sampingnya merasakan jika ini adalah perkataan Laura yang sangat tulus.


"Iya enggak papa, aku pulang dulu. Ren tolong anterin Laura pulang ya," kata Sela pada Rendy lalu dengan kaki sedikit sakit ia berjalan masuk ke dalam mobil dan pulang bersama Bara.


Kini tinggal Rendy dan Laura dengan suasana sedikit awkward.


"Ayo aku anter pulang," kata Rendy pada Laura. Laura sedikit ragu lalu menatap wajah tampan Rendy.


"Lo masih marah ya sama gue?" tanya Laura membuat Rendy diam tak menjawab.


Rendy langsung pergi begitu saja menuju mobilnya tanpa menjawab pertanyaan Laura.


Laura menunduk lemah, lalu berjalan dengan lunglai menuju mobil Rendy.


.


.


.


.


.


Sela dan Bara kini sudah sampai di rumah.


Semua bodyguard seakan terkejut dengan kondisi Sela yang tangannya dipenuhi darah segar dan kaki sedikit pincang.


Namun, sekarang Sela tidak memedulikan itu karena dia sekarang begitu takut jika Bara marah.


Bara dan Sela menaiki lift menuju lantai paling atas dan itupun Bara tidak berbicara sepatah katapun pada Sela.


Ting


Pintu lift terbuka, Bara keluar lebih dulu dan berjalan menuju kamarnya.


Sedangkan Sela masih diam di depan pintu lift bingung dia harus bagaimana.


Bara yang menyadari Sela tidak mengikutinya berbalik dan menatapnya sinis.


"Tunggu apalagi, buruan masuk," katanya dengan nada yang sedikit sinis.


Sela dengan rasa gemetar menyusul Bara yang sudah masuk ke dalam kamar.


Sela duduk di sofa sembari menahan rasa sakit di tangannya.


Brakkk


Bara membuka kotak P3K lalu duduk di samping Sela untuk mengobati lukanya.


Keduanya sama- sama diam tidak mengeluarkan suara.


Sela yang takut dan Bara yang sangat marah melihat keadaan Sela.


Untung saja tidak begitu parah jadi Bara bisa mengobatinya.


Bara memperban pergelangan tangan Sela yang terluka lalu pergelangan kaki hingga lutut yang terkena serpihan kaca.


Brakkk


Bara menutup kotak P3K dengan sangat kasar hingga membuat Sela sedikit terkejut.


"Apa ada yang ingin kamu katakan?" tanya Bara setelah sekian lamanya ia diam. Sela mendongak dan melihat mata Bara.

__ADS_1



"Maaf," kata Sela sembari menunduk dalam karena dia tidak lagi bisa mengatakan lainnya atau tentang perbuatan Gabriela di balik ini semua.


"Kamu tahu bukan jika itu bahaya? Kenapa kamu tidak memberitahuku?" tanya Bara yang kini marahnya mode on.


"Karena kamu sibuk jadi aku minta tolong sama Rendy," kata Sela membela diri karena memang begitu realitanya.


"Tapi apa, kamu bertindak sebelum Rendy datang kan?" bentak Bara membuat Sela menaikkan satu alisnya di mana itu tandanya Sela mulai marah.


"Jika aku menunggu hingga Rendy datang, bagaimana dengan Laura?" tanya balik Sela tanpa rasa takut.


"Jika kamu marah karena mobilmu, aku akan menggantinya," kata Sela yang kini sudah beranjak dari duduknya.


"Aku tidak memedulikan mobilnya Sela, tapi keselamatanmu. Bagaimana jika mobilnya meledak?" bentak Bara yang sudah berpikiran sangat jauh.


"Tapi sekarang aku baik- baik saja, lantas apa yang dipermasalahkan?" tanya Sela yang tidak suka saat Bara sangat berlebihan.


"Apa kamu tidak tahu betapa takutnya aku kehilanganmu?" tanya Bara sembari menatap kedua mata Sela.


"Bisakah kamu selalu memikirkan tentang keselamatanmu?" tanya Bara kini mulai dengan nada sedikit rendah.


Sela tahu jika semua ini karena Bara sangat mencemaskan dirinya.


Cuma terkadang Sela sedikit sensitif jika sudah dibentak atau dimarahi.


Jadi, terkadang ia tidak bisa bersikap tenang dalam menghadapi sikap Bara dan ikut tersulut oleh emosi.


"Maaf," kata Sela sekali lagi yang langsung berhambur ke pelukan Bara.


Bara memeluk erat Sela dan menciumi puncak kepalanya berkali- kali.


Bara menatap kedua mata Sela dan menghapus air mata yang ada di sudut kedua mata Sela.


"Berjanjilah jika kamu tidak akan membuatku khawatir," Sela terdiam, rasanya satu hal ini tidak bisa ia lakukan karena ada satu lagi sesuatu yang harus ia lakukan.


Sela mengalungkan kedua tangannya di leher Bara dan mencium bibir tipis manis Bara.


Hal itu disambut baik oleh Bara dengan meraih pinggang ramping Sela untuk lebih dekat dengannya.


Dengan ini Sela mengalihkan pembicaraan agar Bara tak lagi membahasnya.


Bara semakin menekan tengkuk Sela untuk memperdalam ciumannya.


Dengan pelan Bara berjalan menggiring Sela ke king sizenya.


Perlahan Bara merebahkan tubuh Sela ke king size dengan posisi masih berciuman satu sama lain.


Sela melepaskan pangutannya dan menghirup oksigen sebanyak- banyaknya.


"Sekali lagi jangan membuatku selalu khawatir, aku akan segera menikahimu, jika nanti kamu kenapa- napa, apa kamu tidak kasihan padaku harus kembali menunggumu?" kata Bara membuat Sela tertawa pelan.


"Sekarang karena kamu yang memancingku, jangan harap aku akan melepaskanmu," kata Bara di mana itu adalah peringatan bagi Sela.


Sela yang sadar dengan posisinya langsung mendorong dada bidang Bara namun gagal karena Bara lebih kuat dari Sela.


"Sekarang aku masih tahu batasannya, karena itu jangan selalu pancing aku dengan bibir manismu, atau kamu akan menyesal sayang," kata Bara yang kembali memperingatkan Sela.


Bara menjatuhkan tubuhnya di samping Sela dan menarik selimut tebal untuk menutupi keduanya.


"Sekarang tidurlah dan jangan coba- coba kabur dariku atau aku akan membuatmu tidak bisa berjalan," ancam Bara dengan kata vulgarnya membuat Sela merona merah karena malu.


Bugh


Bara langsung menyerang Sela dengan menciumi seluruh wajah cantiknya.


"Bara geli tahu," teriak Sela karena Bara yang menciumi wajahnya dengan begitu gemas.


♡♡♡


Sedangkan di satu sisi ada sosok yang sangat memprihatinkan.


Ya dia adalah Laura.


Kemarin siang Rendy hanya mengantarnya pulang tanpa mengobati atau sekedar mampir ke apartemennya.


Laura tahu mungkin Rendy masih marah padanya saat tahu kebenaran yang Laura sembunyikan.


Emang siapa yang mau sama putrinya penjahat seperti dirinya.


Bahkan semua laki- laki seakan menjauh darinya.


"Argh," kata Laura saat dia menenggak habis wine yang ia pesan.


Saat ini Laura sedang berada di kedai samping apartemennya untuk sekedar minum wine.


Dia butuh relaksasi sebentar saja.


Karena dirinya yang sebenarnya juga rapuh seperti Sela dulu.


Dia yang selalu menjadi alat untuk ayahnya dan menjadi robot untuk pekerjaan ayahnya.


Impiannya hilang begitu saja karena papanya.


Skill dia di model bukan di dunia perbisnisan seperti papanya.


Kenapa tidak ada yang mengerti sama sekali.


Dia membayangkan, betapa kuatnya sebagai Sela.


Selalu disakiti oleh orang di dekatnya, ibunya kini dibunuh oleh seseorang yang belum ia ketahui dan dikhianati oleh sahabatnya.


Sebenarnya hati Sela terbuat dari apa, kenapa bisa sekuat dan setahan itu.


Laura juga menginginkan hati seperti Sela.


Jika saja hati terbuat dari besi, mungkin saja hati Laura bisa sekuat Sela.


"Ayo pulang," Laura mendongak dan mendapati Rendy yang berdiri dan menatapnya.


Laura kembali memperjelas penglihatannya, apa benar yang di depannya ini Rendy.


"Rendy," panggil Laura yang sudah sedikit mabuk karena meminum wine.


Laura menidurkan kepalanya di atas meja dan membenturkan kepalanya berkali- kali di meja.


"Aku pasti sedang bermimpi, mana mungkin Rendy di sini," gumamnya yang masih bisa di dengar oleh Rendy.


Laura kembali meraih gelas wine namun dengan cepat di rebut oleh Rendy dan diminum hingga tandas.


Laura menggelengkan kepalanya lalu sedikit memercikkan air di wajahnya agar sadar.


Apa benar yang ia lihat sekarang ini adalah Rendy.


"Arghh," kata Rendy saat ia menenggak habis satu botol wine besar itu. Rendy sedikit menunduk dan menatap mata biru Laura.

__ADS_1



"Lainkali jangan minum tanpaku," katanya yang kini sudah sedikit mabuk.


Laura sempat terpesona akan aura cool dari seorang Rendy.


"Ayo pulang," kata Rendy sembari menarik tangan Laura untuk kembali ke apartemennya.


Rendy mengantarkan Laura hingga ke depan pintu apartemennya.


"Makasih udah nganter gue pulang," kata Laura yang masuk ke dalam apartemennya.


Tapi siapa sangka jika Rendy mendorong dengan kuat untuk bisa masuk ke dalam kamar Laura.


Rendy menyudutkan Laura di dinding sembari menatapnya lekat.


"Rendy, ini sudah malam, pulanglah," kata Laura yang terdengar seperti mengusir Rendy.


"Memang kenapa jika aku bermalam di sini?" tanya Rendy yang membuat Laura menatap mata elang Rendy.


"Tidak, besok hmppp,"


Rendy langsung mencium bibir Laura tanpa aba- aba.


Laura mendorong dada bidang Rendy hingga mundur beberapa langkah ke belakang.


"Jangan memberiku sebuah harapan, seakan- akan kamu mencintaiku. Aku putrinya seorang penjahat, carilah perempuan yang lebih baik dariku atau hmppp,"


Rendy kembali mencium bibir Laura untuk tidak meneruskan ucapannya.


"Bukankah kamu bilang jika kamu tulus mencintaiku?" tanya Rendy mengingatkan ucapan Laura kala di balkon rumah sakit malam itu.


Laura menangis mendengar pertanyaan Rendy.


Dia memang sangat mencintai Rendy, bahkan karena Rendy juga ia bisa lepas dari cinta gila Bara, di mana dia yang selalu mengejar- ngejar cinta Bara.


Hanya Rendy laki- laki yang tulus mencintainya bahkan membalas perasaannya.


Hanya dia yang mau menerimanya tanpa memandang latar belakangnya sebagai putri seorang penjahat.


Laura menabrak dada bidang Rendy dan mencium bibir seksi milik Rendy.


Rendy membalas ciuman Laura dengan pelan tanpa menuntut dan menikmatinya.


Laura begitu mabuk kepayang saat merasakan bibir seksi milik Rendy.


Rendy merebahkan tubuh Laura di queen sizenya dan mulai menyusuri leher jenjang milik Laura.


"Uhhh Rendy," Rendy memberikan tanda kepemilikannya lalu menyudahi perbuatannya yang mampu membuat semua kaum wanita mabuk kepayang.


"Ini tidak benar, lebih baik kita tidur sebelum semuanya terjadi," kata Rendy sembari menarik selimut untuk menyelimuti tubuh mereka berdua sebelum semuanya terjadi.


Laura diam- diam tersenyum karena merasakan perlakuan hangat Rendy.


Rendy menarik Laura untuk lebih dekat dengannya dan memeluknya erat.


"Apa malam itu juga nyata?" tanya Laura pada Rendy yang sudah memejamkan kedua matanya.


"Yang mana?" tanya Rendy dengan mata masih terpejam.


Laura sedikit berpikir, lalu dengan berani ia mencium bibir seksi Rendy hingga membuat sang empu kembali membuka matanya.


"Yang itu," kata Laura sambil menatap kedua mata Rendy.


"Ya memang kenapa?" tanya balik Rendy penasaran dengan Laura yang selalu bertanya tentang malam itu.


"Tidak ada," kata Laura sembari menyembunyikan wajahnya di dada bidang Rendy untuk menutupi wajah memerahnya.


Rendy tersenyum samar, lalu memeluk erat tubuh Laura.


.


.


.


.


Pagi tadi Bara sudah berangkat bukan ke kantor melainkan ke rumah papanya.


Hal ini Sela manfaatkan untuk bisa pergi menemui Gabriela.


Ia sudah geram dengan sikap Gabriela yang termasuk di luar batas.


Sela harus memberinya pelajaran dan Sela juga ingin tahu siapa dalang dibalik pembunuhan ibunya.


Walles dan Gabriela?


Atau Walles dengan seseorang lainnya?


Karena itu Sela benar- benar harus bisa memanfaatkan waktu luang ini untuk menemui Gabriela.


Sebelum Bara kembali dan mengetahui jika dia tidak berada di rumah.


Sela menatap pergelangan tangannya, lukanya masih basah dan belum juga kering.


Kira- kira dia kuat enggak ya jika naik motor?


Dia memikirkan segala resikonya.


Dia juga tidak mau membuat Bara kembali marah padanya.


Mungkin naik taksi saja lebih mudah daripada merepotkan bodyguard, pikir Sela.


Sedangkan di negara yang berbeda dan waktu yang tidak sama.


Ada Sandra dan Dewa yang sedang melakukan misi untuk membantu Sela.


Kira- kira misi apalagi ya?


▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎


Sekarang tahukan, persamaan sikap Bara sama Rendy meski mereka tidak sedarah😄


Laki- laki yang mampu membuat sejuta umat terpesona akan aura mereka😭


Jadi, kalian penumpang dari kapal siapa nih?


Bala [Bara & Sela]


Rela [Rendy & Laura]


Rena [Reno & Dhea]


Dera [Dewa & Sandra]

__ADS_1


__ADS_2