
□■□■
Rendy membawa Laura ke dalam kamarnya agar Bara tak melihatnya.
Brak
"Lo ngapain sih di sini?" tanya Rendy ketus pada Laura.
Sedangkan Laura hanya diam dan memandangi wajah tampan Rendy saat dari dekat.
"Enggak ada," jawab Laura santai tanpa memedulikan ekspresi Rendy saat ini.
"Lo tahu kan sikap lo yang seperti itu bisa menyakiti hati seseorang?" tanya Rendy pada Laura.
"Lagian gue juga enggak godain Bara kok, kita cuma ngobrol aja tadi," kata Laura menjelaskan pada Rendy.
"Tapi lo ngobrol kenapa pakai baju gini, orang lain kan mikir lo habis ngapain bego," ketus Rendy yang membuat Laura tersenyum.
"Lo apa Sela yang berpikiran enggak- enggak?" tanya Laura membuat Rendy terdiam.
Keduanya saling menatap satu sama lain.
"Apa malam itu nyata?" tanya Laura yang memberanikan diri untuk bertanya.
Seketika Rendy mulai mengingat kejadian malam itu sepulang dari club.
Laura masih menunggu jawaban dari Rendy dengan menatap kedua mata elang itu.
"Tidak," jawab Rendy bohong membuat Laura mendelik kesal.
"Tapi itu rasanya begitu nyata di sini," kata Laura sambil menunjuk bibirnya sendiri.
Rendy menatap bibir merah tersebut, meski itu nyata tapi Rendy tak mau mengatakannya.
Tau gak sih?
Rendy itu sejak dia masih jadi mahasiswa udah punya jiwa fuckboy.
Jadi enggak heran kalau dia punya banyak cewek.
Tapi taulah ya fuckboy itu enggak ada yang serius dengan satu cewek.
Begitupun Rendy yang selalu bercanda dan dekat dengan banyak cewek.
Tapi oh tapi, si fuckboy Rendy ini kalau suka sama cewek dia akan bersikap sebaliknya.
Jutek, cuek dan lebih memilih untuk terlihat dingin di matanya.
Agar si cewek enggak tahu kalau si fuckboy Rendy ini naksir sama dia.
Tapi beda persepsi kalau sama Sela.
Karena Sela itu cewek yang lemah lembut dan sulit ditaklukin buat Rendy jadi ikut lemah lembut terhadapnya.
"Oh ya itu tidak nyata? Tapi bukankah lo ngerasa dejavu dengan hal ini?" tanya Laura sembari mengalungkan kedua tangannya di leher Rendy.
Oh shit.
Siapa kira jika Laura bisa seberani ini.
Rendy mendorong Laura hingga menempel di dinding.
Lalu menatap intens kedua mata itu.
"Jangan coba pancing gue," kata Rendy lalu keluar dari kamar meninggalkan Laura yang kini sudah teringsut di lantai.
"Ya tuhan, itu tadi Rendy kan? Astaga damage nya bikin gue melayang tahu enggak," kata Laura bertanya pada dirinya sendiri.
Siapa kira jika Rendy memiliki pesona seperti itu.
Bahkan jika dibandingkan dengan Bara mungkin kalah jauh bedanya.
"Gue bakal buat lo ngaku kalau malam itu memang benar- benar terjadi," gumam Laura pelan sambil senyam- senyum enggak jelas.
Lalu keluar dari kamar Rendy dengan ekspresi yang berbeda.
Tidak seperti saat dia sedang di dalam kamar Rendy.
□□□
Kini Sela sedang bersama dengan Reynald.
Sesuai janji Reynald kemarin jika ia sudah menemukan perumahan dekat rumah sakit.
"Rey kira- kira sewanya mahal enggak ya?" tanya Sela sambil menatap Reynald yang menyetir.
Reynald tersenyum mendengar pertanyaan Sela.
"Tenang aja di situ terkenal terjangkau harganya, tempatnya juga lumayan lah buat kamu sendiri tinggal," kata Reynald menjelaskan perumahan yang ia pilihkan untuk Sela.
Mobil Reynald mulai memasuki gang perumahan yang ia pilih untuk Sela.
Sela menatap tepi jalanan, sangat bersih dan begitu tenang.
Lumayanlah buat tinggal sendiri, setidaknya nyaman untuk Sela.
"Gimana suasananya, lo suka enggak?" tanya Reynald pada Sela dengan sesekali menatap wajahnya.
"Suka, tempatnya bersih dan juga begitu damai dan tenang," kata Sela senang dengan lingkungan perumahan yang Reynald pilihkan.
Cit
Mereka telah tiba di perumahan baru Sela.
Sela turun dari mobil sedangkan Reynald mengambilkan koper Sela di bagasi.
"Tunggu apalagi, ayo masuk," kata Reynald langsung membuka pintu rumahnya.
Sela menatap rumah barunya, sangat sederhana namun begitu rapi dan nyaman.
"Nih kuncinya," kata Reynald memberikan kunci rumah itu pada Sela.
"Makasih banyak ya Rey," kata Sela pada Reynald.
"Tapi untuk hal ini enggak gratis, aku pengin minta sesuatu sama kamu," kata Reynald lalu duduk di sofa dan diikuti Sela.
"Apa? Kamu mau minta imbalan?" tanya Sela polos membuat Reynald tertawa.
"Bukan. Besok aku ada pertemuan dengan para pejabat dan CEO luar negeri dan aku butuh sekretaris sementara untuk menemaniku menemui perjamuan besar ini,"
"Karena Jessy sedang berada di luar negeri, jadi aku mau meminta bantuan mu apa kamu bersedia?" tanya Reynald pada Sela.
__ADS_1
"Ya tuhan aku kira apa. Baiklah aku akan menjadi sekretaris sementaramu untuk menggantikan Jessy, itung- itung balas budi padamu," keduanya saling tertawa bersama.
"Tapi besok aku tidak bisa menjemputmu, aku akan meminta sopir untuk menjemput," kata Reynald yang tidak enak hati pada Sela.
"Tidak papa lagian aku juga bisa naik taksi," kata Sela membuat Reynald tersenyum.
"Oh ya Sel aku harus ke kantor, ada urusan yang belum aku selesaikan," kata Reynlad yang tiba- tiba pamit pada Sela.
"Iya enggak papa. Sekali lagi makasih banyak ya Rey," kata Sela sembari mengantarkan Reynald ke depan.
"Aku pergi dulu ya Sel, sampai ketemu besok," kata Reynald lalu melesat pergi menuju kantornya.
Sela lalu kembali masuk ke dalam rumah dan menuju kamarnya.
"Huh capeknya," kata Sela sembari menjatuhkan dirinya ke atas tempat tidurnya.
"Kapan ini semua selesai, aku merindukan dirinya," gumam Sela lalu memejamkan matanya dan tertidur pulas.
Sedangkan di kantor Reynald, ia sedang bertemu dengan Walles di rooftop kantor.
"Bagaimana, apa Sela mau membantumu?" tanya Walles yang penasaran dengan hasil tipu Reynald.
"Tentu saja, bagaimana mungkin dia menolakku," kata Reynald dengan sombongnya.
"Bagus benar- benar kerja keras yang bagus," kata Walles senang sembari memberi tepukan pada bahu Reynald.
"Dengan begitu saat kita besok bertemu denga Bara, dia akan sangat marah saat tahu jika gadisnya sedang di pihak kita," kata Walles membayangkan wajah marah Bara.
"Aku sudah tidak sabar untuk melihat wajah merah padamnya," ejek Reynald lalu tertawa keras membayang bagaimana besok reaksi Bara.
Sedangkan di perusahaan ATF, Bara hanya diam memejamkan matanya sambil memainkan kursi putarnya.
"Bar lo jangan diem aja kenapa sih," kata Rendy yang kesal dengan sikap Bara.
"Besok ada pertemuan dengan para pejabat luar negeri, sekretaris lo cuma satu lo mau bawa siapa lagi?" tanya Rendy yang merasa tertekan dengan sikap Bara yang seperti orang gila ini.
"Kan ada Laura lo ajak dia aja, beres kan?" kata Bara dengan simpelnya tanpa memedulikan gimana perasaan Rendy saat ini.
"Lo enggak ada pilihan lain gitu selain bawa nyai badas itu? Reno kek atau Dhea kek?" kata Rendy mengusulkan dua temannya.
"Bosnya gue atau lo?" Rendy diam tak lagi mau menjawab.
"Ribet urusannya kalau sama orang galau," gerutu Rendy yang keluar dari ruangan Bara daripada kepalanya meledak mending dia ngalah aja.
Bara kembali memejamkan matanya dan memainkan kursinya.
Sedari tadi dia sibuk memikirkan Sela, di mana dia sekarang?
Bagaimana kabarnya setelah dua hari tidak bertemu?
Tidak melihatnya satu jam saja membuat dirinya begitu gila.
Apalagi 3 tahun kemarin, apa kabar hati Bara?
Bara sibuk berpikir untuk bisa menyelesaikan masalah ini dan kembali bersama Sela.
Dia bisa gila jika terus- terusan begini.
.
.
.
.
Semua para tamu undangan satu persatu sudah datang.
Begitupun juga dengan Bara Laura dan Rendy.
Ketiganya sudah datang sejak 10 menit yang lalu.
Pertemuan ini hanya singkat namun mendatangkan hampir semua CEO perusahaan ternama di Kanada.
Bara menatap sekitar, entah siapa yang sedang ia cari.
Sedangkan Laura dia sibuk memperhatikan Rendy diam- diam.
Dia sangat terpukau dengan penampilan Rendy malam ini.
Beda urusannya sama Rendy, dia merasa bosan karena Reno tidak ikut bersamanya.
Alhasil dia sibuk mencomoti kue yang sudah tersaji di atas meja.
"Ren jangan lo habisin kuenya," kata Bara yang malu melihat tingkah Rendy yang mencoba semua rasa kue yang tersaji di atas meja.
"Emang kenapa sih? Ini kan disajikan juga buat dimakan," kata Laura membuat Bara menganga tidak percaya sama yang diucapkan Laura.
Sedangkan Rendy yang tadinya mau menggigit kue hanya diam dan membuka mulutnya.
"Habisin dah Ren lagian masih banyak kok kuenya," kata Laura membuat Rendy mengembalikan kuenya.
"Enggak gue udah kenyang," katanya ketus lalu beralih mengambil berbagai macam minuman yang tersedia di atas meja.
Ada wine, soju, jus atau bahkan alkohol dengan kadar tinggi.
"Kalau gue coba semua, kira- kira gue mabuk enggak ya?" gumam Rendy bertanya pada dirinya sendiri sambil menatap gelas yang berisi minuman yang berbeda.
Laura yang tak melepaskan pandangannya dari Rendy, menahan tawa mendengar gumamannya.
Laura melihat kedatangan Reynald dan juga Walles tapi satu sosok yang sangat menjanggal di sini.
Sela.
"Eh itu Sela bukan sih?" kata Laura membuat Bara dan Rendy menoleh pada ambang pintu untuk memastikan.
Ketiganya menatap kaget akan kedatangan mereka bertiga.
"Astaga istri gue cantik banget malam ini," gumam Rendy yang tanpa ia sadari membuat Laura cemburu.
"Kok bisa dia sama Reynald dan Walles," kata Laura bertanya- tanya.
Sedangkan Bara kini tatapannya tak lepas dari Sela.
Penampilan Sela malam ini sangat memukau.
Benar dia terlihat sederhana dan simpel.
Tapi mampu mengunci semua tatapan para pria untuk melihatnya.
__ADS_1
Ingin sekali Bara melakban semua mata para pria yang menatap Sela.
Reynald yang melihat wajah Bara hanya tersenyum miring.
Reynald menghampiri tuan rumah perusahaan dan saling berpelukan satu sama lain.
Terlihat jika Reynald sedang memperkenalkan Sela.
"Jaga sikap bro," bisik Rendy saat tahu tangan Bara yang mengepal kuat.
Bara hanya memalingkan wajahnya, kini agenda rapat akan di mulai.
Semua duduk rapi di tempat masing- masing begitupun Sela dan Reynald.
Bara melihat Sela yang izin pergi ke belakang. Tadinya Bara ingin mengikutinya namun Rendy menahannya.
"Eh mau lari kemana lo, nih isi daftar tamu dulu," kata Rendy sambil menyodorkan check in berupa sidik jari.
Bara melihat ke belakang, Sela sudah kembali dengan laptop di tangannya.
Ingin sekali rasanya Bara menendang wajah Reynald yang berani- beraninya menyuruh gadisnya.
Agenda rapat sudah dimulai dan berlangsung sekitar 45 menit.
Sekarang saatnya untuk menikmati hidangan yang tersaji.
Rendy langsung pergi entah kemana sedangkan Laura hanya menatap kepergian Rendy.
Beda dengan Bara saat ini, dia sedang mengambil minuman tapi tatapannya tak teralihkan dari Sela.
Ingin sekali Bara menghajar tangan Reynald yang dengan gampangnya merengkuh pinggang ramping Sela.
Bara melebarkan matanya saat Reynald menyodorkan wine pada Sela.
Dan tanpa menolak sedikitpun, Sela menerima wine itu dengan senyum manis andalannya.
Bahkan Sela juga tidak merasa risih dengan tangan Reynald yang berpangku manis di punggung Sela yang terekspos begitu saja.
Bara menggeram kesal dan mengepalkan tangannya erat.
Tanpa melihat Bara tidak menyadari jika ia meraih gelas yang berisi alkohol berkadar tinggi.
Bara benar- benar dibutakan oleh api cemburu bahkan dia menggenggam erat gelas yang kini sudah kosong hingga
Pyarr
Laura membungkam mulutnya saat melihat tangan Bara bersimpuh darah akibat menggenggam terlalu erat gelasnya hingga pecah.
"Astaga," gumam Laura yang benar- benar terkejut, tapi Laura tidak berani menghampiri Bara karena takut melihat kilatan marah pada mata Bara.
Laura melihat Bara berjalan menghampiri Sela dan menariknya dengan kasar keluar dari ballroom lalu diikuti oleh Reynald.
"Bara apa yang kamu lakukan?" kata Sela yang terkejut saat Bara tiba- tiba saja menariknya keluar.
"Bara tunggu," teriak Reynald namun tidak digubris olehnya.
Bara lalu mendorong Sela untuk masuk ke dalam mobil dan memasangkan sealbeatnya lalu mengunci mobilnya.
Bara berbalik dan tanpa mengucapkan sepatah katapun langsung memukul rahang Reynald berkali- kali.
Bugh
Bugh
Bugh
Setelah puas menghajar Reynald Bara langsung memutari mobilnya dan mengambil sebotol air minum.
Bara menyiramkan sebotol air itu ke wajahnya, bertujuan agar dia sadar dari mabuknya saat berkendara.
Karena dia sedang membawa Sela dan Bara tidak mau jika Sela sampai kenapa- napa.
Setelah selesai menyiram wajahnya dengan air, Bara bergegas masuk ke dalam mobil.
"Bara apa yang kamu lakukan?" teriak Sela sembari memukuli bahu Bara.
"Sela diam," bentak Bara tapi Sela masih tetap memukuli dirinya.
Bara tidak mau mengambil resiko saat mengendarai mobil.
Bara melepas dasinya dan mengikat kedua tangan Sela agar berhenti memukuli dirinya.
"Kamu jahat Bara," kata Sela saat Bara mengikat tangannya dengan dasi.
Bara tidak mengikatnya begitu kencang, dia juga mencoba untuk mengabaikan apa yang Sela katakan.
Bara langsung melajukan mobilnya meninggalkan ballrom hotel dan Rendy juga Laura.
Sela hanya menatap ke arah luar jendela dengan air mata yang sudah membasahi pipi tirusnya.
Sedangkan dalam ballrom hotel Laura tidak berhenti mengumpat saat dua laki- laki tadi meninggalkan dirinya begitu saja.
Laura berjalan menuju meja besar untuk mengambil minuman.
"Hey nona boleh aku berkenalan denganmu?" tanya seseorang bertubuh tinggi sembari menyodorkan alkohol berkadar tinggi itu pada Laura.
Laura hanya menatap laki- laki bertubuh besar itu tanpa menjawabnya hingga
"Maaf dia tidak bisa minum ini," kata Rendy sambil merebut alkohol itu dari laki- laki bertubuh tinggi, lalu meletakkannya kembali ke atas meja.
Laura yang berada di belakang punggung Rendy kini sedang tersenyum kemenangan.
Laura ingin melihat reaksi Rendy saat dia meminum alkohol tersebut.
"Aku bisa meminumya," kata Laura yang langsung mengambil alkohol itu dan meminumnya hingga tandas.
Rendy melebarkan matanya saat Laura dengan mudahnya bisa menghabiskan segelas alkohol itu tanpa jeda.
"Wow kau hebat," puji laki- laki tinggi itu membuat Rendy meliriknya sinis.
"Bukan hebat yang ada sekarat," ketus Rendy lalu menarik Laura untuk pergi ke kamar mandi.
Rendy menarik Laura masuk ke dalam toilet untuk memuntahkan alkohol yang ia minum.
Laura hanya menggelengkan kepalanya dan tidak bicara karena alkohol itu tidak ia minum melainkan masih di dalam mulut.
"Buruan muntahkan alkoholnya bego," kata Rendy yang geram pada Laura.
Laura hanya menggelengkan kepalanya dan hendak keluar dari toilet.
Rendy menarik Laura dan menyudutkannya ke dinding.
Rendy meraih tengkuk Laura dan mencium bibirnya dengan tujuan agar dia bisa menyesap alkohol yang berada di dalam mulut Laura.
Laura tersenyum kesenangan saat Rendy begitu mencemaskannya.
__ADS_1
Dengan girang Laura mengalungkan tangannya ke leher Rendy dan menikmati bibir manis Rendy yang sibuk untuk menyesap semua alkohol dalam mulutnya.