Sekretaris Canduku

Sekretaris Canduku
Balasan Bara


__ADS_3

●●●


Bara membuka matanya ternyata kini sudah pagi.


Bara menatap ke samping terlihat Sela masih tertidur di bahunya terlihat sangat menggemaskan.


Bara tersenyum jika mengingat tadi malam.


Bisa- bisanya Bara membohongi jika mereka harus bermalam di hutan dan Sela percaya begitu saja dengan ucapan Bara.


Bara menyingkirkan rambut Sela yang menghalangi wajah cantik Sela.


Bara tidak henti- hentinya tersenyum menatap wajah cantik Sela.


Sela perlahan membuka matanya lalu menatap sekeliling, ternyata sudah pagi.


Sela baru menyadari jika sejak tadi dirinya bersandar di bahu Bara.


"Tuan kenapa anda tidak membangunkan saya?" tanya Sela sedikit memberi jarak antara duduknya dengan Bara.


"Memang kenapa?" tanya Bara sambil mematikan api unggun yang masih tersisa.


"Tuan kapan kita akan kembali?" tanya Sela karena dia takut jika ada binatang buas yang datang.


"Kemungkinan besok...,"


Plak


Sela memukul bahu Bara dengan sangat keras.


"Aww kenapa kamu memukul saya?" tanya Bara tidak terima ketika Sela memukulnya.


"Bagaimana mungkin kita pulang besok, apa anda ingin di makan hidup- hidup sama binatang buas?" tanya Sela marah pada Bara.


"Maksud saya kemungkinan besok akan hujan karena itu kita harus segera pulang," alibi Bara yang sebenarnya bukan itu yang ingin dia katakan.


"Kenapa anda tidak mengatakannya sejak tadi," kesal Sela sambil melipat mantel Bara.


"Saya belum selesai bicara kamu sudah memukul saya," kata Bara.


"Yaudah sekarang ayo kita kembali," ajak Sela yang sudah berdiri menunggu Bara yang masih duduk santai dan hanya menatap Sela.


"Kenapa kamu buru- buru sekali untuk pulang?" tanya Bara membuat Sela melotot mendengar pertanyaan Bara.


"Apa anda tidak kasian sama mereka yang menunggu kita, pasti mereka khawatir," kata Sela membuat Bara tersenyum samar.


Tadi malam Bara sudah menghubungi Mr. John untuk meminta agar mereka kembali pulang, karena Sela sudah ditemukan.


Dan itu semua tanpa sepengetahuan Sela.


Ya tuhan demi bisa berdua sama Sela, Bara bahkan sudah mengatur segalanya. Haha


"Tuan, apa anda akan tetap tinggal di sini?" tanya Sela yang sudah merajuk.


"Baiklah ayo kita pulang," kata Bara beranjak berdiri.


Bara memegang tangan Sela lalu berjalan di depan untuk memimpin arah jalan pulang.


"Kenapa kita harus pegangan sih?" kesal Sela yang merasa tidak nyaman.


"Udah nurut," kata Bara membuat Sela terdiam. Bara yang berjalan di depan tersenyum, dia sengaja jalan dengan lambat agar bisa lebih lama dengan Sela.


"Tuan tidak bisakah anda jalan sedikit cepat?" tanya Sela yang tidak sabaran mengikuti Bara jalan dengan pelan.


"Bagaimana jika kamu yang memimpin di depan?" Sela tidak lagi menjawab.


Mungkin baru setengah jalan tapi kaki Sela sudah terasa sakit dan capek sekali.


Sela melepaskan genggaman tangan Bara dan berjongkok membuat Bara menoleh ke belakang.


"Apa kamu capek?" tanya Bara yang diangguki oleh Sela.


Bara lalu berjongkok di depan Sela tanpa mengatakan sepatah katapun.


"Kenapa anda berjongkok? Apa anda juga capek?" tanya Sela pada Bara.


"Naiklah,"


"Kemana?"


"Ke atas pohon," ketus Bara lalu menatap Sela yang mendengus sebal.


"Apa saya harus menggunakan isyarat untuk berkomunikasi denganmu?" kata Bara yang kesal dengan sikap polos Sela.


"Kenapa anda marah?" tanya Sela pada Bara.


"Buruan naik," kata Bara yang kembali berjongkok di depan Sela.


Sela menatap punggung kekar Bara, dia merasa ragu untuk melakukannya.


"Apa anda yakin?" tanya Sela memastikan pada Bara.


"Kenapa saya merasa tekanan darah saya naik saat berbicara denganmu," kata Bara yang kembali berbalik menatap Sela.


Sela memicingkan matanya pada Bara.


"Tuan awas," teriak Sela mendorong Bara hingga tersungkur ke belakang.


"Aww," Sela meringis kesakitan karena gigitan ular yang hampir mematuk Bara tapi syukurnya Sela mendorong Bara dengan cepat.


"Sela," teriak Bara cemas saat melihat kaki Sela baru saja di patuk ular.


"Bertahanlah," kata Bara lalu menyandarkan Sela di bawah pohon dan mengangkat satu kaki Sela di atas pahanya.


Bara menghisap racun yang berada di kaki Sela.


Wajah Sela sudah semakin pucat dan kaki Sela kini semakin membiru.


Bara kembali menghisap racun yang berada di kaki Sela.


Bara menatap Sela sudah tidak sadarkan diri. Kekhawatiran Bara semakin bertambah.


"Sela bertahanlah, saya akan membawamu pulang," kata Bara lalu memencet alarm pada jam tangannya untuk meminta bantuan pada bodyguardnya.


Setelah dirasa semua racunnya sudah keluar Bara membopong Sela untuk kembali ke tempat tenda kemarin.


Bara meminta para bodyguard untuk menunggunya di sana.


.

__ADS_1


.


.


.


.


Bara sedang duduk di depan ruang UGD menunggu dokter yang sedang memeriksa Sela.


Semoga saja Sela baik- baik saja. Bara kembali mengingat di antara Gabriela dan Laura, kira- kira siapa pelakunya.


Bara berdiri sekilas melihat pintu UGD yang belum terbuka.


"Tolong jaga gadis saya, saya akan pergi sebentar," kata Bara pamit pada para bodyguardnya.


"Siap tuan," mereka langsung berjaga di depan pintu ruang UGD.


Bara mengendarai mobil sport warna hitam.


Bara melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi tanpa memedulikan keselamatannya.


Pertama Bara akan datang ke apartemen Laura.


Bara sudah sampai di depan apartemen Laura.


Bara bergegas masuk dan naik ke lantai atas menuju kamar Laura.


Bara memencet bel dengan tidak sabaran membuat Laura yang masih tertidur di atas queen sizenya menggerutu sebal.


"Siapa sih pagi- pagi datang," bentak Laura dengan kesal.


Dengan langkah gontai Laura membuka pintu.


"Siapa sih....,"


Bara mendorong Laura dengan sangat kasar masuk ke dalam kamar.


"Bara," kaget Laura kenapa bisa Bara sepagi ini datang ke apartemennya.


"Tunggu sebentar, aku akan ke kamar mandi," kata Laura namun Bara memegang tangan Laura dan mencengkeramnya kuat.


"Apa lo yang membuat ulah?" tanya Bara namun Laura tidak mengerti dengan ucapan Bara.


"Apa maksudmu?" tanya Laura yang memang tidak mengerti dengan pertanyaan Bara.


Bara mendorong Laura hingga terduduk di queen sizenya.


"Apa lo yang buat Sela tersesat?" Laura tersenyum miring dan menatap arah lain.


"Awalnya emang gue berniat untuk melakukannya....,"


Belum selesai Laura bicara Bara sudah mencengkeram pipi Laura dengan kuat.


"Tapi itu tidak sampai terjadi," kata Laura membuat Bara semakin mencengkeram kuat pipi Laura.


"Katakan yang sebenarnya?" tanya Bara menatap tajam dan sinis Laura.


"Gue berani bersumpah, bukan gue pelakunya," kata Laura sambil mencoba melepaskan tangan Bara dari pipinya.


Bara melepaskan cengkramannya dan menatap Laura sinis.


Bara lalu keluar dari kamar Laura dengan emosi yang semakin bertambah kala mengingat satu orang yang dia yakini sebagai pelakunya.


Bara kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Bukan kembali ke rumah sakit tapi ke rumahnya.


Tidak sampai 20 menit Bara sampai di rumahnya dan sedikit berlari menuju lift.


Bara melihat di lantai 2 kosong tidak ada siapa- siapa.


Bara kembali menaiki lift menuju lantai atas dan langsung masuk ke dalam kamar Sela.


Gabriela.


Dia berada di kamar Sela dan sedang memilih beberapa baju milik Sela yang Bara belikan.


Gabriela yang tidak mengetahui kedatangan Bara, keluar dari walk in closet terkejut bukan main.


"Tuan," kata Gabriela hingga baju yang dia pegang terjatuh di lantai.


Bara berjalan menghampiri Gabriela, perlahan Gabriela berjalan mundur menghindari Bara.


"Sedang apa kamu di kamar Sela?" tanya Bara dengan nada sangat dingin.


"Saya hanya ingin meminjam baju Sela," jawab Gabriela dengan gugup dan tangan yang sudah gemetar.


Tidak ada lagi ruang untuk Gabriela menjauh dari Bara karena dinding di belakang punggungnya.


Bara mengangkat dagu Gabriela dengan pelan menatap mata Gabriela membuat sang empu merasakan detak jantungnya berdetak tidak stabil.


Bara mendekatkan wajahnya pada Gabriela membuat Gabriela memejamkan matanya.


Bara berhenti tepat di depan wajah Gabriela menatap nyalang wajah di depannya ini.


"Awww," teriak Gabriela saat Bara mencengkeram kuat pipi Gabriela.


"Apa kamu tidak memikirkan sahabatmu yang sedang sekarat di hutan kemarin malam, hah?" teriak Bara dengan sangat keras membuat Gabriela memejamkan matanya.


"Apa kamu mengkhawatirkan bagaimana keadaannya?" kata Bara rendah namun penuh penekanan.


Gabriela menghempaskan tangan Bara dengan kasar agar bisa lepas dari pipinya.


"Kenapa anda menyakiti saya?" tanya Gabriela dengan nada sedikit tinggi sambil memegangi pipinya yang mungkin saat ini sudah memerah.


"Siapa yang menyuruhmu untuk menyakiti milik saya," kata Bara pelan sambil membelai rambut Gabriela.


"Apa kamu yang membuat ulah kemarin malam?" bentak Bara sambil mendorong Gabriela ke dinding membuat punggung Gabriela terasa patah.


"Jawab," teriak Bara sangat keras, Gabriela hanya diam dan menatap Bara.


Spontan Gabriela memeluk Bara, Bara yang tidak siap sedikit terhuyung ke belakang.


"Bar...," Rendy membuka pintunya dan terdiam saat melihat Gabriela memeluk Bara.


Rendy baru saja tiba dan mencari Bara tidak ada di kamarnya lalu mendengar suara teriakan dari kamar Sela.


Dan berniat untuk melihat apa yang sedang terjadi tapi

__ADS_1


"Rendy ini bukan seperti yang lo pikirin," kata Bara sambil berusaha melepas pelukan Gabriela yang sangat erat.


"Sorry gue ganggu bro," kata Rendy kembali menutup pintunya dan meninggalkan Bara dengan Gabriela.


Bara berusaha dengan kuat melepaskan pelukan Gabriela lalu mendorong Gabriela hingga tersungkur di lantai.


"Dasar cewek murahan," kata Bara sambil menatap tajam Gabriela yang masih terduduk di lantai.


Bara berniat untuk keluar dari kamar Sela dan menyusul Rendy tapi lagi- lagi Gabriela memeluknya dari belakang.


"Tuan apa anda tahu, saya mencintai anda awal kita bertemu," kata Gabriela sambil memeluk Bara dari belakang.


Bara mencengkeram kuat tangan Gabriela hingga Gabriela mengaduh kesakitan.


Bara mendorong Gabriela hingga tersungkur di queen size Sela.


"Dengarkan perkataan saya baik- baik, itu bukanlah cinta tapi obsesi semata dan jangan pernah kamu menyakiti apa yang menjadi milik saya," kata Bara kembali mencengkeram pipi Gabriela.


"Dan satu lagi," kata Bara menggantungkan ucapannya.


"Cepat pergi dari rumah saya tanpa membawa secuil baju milik Sela," peringat Bara lalu menghempaskan pipi Gabriela dengan kasar.


Bara keluar dari kamar Sela dan berniat untuk kembali ke rumah sakit.


Gabriela memegangi pipinya, begitu sakit dan panas.


"Kalau gue enggak bisa dapetin lo begitu juga dengan Sela," kata Gabriela sambil menatap tajam kepergian Bara.


Bara menaiki lift turun ke lantai bawah, dia tidak melihat Rendy, kemana dia pergi.


Biarlah dia menjelaskan nanti pada Rendy, dia akan kembali ke rumah sakit.


Setidaknya amarah Bara sudah sedikit berkurang saat dia bisa membalaskan perlakuan mereka pada Sela.


Bara tidak menyukai Gabriela karena dia tahu sikap licik Gabriela.


Jangan dikira orang yang dekat dengan Sela semua tidak diselidiki oleh Bara.


Semua Bara selidiki dan pastinya tanpa sepengetahuan Sela.


Bara telah sampai di rumah sakit, setengah berlari Bara menaiki lift dan menuju ruang inap Sela.


"Tuan nona sudah siuman," lapor pak Asep yang bertugas berjaga di depan ruangan Sela.


Bara tersenyum senang saat mendengar ucapan pak Asep.


Bara buru- buru masuk ke dalam ruangan Sela dan terkejut saat ruangan Sela dipenuhi balon.


Bara menatap Rendy yang duduk di samping brankar Sela sedang meniup balon.


"Apa lo berniat jualan balon di dalam ruangan ini?" tanya Bara pada Rendy yang masih sibuk meniup balon.


"Kalau iya emang kenapa?" tanya Rendy dengan ketus membuat Sela tersenyum samar.


Bara mengalihkan tatapannya pada Sela yang wajahnya sedikit pucat.


"Mana yang sakit, hmm?" tanya Bara pelan sambil menatap wajah Sela.


Sela hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum samar.


"Di sini," jawab Rendy sambil menunjuk dadanya.


"Kenapa, hati lo perlu dioperasi?" tanya Bara tak kalah ketus dari Rendy.


Rendy hanya diam dan kembali meniup balon dan melemparkannya ke sembarang arah.


"Apa lo segabut itu sampai lo enggak punya kerjaan dan niupin balon sebanyak itu?" tanya Bara sambil melihat ruangan Sela yang sudah dipenuhi balon warna- warni.


"Kenapa, lo juga mau niup?" tanya Rendy menawari Bara untuk meniup balon.


"Permisi," kata dokter muda berpawakan tinggi dan mungkin masih sebaya dengan Bara dan Rendy.


"Maaf tuan Bara saya akan memeriksa kondisi Sela," kata dokter tampan itu meminta izin pada Bara.


"Periksalah dok," perintah Rendy tanpa melihat ekspresi Bara saat ini.


"Di mana dokter Lia?" tanya Bara sengit pada dokter di depannya ini.


"Maaf tuan, dokter Lia sedang melakukan operasi darurat, jadi saya yang akan menggantikan untuk memeriksa Sela," jelas dokter tampan itu.


"Berapa lama dokter Lia selesai operasi?" tanya Bara membuat Rendy greget sama Bara.


"Udah dok cepetan periksa jangan jawab pertanyaan orang gila itu," kata Rendy membuat Bara menatapnya tajam.


"Kenapa lo sewot banget sama gue?" tanya Bara pada Rendy.


"Siapa yang sewot," kata Rendy sambil melemparkan balon ke sembarang arah.


Rendy menatap sekilas Bara yang terus menatap tajam dokter yang sedang memeriksa Sela.


"Dok, tahu enggak sih saya sama Sela tuh kayak angka 21," kata Rendy spontan membuat Bara langsung menatap Rendy tajam.


"Kenapa memangnya tuan?" tanya dokter tampan itu menanggapi ucapan Rendy.


"Berdua terus tapi enggak bisa bersatu," jawab Rendy membuat Bara memukul kepalanya.


"Lo kenapa mukul gue?" tanya Rendy marah pada Bara.


"Enggak usah gombal, pacar aja enggak punya," kata Bara sambil menatap arah lain.


"Daripada deketin anak orang doang tapi enggak bisa gombal,"


"Kenapa, lo iri gue bisa gombal sedangkan lo enggak," ejek Rendy semakin memancing emosi Bara.


"Lo ya bener- bener ngajakin ribut," kata Bara sambil berkacak pinggang di depan Rendy.


"Oh lo nantangin gue," kata Rendy sambil menggulung kemejanya sampai siku.


"Sini lo maju," kata Bara bersiap untuk bertarung dengan Rendy. Rendy berjalan maju dan


"Bentar gue mau jualan balon dulu buat cari biaya berobat sebelum tarung sama lo," kata Rendy sambil memunguti balon yang berserakan di lantai.


Seketika Sela dan dokter tampan tertawa melihat kelakuan Rendy.


Rendy berjalan keluar dari ruangan Sela, tapi kembali lagi dan membuka pintunya.


"Kaya doang punya pacar kagak, yuhuuu," teriak Rendy yang langsung berlari sebelum Bara mengejarnya.


Bara mendengus sebal mendengar ejekan Rendy.

__ADS_1


▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎


__ADS_2