
□■■□
Rendy dan Reno sedang berada di rumah pohon yang ada di belakang rumah.
Mereka berdua sedang menikmati pesta juga sama seperti lainnya.
Bedanya mereka di rumah pohon yang lain pada di bawah.
"Kan kalau gini enak, gue terhindar buat jaga bayinya Bara," kata Rendy sembari makan kue mochi yang ia ambil dari dapur tadi.
"Bener, kalau gini kan gue bisa istirahat dan menikmati malam yang indah," kata Reno yang juga sedang menikmati kuenya.
"Mereka kenapa belum selesai juga sih pestanya? Capek gue di sini terus," protes Rendy saat mereka semua tidak juga bubar dan selesai pestanya.
"Bener, wanita kalau suruh ghibah, mau semaleman pasti mereka jabani, kadang gue sampe ketiduran kalau gosip sama Dea, saking enaknya kayak dengerin dongeng," kata Reno membuat Rendy tertawa keras.
Seketika mereka lupa jika sedang bersembunyi dari mereka semua.
"Siapa itu?" teriak Bradsiton membuat Rendy dan Reno langsung membungkam mulutnya sendiri.
"Mampus kita, gimana kalau papa sampai naik?" tanya Rendy berbisik pada Reno.
"Lo sih lagian pakai acara ketawa segala," kesal Reno yang menyalahkan Rendy.
Rendy mencari ide sebelum papanya naik ke atas.
Selimut putih.
"Gue punya ide," kata Rendy sambil tersenyum jahil.
Reno yang sudah berfirasat tidak baik mengikuti saja ide gilanya.
"Buruan pakai ini," kata Rendy yang memakai selimut putih.
"Kayaknya kurang mirip deh Ren," kata Reno yang berinisiatif untuk mencari sesuatu yang bisa ia pakai.
"Nah pakai tali," kata Reno yang langsung mendadani Rendy persis seperti pocong.
"Gimana penampilan gue?" tanya Rendy.
"Sip persis kayak pocong aslinya," jawab Reno yang juga sibuk memakai selimut putih juga menali bagian kepalanya.
Bradsiton yang penasaran semakin mendekat ke arah rumah pohon.
Saat Bradsiton hendak naik ke tangga si dua somplak langsung beraksi.
"Hihihihihi," kata mereka berdua sambil bergaya layaknya pocong yang sedang menakuti.
"Aaaaaa astaga naga, astaga naga," teriak Bradsiton lalu berlari kembali ke dalam rumah karena semua orang telah meninggalkannya seorang diri.
Rendy dan Reno tertawa keras melihat Bradsiton berlari terbirit- birit karena ketakutan.
"Ya ampun ternyata papa gokil juga ya, wajahnya aja yang humoris nyatanya dia juga penakut," kata Rendy yang tidak berhenti tertawa melihat papanya ketakutan.
Sedangkan Reno tidak sengaja melirik ke pohon yang tidak jauh dari pandangannya.
Warna putih berkibar di atas pohon.
"Astaga naga, astaga naga, kalau ini namanya apa Ren?" tanya Reno sambil menahan rasa takut dan gemetaran.
Sontak Rendy langsung berhenti tertawa dan melihat wajah pucat Reno.
"Apaan?" tanya Rendy sambil mengikuti arah tatapan Reno.
"Hiks hiks, ini namanya karma dibayar instan. Niatnya tadi nakuti papa dengan dandan putih- putih gini, ehh malah didatengi dong sama yang aslinya," kata Rendy sambil memegang tangan Reno erat.
"Mana dia berkibar kayak bendera lagi," kata Reno yang juga gemetaran karena takut.
"Ren kalau dia terbang nyamperin kita, kita harus gimana?" tanya Rendy membuat Reno menggampar kepalanya.
"Lo disituasi genting gini kenapa masih ngelawak sih, gue dari tadi nahan kencing tahu enggak," kesal Reno dengan sikap Rendy.
"Nah nah nah kan kan dia terbang, mana sok sok an bergaya lagi," kata Rendy sambil sembunyi di belakang Reno.
"Dia lagi fashion show atau gimana sih?"
"Lo punya mantra buat ngusir dia enggak?"
"Punya,"
"Apa?"
"Kaburrrrr," teriak Reno yang tanpa pikir panjang langsung menarik Rendy terjun bebas dari pohon namun
Sret
Mereka tergantung di atas karena selimutnya tersangkut kayu.
"Huaaaa Renooo, kayaknya pocongnya enggak biarin kita kabur dehh," teriak Rendy yang sudah panik ketakutan.
"Pocong mau lo apa sih, lo kalau mau tarung sama gue ayo sini, kita main kartu domino, jangan main gantung gini," kata Reno sambil menggerakkan kaki dan tangannya agar bisa jatuh ke tanah namun tetap tidak bisa.
Sedangkan Rendy meraih ponselnya.
"Laura sayang, nanti kalau kamu lahiran kamu harus berjuang ya kayak Sela biar anak kita nanti selamat, jangan cari suami lagi atau genit sama cowok, kalau bisa kamu jangan nikah lagi ya, cukup aku aja meski aku udah enggak ada di sampingmu....,"
"Lo ngapain bego?" tanya Reno yang kesal pada Rendy.
"Buat wasiat," Reno melebarkan kedua matanya tak percaya.
Jika saja mereka tidak tersangkut di atas, Reno ingin menendang Rendy hingga ke langit.
"Ayo Ren lo juga harus buat wasiat buat Dea, siapa tahu pocongnya nanti enggak punya toleransi buat bunuh kita," kata Rendy sambil menyodorkan ponselnya agar memberi pesan pada Dea.
"Gue belum mati bego ngapain buat wasiat. Noh selimutnya nyangkut," kata Reno sembari menunjuk ke atas.
Rendy mendongak ke atas dan betapa malunya ia.
"Lo kenapa baru kasih tahu, tahu gitu gue enggak bakal susah- susah bikin wasiat," kata Rendy sembari memasukkan ponselnya.
"Gue juga baru tahu," kata Reno yang kini sudah merasa putus asa karena digantung di atas gitu.
"Ternyata bukan cuma playboy ya yang bisa gantung perasaan cewek, nyatanya pocong juga bisa gantung kita," gumam Rendy yang diangguki oleh Reno.
__ADS_1
《♡♡♡》
Pagi yang indah ini membuat keluarga kecil ini merasa begitu bahagia.
Ya Bara dan Sela.
Juga baby twin mereka.
Sela yang sudah terbangun lebih dulu, langsung mandi dan akan menyiapkan sarapan untuk Bara.
Sela sudah selesai mandi dan masih mengenakan jubah mandi.
Ia hendak mengambil ponselnya ternyata Bara sudah bangun.
"Sayang, lihat deh dia mirip banget kayak kamu," kata Bara yang begitu gemas dengan baby Al.
"Tapi dia terlihat tampan sepertimu," kata Sela sambil memotret pemandangan indah pagi ini.
Bara langsung bangun dengan sangat pelan lalu menarik tangan Sela untuk duduk di atas pangkuannya.
"Pagi- pagi gini kamu sudah mandi, hmm?" tanya Bara manja sedangkan Sela sibuk menatap foto daddy dan baby gemas ini.
"Kamu mau kemana hah?" tanya Bara namun Sela tidak menggubrisnya ia sibuk main ponsel.
Bara yang dasarnya tidak suka diabaikan langsung merebut ponsel Sela.
Ia melihat foto dirinya dan baby Al.
Dengan santainya Bara melempar ponsel Sela ke sembarang arah.
"Bara," kata Sela menggeram kesal pada Bara.
"Makanya jangan cuekin aku," kata Bara sambil mencium leher jenjang Sela.
Aroma yang sejak dulu tidak pernah berubah dan selalu menjadi candu baginya.
"Bara geli," kata Sela yang risih saat Bara menciumi leher jenjangnya.
"Sayang, aku bahagia banget punya kamu, apalagi ditambah buah hati kita," kata Bara yang terdengar sangat manis sekali.
Sela menangkup kedua pipi Bara, ia membelai bibir seksi Bara.
"Tahu enggak, aku tidak pernah berpikir akan seberuntung ini jika saja aku tidak bertemu denganmu. Bahkan dari dulu sampai sekarang cinta kamu juga tidak pernah berubah padaku, meski di luaran sana banyak wanita yang lebih baik dariku,"
"Dan terkadang aku berpikir bagaimana caranya membalas semua kebaikanmu yang membuatku hingga sejauh ini," Bara merasa tersentuh dengan perkataan Sela.
Ia meraih tengkuk Sela dan mengulum bibir manis istrinya.
Dengan lembut dan penuh sensasi keduanya begitu menikmati vitamin ini di pagi hari.
Sela mengalungkan kedua tangannya dan mengikuti permainan yang Bara pimpin.
Bukan Bara namanya kalau ciuman cuma diem, pasti tangannya bakal traveling, ya enggak sih.
Dengan pelan Bara membuka ikatan jubah mandi Sela dan mengusap lembut perut rata Sela.
"Dasar tangan nakal," kata Sela melepaskan ciumannya.
"Ayo kamu harus temeni aku mandi," kata Bara yang langsung mengangkat Sela kembali ke kamar mandi.
"Baraaa aku udah mandi yaaa," rengek Sela saat Bara memaksa untuk ditemani mandi.
Sedangkan di kamar lain, ada Dea dan Reno yang bermanja- manjaan di kamar yang pas banget menghadap ke arah pantai sembari menikmati pagi ini.
"Sayang, kamu mau jalan- jalan kemana?" tanya Reno yang tidur di pangkuan Dea sembari menciumi perut Dea yang kini semakin membesar.
Kandungan Dea hanya berjarak 1 bulan dengan Laura.
Jika Laura sekarang sudah 9 bulan berarti Dea masih 8 bulan, yah kira- kira sekitar itulah.
Ternyata Rendy dan Reno persaudaraannya kental banget enggak sih.
Bukan cuma mereka berdua yang selalu kompak nyatanya para istri mereka juga.
Meski terkadang dua kembar tak seiras ini selalu kompak nyatanya selalu aja somplak dan bikin rusuh.
"Aku cuma pengin ditemeni kamu aja," jawab Dea membuat Reno tersipu malu.
Meski mereka sudah suami istri Reno terkadang masih ada rasa malu pada Dea karena usia mereka yang berjarak beberapa tahun lebih tua dari Dea.
"Kamu enggak mau ke Paris atau ke Swiss gitu jalan- jalan cari angin?" tanya Reno yang menawari Dea.
"Enggak," jawab Dea sembari membelai rambut tebal suaminya.
"Kalau gitu kamu mau apa? Biar aku turuti?" tanya Reno membuat mata Dea berbinar sangat senang.
"Beneran?" Reno mengangguk dan tersenyum manis.
"Mau enggak masakin rendang khas Indonesia sama buatin steak?" tanya Dea yang takut merepotkan Reno.
Reno bangun dari pangkuan Dea, ia mencium kening istrinya.
"Siap bu bos, perintah diterima. Tunggu saya akan memasak buat tuan putri," kata Reno yang langsung bergegas untuk memasakkan Dea.
Dea tersenyum bahagia, meski begitu sederhana namun tidak semua laki- laki mampu melakukannya.
Reno turun ke lantai 1 tepatnya di lantai khusus dapur besar dimana tempat untuk memasak para bodyguard.
"Lo ngapain di sini?" tanya Rendy saat Reno masuk ke dalam dapur.
"Lah lo sendiri ngapain di sini?" tanya Reno melihat penampilan Rendy yang sedang memasang celemek.
"Mau masak buat Laura,"
"Lah sama gue mau masak buat Dea," mereka lalu sama- sama tersenyum saat melakukan hal yang sama.
"Tunggu apalagi, ayo kita bakar dapurnya," Reno tertawa mendengar ucapan Rendy.
Mereka lalu masak berdua demi istri mereka.
__ADS_1
Benar- benar suami yang siaga dan tiada duanya.
□■■□
Sedangkan di London kini adalah hari bahagia Dewa dan Sandra.
Ya hari ini mereka telah resmi menikah dan menjadi pasangan suami istri.
Mereka tidak mengadakan pesta besar atau mengundang banyak orang.
Hanya pesta kecil juga para sahabat ketika kuliah dan saudara dekat yang datang.
Tadinya mereka ingin memberitahukan pada Sela dan yang lainnya.
Tapi Sandra tahu jika Sela baru saja melahirkan dan Dea Laura kini sedang hamil besar.
Jadi, tidak mungkin jika Sandra harus memberitahu mereka disaat mereka sedang hamil besar dan mengurus buah hatinya.
Tadinya Jessy sama Reynald ingin menjemput mereka semua, namun jika dipikir lagi kasian juga mereka jauh- jauh kesini dalam keadaan seperti itu.
Sandra ingin memberi kejutan pada mereka nanti dengan fakta jika dia sudah menikah dengan Dewa.
"Sandra Dewa, kalian istirahatlah, biar kakek sama kakak yang sambut tamunya," kata Pram pada dua mempelai ini.
"Tidak kek...,"
"Iya kek, lagian Dewa juga udah capek daritadi berdiri," kata Dewa membuat Sandra melebarkan kedua matanya.
"Terus kamu kira dari tadi kakak jongkok di sini?" sindir Reynald yang ada di dekat Dewa sembari menggendong baby Mike.
"Bilang aja kalau pengin cepet unboxing," Jessy tertawa sambil menatap Sandra.
"Nah itu tahu," kata Dewa membuat Pram terkekeh.
"Udah gih sana, ajak Sandra istirahat," kata Pram sambil menggoda Sandra yang terlihat malu.
"Makasih kek," kata Dewa yang langsung menarik tangan Sandra pelan menuju apartemennya.
Sesampainya di mobil Dewa membukakan pintu untuk Sandra.
"Silahkan tuan putri," kata Dewa yang terdengar sangat manis.
"Kamu enggak kasian apa sama kakek, dari tadi juga menyambut para tamu, masa kita pulang duluan," kata Sandra yang tidak juga masuk ke dalam mobil.
"Kakek kan enggak ada acara juga sayang, lagian kita juga udah dari tadi," kata Dewa yang sedang menahan kesabarannya.
"Tapi...,"
"Masuk apa diunboxing di sini?" ancaman Dewa memang ampuh hingga membuat Sandra dengan kesal langsung masuk dalam mobil.
Dengan semangat 45 Dewa memutari mobil dan langsung melajukannya menuju apartemen.
Sekitar 20 menit mereka telah sampai di apartemen.
Sandra yang marah meninggalkan Dewa begitu saja di parkiran.
"Dasar suami mesum," gerutunya sembari mengangkat tinggi gaun putihnya.
"Aaaa," teriak Sandra kaget saat Dewa dari belakang langsung mengangkat dirinya.
"Kamu kenapa hmm ninggalin aku?" tanya Dewa sembari menekan lift untuk ke lantai atas.
"Dewa turunin enggak?" Dewa menatap Sandra, kalau udah panggil nama gini pasti Sandra marah.
Ting
Mereka sampai di lantai atas, Dewa langsung saja membawa Sandra ke kamarnya.
Dengan pelan Dewa menurunkan Sandra.
"Sayang masak kamu gitu aja marah sihh?" rengek Dewa yang kini berubah menjadi bayi imut.
Sandra tidak menggubris, ia langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
"Yah gawat, alamat tidur di luar gue nih," gumam Dewa sambil duduk di king size menunggu istrinya selesai mandi.
"Uhhhh senengnyaaaa akhirnya gue bisa nikah sama perempuan yang sejak dulu gue suka," kata Dewa sambil berbaring di king size dan berguling- guling ke sana kemari.
Ceklek
Dewa langsung bangun saat mendengar suara pintu kamar mandi terbuka.
Deg
Sandra memang tidak memakai lingere tapi jubah mandi yang ia pakai dengan panjang sebatas lutut membuat Dewa beberapa menit yang lalu menahan nafasnya sebentar.
"Apa liat- liat?" ketus Sandra saat Dewa menatapnya tanpa berkedip.
Dewa yang merasa panas dingin memutuskan langsung mandi tanpa mengucapkan sepatah katapun pada Sandra.
Sandra lalu duduk di king size untuk mengeringkan rambutnya.
"Padahal udah suami istri, masak ngerasa canggung gitu. Padahal dulu juga sering tidur bersama," gumam Sandra yang bingung dengan sikap Dewa.
Ceklek
Dewa keluar dari kamar mandi dan masih mengenakan tuxedo, artinya dia belum mandi.
"Kamu belum hmpp," Dewa langsung mencium bibir Sandra dengan sangat lembut dan pelan.
Sandra mendorong pelan dada bidang Dewa dan saling menatap satu sama lain.
"Kamu belum mandi?" tanya Sandra pada Dewa.
"Malam ini aku begitu bahagia hingga ingin segera melakukannya," kata Dewa yang kembali menyerang Sandra dengan melahap bibir manis istrinya.
Dalam posisi masih berciuman Dewa mengambil alih catokan di tangan Sandra dan meletakkannya di atas nakas.
Dengan sangat pelan Dewa membaringkan Sandra.
Kini tangannya beralih untuk membuka ikatan jubah mandi Sandra.
Dewa beralih pada leher jenjang Sandra.
__ADS_1
"Jika malam ini aku tidak bisa mengendalikan diri, jangan salahkan aku karena dirimu terlihat begitu cantik," bisik Dewa yang terdengar sangat seksi di telinga Sandra.
Tunggu apalagi Sandra langsung mengalungkan kedua tangannya membuat Dewa semakin agresif