Sekretaris Canduku

Sekretaris Canduku
3 Tahun Kemudian


__ADS_3

□■□■


PERUSAHAAN BS. AURORA



"Baik rapat kita akhiri sampai sini, besok kita akan survei langsung untuk melihat proyeknya," kata Sela mengakhiri rapat pagi ini.


"Baik bu, kami permisi," kata mereka satu persatu meninggalkan ruang meeting.


"Huh capeknya," keluh Sela karena seharian penuh dia mengurusi tentang proyek.


"Pagi bos cantik," kata Sandra sambil menenteng rantang makanan dengan senyum manisnya.


"Uhh Sandra sayang, kamu tahu aja aku lagi laper," kata Sela sambil menghampiri Sandra yang duduk di sofa untuk menyiapkan makan siang.


"Iyalah apasih yang enggak gue tahu tentang lo," kata Sandra dengan bangganya.


Sela bergelayut manja di lengan Sandra yang sibuk menyajikan makanan yang dia masak.


"Nih makan," kata Sandra sambil memberikan bagian makan siang Sela.


"Makasih cantik," kata Sela yang langsung menyantap makanannya.


Ya, kini Sela telah lulus dari kuliah, bahkan tak disangka jika Sela dan Sandra bisa menyelesaikan kuliah sebelum 2 tahun.


Keduanya mulai merancang bisnis kecil- kecilan hingga satu tahun lamanya kini Sela dan Sandra bisa membangun perusahaan sendiri.


Meski tidak besar tapi perusahaan Sela benar- benar berkembang sangat pesat dan maju.


Bahkan perusahaannya masuk kategori perusahaan- perusahaan besar dan maju yang dipimpin oleh anak pemuda.


Perusahaan yang ia beri nama BS. Aurora menyangkut tentang fashion sama halnya dengan milik Bara.


Entah apa yang Sela pikirkan selam 3 tahun ini dia tidak pulang sama sekali ke Kanada bahkan mengabari Bara.


Lalu juga menjenguk ibunya yang perlahan mulai membaik.


Katakanlah Sela egois karna memang itu kenyataannya.


Sela membangun bisnis di London dan sudah beberapa kali Sela diam- diam investasi ke perusahaan Bara tanpa sepengetahuannya.


Itu semua bisa lolos tanpa diketahui Bara dengan bantuan Rendy.


Dialah sosok yang selama ini membantu Sela dan melaporkan semua tentang Bara.


"Sel gimana, kapan lo balik ke Kanada, biar perusahaan gue yang urus. Lo juga harus jenguk ibu lo, juga Bara," kata Sandra di sela- sela mereka makan.


"Aku merasa takut San buat ketemu Bara, bahkan aku merasa sangat bersalah tentang beberapa tahun lalu. Seharusnya aku bisa di sampingnya tapi aku malah pergi jauh darinya," kata Sela lemah dan kini suasana mendadak sendu.


"Gue tahu lo menyesal dan juga merasa bersalah sama Bara, tapi asal lo tahu mau sampai kapan pun lo ngehindar dari Bara dengan terus- terusan di sini, masalah lo enggak akan selesai," kata Sandra mencoba melawan ego Sela.


"Lalu bagaimana jika Bara tidak mau memaafkanku?" tanya Sela pada Sandra.


Sandra berhenti mengunyah lalu menatap Sela dalam.


"Dengerin gue, mau dia maafin lo atau enggak, seenggaknya lo udah berusaha buat minta maaf dan lo menyesal karena lo enggak bisa di sampingnya saat dia butuh seseorang," kata Sandra memberi Sela saran yang baik.


"Kenapa hatiku merasa sangat sakit San, terlebih aku merasa jika Bara tidak akan memaafkanku," kata Sela yang masih tidak bisa yakin akan ucapan Sandra.


Sandra meletakkan rantang makanannya, lalu memegang kedua bahu Sela untuk kembali menyakinkan.


"Percaya sama gue, pulanglah temui ibu lo lalu lo temui Bara. Gue tahu mungkin Bara enggak akan segampang itu buat maafin lo, tapi seenggaknya lo udah berusaha buat memperbaiki ini semua," kata Sandra membuat Sela merasa jika Sandra benar- benar sahabat yang baik.


Sela langsung memeluk Sandra erat.


"Makasih banyak ya, selama 3 tahun ini kamu udah mau kerja keras sama aku bahkan kita sekarang bisa bangun perusahaan berdua berkat kerja keras kita," kata Sela bangga dengan pencapaiannya selama 3 tahun ini.


"Gue bakal di samping lo selama gue masih mampu," gumam Sandra pelan sambil mengelus punggung Sela tulus.


"Pulang gih sana, lo beres- beres dulu besok gue anter ke bandara," pinta Sandra sambil melepaskan pelukannya.


"Tapi sama kamu," kata Sela merengek manja pada Sandra membuat Sandra mengernyitkan alisnya.


"Kok lama- lama gue ngerasa lo aneh deh semenjak ldr sama Bara," kata Sandra membuat Sela memanyunkan bibirnya.


"Aku normal kali ya," kata Sela lalu mengambil mantel dan tasnya.


"Iya deh tuan putri bakal ditemeni sama Sandra yang cantik," kata Sandra sambil merapikan rantang makanannya.


"Ayo," keduanya langsung pergi untuk pulang bersama.


Sudah tidak heran jika para karyawan melihat kedekatan dua orang ini yang bagai perangko.


Oh ya lupa di perusahaan Sela hanya mempekerjakan karyawan wanita dan Bara hanya mempekerjakan karyawan pria.


Percayalah, dua perusahaan ini memang terasa aneh tapi mereka sama- sama sedang menjaga hati satu sama lain.


Lucu enggak sih?


.


.


.


.


Sela sedang berberes sedangkan Sandra hanya menatapnya sembari memakan camilan.


"Sel jangan lupa tuh cincin lo," kata Sandra mengingatkan kembali pada Sela.


"Iya bawel," sahut Sela sambil memasukkan kotak cincin ke dalam tasnya.

__ADS_1


"Lo di sana jangan lama- lama, awas aja lo sampek lupa diri pas udah ketemu Bara, gue bakar perusahaan lo," Sela tertawa mendengar gerutuan Sandra.


"Kan ada Kevin yang nemenin kamu," jawab Sela dengan entengnya.


"Enggaklah yang ada tuh orang malah bikin rusuh iya," kesal Sandra kala mengingat Kevin yang selalu saja merecokinya kerja.


Ya karyawan pria satu- satunya hanya Kevin dan karna dia hanya satu- satunya pria di kantor selalu menjadi gosip para wanita.


"Emang kamu enggak kangen gitu sama Dewa?" tanya Sela tiba- tiba membuat Sandra berhenti mengunyah dan diam sejenak.


"Entahlah mungkin dia sekarang udah punya cewek kali ya," tebak Sandra asal- asalan.


"Kok kamu bilang gitu, Dewa kan sayang banget sama kamu, bahkan dia juga 11 12 kayak Bara, sama- sama biayai kita kuliah kan?" kata Sela.


"Bener sih tapi siapa tahu dibalik sikapnya dia gitu dia hanya kasian sama gue yang hidup sebatang kara ini," kata Sandra mendadak pilu membuat Sela merasa bersalah.


"Kan ada aku di sini," kata Sela sambil memeluk Sandra agar tidak merasa sendirian.


"Gue kangen banget sama papa mama," Sandra mulai menangis di pelukan Sela.


"Gue pengin papa sama mama lihat kalau gue sekarang udah sukses,"


"Bahkan sebelum mereka meninggal, gue belum bisa buat mereka bahagia, gue bener- bener anak yang enggak berguna banget," kata Sandra disela tangisannya.


Sela semakin mempererat pelukannya, menyalurkan kekuatan juga kehangatan pada Sandra.


Ternyata sahabatnya lebih pilu kisahnya dibanding dirinya.


"Aku akan selalu ada buat kamu," gumam Sela sambil membelai rambut Sandra dan menghapus air matanya.


○●○●


Bara sedang memandangi sosok yang selama ini dia tunggu.


Kehadirannya juga orangnya.


Sosok yang sangat ia rindukan, yang ia inginkan keberadaannya.


Tapi sayang, harapan Bara yang hanya terus menunggu tak kunjung usai.


Bara pun juga begitu, ia menjadi sosok yang diam tak tersentuh.


Bara seakan mendadak berubah 100% setelah kejadian di London sore itu.


Bukan dia tidak percaya sama Sela, Bara hanya marah saat Sela tidak bisa menjaga komitmen dengannya kala jauh di sana.


Bahkan Sela juga tidak mau memperjuangkan cinta mereka berdua.


Rasanya kehidupan Bara kembali kelabu tidak lagi biru seperti dulu.


Kehilangan kedua orang tua juga wanitanya.


Rasanya dunia Bara lenyap begitu saja.


Jujur saja dia sudah berusaha mati- matian untuk tidak pergi menyusul Sela di London.


Entah sekedar minta maaf atau mengatakan satu katapun.


Tapi nyatanya hingga 3 tahun ini tidak ada satupun kabar dari Sela.


Bara juga menjadi orang yang gila kerja, dia bahkan jarang pulang dan lebih memilih kerja kerja dan kerja.


"Hello boy i'am coming,"


Tapi satu dari dulu sampai sekarang yang enggak berubah.


Rendy


"Ini makan malam untuk tuan Bara dan ini makanan saya," kata Rendy sambil membukakan box makanan untuk Bara.


"Siapa yang suruh lo pesen?" tanya judes Bara sambil menaikkan kakinya.


"Ya tuhan ini kaki sopan banget pakai acara diangkat ke atas meja," sindir Rendy sambil membuka box makan malamnya.


"Kimchi lagi?" kata Bara kala melirik lauk makan malam hari ini.


"Perasaan gue beli kimchi baru kali ini deh, kan itu kesukaan lo," kata Rendy sambil memakan makanannya dengan begitu lahap.


"Tapi tiap malem gue mimpi selalu makan kimchi jadi gue udah enggak mau makan kimchi lagi, gue pengin makan ayam sama minum bir," Rendy mengunyah layaknya psikopat sambil melihat sinis Bara.


"Terus lo kenyang cuma mimpi makan kimchi?" tanya Rendy membuat Bara berpikir.


"Kenyanglah," jawab Bara asal membuat Rendy menggigit dagingnya dengan kesal.


"Yaudah lo tidur aja mimpiin noh makan ayam sama minum bir besok juga kenyang," Bara menurunkan kakinya lalu sedikit memajukan badannya menatap Rendy yang makan dengan lahap.


"Oh jadi lo nolak permintaan gue?" tanya Bara sambil menatap Rendy yang makan dengan lahap.


"Baik tuan saya akan membelikan anda ayam beserta kandangnya juga bir beserta penjualnya," kata Rendy sambil berdiri dan menatap tajam Bara yang kini sedang tersenyum bahagia melihat dirinya tersiksa.


Bara menahan tawanya melihat ekspresi kesal Rendy.


Orang yang selalu di sampingnya dan selalu ada buat dia.


Dan tidak pernah berubah sedikitpun dari dia kenal Rendy.


Karena itu Bara menyayangi Rendy dengan cara yang berbeda.


Emang benar Bara selalu membully atau memerintah sesuka dirinya pada Rendy.


Tapi dibalik itu semua Bara selalu marah kala seseorang berlaku kasar atau berkata tak pantas pada Rendy.


Sedangkan di parkiran Rendy tak berhenti menggerutu.

__ADS_1


"Enggak tahu apa gue lagi makan, mana tuh makanan enak banget lagi," gerutu Rendy sambil berjalan mencari mobilnya.


"Untung lo saudara gue kalau enggak gue penggal tuh kepala," dumelnya sambil menendang ban mobilnya sendiri.


"Rendy," teriak Reno yang baru saja selesai memarkirkan mobilnya.


"Duh ini lagi tambah pusing kepala gue liat dia," gumamnya kala Reno berlari menghampirinya.


"Mau kemana lo?" tanya Reno kala melihat wajah ditekuk Rendy.


"Beli makan, kenapa lo ikut?" tanya Rendy yang sebenarnya mau ngajak Reno.


"Ayo dah," kata Reno sangat berantusias.


"Bentar- bentar gue mau ngerjai Bara," kata Rendy sambil melihat ban mobil.


"Kan lo selalu cari gara- gara, pasti ujung- ujungnya bakal kita aja yang apes," kata Reno yang sudah jenuh melihat tingkah usil Rendy.


"Udah lo diem aja," kata Rendy yang sudah mulai mengurangi isi ban mobil Bara.


"Ren Ren buruan tuan Bara dateng," kata Reno yang seketika panik saat Bara jalan menuju parkiran.


"Aduh bentar deh mana tutup bannya hilang lagi," dumel Rendy sambil mencari- cari tutup ban yang dia hilangkan.


"Duh kah pakai acara hilang segala lagi tuh tutup," kata Reno yang panik sambil ikut membantu Rendy mencari tutup ban.


"Rendy Reno, ngapain kalian berdua?" tanya Bara ketika melihat keduanya seperti sedang mencari sesuatu.


"Eh enggak ada tadi kunci mobil gue jatuh," bohong Rendy sambil menatap Reno.


"Oh ya gue lupa, enggak usah beli makan, gue pengin kalian berdua masak buat gue," kata Bara membuat keduanya menganga tidak percaya.


"Kita?" teriak keduanya yang langsung mendapat pelototan dari Bara.


"Kenapa kalian mau nolak?" tanya Bara dengan nada tegasnya.


Spontan keduanya menggeleng.


Bara lalu berjalan memutari mobilnya yang berada di sebelah kiri Rendy.


"Lah kan mobil lo yang ini," kata Rendy sambil menunjuk mobil yang tadi dia kerjai ketika Bara memutari mobil sport warna hitam.


"Lo lupa, itu kan mobil lo," kata Bara lalu masuk ke dalam mobil dan meninggalkan keduanya.


"Mobil gue?" tanya Rendy pada dirinya sendiri lalu melihat untuk memastikan ucapan Bara.


"Kan apa gue bilang, ngerjai orang yang apes kita aja," dumel Reno yang sebal dengan kelakuan kanak- kanak Rendy.


"Emang sejak kapan mobil lamborgini Bara jadi milik gue?" tanya Rendy pada dirinya sendiri.


Reno menonyor kepala Rendy agar kembali ingat.


"Kan waktu itu tuan Bara ngasih buat hadiah ulang tahun lo," Rendy menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Masak sih?" tanya Rendy tak ingat.


Reno pergi begitu saja meninggalkan Rendy.


"Reno tunggu," teriak Rendy mengejar Reno yang sudah menaiki mobilnya.


°♡♡♡°


Sandra sedang berada di balkon asrama, setelah tadi mengantar Sela ke bandara.


Sela meminta untuk segera mengantarnya ke bandara malam ini karena dia sangat merindukan ibunya.


Juga Bara.


Sandra menghela napas lega setelah meminum americanonya.


Rasanya dia begitu merindukan sosok di sampingnya.


Selain papa dan mama.


Yaitu Dewa.


Bagaimana kabarnya?


Apa dia sudah menikah atau sedang merintis bisnis seperti dirinya?


"Hah kenapa aku tiba- tiba kembali memikirkannya," keluh Sandra sambil menatap langit malam.


Ting ting


Suara bel kamar asramanya sejak tadi berbunyi.


Apa sekarang waktunya makan malam?


Bukankah satu jam yang lalu para pelayan sudah mengantarkan makan malam.


Lalu siapa?


Sandra berbalik dan langkahnya seakan membeku melihat sosok yang kini sedang menatapnya.


"Apa yang membuatmu kemari?" tanya Sandra pelan karena dia merasa mulutnya begitu berat.


Dewa tidak menjawab pertanyaan Sandra dia berjalan menghampiri Sandra.


Dewa meraih tengkuk Sandra dan .....


Eitss ingat puasa😄


▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎

__ADS_1


ALCANZA TU AMOR


Udah up nih buruan yuk baca


__ADS_2