Sekretaris Canduku

Sekretaris Canduku
Pernikahan Jenald


__ADS_3

□■□■


Hari ini mereka semua akan menghadiri acara pernikahan Jessy dan Reynald yang digelar di Jerman.


Tepatnya nanti pukul 7 malam.


Kini Bara Sela dan Rendy Laura sedang berada di mal untuk membeli gaun yang akan mereka pakai di hari istimewa Jessy.


Sela dan Laura sudah hampir 30 menit mengelilingi lantai 11 dan 12 hanya untuk mencari gaun yang mereka suka.


Sedangkan para lelaki hanya diam dan menurut kemana mereka pergi.


"Bar gue capek jalan mulu ngikutin mereka, ayo duduk," kata Rendy mengeluh karena berjalan mengelilingi malnya yang begitu besar hanya untuk mengikuti para wanitanya.


"Gue capek dari tadi tapi masak iya kita tinggalin mereka," kata Bara sesekali melirik Sela dan Laura yang sibuk melihat gaun.


"Bentar aja deh cari es krim kek apa gitu atau mochi, lagian mereka bakal lama banget belanjanya bahkan lo bisa keliling dunia dulu buat nunggu mereka selesai belanja," dumel Rendy meghasut Bara agar mau istirahat sejenak.


"Bener juga sih, yaudah gih kita cari makan," kata Bara berjalan memimpin Rendy.


Sedangkan Rendy melompat kegirangan dan berlari menyusul Bara.


Sedangkan Sela dan Laura masih sibuk mencari gaun yang simpel.


"Nyonya kami punya beberapa gaun yang mungkin anda suka, mari saya antar," kata pelayan itu kala tahu jika Sela yang berbelanja itu tandanya seorang ratu Bara sedang turun ke mal.


Jadi, sebaik mungkin mereka harus melayaninya layaknya ratu.


Sela dan Laura mengikuti kemana pelayan itu membawanya.


"Ini nyonya gaun yang saya maksud, 2 gaun ini keluaran 2 hari yang lalu. Dan ini sangat digemari oleh para perempuan karena mereka couple untuk dikenakan bersama sahabat atau saudara," kata pelayan itu menjelaskan.


"Saya pilih ini aja mbak, tolong dibungkus ya," kata Sela dengan semangatnya membuat Laura sedikit bingung.


"Ra kamu mau kan couplean sama aku buat hadiri acara Jessy nanti malam?" tanya Sela pada Laura. Laura memeluk Sela dari samping dan tersenyum lebar.


"Mau dong," kata Laura senang.


"Ini nyonya gaun anda, terimakasih," kata pelayan itu.


"Sama- sama, mari," kata Sela dengan sangat sopannya lalu keluar dari stand gaun untuk mencari laki mereka.


"Ya tuhan beruntungnya perempuan itu bisa mendapatkan tuan Bara,"


"Bener banget, udah cantik sopan lagi,"


"Gimana tuan Bara enggak suka ya kan?" kira- kira itulah ucapan para pelayan toko saat melihat sikap sopan Sela pada mereka.


Sela dan Laura melihat sekitar, kemana Bara dan Rendy pergi.


"Sayang," teriak Bara sambil sedikit berlari membawa es krim di tangannya diikuti Rendy dibelakangnya.


"Kamu dari mana?" tanya Sela saat Bara memberikannya es krim.


"Beliin kamu es krim," kata Bara beralasan padahal mereka tadi cari makan terus tanpa sengaja mereka bertemu teman kampus perempuan dan jadilah mereka mengobrol berdua.


"Hilih enggak bohong Sel, tadi niatnya kita mau cari makan eh enggak sengaja dia ketemu gebetannya sewaktu kuliah dulu terus ngobrol deh," kata Rendy mengompori sambil memeluk pinggang Laura posesif dan menyuapi Laura dengan es krim yang ia beli.


"Bacot lo tadi lo juga ngobrol sama mereka bukan cuma gue," bantah Bara saat Sela mulai sedikit menjaga jarak dengannya.


"Enggak sayang dia cuma temen kampus kok terus kebetulan ketemu tadi, kamu jangan marah ya?" kata Bara takut jika alih- alih Sela marah padanya.


"Emang siapa yang marah?" tanya Sela ketus sambil menatap Laura yang disuapi es krim oleh Rendy.


"Dasar kalian mata keranjang, udah Sel yok kita pulang," kata Laura sambil menarik tangan Sela pergi meninggalkan mereka berdua.


"Lah kok gue ditinggalin?" kata Rendy saat pergi begitu saja.


"Mampus lo," kata Bara lalu pergi menyusul Sela yang sudah pergi dengan rasa marah atau cemburu.


Entahlah yang pasti Bara suka melihat Sela cemburu padanya.


.


.


.


Bara dan Rendy sedang menunggu para wanitanya yang sedang berdandan.


Padahal sekarang sudah pukul 18.30 GMT- 5 dan mereka mulai make up pukul 4 sore.


"Mereka ini make up apa bangun pabrik sih?" gerutu Rendy yang sudah tidak sabar jika disuruh menunggu.


"Laura cantik lo juga kan yang suka, jadi diem dan tunggu aja," kata Bara memberi paham pada Rendy yang menurutnya masih labil.


"Ya tapi enggak selama itu juga kali Bar, kita udah lumutan nunggunya," dumel Rendy yang langsung pergi menyusul Laura di lantai 2 di mana dia berada di kamar Rendy.


"Iya juga sih, kenapa Sela lama banget ya," kata Bara lalu ikut menyusul Sela yang sudah sangat lama untuk berdandan.


Ting


Bara keluar dari lift dan langsung menuju kamar Sela.


Tok tok tok


"Sayang udah belum make upnya?" tanya Bara dari pintu luar.


"Iya sudah tunggu sebentar," teriak Sela dari dalam.


Bara menunggu Sela dengan menyandar di dinding.


Ceklek


Bara menoleh saat suara pintu dibuka untuk melihat penampilan Sela.



Dan kalian tahu bagaimana reaksi Bara saat melihat penampilan Sela.


Dadanya sesak, matanya melebar dan mulutnya terasa kaku meski untuk membuka suara.


"Ayo berangkat," ajak Sela pada Bara yang hanya diam saja.

__ADS_1


Bara melihat penampilan Sela dari ujung kepala hingga ujung kaki.


"Gimana cantik enggak, tadi di mal ada 2 set couple jadi aku beli ini sama Laura," kata Sela sambil menunjukkan gaunnya.



Bisa kalian lihat kan gimana terbukanya gaun Sela.


Makanya sipawang udah siap mau marahi Sela saat miliknya terekpos dan dinikmati banyak orang.


"Enggak ganti sekarang," kata Bara tegas sambil mendorong Sela untuk kembali masuk ke dalam kamarnya.


"Ihh emang kenapa sih, lagian sekarang udah hampir pukul 7 nanti bisa- bisa telat," kata Sela mencoba mencari alasan.


"Enggak akan telat kita naik helikopter Sela," kata Bara penuh penekanan sambil mencoba bertahan saat melihat Sela mengenakan terbuka seperti ini.


Sela mencoba memutar otaknya, dia sudah janjian sama Laura untuk bisa mengenakan gaun couple ini di acara pernikahan Jessy.


Jadi, Sela dan Laura akan mencari 1001 alasan untuk bisa mengenakan gaun couple ini.


Sela berjalan mendekati Bara sambil mendorongnya pelan hingga menempel di dinding.


"Sayang, boleh ya sekali aja pakai gaun ini, pleaseeee," kata Sela dengan nada manja dan membelai pipi Bara.


Jujur dalam lubuk hati paling dalam Bara tidak kuat menahan godaan seperti ini.


Bisa- bisa Sela tidak akan bisa menghadiri pernikahan Jessy dan berakhir di kamar.


"Enggak bis...,"


Cup


Sela mencium pipi kiri Bara membuat dia terdiam dan mematung.


Rasanya, ahhh asmr, wkwkwk.


Cup


Ganti pipi sebelah kanan, hanya seperti itu saja, tulang Bara seakan semua rapuh sudah tidak kuat lagi menopang dirinya.


Bara teringsut di lantai saking lemasnya.


"Ayo sayang berangkat sekarang," rengek Sela sambil menarik tangan Bara untuk berdiri.


Kalian ingin tahu gimana reaksi Rendy saat melihat penampilan Laura.


Ceklek


Laura menoleh saat pintu dibuka dan menampilkan Rendy dengan sangat tampannya.



"Bentar sayang tunggu dulu," kata Laura membuyarkan lamunannya saat dia tidak bisa memalingkan wajahnya dari pesona Rendy.


Rendy masuk ke dalam dan melihat Laura yang memasang antingnya.


Melihat penampilannya dari ujung sampai bawah.



Dia sudah tahu jika Rendy akan melarangnya.


Tapi apa, Laura sangat suka saat dia dilarang memakai baju terbuka seperti ini, biasanya tidak ada yang memperhatikannya.


Laura berbalik dan mendekat ke arah Rendy.


"Sayang, aku membeli ini bersama Sela dan gaun ini couple dengannya, karena itu boleh ya aku memakainya?" tanya Laura sambil mengalungkan kedua tangannya di leher Rendy.


Tahan Ren, tahan.


Cup


"Hanya hari ini please," kata Laura memohon agar Rendy mau mengizinkannya.


Rendy mendekatkan wajahnya pada Laura hingga hidung mereka menyatu.


Laura memejamkan matanya membuat Rendy tersenyum samar.


"Dengan syarat jangan jauh dariku," bisik Rendy tepat di telinga Laura, Laura membuka matanya malu dan menunduk.


Rendy lalu menggandeng tangan Laura keluar dari kamar.


Di balkon sudah ada helikopter milik Bara yang siap mengantar mereka ke Jerman.


.


.


.


.



Mereka telah tiba di gedung pernikahan Jessy dan Reynald.


Ya tuhan begitu mewah sekali.


Sela dan Laura sedang mencari keberadaan pengantin wanitanya.


Ternyata mereka datang tepat waktu, di mana mereka akan mengucap janji suci.


Jessy berjalan menuju altar di mana di sana Reynald sudah menunggunya.



"Ya ampun Sel Jessy cantik banget ya," kata Laura saat melihat Jessy dengan anggunnya berjalan menuju altar.


"Iya Ra, bahkan aku sebagai wanita aja kagum melihat dirinya," kata Sela sambil menatap Jessy.


Pendeta telah menikahkan mereka dan keduanya juga sudah mengucap janji suci.


Saat pelemparan bunga, Bara Rendy dan Reno saling berebut satu sama lain.

__ADS_1


Kini saatnya sesi foto, dengan langkah cepat Sela dan Laura menaiki altar untuk bisa berfoto dengan pengantinnya.


Tidak lupa dengan para lelakinya yang ikut naik ke atas altar untuk ikut berfoto.


"Ya ampun Jes kamu cantik banget," kata Sela sambil memegang kedua tangan Jessy.


"Jangan seperti itu, aku malu," kata Jessy dengan rona merah di pipinya.


"Jes sering- sering kunjungi kita ya, jangan di Jerman aja," kata Laura yang kini suasana mendadak hening.


"Iya pasti," kata Jessy lalu ketiganya berpelukan satu sama lain.


Bara memberikan kunci mobil sport keluaran baru pada Reynald.


"Ini apa?" tanya Reynald pada Bara saat dirinya diberi kunci mobil.


"Hadiah buat lo,"


"Lo serius?" tanya Reynald tak percaya dan diangguki oleh Bara.


"Sorry ya bro gue sama Reno hadiahnya patungan jadi tahun depan aja ya," kata Rendy sambil memeluk bahu kekar Reyanald.


"Heleh banyak alasan lo," kata Reynald menggoda Rendy.


"Iya gak papa, kalian dateng kesini gue terima kasih banyak, gue enggak butuh yang lainnya," kata Reynald yang langsung mendapat sindiran dari Bara.


"Tapi kunci mobilnya lo terima kan?" tanya Bara yang seketika membuat tawa mereka meledak.


Mereka terlihat begitu bahagia satu sama lain.


Bahkan Reynald tidak pernah menyangka jika dirinya bakal kembali dekat dengan Bara seperti dulu lagi.


Sungguh indah takdir yang engkau torehkan pada kehidupanku ya tuhan, batin Reynald saat melihat kawannya saling tertawa bahagia.


"Ayo waktunya berpesta," kata Reynald sembari mengajak mereka untuk menikmati banyak hidangan dan juga menyambut tamu Reynald.


Di sisi lain tiga perempuan ini sedang asyik mengobrol dan makan kue.


"Ra lo kapan nyusul gue?" tanya Jessy iseng pada Laura.


"Hehe apa kata Rendy nanti," jawab Laura sekenanya.


"Sel lo kan udah lama tinggal sama Bara apalagi seatap sekamar, kapan nih nyusul gue?" goda Jessy yang sebenarnya dia sudah tahu segalanya jika Bara sangat mencintai Sela tidak mungkin dia akan menyia- nyiakan Sela begitu saja setelah perjuangan Bara untuk bisa mendapatkannya.


"Enggak tahu Jes, kita lihat aja gimana takdir kita nanti," jawab Sela membuat Laura langsung menatap jari manis Sela.


Kosong.


Kok enggak ada cincin di jari manis Sela.


"Cincin lo mana?" tanya Laura membuat Jessy dan Sela juga menatap jarinya.


"Hehe udah kembali sama tuannya," Jessy dan Laura saling menatap satu sama lain.


Bagaimana bisa?


Jessy lalu memberitahu pada Sela bagaimana jika ia ingin melihat ketulusan seseorang dalam mencintainya.


Sela lalu mencari keberadaan Bara untuk membuktikannya.


Nah ketemu.


Eits, Bara bersama perempuan yang sepertinya Sela kenal.


Zenia


Model asal London yang 3 tahun lalu pernah bersaing dengan Sela dalam dunia permodelan.


Jelas Sela sebagai pemenangnya.


Zenia terlihat sekali sedang menggoda Bara dan apa itu kenapa Bara hanya diam dan tersenyum pada Zenia.


Sela berjalan menuju Bara untuk menunjukkan jika dia hanya miliknya seorang.


"Sayang," kata Sela membuat dua orang itu langsung menoleh melihat Sela.


Sela mencium pipi kanan Bara lalu bergelayut manja di lengannya.


Bara bingung dengan sikap Sela.


"Sela," panggil Zenia saat tahu jika Bara adalah kekasihnya yang selalu Sela bangga- banggakan.


"Oh Zenia, kamu juga di sini?" tanya Sela pura- pura tidak mengetahui keberadaannya.


"Kalian kenal?" tanya Bara dan diangguki oleh Sela dan Zenia.


"Oh jadi Aldebaran adalah kekasih yang selau lo bangga- banggain itu?" tanya Zenia dan diangguki oleh Sela sambil bersandar di bahu Bara.


Dan kalian tahu apa, Bara menahan sekuat tenaga agar bibirnya tidak melebar menunjukkan senyuman.


"Bahkan lo rela nolak banyak cowok yang ngelamar lo karena lo udah punya dia?" tanya Zenia lagi masih tak percaya dan Sela hanya mengangguk saja.


Bahkan Bara memalingkan wajahnya karena menahan senyum dan sekaligus bangga pada Sela.


"Tapi lo sama Aldebaran masih pacaran kan belum tunangan?" tanya Zenia memastikan jika mereka belum menikah.


"Siapa bilang, dia calon istriku yang selalu kubicarakan padamu, menurutmu bagaimana, apa dia cantik?" tanya Bara pada Zenia sambil merangkul posesif pinggang ramping Sela.


"Oh tuhan, gue rasa gue sudah gila, bagaimana bisa gue bertemu pasangan seperti kalian," kata Zenia lalu pergi sambil memegangi kepalanya.


"Kalah cantik makanya mundur," gumam Bara membuat Sela melepaskan tangan kekar Bara dari pinggangnya.


"Apaan sih, tunangan juga enggak pakai acara bilang calon istri," gerutu Sela membuat Bara tertawa pelan sambil salah tingkah dan ingin sekali mencubit pipi Sela sekarang juga.


"Ya tuhan sayang kamu gemes banget sih kalau cemburu. Kita udah tinggal berdua udah lama seatap bahkan sekamar, dan aku juga udah ngelamar kamu bahkan sebelum melamarmu, papa dan mama sudah menerimamu sebagai calon menantunya,"


"Bagaimana bisa kamu bertanya masak iya kamu calon istrinya," kata Bara sambil menahan senyumnya agar tidak tertawa keras saat melihat wajah merah Sela.


"Tahu deh," kata Sela lalu pergi untuk kembali bergabung bersama Jessy dan Laura.


"Bagaimana mungkin aku tidak menikahinya jika dia adalah jodohku," gumam Bara lalu menyusul Sela untuk menyuapinya makan karena tadi berangkat mereka belum makan malam.


▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎

__ADS_1


__ADS_2