Sekretaris Canduku

Sekretaris Canduku
Bela Diri


__ADS_3

□□□


Walles sedang berada di ruangan bawah tanah.


Dia menatap foto seseorang dalam figura yang dia lumuri darah persis 10 tahun yang lalu.


"Hey Maxiton, apa kabar?" tanya Walles pada figura yang berisi foto Maxiton.


"Sepertinya anak dan juga istrimu akan menyusulmu di alam sana," kata Walles sambil mencoret- coret tembok dengan kata 'Dead'.


"Setelah sekian lama gue nyari keluarga lo, sekarang dengan mudah gue nemuin mereka. Gimana apa lo pengin ngelindungin mereka?" senyum miring tercetak di bibir Walles.


Brak


Walles menancapkan pisau di figura Maxiton tepat di gambar dadanya.


"Selama gue belum nemuin apa yang gue mau, sampai kapanpun bakal gue kejar putri lo meski sampai ke ujung dunia," kata Walles sambil memainkan pisau di figura Maxiton.


"Sayang sekali pembunuhan Wijaya dan juga istrinya tidak ada yang mengetahui jika itu adalah ulahku. Bahkan Aldebaran Arganta Bradsiton yang menjadi sasarannya," kata Walles lalu tertawa puas mengingat kejahatannya tidak ada yang mengetahui.


"Sayang sekali bukan, penjahat seperti diriku tidak ada yang mengetahui bangkai yang ku buat. Bahkan aparat hukum aja sampai sekarang belum bisa nemuin gue, gimana bukankah gue sangat hebat?" tanya Walles pada foto Maxiton.


"Uh aku lupa, sayangnya lo udah mati, ututu kasiannya, andai lo masih hidup pasti lo bakal liat drama gue," kata Walles sambil mencoret- coret tembok dengan darah.


"Oh ya satu lagi, berdoa aja ya supaya putri lo baik- baik aja selama gue masih hidup," kata Walles lalu mematikan lampunya untuk kembali ke lantai atas.


Ruangan bawah tanah adalah tempat semua bangkai yang dia buat selama ini.


Tidak ada satu orang pun yang tahu kecuali istrinya jika kebusukan itu dia sembunyikan di dalam bawah tanah.


Luar biasa bukan.


○○○


Sedangkan Reynald kini sedang berada di ruang bawah tanah.


Sudah 1 jam lamanya Reynald memukuli samsak yang menggantung di depannya.


Tangannya mengeluarkan darah segar, keringat yang mengucur layaknya disiram air dan tenaga yang hampir habis tak membuat dirinya berhenti memukuli samsak di depannya.


"Arghhhh," teriak Reynald dengan keras sambil menendang samsak di depannya.


Reynald meringsut di lantai dengan napas ngos- ngosan.


Dewa yang sejak tadi memperhatikan kakaknya dari jauh tidak berani mendekat.


Dewa sedang menunggu kedatangan Jessy.


Ya, Dewa sengaja menelpon Jessy untuk menghentikan kakaknya yang sedang kalut emosinya.


Reynald kembali berdiri dan kembali menatap tajam samsak di depannya.


Seolah samsak di depannya ialah Bara.


Bugh


Bugh


Bugh


Reynald kembali untuk memukuli samsak di depannya membuat Dewa yang melihatnya merasa ngeri dan ngilu melihat tangan yang sudah berlumuran darah.


"Dewa," panggil Jessy yang langsung dibungkam mulutnya oleh Dewa.


"Ssstt jangan berisik nanti abang tahu," bisik Dewa pelan pada Jessy.


"Itu orangnya," tunjuk Dewa pada Reynald yang masih terus meninju samsak di depannya.


Jessy melihat sendu Reynald, ia tahu tentang pertarungan antara Reynald dan Bara.


Dan Jessy sudah tahu sebelum pertarungan dimulai jika pemenangnya pasti Bara.


Tapi Jessy tidak bisa menghentikan Reynald yang sangat keras kepala.


Jessy berjalan untuk menghampiri Reynald tapi Dewa menariknya dan menggelengkan kepalanya.


"Jangan," kata Dewa khawatir jika Jessy yang jadi sasaran empuk Reynald.


"Tenang aja, gue bisa atasi," kata Jessy lalu berjalan menghampiri Reynald yang tidak berhenti memukuli samsak.


"Reynald," panggil Jessy yang berdiri di samping Reynald.


Reynald tidan menghiraukan kehadiran Jessy.


Yang ada di pikirannya hanya memukuli samsak di depannya layaknya memukuli Bara.


"Reynald udah berhenti," bentak Jessy yang tidak juga digubris oleh Reynald.


Reynald malah semakin memukul sangat keras samsak di depannya.


Jessy tidak bisa membiarkan Reynald bersikap bodoh seperti ini.


Jessy berdiri tepat di depan Reynald untuk menutupi samsak yang terus dipukul oleh Reynald.


Reynald berhenti memukul dengan napas yang ngos- ngosan.


Reynald menatap tajam dan sinis pada Jessy yang menghalangi samsak.


Dengan tiba- tiba Reynald mencium paksa bibir manis Jessy.


Jessy berusaha untuk memberontak namun dengan kuat Reynald mengenggam tangan Jessy.


Tes


Air mata Jessy turun begitu saja membuat Reynald perlahan melepaskan ciumannya.


Reynald menatap Jessy yang menangis karena perbuatannya.


"Maaf, maafkan aku," kata Reynald sambil berjalan mundur menghindari Jessy.


Jessy menunduk dengan air mata yang membasahi pipinya.


Reynald menatap Jessy merasa sangat bersalah.


"Maafkan aku," kata Reynald sambil menghapus air mata Jessy lalu memeluknya.


Jessy melepaskan pelukan Reynald dan menghapus air matanya.


Jessy berjalan begitu saja tanpa mengatakan apapun pada Reynald.


Reynald menyesali perbuatannya, dengan langkah lunglai Reynald mengikuti kemana Jessy pergi.


Jessy masuk ke dalam kamar Reynald diikuti Reynald di belakangnya.

__ADS_1


Jessy meletakkan tasnya di sofa lalu beralih untuk mengambil kotak P3K untuk mengobati luka Reynald.


Tanpa bicara apapun Jessy duduk di sofa sambil membuka kotak P3K.


Reynald yang paham maksud Jessy adalah untuk mengobati dirinya langsung duduk di samping Jessy.


Jessy membuka ikatan kain pada tangan Reynald yang sudah berlumuran darah.


Jessy mulai mengobati tangan Reynald dengan sangat teliti dan juga pelan- pelan.


"Jessy," panggil Reynald pelan namun Jessy tidak menggubrisnya.


"Udah," kata Jessy lalu menutup kotak P3K dan hendak pergi keluar dari kamar Reynald.


Tapi Reynald menarik tangan Jessy hingga dia terduduk di pangkuan Reynald.


"Maafin gue," gumam Reynald pelan sambil menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Jessy.


"Gue mau pulang," kata Jessy yang hendak berdiri dari pangkuan Reynald.


Tapi Reynald malah memeluk pinggang Jessy erat membuat Jessy terdiam membeku dan juga tertegun.


Apa yang Reynald lakukan padanya?


Gak boleh Jessy lo enggak boleh luluh sama Reynald.


"Apa kita enggak bisa seperti dulu," bisik Reynald di ceruk leher Jessy.


Jessy mengalihkan tatapannya ke arah lain.


Berusaha untuk tidak mendengar juga mengacuhkan ucapan Reynald.


Tapi itu tidak bisa karena Reynald mengatakannya dengan sendu dan tepat di dekatnya.


"Gue butuh lo," gumam Reynald sambil mengeratkan pelukannya.


"Rey gue mau pulang ini udah malem," kata Jessy yang langsung bangun dari pangkuan Reynald.


Reynald menatap sendu wajah Jessy yang terlihat sangat canggung.


Jessy hendak meraih tas yang berada di samping Reynald namun dengan cepat Reynald kembali menarik tangan Jessy hingga terduduk di sampingnya.


"Apa lo enggak capek terus menghindar seperti ini?"


"Kenapa lo selalu merasa jika semua seakan baik- baik saja seperti tidak terjadi apa- apa?"


"Kenapa lo bisa bersikap pura- pura seperti itu?" bentak Reynald yang membuat Jessy hanya diam dan menatap sedih Reynald.


Jessy berusaha untuk menahan air matanya dan juga ekspresi agar tidak rapuh di depan Reynald.


Tapi topeng itu semua gagal.


Jessy menangis.


"Apa lo kira gue enggak capek terus- terusan terlihat baik- baik saja saat berdekatan denganmu? Apa lo kira gue baik- baik aja setelah apa yang terjadi....,"


Jessy terdiam dan memejamkan matanya saat Reynald kembali mencium bibirnya.


Kini tidak terpaksa tulus dari hati Reynald.


Jessy masih diam saja tidak merespon ciuman Reynald.


Sedangkan Reynald sudah geram sendiri saat Jessy tidak juga membalas ciumannya.


Reynald membuka matanya dan melihat wajah Jessy dari dekat.


Jessy langsung mencium bibir Reynald sekilas namun saat Jessy hendak melepaskan ciumannya Reynald menahan punggung Jessy.


Reynald memanfaatkan kesempatan ini.


Perlahan Jessy mulai membuka mulutnya dan memberikan akses untuk Reynald.


Reynald membaringkan Jessy di sofa dan menikmati malam yang dingin ini bersama Jessy.


♡♡♡


Sela sedang duduk di ruang tv sambil melamun dan memegangi paspor dan semua barang yang tadi diberikan oleh kepala senat.


"Sayang," panggil Bara yang baru saja datang.


Sela belum menyadari kedatangan Bara karena asyik melamun.


Bara tidak jadi masuk ke dalam kamar ketika melihat Sela duduk di sofa ruang tv.


Bara berjalan menghampiri Sela ternyata sejak tadi Sela melamun.


Bara melihat paspor yang berada di tangan Sela.


Bara mengambil paspor itu membuat Sela tersadar dari lamunannya.


"Tuan," kaget Sela saat Bara mengambil barang di tangannya.


"Kenapa paspor dan kunci asrama udah dikasih?" tanya Bara pada Sela sambil mengangkat paspor dan kunci asrama.


Sela hanya diam tak menjawab, Bara membaca surat penerimaan beasiswa.


22 Januari


Artinya kurang 5 hari lagi Sela berangkat ke Hardvard.


Sela menunduk lesu sedangkan Bara menghela napas pelan lalu duduk di samping Sela.


"Bukannya kamu seneng beasiswanya enggak jadi dicabut?" tanya Bara saat melihat Sela murung.


"Iya tapi saya kepikiran sama ibu, kalau saya berangkat ke London siapa yang jaga ibu?" tanya Sela yang sejak kemarin terus kepikiran dengan ibunya.


"Sayang," panggil Bara sambil merengkuh Sela ke dalam pelukannya dan mencium kening Sela sayang.


"Aku yang akan jaga ibu di sini, kamu fokus aja kejar cita- cita," kata Bara sambil menyandarkan punggungnya ke sofa.


"Dan cepat pulang, biar aku bisa nikahi kamu," kata Bara membuat Sela jantungnya kini berdetak sangat cepat.


Sela mendongak menatap wajah Bara dan meneliti kedua mata Bara.


"Tuan apa anda serius?" tanya Sela ragu akan ucapan Bara.


Cup


Bara mencium kening Sela sambil membelai pipinya.


"Iya sayang, apa perlu kita nikah sekarang terus langsung buat anak?" goda Bara membuat Sela langsung menunduk malu.


Sela menyembunyikan rona merahnya agar Bara tidak terus menggodanya.

__ADS_1


"Tapi kamu harus janji, jangan deket sama cowok di sana, jaga hati jaga mata, kamu inget kan apa yang aku bilang waktu itu?" tanya Bara memastikan jika Sela tidak lupa akan ucapannya.


"Milik Aldebaran Arganta Bradsiton," jawab Sela membuat Bara tersenyum kesenangan dan berkali- kali mencium pipi Sela.


"Pinter banget sih," puji Bara sambil mengacak- acak rambut Sela.


"Tuan boleh enggak kalau saya belajar bela diri?" tanya Sela membuat Bara menatap Sela.


"Di mana?" tanya Bara membuat Sela tampak berpikir.


"Tuan tau kan petinju yang kemarin menang dari Reynald itu, saya pengin banget belajar tinju darinya," Bara tertawa terbahak- bahak mendengar ucapan Sela.


"Oh petinju paling tampan dalam sejarah itu?" tanya Bara membuat Sela menggeleng.


"Dia udah tua, tampanan juga Reynald," Bara menatap kesal Sela membuat Sela giliran tertawa.


"Iya emang Reynald tampan banget," kesal Bara sambil berdiri dan melepas jas birunya.


Sela berdiri hendak ke kamar ganti baju tapi sebelum itu dia berjalan mendekati Bara.


"Tapi ada yang lebih tampan darinya," Bara menatap Sela yang kini sedang tersenyum manis.


Sela masuk ke dalam kamar seketika Bara langsung meloncat ke sofa dan melompat kegirangan.


"Uhuiiiiii yaaaaaaaa," teriak Bara kesenangan membuat Sela yang berada di dalam kamar menahan tawanya mendengar teriakan Bara.


.


.


.


Sela sedang menunggu Bara di ruang tv untuk belajar bela diri.


Bara keluar dengan baju santainya dengan rambut yang masih basah menambah kesan begitu kuat.


"Ayo," tarik Bara pada tangan Sela pelan.


Bara membawa Sela masuk ke dalam kamar membuat Sela berhenti di depan pintu.


"Kita kan mau bela diri kenapa ke kamar?" tanya ketus Sela membuat Bara tersenyum dan menyentil pelan kening Sela.


"Jangan marah mulu makanya, ayo," Bara menarik pelan tangan Sela lalu masuk ke dalam walk in closet.


Bara menyingkap bajunya dan terlihat ada tombol untuk memasukkan sandi.


Bara memasukkan sandi dan betapa terkejutnya Sela saat dinding yang tadinya berupa kayu kini terbuka dan menampilkan ruangan bawah tanah yang sangat mewah.




"Ya tuhan, bagus banget," gumam Sela kagum akan ruangan bawah tanah yang penuh dengan game dan alat olahraga.


Bara menatap ke samping dan tersenyum senang saat melihat Sela terkagum.


Bara mengajak Sela naik ke atas ring lalu memakaikan Sela sarung tangan tinju.


"Kita latihan dasarnya dulu ya," kata Bara mengajari pelan Sela mulai dari dasar.


Sela mengangguk dan mulailah Bara mengajari Sela bela diri mulai dari yang paling dasar.


Mungkin sekitar 10 menit mereka berlatih Sela sudah begitu pandai menangkap semua apa yang Bara ajarkan.


"Sekarang coba kamu serang aku," kata Bara dan diangguki Sela.


Sela mulai menyerang Bara seperti yang tadi diajarkan Bara.


Sela dengan cepat bisa menghindari semua serangan Bara.


Tahu kan kalau Bara itu dasarnya usil dan jahil.


Bara sengaja mengangkat tubuh Sela hingga keduanya terjatuh di atas ring.


Bara yang berada di atas Sela sambil menopang tubuhnya dengan kedua tangannya menatap lekat wajah cantik Sela.


Sela mengatur napasnya dan menatap kedua mata elang Bara.


Begitu tajam dan mematikan.


Keduanya saling menatap dan mengatur napas.


"Ayo kita lakukan," gumam Bara pelan.


"Hah?" tanya Sela lirih karena tidak mendengar jelas ucapan Bara.


Bara mencium bibir Sela pelan membuat Sela sedikit terkejut dan hanya memejamkan matanya.


Bara sangat menikmati manisnya bibir ranum Sela.


Bara menyudahi ciumannya dan menatap wajah Sela begitu dekat.


"Kamu harus janji, jangan deket- deket cowok yang di sana meski mereka lebih tampan dariku," peringat Bara yang sudah sekian kalinya.


Sela tertawa renyah mendengar peringatan Bara.


"Kalau cowoknya baik dan setia gimana?" tanya Sela membuat Bara mendengus sebal.


"Aku bakal lebih baik dan setia dari dia," ketus Bara membuat Sela lagi- lagi tertawa pelan.


"Dan kamu harus ingat jangan pernah kamu ijinkan orang lain cium milikku ini," kata Bara sambil menyentuh bibir merah Sela.


"Tapi kok tuan boleh malah sampek bikin karya di tempat lain," sindir Sela akan perbuatan Bara beberapa hari yang lalu.


"Kan kalau kamu hamil aku yang bakal tanggung jawab," jawab Bara spontan lalu langsung menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Sela.


Sela tertawa mendengar jawaban Bara yang diiringi dengan kekesalan.


"Pokoknya kamu milikku seorang titik," bisik Bara di ceruk leher Sela.


Sela hanya tersenyum mendengar perkataan Bara.


Ya tuhan, semoga takdir dan alam juga mendukung kita berdua.


Semoga kita bisa bersatu untuk selamanya.


▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎


**Hehe maaf ya kebiasaan lama upnya bahkan 2 hari baru up😁✌


Biasa saya lagi sibuk belajar juga kadang kalau capek pengin banget up karena kasian kalian yang nunggu dan bolak- balik ngecek.


Oh ya saya mau minta pendapat dari kalian.

__ADS_1


Menurut kalian, enaknya nanti waktu Sela kuliah di Hardvard dipersingkat atau mereka ldr an aja?


Tolong ya saran dari kalian, aku tunggu🤗**


__ADS_2