
Sandra dan Dewa baru saja sampai di pulau Stella menyusul Sela.
"Hei sayang," teriak Rose dari dapur saat melihat Sandra dan Dewa baru saja datang dan sedang mengobrol bersama Laura.
"Mama," kata Sandra yang langsung memeluk Rose.
"Sayang, mama kangen banget sama kamu, apa pekerjaan di London sangat berat?" tanya Rose mengkhawatirkan Sandra.
"Tidak ma, Sandra seneng kok apalagi juga ada temennya," kata Sandra membuat Rose beralih menatap Dewa.
"Calon suaminya," kata Dewa penuh penekanan membuat semua orang tertawa.
"Ma Sela udah bangun belum?" tanya Sandra yang begitu merindukan Sela.
"Bumil masih tidur karena semalem habis jalan- jalan sama papanya," kata Rose memberitahu Sandra.
"Yaudah Sandra bantu mama masak deh," kata Sandra yang melihat Rose mengenakan celemek.
"Eit enggak boleh, kamu cuma boleh duduk manis di sana sambil nunggu mama selesai masak, ok," Sandra tersenyum melihat Rose yang begitu menyayanginya.
Sandra kembali memeluk Rose membuat Rose merasa tersentuh.
Mungkin Sandra sedang merindukan ibunya.
Dengan sangat tulus Rose mencium kening Sandra dengan sangat lama.
"Udah gih duduk sana," kata Rose menyuruh Sandra.
"Ma mama," teriak Bara yang baru saja keluar dari lift.
"Papa mana?" tanya Bara yang terlihat buru- buru.
"Udah berangkat dari tadi jam 6, kenapa?" tanya Rose pura- pura tak tahu.
"Aiss papa, ma kenapa enggak bangunin Bara kalau udah jam 7, kan Bara jadi telat," omel Bara membuat Rose berkacak pinggang.
"Ohh jadi kamu nyalahin mama?" tanya Rose membuat Bara menatap Rendy dan Reno yang duduk di sofa sembari menahan tawa.
"Enggak maksud Bara, kenapa tadi mama enggak sekalian bangunin Bara kalau papa udah berangkat," kata Bara pelan agar Rose tidak bertambah marah.
"Rendy Reno tolong jagain Sela ya kalau dia mau jalan- jalan, gue cuma bentar kok ke kantor, ma Bara berangkat ya," kata Bara yang begitu terburu- buru.
"Ha? Kita jaga Sela?" kata Rendy dan Reno bersamaan lalu mereka saling berpelukan sama lain.
"Kalian berdua kenapa? Kan cuma nemenin jalan- jalan?" tanya Laura sambil menahan tawanya.
"Kalau sekedar jalan mah kita ladeni meski jalannya sampai Itali, lah ini jalannya sambil uji nyali," gumam lirih Rendy agar Rose tidak mendengarnya.
"Maa," panggil Sela yang sepertinya sudah mandi terlihat begitu segar.
"Iya sayang, ada apa?" tanya Rose sambil menghampiri Sela.
"Bara kemana?" tanya Sela belum menyadari kedatangan Sandra.
"Bara ke kantor sayang, ayo sarapan," ajak Rose menuju meja makan.
"Selaaaa," teriak Sandra sambil memeluk Sela dari belakang.
"Sandra," mereka saling berpelukan menyalurkan rasa rindu yang sudah lama tidak bertemu.
"Gue punya sesuatu buat lo," kata Sandra lalu memberikan sertifikat juga fotonya sebagai pemenang perlombaan kemarin.
"Wow kamu cantik sekali sayang," puji Rose saat melihat Sela jadi model.
"Tanpa Sandra semua enggak akan selesai ma," kata Sela sambil memeluk erat Sandra.
"Ya allah Sel gue yang cewek aja terpesona liat lo, apalagi Bara," kata Laura yang kagum akan kecantikan Sela.
"Pokok ini harus dipajang di ruang tamu mama yang besar, kata Rose mengambil sertifikat milik Sela dan membawanya ke dalam kamar.
"Oh ya Sel, gue mau balik ke Jerman, sorry ya gue enggak bisa lama- lama," Sela cemberut saat Sandra buru- buru pergi.
"Kenapa sih harus buru- buru, kan masih bisa nanti," kata Sela sambil bergelayut manja di lengan Sandra.
"Sorry Sel, gue harus nemenin kak Jessy, mama bilang kalau kak Jessy kemarin kontraksi, jadi kemungkinan hari ini kak Jessy dibawa ke rumah sakit," kata Sandra membuat Sela menatap Sandra tak percaya.
"Kak Jessy udah mau lahiran?" tanya Sela bahagia dan Sandra mengangguk senang.
"Mungkin nanti aku akan nyusul sama papa mama juga, tolong sampein ya salamku sama Jessy," kata Sela sebelum Sandra pergi.
"Oh ya ini buatmu," kata Sandra memberikan kartu undangan pada Sela.
Sela membungkam mulutnya tak percaya lalu memeluk erat Sandra.
"Akhirnya bentar lagi kamu bakal jadi seorang istri," kata Sela merasa bangga pada Sandra.
□■□■
Sedangkan di perusahaan Bara mereka sedang sibuk membicarakan berita panas hari ini.
Model Kanada yang berhasil membawa piala di perlombaan gaun katun seasia.
Bara baru saja sampai di perusahaan dan melihat semua orang sedang memegang ponsel mereka.
"Pak Nam, apa terjadi sesuatu di kantor?" tanya Bara pada sekretarisnya itu.
"Sebentar tuan akan saya periksa," kata pak Nam langsung memeriksa tabletnya.
Ting
Pintu lift terbuka dan Bara langsung menuju ruangan meeting.
Hal yang sama terjadi di ruangan meeting mereka semua sedang bermain ponsel dan tidak menyadari kedatangan Bara.
__ADS_1
"Hekm, selamat pagi semua," sapa Bara untuk menyadarkan mereka.
"Pagi tuan," balas mereka yang langsung meletakkan ponselnya.
"Ada apa? Kenapa kalian semua sibuk bermain ponsel? Apa ada masalah?" tanya Bara pada mereka.
"Ini bukan masalah tuan melainkan suatu kebanggaan," kata kepala direksi membuat Bara mengernyitkan keningnya.
Kepala direksi yang melihat Bara tidak paham langsung berjalan menuju jendela dan membukanya.
Di mana foto Sela terpampang besar di gedung- gedung kota.
"Nona Sela berhasil membawa pulang piala asia dengan membawakan gaun katun sebagai fashion show kemarin di London," jelas kepala direksi pada Bara.
Bara tersenyum bangga dan bahagia melihat keberhasilan Sela selama ini.
Bradsiton memberitau Bara jika 3 tahun lalu Sela memimpin sebuah perusahaan yang dibuat papa.
Siapa yang tahu jika Sela akan sesukses ini.
"Oh ya tuan, nona Sela selama 3 tahun ini juga memberikan 10% sahamnya untuk perusahaan anda, dan itu baru diketahui pagi tadi saat kita memeriksa keuangan perusahaan," Bara tidak percaya sama apa yang ia dengar.
Pantas saja, saham yang biasanya ia pegang bertambah hanya sekitar 5- 7% dan tahun kemarin Bara merasa tak percaya saat sahamnya bertambah dua kali lipatnya.
"Apa ada lagi?" tanya Bara ingin lebih tahu tentang perusahaan Sela.
"Perusahaan BS. Fashion Style milik nona Sela juga mengimpor kain katun dari London untuk perusahaan kita dan juga ikut membantu mendirikan pabrik katun kita yang di Britania," Bara menahan senyumnya membuat semua staf merasa bangga.
"Ada lagi?" tanya Bara sambil menahan senyumnya membuat semua staf diam- diam tersenyum melihat sikap Bara.
"Hari ini bahkan nona Sela menjadi trending nomor 1 di Kanada karena keberhasilannya membawa piala asia dan masuk semua media, karena itu semua staf melihat lewat ponsel mereka," jelas kepala direksi sambil memperlihatkan Sela yang menjadi trending topik.
"Baik, terima kasih atas penjelasannya, kita mulai meeting pagi ini," kata Bara setelah puas mendengarkan semua penjelasan tentang Sela.
Bara berpikir sejenak, kira- kira malam ini hadiah apa yang pantas untuk istrinya itu.
Ahhh Bara rasa ia bukan menikahi manusia melainkan bidadari.
Bagaimana bisa Sela sesempurna itu di mata Bara.
.
.
.
.
Jika tadi Bara sibuk membahas Sela.
Di sini ada Rendy dan Reno yang sibuk menemani bumil satu ini jalan- jalan.
Tidak jauh sih hanya sekitaran pulau Stella hanya saja mereka pergi ke kotanya.
"Bentar lah Ren, aku bingung mau beli apa," kata Sela sambil melihat kanan kiri jalan.
"Sel Ren ikut gue bentar beli mochi," kata Rendy saat tahu penjual mochi.
Mereka lalu menghampiri pedagang mochi keliling itu.
"Pak beli mochi semua varian rasa ya," kata Rendy memesannya.
"Ok tuan," sedangkan Sela menatap gerobak mochi yang menurutnya imut itu.
"Ren kok tiba- tiba aku pengen jadi penjual mochi keliling ya," seketika Reno dan Rendy menatap Sela tak percaya.
"Sel jangan aneh- aneh deh, masak iya mau jualan mochi keliling," kata Rendy memarahi Sela.
"Hiks hiks ayo dong Ren aku pengin jualan mochi keliling, bentar aja kok, boleh ya," kata Sela memohon pada Rendy.
Sedangkan Reno memalingkan wajahnya agar tidak terlibat.
"Reno coba lo bilang sama penjualnya," Reno menoleh sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Gue?" tanya Reno memastikan. Rendy hanya menganggukkan kepalanya.
"Bang, boleh enggak saya minjem gerobaknya bentar aja?" tanya Reno membuat penjual mochi itu berhenti meladeni pembeli.
"Mana bisa begitu tuan, saya lagi jualan," tolak penjual membuat Sela cemberut dan hendak nangis.
"Hiks hiks Reno Rendy ayo bujuk lagi abangnya, emang kamu mau punya keponakan ileran?" Reno dan Rendy berngidik ngeri.
"Ya tuhan enggak ikut punya anak tapi kenapa gue yang susah," gerutu Rendy yang kembali membujuk penjual mochi itu.
"Bang, saya bayarin lebih deh gimana? Saya pinjem gerobaknya bentarr aja yaaa, boleh ya?" kata Rendy memelas agar penjual itu mau.
Setelah perdebatan panjang akhirnya penjual itu luluh juga dan meminjamkan gerobaknya pada Sela.
"Sel ayo balik, kita udah keliling jalanan, gue juga capek banget," keluh Rendy yang merasa capek.
"Iya Sel ayo kita balik, kasian bapak tadi pasti nungguin gerobaknya," bujuk Reno agar Sela mau berhenti keliling jualan mochi.
"Yaudah nih gerobaknya," kata Sela akhirnya mau berhenti untuk jualan mochi keliling.
Tapi inget, Sela berhenti jualan mochi keliling bukan berarti ia pulang, ia masih berkeliaran di jalanan.
Sela mendadak berhenti di depan pertunjukkan badut yang sedang melakukan atraksi.
"Jangan bilang kalau abis ini kita disuruh jadi badut," tebak Reno yang berdiri dibelakang Rendy.
"Enggak tahu kenapa perasaan gue juga enggak enak," gumam Rendy sambil melihat wajah Sela yang tersenyum sumringah.
__ADS_1
"Rendy tolong dong pegangin kepalanya bapak botak itu," kata Sela sembari menunjuk salah satu penonton sirkus badut itu.
"Apa? Megang kepalanya?" tanya Rendy memastikan dan Sela mengangguk dengan sangat semangat.
"Sel gimana kalau Reno aja yang megang?" kata Rendy menawarkan Reno dan Sela menggelengkan kepalanya.
"Ayo Rendy, cuma megang kok, pasti boleh," kata Sela yang sebentar lagi akan nangis jika tidak cepat dituruti.
Dengan berat hati Rendy berjalan mendekati bapak botak itu untuk mengabulkan keinginan Sela.
"Gue percaya kalau habis ini gue bakal babak belur," gumam lirih Rendy saat ia sudah dekat dengan laki- laki tinggi besar dan botak itu.
"Pak maafin saya ya, tapi ini demi Sela yang lagi hamil," teriak Rendy membuat para penonton menoleh.
Dan dalam hitungan ketiga, Rendy memegang kepala botak laki- laki besar itu dan berlari sejauh mungkin.
"Hei sini kamu dasar anak kurang ajar," teriak laki- laki botak itu dan mengejar Rendy yang sudah jauh.
Sela dan Reno yang melihat tertawa puas begitu juga pengunjung lainnya.
Setelah acara lari tadi kini mereka bertiga sedang duduk di bangku taman dekat air mancur kota Stella.
"Ayo pulang udah malem nih nanti Bara nyariin lagi," kata Reno membujuk Sela agar mau pulang.
"Enggak mau masih pengin di sini," tolak Sela membuat dua laki- laki ini menghela napas.
"Semoga aja Laura saat hamil nanti enggak bakal aneh- aneh ngidamnya," kata Rendy sambil menyeruput es mocacinonya.
"Semoga Dea juga gitu," sahut Reno membuat Sela tertawa pelan.
"Kalian capek ya nemenin jalan- jalan?" tanya Sela pada keduanya.
"Kalau masalah capek sih enggak Sel, kita cuma takut lo minta hal yang aneh kayak tadi, apalagi naik wahana gila itu," kata Rendy yang jujur pada Sela.
"Yaudah kalau gitu kita pulang," kata Sela yang beranjak berdiri membuat dua laki- laki ini berbinar.
"Nah gitu kenapa dari tadi, ayo," kata Rendy sambil menggandeng Sela dengan semangat 45.
"Tapi ambilin buah apel itu dulu," kata Sela sambil menunjuk pohon apel yang dekat rumah pagar tinggi itu.
"Ya tuhan gue kira langsung pulang, ehh enggak tahunya suruh manjat pohon," gumam Reno yang sepertinya sudah putus asa sekali.
"Ayo Ren buruan manjat, biar cepet pulang," kata Rendy yang langsung menarik Reno.
"Tapi itu kan pohon apelnya orang mana mungkin kita ngambil gitu aja," kata Reno pada Rendy.
"Kan cuma satu buat Sela doang," kata Rendy yang sudah bersiap naik ke atas pohon.
"Reno lo jaga gue di bawah ya, entar lo yang nangkep apelnya," kata Rendy sambil menggulung kemejanya hingga ke siku dan mulai memanjat.
"Gue cuma berharap habis ini cepet pulang," gumam Reno sambil lihat kanan kiri siapa tahu ada orang lewat.
Guk guk guk
"Ren kok kayak ada suara temen lo," kata Rendy di atas pohon yang sudah gemetaran.
"Kayaknya tuh anjing tahu deh kalau kita nyuri apelnya," kata Reno waspada sambil liat kanan kiri mencari keberadaan anjing itu.
"Rendy Reno udah dapet belum apelnya?" teriak Sela yang duduk dibangku taman.
"Jangankan dapet, ini aja enggak keliatan mana apel mana daunnya, mana gelap lagi di sini," gerutu Rendy sambil melihat di bawah.
"Ren tangga mana tangga?" tanya Rendy sambil mencari cara untuk bisa turun.
"Lo kan tadi asal mancat aja enggak pakai tangga, buruan loncat aja deh," teriak Reno membuat anjing itu semakin menggonggong keras.
Guk guk guk
Guk guk guk
Anjing itu berusaha untuk naik ke atas pohon meraih Rendy.
"Ya tuhan gini amat nasib gue punya kakak ipar," teriak Rendy yang langsung lompat dan berlari menjauhi anjing itu.
□■□■
Mereka telah sampai di rumah.
Rendy melihat ke belakang, Sela sudah tertidur pulas setelah seharian ini jalan- jalan.
"Seenggaknya lo diem cuma waktu tidur aja," kata Rendy lalu turun dari mobil untuk membopong Sela.
"Ren badan gue rasanya udah mau remuk," keluh Reno yang berjalan memasuki rumah.
"Apalagi gue," ketus Rendy yang seharian ini aktivitasnya berlarian.
"Rendy Reno," panggil Bara dari ruang tamu yang langsung menghampiri keduanya.
"Nih istri lo," kata Rendy memberikan Sela kepada Bara.
Bara menatap istrinya yang tertidur pulas dengan wajah tetap cantik.
Bara menatap Rendy dan Reno yang sudah tergeletak di lantai.
Mereka tertidur.
Bara tersenyum geli melihat Rendy dan Reno.
Pasti mereka lelah karena ulah istrinya.
Bara membawa Sela ke lantai atas.
Dengan pelan ia membaringkan Sela di king size lalu menyelimutinya.
Cup
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan sama mereka berdua selelah itu?" gumam Bara sambil terkekeh dan membelai lembut pipi Sela yang kini sedikit chubby.