
□□□
Laura masuk ke dalam kelas dan melihat sekeliling.
Laura melihat jam tangannya perasaan dia berangkat tidak terlalu pagi.
Lalu kemana Sela?
Musuhnya?
Laura menghampiri bangku Gabriela yang sedang bermain ponsel.
"Eh mana temen lo?" tanya Laura sambil melihat bangku Dewa yang masih kosong.
"Kenapa, lo kangen sama dia?" tanya Gabriela sambil bermain ponsel.
"Kemana dia?"
"Dia lagi jadi seorang model terkenal apa lo percaya?" tanya Gabriela membuat Laura mengernyit bingung.
"Maksud lo?"
"Ya, dia jadi model, lihat aja di weibo," Laura langsung melihat apa yang disuruh Gabriela.
Laura menatap sinis foto Sela yang kini telah beredar di internet menjadi model termuda dan pemenang dari proyek AS yang sudah mendunia itu.
"Kok lo tahu? Sekarang di mana dia?" tanya Laura penasaran pada Gabriela.
Gabriela meletakkan ponselnya lalu menatap Laura remeh.
"Sekarang dia lagi jadi ratunya tuan Aldebaran, jadi mending lo mundur aja dehh, saingan lo berat," kata Gabriela membuat Laura tersenyum miring.
"Kenapa, lo juga suka sama Bara? Terus kalah sama sahabat lo?" tebakan Laura yang tepat sasaran membuat Gabriela sontak langsung berdiri.
"Bener kan yang gue bilang?" tanya Laura semakin membuat Gabriela menatap tajam Laura.
"Jadi, orang harus ngaca, bukannya lo juga ngejar- ngejar Bara tapi juga deketin Dewa?"
Plak
"Jaga omongan lo ya," kata Laura menampar pipi Gabriela.
Gabriela hanya tersenyum sumbang menatap Laura yang marah.
"Intinya kita kalah sama orang yang terlihat sangat lemah," bisik Gabriela di samping telinga Laura.
"Gimana kalau kita kerja sama?" tanya Gabriela sambil menatap mata Laura lalu pergi begitu saja.
Tidak berapa lama Dewa dan Sandra masuk ke dalam bersama dan diikuti Jenifer di belakangnya.
Mereka berdua terlihat sedang asyik ngobrol dan saling tertawa.
"Dewa, kok lo baru dateng?" tanya Laura menghadang jalannya Dewa.
"Minggir," kata Dewa dingin membuat Laura tidak juga minggir.
"Kok lo bisa berangkat bareng Dewa?" tanya Laura pada Sandra yang sejak tadi hanya diam dan menunduk.
"Tadi kebetulan aja ketemu di parkiran terus jalan bareng ke kelas," jawab Sandra memang begitu kenyataannya.
"Kecentilan banget sih lo," kata Laura membuat Dewa memutar kedua bola matanya malas.
"Enggak usah cari ribut, minggir gue mau tidur," kata Dewa sambil menatap benci Laura.
Laura yang tidak mau debat dengan Dewa memilih untuk minggir.
Sandra lalu duduk di bangkunya tanpa melirik sedikitpun ke arah Laura.
Sedangkan Jenifer sejak tadi hanya diam dan melirik tidak suka pada Sandra.
Dan itu semua Laura melihat dengan jelas.
Kesempatan ini bisa membantunya untuk menghancurkan kedua orang lemah itu.
♡♡♡
Sela sejak tadi tidak henti- hentinya menggerutu di ruang tv sambil menatap layar laptopnya.
Bara keluar dari kamar hendak mencari Sela untuk memasangkan dasinya.
Bara mendengar gerutuan Sela yang sedang duduk di ruang tv.
Bara menghampiri Sela masih berpakaian dengan baju tidur imutnya.
"Sayang kamu enggak kuliah?" tanya Bara membuat Sela melirik sekilas lalu kembali menatap laptopnya.
"Gimana mau kuliah coba, anda buat ulah kayak gini yang ada satu kampus bisa heboh," kata Sela sambil menatap Bara sebal.
Bara menatap leher jenjang Sela yang penuh dengan karyanya.
Kissmark malam tadi.
Bara tersenyum geli membuat Sela semakin kesal.
"Gimana kalau ditambah lagi karyanya?"
Bugh
Sela melempar bantal sofa kearah Bara membuat Bara tertawa puas.
"Iya- iya maaf besok enggak lagi deh," kata Bara sambil menatap gemas bibir cemberut Sela.
"Tolong dong pasangin dasi saya," kata Bara yang tidak direspon oleh Sela.
"Atau mau saya tambah karyanya?" sontak Sela langsung berdiri dan menghampiri Bara dengan menatap nyalang Bara.
Sela terpaksa memasangkan dasi Bara dengan wajah kesal.
Bara mengangkat tubuh Sela membuat dia terkejut.
Bara mendudukkan Sela di atas meja makan.
Bugh
Sela memukul dada bidang Bara karena seenaknya sendiri.
"Kalau gini kan sejajar kamu jadi mudah masangin dasinya enggak nyuruh saya nunduk," kata Bara membuat Sela melirik sekilas.
"Udah," kata Sela hendak turun tapi bukan Bara namanya kalau enggak jahil.
"Bentar- bentar leher kamu kayak ada kotorannya," kata Bara sambil menatap jijik leher Sela.
"Hah apaan?" tanya Sela membuat Bara semakin mendekati Sela dan mengangkat dagu Sela.
Cup
Bara langsung berlari masuk ke dalam kamar setelah mencium leher Sela.
"Hihhhh dasar om- om enggak tahu umur," teriak Sela kesal pada Bara sambil menutupi lehernya.
__ADS_1
Setelah selesai mengirim tugasnya Sela pergi ke kamar untuk mandi, hari ini dia akan ikut ke kantor saja daripada bosan.
Setelah selesai mandi dan berganti pakaian Sela duduk di meja rias sambil menatap banyaknya kissmark di lehernya.
"Ya tuhan kenapa banyak sekali?" gumam Sela lirih, Sela menatap alat make up di depannya.
Sela tersenyum senang saat menemukan ide cemerlang.
Tok tok tok
"Udah selesai belum?" tanya Bara dari balik pintu kamar Sela.
Sela menggerutu lalu dengan terpaksa menyambar tasnya dan keluar.
Bara menatap leher jenjang Sela, bersih mulus seperti semula.
Lalu kemana perginya karyanya?
"Kok bisa hilang? Gimana caranya?" tanya Bara sambil menatap heran leher Sela yang kini bersih tanpa ada tanda kissmark.
"Udah ayo berangkat sekarang ke kantor," kata Sela sambil mendorong Bara agar masuk ke dalam lift.
.
.
.
.
.
Mobil Bara berhenti tepat di depan lobi.
Bara memutari mobilnya membukakan pintu mobil untuk ratunya.
Sebenarnya Sela tidak suka tapi daripada debat sama Bara lebih baik ngalah aja.
Bara menggenggam tangan Sela tanpa melihat jika karyawan sedang lompat- lompat, merengek, menangis dan juga berteriak jingkrak- jingkrak melihat penampakkan bosnya.
Bosnya bisa sebucin itu ternyata.
Sedangkan Sela berusaha dengan keras untuk melepaskan genggaman tangan Sela tapi Bara malah menggenggamnya kuat.
"Tuan ada tuan Reynald di ruangan anda," kata bodyguardnya sambil menekan tombol lift untuk Bara dan Sela.
"Apa sudah lama?" tanya Bara sebelum pintu lift tertutup.
"Baru saja tuan," Bara menganguk bersamaan dengan pintu lift tertutup.
"Reynald ngapain kesini?" tanya Sela sambil menatap Bara.
"Enggak tahu," jawab Bara sambil terus menggenggam tangan Sela.
"Entar kalau Reynald tanya, apa kamu sudah punya pacar, jawab aja kamu milik Aldebaran Bradsiton Arganta, paham?" kata Bara mengajari Sela.
Sela menggelengkan kepalanya membuat Bara mengernyit bingung.
"Kan saya milik ayah sama ibu, bukan milik tuan" kata Sela menolak apa yang baru saja Bara ajarkan.
"Apa perlu kita nikah sekarang biar kamu mau bilang kalau kamu hanya milik Aldebaran seorang," Sela menahan tawanya melihat wajah kesal Bara.
Sela tidak menjawab hingga pintu lift terbuka.
Bara terus menggenggam tangan Sela hingga masuk ke ruangannya.
Terlihat Reynald sedang duduk di sofa menunggu kedatangan Bara.
"Ada perlu apa lo ke sini?" tanya Bara terdengar sinis.
"Oh tuan Aldebaran," kata Reynald langsung berdiri dan hendak bersalaman dengan Bara.
Namun, Bara tidak membalas uluran tangan Reynlad.
Reynlad hanya tersenyum miring lalu beralih mengulurkan tangannya ke Sela.
Sela hendak membalas uluran tangan Reynald tapi dengan cepat Bara langsung menyalami tangan Reynald agar tidak bersalaman dengan Sela.
Ketiganya langsung duduk tapi Reynald menatap Sela membuat Bara kesal.
"Alihkan tatapanmu," peringat Bara pada Reynald.
Reynald suka menggoda Bara, dia suka posesif pada pasangannya.
"Sela, kami berdua ingin membicarakan sesuatu yang penting, bisakah kamu keluar," perintah Reynald tanpa sungkan pada Bara.
"Cepat ngomong apa perlu lo dan pergi dari kantor," kata Bara geram akan sikap Reynald.
Reynald masih menatap Sela mengisyaratkan untuk pergi dari sana.
"Saya ke ruangan kak Dea aja," pamit Sela, Bara langsung menatap Sela.
"Kamu ke kamar aja, Dea hari ini tidak masuk," kata Bara yang diangguki Sela.
Setelah Sela masuk ke dalam kamar Reynald memulai obrolannya.
"Selamat atas kemenangan tuan Aldebaran," kata Reynald masih basa- basi.
"Cepetan ngomong gue enggak ada waktu," kata Bara yang malas meladeni Reynald.
Reynald mengeluarkan sesuatu dari sakunya di atas meja dan menyodorkan ke hadapan Bara.
Kartu AS
"Gue tantang lo buat tanding sama gue, taruhannya Sela,"
Brak
Bara menggebrak meja dengan sangat keras dan mata memerah.
"Dia bukan barang yang dibuat taruhan, inget lo," kata Bara penuh penekanan.
Reynald tersenyum miring meremehkan ucapan Bara.
"Kenapa? Lo takut kalah dari gue? Atau takut lo enggak bisa sama Sela?" Reynald memang pandai dalam memancing emosi seseorang.
Bara langsung mencengkeram kerah Reynald dengan tatapan sangat marah.
"Asal lo tahu, laki- laki pecundang kayak lo enggak pantes dapet cinta suci dari Jessy, laki- laki yang enggak tahu cara memperlakukan wanita seperti ratu,"
Reynald seakan tertampar akan ucapan Bara.
Bara menghempaskan cengkramannya dengan tatapan yang tak lepas pada mata Reynald.
"Gue enggak peduli ucapan lo, gue tunggu sampai lo dateng ke ring. Kalau lo emang bukan cowok pecundang dan juga bukan seorang pembunuh,"
Bara kembali mencengkeram kerah Reynald ketika mendengar kata sensitif itu.
"Pasti lo bakal dateng," kata Reynald sambil melepaskan cengkraman Bara lalu pergi begitu saja.
__ADS_1
Bara duduk di sofa, pikirannya kini sedang kacau.
Dia bukanlah seorang pembunuh.
Dia bukan pembunuh.
Bukan.
Sela keluar dari kamar saat tidak mendengar lagi suara keduanya.
Sela menatap Bara yang menunduk lemas sambil menjambaki rambutnya.
Sela menghampiri Bara untuk menanyakan keadaannya.
"Apa anda baik- baik saja?" tanya Sela pada Bara dengan hati- hati.
Bara tidak menjawab, dia hanya diam tanpa mendongak untuk melihat Sela yang berdiri di sampingnya.
Sela bingung, bagaimana cara dia bisa membantu Bara.
Tadi Sela sempat mencuri dengar obrolan mereka.
Tapi itu semua bukan kesalahan Sela, salahkan saja suara keduanya yang sangat keras.
Sebenarnya ada apa antara Reynald dan juga Bara?
Kenapa Reynald menyebut Bara seorang pembunuh?
Sela kembali menatap Bara yang masih menunduk.
"Tuan jika ada masalah, ceritalah saya siap mendengarkan, jika anda ingin menangis peluklah saya untuk menyembunyikan wajah anda saat menangis,"
Bara langsung memeluk pinggang Sela dan menyembunyikan wajahnya di depan perut Sela.
Terdengar suara isak tangis yang pelan.
Sela hanya bisa menepuk pelan punggung Bara dan membelai rambutnya.
"Saya bukanlah pembunuh," gumam Bara lirih namun Sela masih bisa mendengarnya.
"Ya saya percaya itu," kata Sela masih membelai rambut Bara dengan sayang.
Sedangkan Bara sudah berhenti menangis namun masih menyembunyikan wajahnya di depan perut Sela.
"Tuan bolehkah saya meminta?" Bara langsung mendongak menatap Sela dengan posisi masih memeluk erat pinggang Sela.
"Jangan bertarung dengan Reynald," kata Sela pelan.
"Enggak aku harus bertarung dengannya," kata Bara menolak permintaan Sela.
Sela langsung mundur dari hadapan Bara membuat Bara sontak langsung berdiri.
"Kenapa enggak bisa? Apa pertarungan akan membuatmu puas?" tanya Sela menggebu membuat Bara terkejut.
"Bukan begitu sayang, kalau aku enggak penuhi permintaannya dia bakal terus usik kamu sayang," kata Bara membuat Sela menggeleng.
"Aku bilang enggak ya enggak," teriak Sela sambil berjalan mundur.
"Sayang kenapa kamu marah? Apa ada sesuatu sama kamu?" tanya Bara sambil terus mendekati Sela.
"Aku takut terjadi sesuatu denganmu," kata Sela sambil memegangi kepalanya.
Bara berjalan menghampiri Sela pelan- pelan.
Bara memegang kedua bahu Sela untuk menenangkannya.
"Sayang, percayalah aku akan menang melawan Reynald,"
"Enggak," teriak Sela hingga Bara terkejut karena sentakan Sela.
Sela langsung pergi keluar dengan air mata yang masih membasahi pipinya.
Bara bingung dengan sikap Sela barusan.
Bara mendial nomor pak Asep.
"Halo pak Asep,"
"......."
"Tolong anter Sela sampai rumah pastikan dia masuk ke dalam kamarnya,"
"....."
Setelahnya buru- buru Bara mendial nomor Peter untuk dihubungi.
"Halo,"
"Peter, apa lo di rumah?"
"Ya, kenapa?"
Bara langsung mematikan sambungan teleponnya dan pergi keluar tanpa menjawab pertanyaan Peter.
○○○
Bara dan Peter sedang duduk di ruang bawah tanah milik Peter.
"Apa terjadi sesuatu sama Sela?" tanya Peter ketika Bara bilang jika ada yang aneh sama Sela.
"Waktu itu lo bilang kalau orang yang pobia kegelapan kemungkinan besar dia pernah mengalami trauma atau saat dalam kegelapan dia akan mengingat masa lalunya yang sepenggal telah hilang," kata Bara mengulangi ucapan Peter beberapa minggu yang lalu saat dia menanyakan tentang keadaan Sela.
"Lantas?"
"Hari ini Reynald nantangin gue buat bertarung, tapi tiba- tiba saja Sela ngelarang gue, tanpa sebab yang jelas," kata Bara yang heran sama sikap Sela saat di kantor tadi.
"Apa dia ketakutan?" Bara mengangguk.
"Apa dia berbicara sambil memegangi kepalanya?" Bara kembali mengangguk.
"Fiks, itu akan membantu dia untuk kembali mengenang masa lalunya," kata Peter tersenyum senang.
"Maksud lo?" tanya Bara.
"Kalau bisa lo ajak Sela buat nonton pertarungan lo, agar dia bisa mengingat perlahan masa lalunya dan mengobati trauma yang pernah dia alami," kata Peter memberi ide pada Bara.
"Tapi apa itu tidak akan membuat dia semakin ketakutan?" tanya Bara mencemaskan keadaan Sela.
"Sebisa mungkin lo harus bisa ajak Sela buat nonton pertarungan lo sama Reynald, dari situ dia akan bisa mengingat memori yang pernah hilang dari ingatannya," kata Peter menjelaskan pada Bara.
"Gue gak bisa janji, tapi bakal gue usahain," gumam Bara lirih masih mencemaskan keadaan Sela.
"Tenang bro, gue bakal bantu lo," kata Peter saat melihat Bara sendu dan murung.
"Ok thanks, gue cabut dulu, istri gue udah nunggu," celetuk Bara membuat Peter melototot tidak percaya sama ucapan Bara.
"Astagaaaa, kutub utara udah nemu jodohnya," teriak Peter pada Bara yang sudah keluar dari ruangannya.
__ADS_1
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎