Sekretaris Canduku

Sekretaris Canduku
Pindah Rumah


__ADS_3

□■□■


Deg


Bara benar- benar marah kala Sela mengatakan jika dia akan mengundurkan diri dari kantornya.


Bara berjalan menghampiri Sela lalu merebut surat pengunduran diri di tangannya dan


Srek


Srek


Srek


Bara merobek surat pengunduran diri itu lalu membuangnya ke tempat sampah.


"Tidak ada yang mengizinkanmu untuk mengundurkan diri," kata Bara dengan mata yang memerah.


Sela hanya diam mencoba untuk tenang dan tidak emosi.


"Maaf tapi saya harus mengundurkan diri," kata Sela sambil menunduk tidak berani menatap mata Bara yang begitu marah.


"Kenapa? Apa kamu akan balik lagi ke London? Menemui selingkuhanmu?" tanya Bara sembari mencengkeram erat kedua bahu Sela.


Sela menatap mata Bara yang memerah, dia tidak percaya jika Bara bisa mengatakan hal itu.


"Jawab Sela?" bentak Bara membuat air mata Sela terjun bebas begitu saja.


"Terserah anda mau bicara apa, saya sudah capek," jawab Sela membuat Bara mengusap gusar wajahnya dan menggebrak meja.


Bara tidak lagi membuka suara, dia keluar dari ruangan dan menutup pintu dengan sangat keras.


Brakk


Sela hingga memejamkan mata karena terkejut.


Sela menghembuskan napas dan menatap ke atas, agar air matanya tak turun.


Mungkin ini jalan yang terbaik untuk dirinya dan Bara.


Mau berharap secerca cahaya pelangi pun mungkin tak akan kembali muncul.


Sudah terlambat.


Sela keluar dari ruangan Bara, hari ini dia akan pergi untuk menjenguk ibunya.


Sela ingin mengungkapkan semua keluh kesahnya pada sang ibu.


Meski ibu hanya diam dan tertidur, rasanya begitu lega bisa bercerita banyak pada ibu.


.


.


.


Sela telah tiba di rumah sakit dengan taksi yang ia pesan.


Dengan cepat Sela masuk ke dalam rumah sakit menuju ruangan ibunya.


Sela keluar dari lift hingga saat dia akan belok pada lorong khusus untuk pasien inap tanpa sengaja ia melihat Walles dan Laura.


Sela mengurungkan niatnya untuk pergi ke ruangan ibunya dan memilih untuk bersembunyi di balik dinding.


"Papa enggak mau tahu Laura, bagaimanapun kamu harus bisa mengambil file itu," kata Walles membuat Sela membungkam mulutnya sendiri untuk tidak berteriak.


"Tapi pa Laura udah cari enggak ketemu juga," keluh Laura yang terdengar sangat putus asa.


"Masak kamu gitu aja enggak bisa," bentak Walles membuat Sela yang hanya mendengar saja terkejut apalagi Laura.


"Pa Laura capek harus gini terus, emang apasih isi dari file itu?" tanya Laura yang juga sangat penasaran begitupun Sela.


"Enggak usah banyak tanya, kamu hanya perlu menyalin file yang telah papa beritahukan ke kamu dan semua urusan selesai," kata Walles mengajari taktik pada Laura.


"Tapi pa...," protes Laura namun terpotong saat Walles membentaknya.


"Cukup Laura, papa enggak mau tahu kamu harus bisa bantu papa kali ini, kalau enggak jangan pernah kembali ke rumah," kata Walles benar- benar mampu menyakiti putrinya sendiri.


"Dan satu lagi papa enggak mau kamu sampai terpengaruh sama laki- laki gembel itu," kata Walles lalu pergi meninggalkan Laura begitu saja.


Sela berpikir sejenak, siapa laki- laki gembel yang Walles maksud?


Dan yang lebih membagongkan lagi, Sela yang kini tahu jika Laura putri dari Walles.


Karena seingat Sela, Bara pernah bilang jika Laura anak yatim piatu dan kedua orang tuanya tewas karena kecelakaan pesawat.


Sepertinya ada yang aneh dengan dua orang ini?


Sela harus lebih waspada agar Bara tidak kecolongan dengan dua orang ini.


Tapi yang sekarang menjadi pertanyaan bagi Sela adalah, ngapain Sela dan Walles di rumah sakit?


Laura lalu pergi begitu saja tanpa tahu jika Sela telah mendengar semuanya.


Dia melanjutkan untuk pergi ke ruangan ibunya, terlihat jika ibunya masih dalam keadaan yang sama.


Tidur tanpa mau bangun untuk sekalipun.


Sela menatap wajah cantik ibunya, terlihat begitu pucat.


"Ibu kapan ibu bangun?" tanya Sela sembari menggenggam erat tangan ibunya.


"Sela kini sendiri, apa ibu tidak kasian?" tanya Sela meski dia tahu jika jawaban ibunya hanya diam.


"Ibu sudah tidur terlalu lama, tidak maukah ibu bangun dan melihat putri ibu. Lihatlah putrimu kini sudah menjadi wanita dewasa dan sukses," kata Sela yang mulai meneteskan air mata.


"Ibu bilang ingin keliling dunia, Sela sudah mempunyai uang cukup untuk kita keliling dunia," kata Sela yang terdengar begitu memilukan.


Tok tok tok


Sela mengusap air matanya dan melihat laki- laki tinggi berdiri di ambang pintu.


"Boleh aku masuk?" tanya Reynald pada Sela. Sela hanya mengangguk lemah.


"Apa saudaramu ada yang sakit?" tanya Sela pada Reynald.

__ADS_1


"Tidak, aku hanya mengambil obat untuk diriku dan tidak sengaja melihatmu," kata Reynald sambil menunjukkan kantong plastik yang berisi obat.


"Oh," kata Sela lalu kembali menatap ibunya.


"Dia mirip denganmu," kata Reynald membuat Sela tersenyum samar.


"Siapa yang paling cantik?" tanya Sela bergurau dengan tatapan yang tak lepas dari wajah ibunya.


"Tentu kamu pemenangnya," kata Reynald sembari menarik kursi dan duduk di samping brankar.


"Sudah lama tapi ibu tak kunjung bangun juga," keluh Sela membuat Reynald menatap wajah sendu Sela.


"Mungkin ibumu terlalu lelah hingga ia harus istirahat total," kata Reynald mencoba menenangkan Sela.


"Tapi tidak untuk selamanya kan?" entah itu pertanyaan atau apa membuat Reynald kembali mengingat ibunya.


"Kita tidak tahu tentang takdir yang tuhan gariskan," kata Reynald yang kini juga berubah menjadi sendu.


Sela menatap Reynald yang terlihat menatap ibunya.


Namun, seperti tatapan sedih, sakit dan menahan sesuatu dalam hatinya.


"Menangislah jika itu bisa membuatmu lebih baik," kata Sela membuat Reynald menunduk lemah.


Sela melihat jika Reynald sedang menahan tangisnya.


Entah dorongan dari mana Sela berdiri dan menghampiri Reynald.


"Menangislah," kata Sela sembari mengusap punggung Reynald pelan.


Reynald menyandarkan kepalanya di perut Sela dan menangis tanpa suara sembari menatap wajah pucat ibu Sela.


Sela hanya bisa menepuk- nepuk punggung Reynald untuk menguatkannya.


Siapa yang tahu jika di balik pintu ada seseorang yang melihat mereka berdua.


Daripada melihat hal ini lebih baik dia pergi saja itu akan lebih baik.


Reynald lalu menghapus air matanya dan menghembuskan napas lega.


"Maaf aku jadi merepotkanmu," kata Reynald pada Sela.


"Tidak. Apa kamu sudah lebih baik?" tanya Sela memastikan keadaan Reynald.


"Lebih baik," jawab Reynald sambil memasang senyum manis di bibirnya.


"Oh ya aku akan pulang sekarang, apa kamu masih di sini?" tanya Sela sembari memutari brankar untuk mengambil tas selempangnya.


"Baiklah aku juga akan pulang," kata Reynald yang langsung beranjak berdiri.


Sebelum pulang Sela menyempatkan diri untuk mencium kening dan kedua pipi ibunya.


Melihat hal itu membuat Reynald merasa rindu dengan mamanya.


"Ayo," kata Sela lalu keluar dari ruangan ibunya dan diikuti Reynald di belakangnya.


Sesampainya di lobi keduanya berpisah namun Reynald kembali menghampiri Sela.


"Sel bagaimana jika aku akan mengantarmu?" tanya Reynald menawarkan tumpangan pada Sela.


"Tidak perlu makasih, aku naik taksi saja," tolak halus Sela.


"Ya begitulah," jawab Sela namun mampu membuat Reynald tersenyum girang.


"Oh ya Rey, kamu tahu enggak perumahan dekat rumah sakit sini?" tanya Sela yang tiba- tiba menanyakan perumahan.


"Hmm, kayaknya ada deh tapi aku sedikit lupa tempatnya. Nanti jika sudah ketemu aku akan memberitahumu, bagaimana?" tanya Reynald pada Sela.


"Baiklah," kata Sela sambil tersenyum manis pada Reynald.


"Rey aku duluan ya," kata Sela setelah ada taksi yang berhenti setelah sekian lama menunggu.


"Ya hati- hati," kata Reynald sembari melambaikan tangan.


Reynald menatap kepergian Sela yang melaju bersama taksi tersebut.


"Ini kesempatan yang besar, Sela dan Bara sedang renggang dan itu bisa memberiku akses untuk mendekati Sela," gumamnya pelan sembari berjalan menuju mobilnya.


Sedangkan Sela yang berada di dalam taksi bertanya- tanya.


Reynald sakit apa?


.


.


.


.


Sela sedang berada di rumah Bara, ia datang untuk mengambil pakaiannya.


Sela memutuskan untuk pindah rumah yang dekat rumah sakit saja.


Selain dia bisa memantau dan jarak yang dekat untuk menjenguk ibunya.


Sela ingin menenangkan diri dengan menjaga jarak dari Bara.


Dengan niat yang penuh Sela memberanikan diri untuk masuk ke dalam rumah.


Langkah yang pelan dan sedikit ragu Sela berjalan menuju lift lalu naik ke lantai 2 untuk mengambil bajunya.


Ting


Sela keluar dari lift, sepi tidak ada siapa- siapa.


Ini kesempatan yang bagus untuknya, Sela akan bergegas mengambil kopernya dan pergi.


Setelah selesai mengambil semua kopernya Sela kembali menaiki lift.


Tapi langkahnya berhenti di depan lift kala mendengar suara perempuan yang memanggil nama Bara.


Sela yang penasaran masuk ke dalam lift lalu menekan lantai 3 untuk melihat siapa perempuan itu.


Ting

__ADS_1


Bersamaan dengan pintu lift terbuka, terlihat Laura dan Bara sedang bercanda di ruang tv.


Keduanya menatap Sela dan spontan berhenti tertawa.


"Eh lo Sel," kata Laura sambil merapikan jubah mandinya dan duduk di samping Bara.


Sedangkan Bara hanya menatap Sela tapi fokusnya teralihkan saat melihat dua koper yang Sela bawa.


"Eh sorry La aku ganggu, aku cuma mau ambil baju doang, lanjutin deh," kata Sela hendak berbalik untuk kembali masuk ke dalam lift namun terkejutkan dengan kedatangan Rendy.


"Rendy," kata Sela karena terkejut.


"Sela," mata Rendy beralih pada dua koper yang Sela bawa lalu melihat Bara yang hanya diam dan duduk bersama Laura.


"Lo mau kemana?" tanya Rendy pada Sela sambil sesekali melirik sinis Bara dari ujung matanya.


"Aku mau nemani ibu di rumah sakit, jadi aku ambil baju buat ganti," kata Sela beralasan.


"Sebanyak itu?" tanya dingin Rendy sambil melirik wajah Sela untuk meneliti kebohongan dalam mata Sela.


Sela tak menjawab ia hanya diam dan menunduk.


Rendy lalu berjalan melewati Sela dan menghampiri Laura.


"Lo ikut gue," kata Rendy sambil menarik kasar tangan Laura.


"Ih Rendy sakit tahu," kata Laura sambil memukul tangan kekar Rendy yang menggenggam erat tangannya.


Rendy masuk ke dalam lift bersama Laura namun aura dalam diri Rendy terlihat sangat beda.


Hingga hal itu membuat Bara dan Sela bertanya dalam hatinya.


Masak iya ini Rendy yang selalu bersikap ceroboh itu?


Kini menyisakan Bara dan Sela di lantai 3 dengan suasana awkward.


Sela hendak masuk ke dalam lift namun terhenti kala suara bariton Bara keluar.


"Berhenti," kata Bara dengan sangat keras.


"Mau kemana kamu?" tanya Bara yang kini sudah berdiri di depan Sela.


"Tidakkah tuan tadi dengar? Saya ingin menemani ibu saya di rumah sakit," kata Sela terlihat jelas dia sedang menahan kesal.


"Dengan baju sebanyak ini?" tanya Bara sambil menatap mata Sela lekat.


Sela memalingkan wajahnya dan tersenyum miring.


"Agar tuan bisa lebih leluasa menikmati waktu bersama Laura," kata Sela sambil menarik kopernya untuk masuk ke dalam lift tapi Bara menahannya.


"Lalu kamu bisa berduaan bersama Reynald di rumah sakit gitu?" bentak Bara membuat Sela melebarkan matanya kaget.


Bagaimana bisa Bara tahu?


"Kenapa, apa kamu terkejut jika aku mengetahui semuanya?" tanya Bara membuat Sela meringis kesakitan saat Bara terlalu kuat mencengkeram lengannya.


"Iya, memang kenapa? Bukankah dengan begini kita imbas satu sama lain. Kamu yang egois dan aku yang keras kepala?" tanya Sela dengan nada sedikit tinggi.


Bara menghempaskan tangan Sela lalu berkacak pinggang sembari mengusap rambutnya ke belakang.


"Kenapa, bukankah perkataanku benar?" tanya Sela seperti ingin sekali melawan Bara.


Sela tersenyum miring saat Bara tidak bisa menjawab pertanyaannya.


Sela masuk ke dalam lift dengan menarik kedua kopernya.


Bara melirik Sela yang sudah berada dalam lift, dengan cepat Bara masuk ke dalam lift sebelum pintu tertutup.


Bara mendorong Sela hingga menempel pada dinding lift dan meraih tengkuk Sela.


Bara mencium paksa Sela dengan sangat bruntal.


Dengan sekuat tenaga Sela mencoba mendorong dada bidang Bara.


Plak


Sela menampar pipi Bara dengan napas terengah- engah.


Keduanya masih diam, sibuk untuk menghirup udara dalam lift.


"Anda benar- benar keterlaluan. Kenapa tuan bersikap seperti ini," teriak Sela yang kini sudah menangis tersedu- sedu.


"Tidak bisakah anda bersikap dewasa? Jangan menahannya saat dia tidak mau bertahan dengan anda," Bara hanya diam dan menatap Sela.


"Bukannya menyelesaikan masalah anda malah terus mencari kesalahan orang lain dan sibuk menyalahkan," kata Sela sembari mengusap kasar air matanya.


Ting


Pintu lift terbuka membuat Sela menarik kedua kopernya.


Namun, sebelum keluar dari lift, Sela berhenti tepat di samping Bara.


"Ketahuilah karena sikap anda membuat orang lain lebih memilih pergi dibanding tinggal," Sela lalu pergi begitu saja denga kedua koper di tangannya.


Bara teringsut di lantai lift sambil menatap kepergian Sela.


Bara tidak pernah merasakan sakit dan kecewa secara bersamaan seperti ini.


Seharusnya Bara tahu, jika dia sekarang hanya punya Sela.


Papa dan mamanya sudah tenang di alam sana.


Tapi apa?


Bara menyia- nyiakan segalanya.


Betapa bodohnya dia.


Bara meringkuk di dalam lift sembari menunduk dalam.


Bara hanya bisa menangisi kepergian Sela tanpa bisa menahannya.


Sudah banyak kesalahan yang ia lakukan pada Sela.


Begitupun luka yang ia berikan pada Sela.

__ADS_1


Laki- laki macam apa Bara ini.


▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎


__ADS_2