
○○○
Bradsiton sedang menunggu seseorang di sebuah restoran VIP.
Beberapa kali Bradsiton memeriksa jam tangannya.
Karena seseorang yang dia tunggu belum juga datang.
Telat 5 menit, kemana perginya dia.
"Clay," panggil Bradsiton sambil melambaikan tangan ketika melihat Clay baru saja memasuki restoran.
Clay tersenyum manis ke arah Bradsiton dan langsung berjalan menghampiri Bradsiton.
"Wih makin muda aja kamu," puji Clay sambil berpelukan ala pria dengan Bradsiton.
"Seenggaknya masih ada janda yang melirik," seketika tawa mereka berdua pecah.
"Ayo duduk," kata Bradsiton pada Clay.
Waiters datang menyajikan menu yang telah Bradsiton pilih.
"Udah beberapa tahun, kamu masih inget makanan kesukaan ku," kagum Clay pada keingatan Bradsiton.
"Kita udah hampir 15 tahun bersama, aku sudah mengenalmu begitu jauh," kata Bradsiton sambil mencicipi menu kesukaan mereka berdua.
"Rasanya saya seperti di hidupkan kembali pada masa muda," kata Clay membuat Bradsiton tertawa renyah.
"Andai saja kita diberi kesempatan untuk kembali SMA, kita harus membeli semua yang kita inginkan sewaktu SMA yang tidak pernah bisa kita beli," kata Clay mengenang di mana susahnya dulu mereka saat masih muda.
"Rasanya aku ingin sekali menangis saat mengingat dua hari kita tidak makan," kata Bradsiton mulai menceritakan kembali kisah sedih mereka sewaktu masih remaja.
"Biarlah semua jadi kenangan untuk kita, sekarang sudah saatnya kita istirahat dan putra kita yang melanjutkannya,"kata Clay pada Bradsiton.
"Benar, di masa tua ini rasanya aku ingin sekali mengenang semua kisah pilu kita saat SMA, rasanya dulu makan saja susah," Clay memandang ke arah luar jendela menatap kosong ke depan.
"Itulah hidup, roda kehidupan yang selalu berputar, yang miskin sangat menderita, yang kaya pura- pura tidak punya," kata Clay membuat Bradsiton mengangguk- angguk.
"Benar, dulu kita hanyalah pemuda yang mempunyai banyak mimpi dan keinginan, tapi lihat,"
"Kini semua sudah terwujud satu demi satu, dan lebih indahnya kita mewujudkan impian ini bersama- sama hingga detik ini," Clay mengusap matanya yang sudah berkaca- kaca.
"Aku tidak pernah menyesali apa yang pernah dulu aku rasakan, sulitnya mencari makan, tertindas oleh orang yang di atas, kehidupan yang terasa tidak ada kemajuan, hidup hanya berputar- putar di situ,"
"Rasanya ingin sekali aku mengatakan pada kaum muda untuk percaya pada dirimu sendiri dan segala kemampuanmu sekecil apapun, karena kita mempunyai banyak kemampuan untuk melakukan apapun,"
"Termasuk mewujudkan impian yang sejak dulu kalian jadikan patokan untuk terus menjalani hidup meski terkadang dunia ini tak mendukung mimpimu,"
Clay meneteskan air matanya, katakanlah dia laki- laki cengeng, benar emang dia laki- laki cengeng tapi berhati lembut.
"Aku sangat cengeng sekali," kata Clay sambil menundukkan kepalanya.
"Sudahlah, semua sudah berlalu, kita memang pantas untuk menikmati hasil jerih payah ini," kata Bradsiton sambil menepuk- nepuk bahu Clay.
Itulah akhir dari cerita seorang pengusaha yang kini cukup berpengaruh dalam dunia.
Dulu juga pernah merasakan gimana susahnya untuk mencari nasi.
Untuk menggapai semua mimpi, kita tidak bisa menaiki lift, kita butuh tangga.
Jadi, hargai perjuanganmu sekecil apapun, karena saat mimpi mu tercapai itulah hasil dari usaha kita.
●●●
Sela sedang menonton drama korea di laptop Bara.
Sela merasa sangat bosan sekali, ingin sekali rasanya Sela keluar dari kamar ini.
Padahal kaki Sela sudah baik- baik saja, tapi Bara protektif banget sampek bopong Sela ke lantai atas.
Sela lalu keluar dari kamar Bara dan duduk di sofa di ruangan Bara.
Kenapa Bara tidak cepat kembali?
"Bara," kata Rendy yang membuka pintu membuat Sela menoleh dan menatap Rendy.
"Sela," kata Rendy lalu masuk ke dalam dan duduk di depan Sela.
"Bara mana?" tanya Rendy
"Enggak tahu, dari tadi belum juga balik," kata Sela sambil memanyunkan bibirnya.
"Kenapa tuh bibir maju- maju gitu?" tanya Rendy saat melihat wajah cemberut Sela.
"Bosen banget, pengin keluar rasanya tapi sama tuan Bara enggak boleh," kata Sela membuat Rendy menahan tawanya.
"Emang kaki kamu udah sembuh?" Sela mengangguk sambil menatap kakinya.
Seketika ide gila muncul di otak Rendy sambil menatap Sela.
"Kamu bosen kan?" Sela mengangguk.
"Buruan ikut gue," kata Rendy yang langsung menarik tangan Sela.
"Ehh tapi gimana nanti kalau tuan Bara nyariin?" khawatir Sela yang juga takut Bara akan marah padanya.
"Udah tenang aja, entar gue yang bilang, lagian si Bara juga lagi ketemu sama cewek," kata Rendy yang keceplosan membuat Sela mengernyit bingung.
"Cewek?" tanya Sela pada Rendy yang sedang menekan tombol lift.
"Iya cewek, dia seorang model dari Jerman," kata Rendy lalu menarik pelan tangan Sela masuk ke dalam lift.
"Emang kita mau kemana?" tanya Sela penasaran sama ide Rendy.
"Udah ikut aja, pasti lo suka," kata Rendy yang sangat bersemangat.
"Bentar gue ajak Reno sekalian," kata Rendy yang langsung mengirimkan pesan pada Reno.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.
Di sinilah mereka bertiga saat ini, menatap permainan yang menguji nyali.
"Tuan, apa anda sudah meminta izin pada tuan Bara?" tanya Reno yang was- was jika nanti kena marah Bara.
"Udah tenang aja, gampang nanti ngomongnya," kata Rendy lalu membeli tiket masuk untuk mereka bertiga.
"Tunggu apalagi, ayo masuk," ajak Rendy yang sangat bersemangat begitu juga dengan Sela.
"Wow aku suka banget dateng ke sini, kita akan naik wahana mana dulu?" tanya Sela pada Rendy dan Reno.
"Terserah kamu aja," kata Rendy sambil memakan popcorn yang tadi dia beli.
"Gimana kalau naik itu?" tunjuk Sela pada wahana yang membuat para penumpang berteriak.
Glek
Rendy dan Reno menelan saliva mereka dengan susah.
"Ayo," Sela menarik tangan Rendy dan Reno dengan sangat bersemangat.
Perlahan wahana berjalan dengan sangat pelan, lama- lama menjadi sangat cepat hingga
"Aaaaaaaaa mama tolong," teriak Rendy sedangkan Reno hanya membuka mulutnya tanpa ada suaranya. Sela tertawa melihat ekspresi mereka berdua.
"Yayayaya popcorn gue terbang semua," kata Rendy saat popcornnya terbang semua dan habis begitu saja.
Rendy menatap ke samping melihat Reno dan berpegangan sangat kuat pada Reno.
"Aaaaaaa Reno aaaaaa,"
"Reno kenapa lo tiba- tiba bisu," kata Rendy di sela- sela ketakutannya sambil menatap Reno yang hanya mangap- mangap doang.
Wahana sudah berhenti dan mereka cepat- cepat turun.
Huek
Huek
Huek
Reno sudah tidak kuat lagi, Rendy menatap jijik pada Reno.
"Ren lo naik wahana gituan udah kayak ibu- ibu hamil," ejek Rendy padahal kini kakinya sendiri sedang gemeteran tidak mau berhenti.
"Rasanya beberapa menit tadi saya mau mati tuan di atas sana," kata Reno.
"Bukan mau mati, tapi lo mendadak bisu saat naik wahana itu," kata Rendy lalu menyadari Sela tidak ada di sampingnya.
"Eh Sela mana hey," kata Rendy panik sambil menatap sekeliling dan ternyata Sela sedang mengantri untuk naik wahana lagi.
Rendy melihat wahana yang ingin Sela naiki dan rela mengantri panjang.
Rendy dan Reno mau tidak mau harus ikut mengantri untuk menaiki wahana yang akan Sela naiki.
Rendy dan Reno sudah naik ke atas wahana.
Rendy dan Reno duduk berdampingan sedangkan Sela duduk sendiri di depan tanpa ada rasa takut.
"Tuan apa anda tidak berniat untuk menikah muda?" tanya Reno sambil menunggu wahana dijalankan.
"Memang siapa yang tidak ingin nikah muda?"
"Lalu kenapa anda mengajak saya untuk percobaan bunuh diri di sini," kata Reno terdengar sangat pasrah.
Rendy tidak menjawab, karena wahana perlahan di jalankan turun dan
"Aaaaaaaaaaa," teriak Rendy dan Reno bersamaan dan saling berpegangan.
"Bang berhenti," teriak Reno berharap wahananya akan segera berhenti.
"Reno kenapa lo bilang kiri, ini bukan naik angkot," teriak Rendy pada Reno.
"Ya tuhan memang siapa yang bilang kiri," kata Reno sambil berpegangan sangat kuat dan sesekali memejamkan matanya.
"Enggak naik motor enggak naik wahana, itu telinga tetap tuli aja," kata Reno kesal dengan Rendy.
"Bang berhenti bang," teriak Reno sekali lagi karena dia sudah tidak lagi kuat menahan mual.
"Lo gila apa mau terbang," kata Rendy sambil memukul tangan Reno yang berpegangan sangat kuat pada tangannya.
"Ya tuhan lebih baik saya duduk sama Sela aja daripada sama orang tunarungu ini," gerutu Reno sambil menahan mualnya.
Wahana sudah berhenti dan mereka turun bergantian dengan penumpang lainnya.
Huek
Huek
Huek
Reno kembali mual- mual karena naik wahana tadi.
"Reno kamu enggak papa?" tanya Sela yang cemas dengan kondisi Reno.
"Hampir sekarat gini masih ditanya enggak papa," gumam Reno sangat lirih.
"Iya gak papa," bohong Reno sambil kembali berdiri dan memegangi perutnya.
"Rendy ayo naik wahana itu," kata Sela sambil menunjuk wahana yang hampir membuat kaki Rendy lemas.
Mau tidak mau Rendy mengangguk pasrah sedangkan Reno melotot tidak percaya.
"Tuan, saya belum selesai mual- mualnya dan kita akan naik wahana itu?" kata Reno pada Rendy sedangkan Sela sudah mengantri untuk naik wahana.
"Gue mau nolak tapi dia cantik," kata Rendy jujur membuat Reno menganga tidak percaya.
"Lantas jika anda disuruh bunuh diri apa anda juga akan mengatakan, mau nolak tapi dia cantik," kesal Reno pada Rendy.
__ADS_1
"Gue tahu gimana biar lo enggak mual- mual," kata Rendy pada Reno.
Perasaan Reno sudah tidak enak saat Rendy menariknya ke toko mainan.
Kini mereka sudah duduk di wahana, wahana turun dengan sangat perlahan membuat para penumpang berteriak.
Hingga wahana melaju dengan sangat cepat dan melewati rel yang berliku- liku.
"Aaaaaaaaaa mama aaaaaa papa," teriak Rendy sambil menarik- narik baju Reno.
"Reno lo kok enggak teriak?" tanya Rendy dengan sangat keras lalu menoleh ke samping untuk melihat Reno.
"Oh iya lupa mulut lo kan gue lakban," kata Rendy menahan senyumnya di sela ketakutannya.
Reno yang tidak bisa berteriak hanya menghentakkan kakinya karena ketakutan dan mencubiti tangan Rendy.
Wahana sudah berhenti dengan bergegas Rendy langsung turun dari wahana untuk mengatur napasnya.
"Percayalah, hanya orang gila yang tertawa saat menaiki wahana- wahana ekstrim di sini," kata Rendy jika mengingat Sela terus tertawa saat menaiki wahana tanpa ada rasa takut sedikitpun.
Sedangkan Reno langsung terduduk lemas di tanah dengan tatapan kosong.
"Ya tuhan untung ini jantung tempatnya di dalem, kalau di luar mungkin jantung gue udah terbang kemana- mana," kata Rendy yang ikutan duduk di tanah sambil memegangi dadanya.
"Reno kita naik wahana satu lagi ya?" tanya Sela membuat Reno dan Rendy menatap Sela bersamaan.
Perasaan mereka tidak enak saat melihat senyum indah di bibir Sela.
"Yang itu," tunjuk Sela dengan wajah polosnya, Reno dan Rendy mengikuti arah tangan Sela.
"Udah Sel jangan ngeprank malaikat, ayo kita pulang," kata Rendy yang langsung menarik tangan Sela untuk menjauh dari wahana mematikan itu.
Wahana yang tadi aja udah cukup buat nguji jantungnya, gimana sama wahana satu ini, yang ada mereka bisa terbang tanpa bisa kembali.
Sela hanya bisa cemberut karena Rendy menolaknya padahal dia ingin sekali.
"Syukur, akhirnya gue bisa pulang," gumam Reno yang berjalan dengan langkah lemas menyusul mereka berdua.
"Rendy," panggil Sela dengan suara sangat menggemaskan.
"Aku pengin naik wahana satu lagi, habis ini pulang kok beneran," kata Sela dengan sangat menggemaskan.
"Emang wahana mana?" tanya Rendy dengan suara was- was.
" Yang itu," tunjuk Sela dengan wajah polosnya. Rendy dan Reno mengikuti tangan Sela.
Rendy terdiam cukup lama sambil mengamati wahana ekstrim yang Sela minta.
"Iyadeh," kata Rendy pasrah begitu saja sedangkan Reno yang di belakang melotot tidak percaya.
"Ya tuhan, naik wahana yang tadi udah uji adrenalin sekarang naik wahana ini buat uji nyali, kapan malaikat cabut gue," gumam Reno sambil menatap ngeri wahana di depannya.
○○○
Bara baru saja bertemu dengan teman lamanya di cafe dekat perusahaan.
Bara kini kembali ke kantor dengan membawakan kue mochi dan cappucino untuk Sela.
Bara membuka ruangannya dan melihat laptopnya masih menyala di atas meja.
Kenapa sepi, kemana Sela.
Bara memeriksa Sela di kamarnya, kosong lalu memeriksa kamar mandinya juga kosong.
Tidak mungkin jika dia ke ruangan Dea, Dea baru saja berpapasan dengannya di lantai bawah.
Bara memeriksa GPS yang dia pasang pada ponsel Sela.
Tidak jalan dan berada dekat dengannya.
Bara menelpon nomor Sela, ponselnya berbunyi dan berada di kamarnya.
Bara berkacak pinggang sambil berpikir sejenak, apa mungkin dia meminta Rendy untuk menjemput.
Bara teringat sesuatu.
Bara langsung memeriksa rekaman cctvnya.
Terlihat Rendy yang datang dan mengobrol sejenak dengan Sela.
Lalu Rendy yang mengajak Sela keluar, Bara mendengus sebal pada Rendy si buaya
Buru- buru Bara langsung menelpon Rendy dengan hati panas juga sangat geram dengan mereka berdua.
Panggilan pertama tidak diangkat
Kedua
Ketiga
Keempat
Kelima baru panggilan terjawab, tapi suara Rendy membuat Bara menjauhkan ponselnya dari telinga.
"Halo,"
"Aaaaaaaa turunin gue bang,"
"Rendy,"
"Halo,"
"Lo lagi ngapain sih teriak- teriak?" tanya Bara dengan nada ketus dan marah.
"Lo ngomong apa?" teriak Rendy dengan sangat keras membuat Bara kembali menjauhkan ponselnya dari telinga.
"Lo dimana?"
"Gue di dufan," teriak Rendy.
"Hah, ngapain?" teriak Bara tak kalah kerasnya.
"Nemenin calon istri lo ngeprank malaikat," teriak Rendy dengan sangat keras.
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
__ADS_1