
□■■□
Jika di rumah sakit tadi sibuk menunggu dan berdoa untuk Sela.
Berbeda dengan di rumah yang ada di pulau Stella.
"Rendy papa sama mama pergi dulu ya, kalian semua langsung aja ke rumah sakit temeni Bara," kata Rose berpamitan pada kedua putranya.
"Iya ma," Rose dan Bradsiton sudah pergi dengan menaiki helikopter. Bukan ke rumah sakit tapi entah kemana mereka berdua.
"Tuan, apa kita akan naik ini lagi?" tanya salah satu pengawal saat helikopter satunya datang.
"Saya masih merasa mual dan sedikit pusing," adu mereka yang masih kurang sehat sejak kejadian kemarin.
"Terus naik kereta gantung gitu, gue maunya juga enggak naik ini, tapi mau gimana lagi adanya cuma ini," kata Rendy yang setengah jengkel dengan pengawalnya ini.
"Ayo tunggu apalagi, buruan naik," kata Reno yang sudah naik untuk mengemudikan helikopternya.
Lalu dengan terpaksa dan rasa kesal, mereka menaiki helikopter ini untuk menuju rumah sakit.
"Ren jangan sampek lo balik ke Amerika lagi buat uji nyali, jatuh dari sini aja kalau lo bosen hidup enggak usah ke sana," peringati Rendy saat Reno mulai menerbangkan helikopternya.
"Gue juga masih waras bego, ngapain gue ke sana gue juga masih punya istri, ya kali gue mau lompat dari sini," gerutu Reno yang kesal dengan perkataan Rendy.
"Ya siapa tahu lo lagi bosen hidup," gumam Rendy sambil melihat ke luar jendela pemandangan pulau Stella kala dari atas.
Sangat indah.
Rendy teringat sesuatu jika ia ingin mengajak Laura ke suatu tempat.
Setelah acara Sela lahiran ini, Rendy akan mengajak Laura untuk jalan- jalan menikmati waktu berdua.
Pasti bakal seru.
Sekitar 3 jam lamanya, akhirnya mereka sampai di Kanada.
Reno menurunkan helikopternya di rumah Bara karena beberapa pengawal juga harus berganti pakaian juga membawa mobil khusus bodyguard.
Setelah selesai berberes dan membersihkan diri, mereka berangkat bersama menuju rumah sakit.
Mereka hanya membawa 3 mobil, karena beberapa dari mereka meminta izin untuk istirahat sejenak.
"Kira- kira Sela udah lahiran belum ya?" tanya Rendy pada Reno juga pengawal yang lagi mengendara.
"Mungkin sudah tuan, lagian kan sudah sejak tadi pagi," jawab pengawal itu membuat Rendy mengangguk.
Sekitar 15 menit mereka berangkat dan belum juga sampai di rumah sakit.
Sedangkan Rendy yang sejak tadi tertidur kini bangun karena merasa janggal.
Kenapa mereka belum sampai- sampai juga, perasaan Rendy tidur mulai berangkat dari rumah.
"Kok gue ngerasa rumah sakitnya tambah jauh ya Ren," kata Rendy sambil membangunkan Reno yang katanya merasa tidak enak badan.
"Emang kita belum nyampe?" tanya Reno yang baru bangun dari tidurnya.
"Ya belum dodol, kalau udah nyampe ngapain kita masih dalem mobil," ketus Rendy pada Reno.
Mobil berhenti tepat di depan rumah sakit, tapi anehnya sejak kapan rumah sakit Bara diisi para wanita berkeliaran dengan seragam yang sama begitu.
"Tuan kita udah nyampe," kata pengawal itu pada Rendy.
"Bentar deh, kita di mana sekarang? Terus itu perempuan kenapa pada gendong boneka gitu?" tanya Rendy yang melihat dari dalam mobil.
"Rumah sakit jiwa," gumam Rendy membaca papan nama rumah sakit.
Rendy melebarkan kedua matanya mendengar perkataan Reno.
"Lo ngapain bego bawa kita ke rumah sakit jiwa?" kata Rendy merasa frustasi dengan pengawal yang membawa mereka kemari.
"Masak sih rumah sakit jiwa?" tanya pengawal itu sambil melihat papan nama rumah sakitnya.
"Terus sejak kapan rumah sakit Bara ada perempuan pada bawa boneka kayak gitu, terus main kejar- kejaran," kata Rendy sambil mengusap gusar wajahnya.
"Astagaaaa, emang siapa yang mau lo bawa ke rumah sakit jiwa, kita semua masih waras, cuma kemarin trauma aja setelah uji nyali," kata Rendy putus asa dengan pengawal yang menjadi sopir.
"Maaf tuan, maafkan saya. Kepala saya sedikit pusing jadi saya tidak terlalu fokus untuk menyetir," kata pengawal itu meminta maaf pada Rendy.
"Masih untung kita nyampe rumah sakit dengan selamat, meski nyampenya di rumah sakit jiwa," gumam Rendy sambil menatap melas orang- orang gila di luaran sana.
"Yaudah kita tuker tempat aja, biar saya yang menyetir," kata Reno yang langsung turun dari mobil untuk mengganti pengawal itu agar istirahat di belakang.
"Tapi tuan..,"
"Istirahatlah di belakang, saya baru saja selesai tidur tadi," kata Reno membuat pengawal itu merasa tidak nyaman membiarkan tuannya menyetir.
"Terima kasih banyak tuan," kata pengawal itu lalu bertukar posisi ganti ke belakang bersama Rendy.
"Tuan maafkan saya atas kesalahan ini," kata pengawal itu pada Rendy yang memejamkan matanya karena merasa sangat putus asa dengan pengawalnya ini.
"Sela lahirannya di rumah sakit Bara bukan di rumah sakit jiwa, bisa- bisanya lo bawa kita kemari," gumam Rendy dengan mata masih terpejam.
《♡♡♡》
Bara tidak bisa tenang begitu saja setelah beberapa menit yang lalu dokter bilang jika Sela belum bisa melanjutkan pembukaannya.
Terlebih Sela memiliki hipertensi jadi kemungkinan dokter takut terjadi apa- apa padanya.
Dokter meminta izin pada Bara untuk melakukan sesar karena Sela juga sudah terlalu lemah setelah beberapa pembukaan tadi.
"Bar duduk dengan tenang, Sela pasti baik- baik aja," kata Laura saat Bara terus mondar- mandir di depan pintu ruang operasi.
__ADS_1
"Ra udah hampir 2 jam, tapi Sela belum juga selesai lahirannya," kata Bara yang begitu mencemaskan keadaan Sela.
"Percayakan semua pada dokter, dan tetaplah berdoa untuk keselamatan Sela," kata Dea menenangkan Bara yang tidak bisa duduk dengan tenang.
"Lagian papa sama mama kemana lagi, kenapa mereka belum sampai juga," kata Bara sambil berkali- kali menelpon papa dan mamanya.
Bara sekilas melihat para staf dan karyawannya yang dengan tenang duduk di ruang tunggu sambil terus merapalkan doa.
Entah kenapa hatinya begitu terenyuh dengan ketulusan hati mereka.
"Masak kamu kalah sama mereka, mereka aja tetep duduk tenang dan terus berdoa untuk Sela," kata Dea yang melihat tatapan Bara pada semua karyawannya yang masih setia menunggu.
Bara lalu berinisiatif untuk memesankan mereka kopi juga makan siang.
Mereka pasti juga lelah meski hanya duduk dan berdiam diri.
Sekitar 10 menit para ahli gizi yang ada di rumah sakit datang bergerombol sambil membawakan mereka segelas kopi juga makan siang.
"Permisi ini makan siang juga kopi untuk anda semua," kata ketua ahli gizi itu pada semua staf juga karyawan.
"Tapi maaf kami tidak memesannya," tolak resepsionis itu dengan sopan.
"Tuan Bara yang memesan untuk kalian semua," sontak semua staf dan karyawan dengan kompak menoleh pada Bara yang berdiri di depan ruang operasi.
Bara hanya bisa tersenyum dan mengangguk.
"Kalian pasti lelah, jadi makanlah," kata Bara mempersilahkan pada mereka semua untuk makan siang.
"Terima kasih banyak tuan," kata mereka serempak dengan nada sangat pelan takut menganggu pasien lainnya.
Mereka lalu menerima satu persatu jatah makan siang juga kopinya.
"Ini makan siang untuk tuan," kata ketua ahli gizi itu pada Bara. Lalu memberikan pada Laura dan Dewa.
Bara lalu berjalan menghampiri para staf juga karyawannya.
Dengan santainya Bara duduk di lantai bersama mereka membuat mereka terkejut dan menatap Bara.
"Tuan duduklah di atas, di sini kotor," kata kepala departemen itu sambil membawa box makan siang Bara ke kursi.
"Tidak saya ingin makan di sini bersama kalian," kata Bara sambil meminta kembali box makanannya.
"Santailah, saya juga orang biasa seperti kalian," kata Bara sambil membuka box makan siangnya.
Bara lalu mendongak mereka semua diam dan menatap Bara tak percaya.
"Kenapa? Apa kalian tidak mau makan siang bersama saya?" tanya Bara lalu dengan kompak mereka semua langsung mendekat ke arah Bara dan makan siang bersama tanpa rasa sungkan.
Bara tertawa pelan melihat sikap malu- malu mereka.
Laura dan Dea yang melihat pemandangan ini hanya tersenyum penuh haru.
Sudah hampir 2,5 jam lamanya.
Dan belum selesai juga.
"Bara," teriak Rendy yang lupa tempat lalu dengan cepat ia menutup mulutnya.
"Sorry kelepasan. Gimana Sela udah lahiran?" tanya Rendy pada Bara.
"Belum," jawab Bara sembari melirik di belakang Rendy ada para pengawal yang membawakan perlengkapan Sela juga yang lainnya.
Rendy menepuk pelan bahu Bara untuk memberikan semangat lalu beralih pada Laura.
"Sayang kamu udah makan?" tanya Rendy sembari mencium kening Laura.
"Udah barusan," jawab Laura sambil memeluk Rendy manja.
"Ini susunya," kata Reno memberikan susu khusus ibu hamil pada istrinya.
"Makasih," kata Dea membuat Reno mencium pipinya gemas.
"Lo berdua dari mana aja? Kenapa lama banget," tanya Bara pada mereka berdua.
"Keliling dunia," jawab Rendy lirih dengan nada kesal jika mengingat kejadian tadi.
"Tepatnya di rumah sakit jiwa," lanjut Rendy membuat Bara mengangkat alisnya bingung.
"Ren kok lama banget ya operasinya?" tanya Bara pada Rendy.
"Gue bukan dokternya mana gue tahu," jawab Rendy yang benar adanya.
"Yah lo bener, gue tanya sama orang yang salah," gumam Bara membuat Laura tersenyum.
Bara lalu kembali berdiri di depan pintu operasi lalu diikuti oleh Rendy.
Mereka berdua mondar- mandir di depan pintu membuat Laura semakin pusing melihatnya.
Cenger
"Huaaaaa," bayangkan itu suaranya bayi, ok.
Bara dan Rendy saling menatap satu sama lain dan tersenyum lebar, mereka lalu saling berpelukan bahagia.
"Akhirnya Ren, anak gue lahir juga," kata Bara melompat kesenangan.
Cenger
"Huaaaa," Rendy dan Bara berhenti melompat dan saling menatap.
"Bentar kok tambah rame suara bayinya?" tanya Rendy membuat Bara menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Jangan- jangan anak gue kembar Ren?" kata Bara menebak membuat Rendy menggelengkan kepalanya.
Cenger
"Huaaaa," Bara melebarkan matanya tak percaya saat suara tangisan bayi semakin ramai.
"Lo buat berapa sih emangnya, kenapa di dalem rame banget suaranya," kata Rendy pada Bara.
Bara tidak bisa menahan senyumnya dan melompat kegirangan.
"Berapa anaknya Bara?" tanya Reno menghampiri mereka berdua.
"Enggak tahu, mungkin selusin," Reno menggampar bahu Rendy yang asal bicara.
Ceklek
"Dok bagaimana keadaan istri juga anak saya?" tanya Sela pada dokter cantik itu.
"Selamat tuan Bara, anda kini menjadi seorang ayah," kata dokter itu sambil tersenyum lebar.
"Yesss....,"
"Heiiiiii," teriak mereka kompak saat Bara dengan reflek akan memeluk dokter cantik itu.
"Inget mas, istrinya baru lahiran jangan cari simpanan," sindir Rendy sambil melirik sinis Bara.
"Maaf- maaf saya terlalu bahagia," kata Bara pada dokter cantik itu.
"Anda bisa menjenguk nyonya juga bayi anda di ruang VVIP tuan, kami akan segera memindahkan mereka," kata dokter itu lalu kembali masuk untuk memindahkan Sela juga bayinya.
Bara dan yang lainnya menjenguk Sela di kamar rawatnya.
"Sayang," kata Bara yang langsung memeluk dan menciumi seluruh wajah Sela.
"Makasih banyak ya udah berjuang buat anak- anak kita," kata Bara sambil mencium kening Sela dengan lembut.
"Mereka di mana sayang?" tanya Sela saat tidak melihat bayinya.
"Dokter masih memandikannya Sel," kata Laura yang langsung memeluk Sela.
"Lo hebat Sel, gue bangga sama lo," gumam Laura sambil menahan air mata kebahagiaan ini.
"Sela kamu hebat banget hari ini," kata Dea yang berganti memeluk Sela.
"Makasih banyak ya atas doa kalian," kata Sela sambil menggenggam kedua tangan adik iparnya.
Dea dan Laura hanya mengangguk dan meneteskan air matanya.
Tok tok tok
"Permisi tuan, kami ingin mengantar bayi anda," kata ketiga suster yang masing- masing membawa putra Bara.
Ya Sela melahirkan tiga bayi kembar sekaligus.
Wow, makanya prosesnya tadi lama sampek- sampek bapak Bara capek nunggunya.
"Sayang, apa anak kita kembar?" tanya Sela tersenyum takjub dan tak percaya.
"Iya sayang dan kamu yang melahirkan mereka dengan selamat meski di tengah jalan kamu harus melakukan sesar," kata Bara sambil memeluk erat Sela.
"Tuan dan nyonya, mohon maaf sebelumnya, kami sengaja meletakkan mereka dekat jendela agar mendapatkan sinar matahari di sore hari, setidaknya hanya 10 menit saja," kata suster itu memberitahu Bara dan Sela.
"Baik sus, terima kasih banyak," kata Sela pada ketiga suster itu.
"Wahh Sel lo hebat banget bisa lahiran ketiga putra tampan seperti mereka," puji Laura sambil menciumi gemas bayi Sela.
"Oh ya sayang, papa sama mama kemana?" tanya Sela saat tak melihat Rose dan Bradsiton.
"Entahlah sayang, sejak tadi pagi papa dan mama belum juga datang, kata Rendy mama dan papa ada urusan mendadak," kata Bara memberitahu Sela.
Bara tak henti- hentinya menciumi wajah Sela.
"Makasih banyak buat semuanya ya," gumam Bara pada Sela.
"Kamu hebat sayang," kata Bara lalu kembali mencium kening Sela.
Sedangkan Rendy dan Reno baru saja selesai makan siang dan menuju ruang rawat Sela.
Baru saja mereka berdua melangkahnya kakinya masuk ke dalam ruang rawat Sela.
Mendadak keduanya berhenti dan menatap ketiga kotak bayi dekat jendela.
"Ini anaknya Bara semua?" gumam Rendy bertanya pada Reno.
"Ya kalau anaknya tetangga mana boleh di bawa kemari bego," jawab Reno kesal.
"Ini Bara niat mau bikin anak atau mau nernak, kenapa banyak banget," gumam Reno sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Kenapa gue merasa kalau masalah bakal dateng ke kita ya Ren, padahal tuh bayi baru aja lahir?" kata Rendy sambil menatap sendu tiga kotak yang berisi bayi Bara.
"Gue kira bakal selesai derita kita kalau Sela udah lahiran, tapi kenapa firasat gue berkata lain. Seakan ada masalah yang bakal datengin kita," kata Reno sambil menatap Rendy.
"Gimana lagi, anaknya udah terlanjur keluar, masak mau lo masukin lagi, yang ada tiap hari kita diajakin ngeprank malaikat mulu sama Sela. Yang ada bukannya nikmati masa muda malah cepet tua kitanya tiap hari uji nyali," kata Rendy mengungkapkan isi hatinya.
"Ya mau gimana lagi, doa aja. Supaya ketiga anaknya enggak sama kayak Sela," gumam Rendy lalu menghampiri Bara untuk memberi selamat.
__ADS_1