
□■□■
Tak
"Seperti ini peluang kita dalam menghancurkan Bara dan pengikutnya," kata Walles sambil menatap satu persatu bola di atas meja biliard.
"Benar sekali, dia sudah kembali tanpa Sela di sampingnya," sahut Reynald sambil membidik satu bola untuk dimasukkan.
"Sangat mudah untuk kita menghancurkannya. Tapi ada satu hal yang tidak boleh kita abaikan begitu saja,"
Tak
Reynald menatap Walles setelah berhasil memasukkan bolanya ke dalam kolom.
"Bradsiton," lanjut Walles sambil menggosok ujung tongkat dengan kapur.
"Bukankah itu mudah bagimu, kau memiliki begitu banyak kalangan pejabat tinggi dan juga komplotan penjahat," kata Reynald jika mengingat para golongan Walles.
"Benar tapi Bradsiton tidak semudah itu untuk dikelabui atau dihancurkan, begitu juga putranya," tambah Walles dengan kembali membidik bolanya.
"Perlahan tapi pasti, kita harus bisa menyingkirkan satu persatu orang terdekat dari Bradsiton juga Bara," senyum smirk dari kedua bibir mereka terlihat begitu jelas.
"Kenapa kamu tidak memanfaatkan sahabat Sela?" usul Walles membuat senyum jahat di bibir Reynald.
"Bener juga kamu, tapi apa dia bisa diandalkan?" tanya Reynald merasa ragu akan kemampuan Gabriela.
"Kenapa tidak? Kita bisa mengajarinya menjadi seorang psikopat," tawa mereka meledak memenuhi ruangan kedap suara ini.
"Aku sudah tidak sabar menantikan kehancuran Bara," gumam Reynald yang diam- diam membuat Walles tersenyum miring.
♡♡♡
Rendy dan Reno pagi ini dibuat pusing oleh Bara.
Bagaimana tidak semenjak kepulangannya dari London, Bara menjadi sosok yang sangat aneh.
Enggak percaya?
Pertama, tadi pagi Bara mengajak semua bodyguard untuk jogging dan itu pukul 5 pagi.
Di mana masih dingin- dinginnya dan lagi enak- enaknya dibawah gulungan selimut malah diajak jogging.
Kan kesel jadinya.
Tapi oh tapi yang lebih keselnya lagi, dia tidak membangunkan para bodyguard secara manusiawi melainkan dengan menyalakan 10 petasan saat di awal pagi.
Apa dia kira kita tidak panik saat mendengar suara petasan.
Jantung serasa udah mau pindah ke hati.
Bertahun- tahun hidup dengannya baru kali ini liat dia jogging ditambah ngajak semua bodyguard, padahal biasanya itu orang enggak ada waktu buat jogging.
Kedua, Bara meminta Rendy untuk memindahkan semua karyawan wanita ke kantor papanya dan menambah karyawan pria.
Dia pikir karyawannya cuma 10 orang gitu, banyak ngab 500 lebih itu yang perempuan.
Ketiga, dia juga memindahkan semua ART perempuan ke rumah papanya dan meminta para bodyguard untuk memasak dan juga bersih- bersih.
Astaga, rasanya dunia Rendy dan Reno untuk jalan- jalan dan beli jajanan pinggir jalan akan punah.
Karena mereka berdua yang disibukkan dengan pekerjaan rumah dan mengurus bayi dewasa yang berupa Aldebaran.
"Tuan ayo kita kembali," ajak Reno pada Rendy yang meminum air putih hingga tandas.
Kini mereka berdua sedang duduk di pinggir jalan untuk istirahat sejenak setelah jogging tadi pagi.
"Bentar Ren, otak sama badan gue rasanya pisah semua, gue ngerasa gila di rumah sama kelakuan Bara," keluh Rendy sambil mengatur napasnya.
"Mungkin ini efek karena ditinggal pergi Sela," gumam Reno membuat Rendy mendengus sebal.
"Heleh itu orang mah suka banget nyiksa orang lain, mau ada Sela kek atau enggak ada kek sama aja," jawab Rendy kesal.
"Ayo tuan kita pulang sekarang aja, pasti nanti tuan Bara nyariin kita," ajak Reno agar Rendy mau cepat pulang.
Tit
Tit
Rendy dan Reno menoleh ke arah sumber gerobak jajanan yang berada di seberang jalan.
"Eh Ren itu kue mochi kan?" tanya Rendy dengan mata berbinar.
Sedangkan Reno merasa putus asa dengan sikap Rendy.
Ya tuhan itu tukang mochi kenapa dateng di waktu yang enggak tepat sih, batin Reno.
"Bukan itu penjual martabak," bohong Reno agar Rendy tidak beli.
__ADS_1
"Mata lo katarak, tulisannya mochi masak iya dia jualnya martabak," ketus Rendy dan langsung berlari ke seberang jalan untuk membelinya.
"Oh tuhan cepat karungi dia sebelum membeli mochi beserta gerobaknya," gumam lirih Reno sambil berjalan lunglai menyusul Rendy yang sudah ikut mengantri bersama anak- anak kecil.
"Bang kue mochinya berapaan?" tanya Rendy.
"5 dolar tuan," mata Rendy berbinar kala melihat kue mochi yang berwarna- warni.
"Yaudah bang saya beli semuanya," kata Rendy yang langsung mengeluarkan beberapa lembar uang dolar.
"Loh ya jangan tuan, kalau tuan borong semua terus saya jualan apa?" Rendy menganga mendengar ucapan penjual mochi tersebut.
"Ya abang enggak usah jualan lagi tinggal pulang," kata Rendy menjelaskan pada bapak yang memang sudah berumur di atas 50- an.
"Tapi banyak anak- anak kecil yang nungguin saya di gang sana, kalau tuan beli semua terus mereka beli apa nanti," Rendy merasa putus asa hingga menggaruk rambutnya yang panjang.
"Bang jadi gini, saya kan beli semua kue mochinya nah abang enggak usah keliling lagi karena kue mochinya udah habis saya borong, kan enak abang bisa pulang cepet," jelas Rendy dengan penuh kesabaran.
"Nah justru itu tuan kalau saya pulang cepet yang ada istri saya bakal marah nanti karena saya pulang enggak pada waktunya," Reno yang berdiri di samping Rendy lama- lama menjadi stres mendengar obrolan keduanya.
"Tuan ayo mending kita beli di tempat lain aja," ajak Reno yang sudah gila melihat keduanya berdebat.
"Bang dengerin saya baik- baik, saya kan beli semua kue mochinya dan bakal saya bayar lebih jadi abang bisa pulang lebih awal dan enggak usah capek- capek buat keliling lagi," Rendy menjelaskan sekali lagi pada penjual mochi.
"Tuan ini gimana sih, kalau tuan mau jualan kue mochi mending buat sendiri jangan borong kue saya, bersaing itu harus yang sehat jangan main curang," kesal penjual mochi.
"Astagaaaaa emangnya siapa yang mau jual kue mochi saya cuma mau beli kue mochi buat saya makan bukan jualan," kata Rendy penuh penekanan hingga urat di lehernya terlihat jelas.
"Bang mending abang pulang aja bang, pulang buruan bang," kata Rendy yang sudah kesal pada abang penjual mochi.
"Tuan ini ada masalah apa sih sebenarnya, dari tadi saya disuruh pulang mulu," kata penjual mochi seperti tidak punya dosa.
"Untung udah tua kalau enggak," gumam pelan Rendy sambil menatap sebal gerobak mochi.
"Astaga, beli mochi aja harus baku hantam dulu sama si penjual, gue hidup di era berapa sih sebenernya?" gumam lirih Reno sambil mengusap gusar wajahnya karena merasa frustasi.
.
.
.
.
.
Bradsiton turun dari mobil dan terheran kala para bodyguard berkerumun mengelilingi penjual kue mochi.
"Tuan," kata pak Asep kala menyadari Bradsiton datang.
"Pak Asep ada apa ini? Kenapa ada penjual mochi di sini?" tanya Bradsiton heran.
"Maaf tuan ini tadi tuan Reno yang membawanya ke sini, apa perlu saya meminta mereka untuk kembali?" tanya pak Asep sangat sopan.
"Tidak perlu biarkan mereka berjualan sehari di sini," kata Bradsiton sambil menatap para bodyguard yang terlihat begitu senang.
"Astaga dua anak ini benar- benar membuatku pusing," gumam lirih Bradsiton lalu masuk ke dalam rumah untuk mencari dua sosok yang membuat onar.
"Bara Rendy," teriak Bradsiton di lantai 2 yang ternyata kosong. Bradsiton kembali menaiki lift untuk ke lantai atas.
"Bara Rendy," teriak Bradsiton kala melihat Bara yang bermain game dan Rendy yang bersenang- senang dengan mochi.
"Papa," kata mereka berdua terkejut.
"Papa bener- bener enggak habis pikir sama kalian berdua. Papa tahu kalian galau ditinggal Sela tapi ya jangan bikin rusuh gini lah," keluh Bradsiton yang kesal dengan kedua putranya.
"Bisa- bisanya yang satu pesen gerobak mochi yang satu kini berubah jadi alergi wanita," kata Bradsiton mengomeli keduanya.
"Kalau borong gerobak mochi mah papa enggak papa, tapi yang satu ini, kenapa kini menjadi alergi wanita. Papa tahu kamu jauh dari Sela dan sedang menjaga perasaan Sela seperti yang mama bilang,"
"Tapi yaaaa enggak gini juga kali Baraaaaa," teriak Bradsiton yang merasa frustasi dengan kelakuan dua putranya.
"Kenapa kamu pindahkan semua karyawan wanita ke kantor papa," kata Bradsiton merasa dia sangat putus asa.
Sedangkan kedua putranya yang sejak tadi diomeli layaknya anak kecil, saling mengejek satu sama lain.
"Kalian berdua," teriak Bradsiton hingga membuat keduanya terkejut.
"Bisa- bisanya kalian enggak dengerin papa," kata Bradsiton yang mulai emosi.
"Pa jangan marah- marah mulu kenapa sih? Enggak mama enggak papa, salah dikit langsung sidang salah dikit langsung terkam, berasa kayak keluarga keadilan hukum," kata Bara yang kini beralih mengomel.
.
.
__ADS_1
.
.
.
Selesai marah- marah tadi Bradsiton mengajak Bara berbicara sebentar di balkon kamarnya.
"Son apa kamu benar- benar sudah mantap untuk menikahi Sela saat pulang nanti?" tanya Bradsiton membuat Bara menoleh menatap papanya.
"Kenapa papa tanya begitu?" tanya Bara bingung.
"Tidak, papa hanya tanya. Papa dan mama sudah semakin tua, jadi kami berdua ingin kamu memiliki pendamping yang tepat dan bisa menemanimu hingga tua nanti," kata Bradsiton membuat Bara menatap ke depan.
"Selama ini Bara tidak pernah bertemu wanita sepertinya. Wanita biasa yang tidak pernah memandang harta sebagai segalanya, wanita yang sangat menyayangi ibunya dan wanita yang bisa memberikan cinta dengan caranya sendiri," kata Bara menjelaskan sosok Sela bagi dirinya.
"Benar, papa juga kagum akan sikapnya yang santun dan juga tidak mau merepotkan orang lain," gumam Bradsiton membuat Bara diam- diam tersenyum.
"Saat pertama kali papa tahu kamu dekat dengannya, papa langsung menyelidiki segalanya. Dia memang wanita biasa dan dari keluarga sederhana, tapi dia memiliki hati yang mulia. Karena itu mama mu dibuat jatuh cinta olehnya," pernyataan Bradsiton membuat Bara terkejut.
"Jadi selama ini papa dan mama sudah tahu lebih dulu?" kaget Bara membuat Bradsiton terkekeh.
"Bukankah papa sudah bilang, mau ke ujung manapun, papa akan tahu segalanya tentangmu," kata Bradsiton membuat Bara kesal.
"Lalu kenapa mama waktu itu pura- pura marah sama Bara waktu makan malam di rumah?" tanya Bara penasaran.
"Kamu tahu kan mama mu ratunya akting," keduanya saling tertawa bersama.
"Ehh bentar, gimana tuh urusannya sama karyawan- karyawan perempuan yang kamu kirim ke papa?" tanya Bradsiton kala kembali teringat.
"Hehe sorry ya pa tapi Bara harus jaga hati dan mata buat Sela," jawab Bara membuat Bradsiton memukul bahu Bara.
□■□■
Sedangkan di negara lain, Sela dan Sandra sedang bekerja part time di sebuah cafe.
Meski setiap bulannya Bara selalu mengisi rekening Sela, tak sepeser pun yang Sela pakai.
Semua keperluannya Sela memakai hasil dari kerja part timenya bersama Sandra.
Sela takut jika dia tidak bisa membalas semua kebaikan Bara dan keluarganya.
Ibunya dirawat di rumah sakit secara cuma- cuma aja Sela rasanya tidak bisa tidur dan merasa resah.
Dan tanpa Bara ketahui Sela telah mengganti semua biaya rumah sakit dengan menjual rumah peninggalan ayahnya.
"Heh ngelamun mulu, mikirin tuan Bara ya?" tanya Sandra menyenggol bahu Sela.
"Apaan sih orang cuma liatin pelanggan cafe," kata Sela sambil memandangi Sandra yang meracik coffe latte.
"Nih lo kasih ke meja 19," suruh Sandra sambil meletakkan segelas coffe latte.
"Siap bu bos," Sandra tertawa melihat tingkah Sela.
"Ini coffe anda, selamat menikmati," kata Sela menyajikan coffe latte tersebut ke pelanggan no.19
"Hey, apa boleh kita berkenalan?" tanya laki- laki tinggi itu ketika Sela akan kembali ke bar.
"Maaf saya sibuk, permisi," kata Sela yang buru- buru untuk kembali ke bar.
"Tunggu, saya hanya ingin berkenalan dengan anda," teriak lelaki itu membuat beberapa pelanggan sempat menatapnya.
"Enggak usah ganggu temen gue," ketus Sandra yang menghampiri meja no.19 lelaki yang tadi mengajak Sela berkenalan.
"Maaf tapi aku hanya ingin berkenalan dengannya," kata lelaki itu dengan sopannya.
"Enggak perlu kenalan, dia udah punya suami," lelaki itu menganga tidak percaya.
"Oh ya?" tanyanya sekali lagi karena tak percaya.
"Iyalah, emang lo mau diterkam sama suaminya?" tanya Sandra yang menakut- nakuti lelaki itu.
"Astaga perempuan secantik dia harus kerja keras. Coba dia nikah sama aku, pasti enggak capek karena kerja," gumamnya pelan namun Sandra memiliki pendengaran yang tajam.
"Itu namanya dia perempuan mandiri enggak mau ngrepotin suaminya. Pakai ngayal segala jadi suaminya," sewot Sandra membuat lelaki itu tertawa renyah.
"Kamu temennya?" tanya lelaki itu dan diangguki oleh Sandra.
"Kalau dia udah punya suami mending aku sama kamu aja gimana?" goda lelaki itu membuat Sandra melotot tidak percaya.
Bugh
"Sembarangan banget sih jadi orang," kata Sandra lalu pergi begitu saja meninggalkan lelaki itu.
"Dua perempuan yang sangat cantik," gumamnya pelan sambil menatap Sela dan Sandra yang kembali bekerja.
"See you baby,"
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
__ADS_1