Sekretaris Canduku

Sekretaris Canduku
Perpisahan


__ADS_3

□□□


Sela sedang masak menyiapkan sarapan untuk Bara.


Jam 9 nanti dia baru akan kembali dengan pesawatnya.


Tapi entah dia akan benar- benar kembali atau hanya akan mengulurkan waktu saja.


Kemarin malam saja Sela sangat kesal pada Bara hanya karena kunci borgol.


Bagaimana bisa dia membeli borgol tapi lupa dengan kuncinya.


Dasar, mulai sekarang Sela tahu jika Bara dan Rendy itu 11 12.


Sama- sama cerobohnya.


Selesai masak dan menyajikan masaknya, Sela berjalan menuju tempat tidur untuk membangunkan Bara.


Ternyata masih tidur.


Perlahan Bara menggeliat dan meraba sampingnya.


Kosong


"Cepat bangun lalu kembalilah, papa sudah berkali- kali menelpon," suara Sela membuat Bara mau tidak mau membuka matanya.


Duh repot urusannya kalau udah gini, batin Bara yang masih menutup rapat matanya.


"Uhuk uhuk sayang kepalaku sakit aku pulang besok aja ya," kata Bara sambil memegangi perutnya.


"Sejak kapan kepala pindah ke perut?" tanya Sela membuat Bara ketahuan jika sedang berbohong.


Bara membuka matanya dan menatap Sela dengan tangan menopang kepalanya.


"Buruan mandi terus sarapan," kata Sela dengan galaknya.



Duh mana mukanya cantik banget lagi pas lagi marah, batin Bara sambil terus memandangi wajah Sela.


"Sayang kemarilah," kata Bara sambil menepuk sisi ranjang yang kosong.


Sela hanya diam tak merespon.


"Enggak usah modus buruan mandi," kata Sela menolak ucapan Bara.


"Aku akan mandi tapi kemarilah sebentar," kata Bara membuat Sela berpikir kembali.


Dengan terpaksa Sela berjalan menuju tempat tidur lalu duduk di tepi ranjang.


"Awww," teriak Sela karena terkejut tiba- tiba Bara menarik dirinya untuk berbaring di sampingnya.


"Kan mulai deh," kata Sela sambil memukul dada bidang Bara.


"Sayang aku ingin memeluk dirimu sepuasnya sebelum 2 tahun ke depan," kata- kata itu yang membuat hati Sela seakan tunduk pada ucapan Bara.


Bara memeluk erat Sela dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Sela.


"Kan kalau diem gini tambah cantik," gumam pelan Bara.


Sela membelai lembut rambut Bara sambil berpikir sejenak.


Apa iya Bara akan kuat menjalani hubungan ini dengan dirinya?


Kenapa Sela selalu merasa cemas dan khawatir akan hubungannya dengan Bara?


Sepertinya Sela sudah berubah, dia yang dulu tidak pernah sibuk memikirkan soal cinta.


Tapi sibuk bekerja siang malam untuk merawat ibunya.


Suatu hal yang membuat Sela tidak mau berharap banyak pada manusia adalah


Karena mereka bisa kapan saja berubah


Sepertinya dirinya saat ini


Tes


Bara merasakan keningnya basah, apa Sela sedang menangis.


Sela mencium aroma pada rambut Bara.


Bara mendongak untuk melihat wajah Sela.


"It's okay?" tanya Bara membuat Sela terdiam sambil menatap Bara.


Tanpa aba- aba Sela menempelkan bibirnya pada bibir Bara.


Hanya menempel.


Bara terkejut dengan sikap Sela yang tiba- tiba.


Namun, dengan pelan Bara mulai memangut bibir manis Sela.


Sepertinya gadisnya sedang tidak baik- baik saja.


Bara semakin menekan tengkuk Sela guna memperdalam ciumannya.


Bara yang memang dasarnya dia jahil dan suka memanfaatkan kesempatan langsung beralih menuruni leher putih Sela.


Bugh


"Enggak usah mulai deh," ketus Sela membuat niat Bara kembali terurung.


"Sayang kamu yang mulai aku yang dimarahi," kata Bara sambil menempelkan keningnya dengan kening Sela.


"Kamu tahu kan aku juga laki- laki dewasa, jadi jangan pancing diriku, karena aku sudah berusaha kuat untuk menahan selama kita tinggal berdua,"


Cup


Bara mencium kening Sela lalu pergi keluar menuju lantai bawah untuk mandi.


"Astaga Sela, kenapa kamu bodoh sekali, jadi malu kan," kata Sela sambil guling- guling di ranjang sambil meratapi kebodohannya.


Kini Sela merasa sangat malu untuk berhadapan dengan Bara.


Rasanya Sela ingin sekali menenggelamkan diri.


Bara sudah kembali dari lantai bawah dan selesai mandi.


Lihatlah betapa seksinya dia, rambut basah dan juga handuk yang melilit sebatas perutnya, membuat perut six packnya begitu terlihat jelas.


Apa Bara sengaja melakukannya untuk mengumbar otot seksinya?


Dasar bapak tua itu.

__ADS_1


Ya tuhan apa yang Sela lihat, urusan tadi aja malunya belum kelar lah nambah satu ini.


Sela menggelengkan kepalanya membuat Bara yang hendak memakai kemeja putihnya tersenyum devil melihat gadisnya.


Dia tahu jika sejak tadi Sela menatapnya kagum.


Bara berjalan menghampiri Sela yang duduk di meja makan.


Tes


Sela mendongak saat merasa keningnya basah.


Ternyata tetesan air dari rambut Bara yang kini sedang berada di belakangnya.


"Bagaimana, bukankah aku terlihat begitu seksi?" tanya Bara menggoda Sela sambil menahan senyumnya.


"Sayang sekali, aku belum memiliki seorang istri," Sela mendelik mendengar ucapan Bara lalu berbalik untuk menatap Bara.


"Kamu....," Sela terdiam kala menyadari jarak mereka begitu dekat dengan Bara yang masih belum memakai kemejanya.


Ya tuhan kenapa dari deket malah tambah seksi dan mempesona. Bagaimana jika bukan dirinya yang melihat, apa Bara akan diterkam begitu saja oleh betina lain, batin Sela sambil menahan napas.


"Napas sayang," kata Bara sambil menyentil pelan kening Sela membuat Sela merasa malu.


"Segitu seksinya ya sampai nahan napas gitu?" tanya Bara membuat Sela matanya melebar.


"Tuan ngapain sih enggak pakai baju," tebak Sela yang membuat Bara tertawa renyah.


"Wanita lain aja tergoda masak kamu enggak?" goda Bara sambil menatap mata cantik di depannya.


"Oh ya, emang perempuan mana yang tergoda?" tanya Sela sambil menatap kesal Bara.


"Banyak kecuali kamu," kata Bara sambil mencolek hidung mancung Sela.


Bara berjalan menuju kopernya untuk berganti baju dengan senyum di bibirnya.


Sela menghela napas, beberapa detik tadi rasanya dia ingin sekali pingsan di depan Bara.


.


.


.


.


.


Setelah drama tadi pagi, kini sudah waktunya untuk Bara kembali pulang.


Sela mengantar Bara ke atas rooftop asramanya sambil menunggu helikopter yang akan menjemputnya.


Sejak tadi pagi, Sela tidak kuliah dan juga tidak keluar kamar.


Bagaimana tidak, Sela merasa jika dia sedang merawat bayi besar.


Bara yang selalu merengek kala ditinggal Sela pergi sebentar saja.


Bahkan Sela mandi di kamar Sandra aja dikasih waktu sama Bara.


Benar- benar keterlaluan bukan?


Bara kini sedang bergelayut manja di lengan Sela sembari berjalan menuju rooftop.


"Enggak, enggak ada lagi tawar- tawaran," tolak Sela berusaha untuk tegas agar Bara tak lagi mengulur- ulur waktu.


Semakin lama Bara di dekatnya akan semakin sulit untuk Sela bisa bertahan tanpa dia.


Wush


Wush


Wush


Keduanya mendongak kala mendengar suara helikopter yang sudah tiba.


Perlahan helikopter mendarat sempurna di rooftop.



Pak Asep keluar dari helikopter membuat Bara mengernyit bingung.


"Loh kok pak Asep yang jemput, di mana Rendy? Lalu kenapa pakai helikopter papa?" kata Bara yang membrondongi pertanyaan kala pak Asep baru tiba.


"Tuan Rendy bilang kalau sedang piknik bersama Reno dan bapak yang menyuruh saya untuk menjemput dengan helikopternya," kata pak Asep membuat Bara mendengus sebal akan kelakuan saudara satunya itu.


"Dua somplak itu benar- benar," gumam Bara heran dengan sikap mereka berdua.


Yang punya helikopter aja masih di London, lah tuh dua sopir malah piknik.


Awas aja mereka pulang.


Bara beralih menatap Sela lalu menangkup kedua pipi tirusnya.


"Jaga diri baik- baik, jangan pulang malam lewat pukul 7 dan juga jangan pulang sendirian mintalah Sandra untuk menemani," Bara memberi wejangan panjang untuk Sela.


"Kamu tidak perlu bekerja part time, simpanlah black card ini, pasti cukup untuk 2 tahun ke depan atau jikalau habis...,"


"Tuan sudahlah cepat pulang, saya bukanlah anak kecil lagi. Dan satu lagi saya tidak ingin menerima black card ini, jadi simpan saja untuk nanti," kata Sela sambil mengembalikan black card ke genggaman Bara.


"Aku tidak ingin melihatmu bekerja keras dan kesusahan ketika jauh dariku, jadi berjanjilah untuk tidak kerja part time," Sela terdiam.


Dia tidak bisa berjanji untuk satu hal itu, Sela sudah cukup merepotkan Bara dan keluarganya.


Jadi, Sela ingin Sela bisa mandiri di atas kakinya sendiri kala jauh dari kehidupan Bara.


"Sayang berjanjilah untuk tidak....,"


Cup


Sela mencium pipi kiri Bara agar tidak melanjutkan ucapannya.


"Sudah, sekarang kembalilah, papa dan mama pasti sedang menunggu tuan," kata Sela mencoba untuk mengalihkan pembicaraan Bara.


Bara meraih Sela ke dalam pelukannya, rasanya begitu berat untuk meninggalkan gadisnya jauh dari pandangan matanya.


"Berjanjilah untuk cepat pulang, aku akan menunggumu," Sela mengangguk dalam pelukan Bara.


"Setelah pulang nanti, aku akan segera menggelar pernikahan kita agar kamu tidak bisa lagi pergi jauh dariku," kata Bara sambil menangkup kedua pipi Sela.


Bara mencium bibir Sela dengan sangat lama dan hanya menempel.


"Tuan malu sama pak Asep," kata Sela sambil mendorong pelan dada bidang Bara.


Bara terkekeh pelan lalu beralih mencium kening Sela.

__ADS_1


"Aku pergi dulu ya," kata Bara pamit pada Sela.


Sela hanya bisa mengangguk dan menyunggingkan senyumnya untuk menutupi kesedihannya.


Langkah demi langkah Sela tatap, hingga Bara masuk ke dalam helikopter.


"Pak Asep," panggil Sela kala pak Asep hendak masuk ke dalam helikopter.


"Tolong jaga tuan," pesan Sela membuat pak Asep tersenyum dan mengangguk.


"Nona cepatlah kembali," kata pak Asep lalu masuk ke dalam helikopter.


Perlahan helikopter mulai naik, terlihat dari kaca jendela, Bara tersenyum ke arahnya.


Hingga helikopter itu terbang jauh, air mata Sela turun begitu saja tanpa permisi.


"Gitu aja nangis," Sela menoleh ke belakang.


Ada Sandra yang sedang bersandar di dinding sambil tersenyum mengejek ke arah Sela.


"Sini peluk," kata Sandra sambil merentangkan kedua tangannya membuat Sela tersenyum namun dengan air mata yang masih turun.


Sela berjalan menghampiri Sandra dan memeluknya erat.


"Udah enggak usah nangis, kan ada gue," kata Sandra berusaha untuk menenangkan hati Sela.


"2 tahun akan cepat berlalu,"


□□□



Sedangkan di tempat yang berbeda Bradsiton dan Rose sedang duduk santai di pagi hari.


Dengan ditemani kopi panas dan teh hangat juga camilan.


Keduanya sibuk dengan dunia masing- masing.


Yang laki baca koran perempuannya baca majalah.


"Pa ma," teriak seseorang dari lantai 3, mereka sudah tahu siapa.


Siapa lagi selain Bara.


"Wihh putra papa udah pulang dari negara istrinya," goda Bradsiton sambil melipat korannya.


"Gimana sukses enggak bikin cucu buat papa sama mama?" tanya Bradsiton yang langsung mendapat tatapan maut dari istrinya.


Sedangkan Rose melemparkan majalahnya ke atas meja dan menatap tajam Bara.


"Papa sama mama pagi- pagi udah mesra aja sih, enggak tahu apa Bara lagi galau," kata Bara yang langsung tidur di pangkuan mamanya.


"Heh kamu pulang- pulang main tidur aja, kemana aja kamu selama seminggu?" tanya Rose sambil menarik telinga putranya.


"Aduh ma sakit. Bara lagi nemenin Sela ma," kata Bara merintih kesakitan sembari memegangi telinga yang kini sudah memerah.


"Nemenin Sela apa ganggu dia?" tanya Rose kembali mengindentifikasi Bara.


"Bara ini anak mama bukan sih? Masak enggak percaya sama putranya sendiri," kata Bara sambil memanyunkan bibirnya.


"Bukannya enggak percaya cuman kamu itu 11 12 sama papa kamu, pinter memanfaatkan kesempatan saat jauh dari mama," omel Rose membuat Bara merasa mengantuk kala mendengarnya.


"Ma Bara capek, biarin Bara tidur," gumam lirih Bara membuat Rose menghela napas pelan.


"Bara, mama pesen sama kamu. Jaga perasaan Sela selama dia mengenyam kuliah di luar negeri. Mama sudah nyaman dengan Sela jadi...," ucapan mamanya membuat Bara kembali membuka matanya.


"Mama ingin kamu nanti bisa bersama selamanya dengan Sela," Bara tersenyum girang dalam hati.


Begitupun Bradsiton yang sedang duduk di samping Rose, tersenyum manis melihat pemandangan indah di depannya.


Rose membelai lembut rambut Bara sambil menatap ke depan dengan tatapan berharapnya.


"Inget sayang, jangan pernah menyakiti hati perempuan, ibaratkan Sela sebagai mama," nasihat Rose membuat hati Bara seakan menghangat.


"Dan mama minta, jaga Sela untuk mama," kata Rose sambil menatap Bara yang sepertinya sudah mulai terlelap karena kecapekan.


.


.


.


.


.


Sedangkan di tempat dan waktu yang berbeda, dua sejoli ini sedang jalan- jalan mencari camilan.



Rendy dan Reno pastinya.


Bayangin aja, mereka sudah jalan- jalan selama tiga hari setelah mengantar Bara ke London.


Mulai dari Prancis, London dan terakhir untuk malam ini adalah AS.


Itupun dengan membawa helikopter milik Bara.


Wih berani banget enggak sih ini orang.


"Tuan kita mau kemana lagi, jajanannya udah banyak ini," protes Reno yang sudah mulai merasa capek karena sejak tadi sore keliling untuk membeli banyak jajanan pinggir jalan.


"Bentar gue mau cari satu lagi," kata Rendy sambil meneliti setiap stand penjual jajanan pinggir jalan.


Nah ketemu


Rendy berjalan menghampiri stand penjual kue mochi.


"Enggak di Kanada enggak di sini, kenapa anda selalu mencari kue mochi?" kesal Reno yang sudah jenuh dengan hanya melihat kue mochi yang selalu Rendy borong.


"Lo enggak tahu istimewanya kue mochi," kata Rendy sambil berjalan girang menuju stand kue mochi.


"Enggak ada yang istimewa di kue mochi, cuma Sela seorang yang istimewa," protes Reno membuat Rendy tertawa renyah.


Menurut Rendy, setiap negara memiliki ciri khas kue mochi sendiri- sendiri.


Di mana itu semua harus dirasakan langsung oleh lidah manja Rendy.


"Selain tergila- gila dengan Sela anda juga mulai gila dengan mochi," gumam pelan Reno sambil memalingkan wajahnya.


"Sir saya beli semua kue mochinya," kata Rendy pada penjual membuat sang penjual tersenyum senang lalu memeluk Rendy seperti sudah kenal satu sama lain.


"Astaga, gue lebih merasa seperti seorang ayah, tapi dengan bayi dewasa seperti ini siapa yang mau jadi istri gue," gumam Reno pada dirinya sendiri.


▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎

__ADS_1


__ADS_2