Sekretaris Canduku

Sekretaris Canduku
Reynald & Sela


__ADS_3

□□□


Dewa melihat kakaknya sedang duduk di ruang keluarga sambil menatap laptopnya.


"Ini obatnya," kata Dewa sambil meletakkan kantong plastik berisi obat Reynald ke meja.


Reynald menutup laptopnya lalu beralih menatap Dewa.


"Lama banget," kata Reynald sambil membuka bungkusan obatnya.


"Gue main ke time zone bentar kak," jawab Dewa santai tanpa beban.


Reynald menganga mendengar ucapan Dewa.


"Emang lo gabut banget sampek harus ke time zone dulu baru ngambil obat," kata Reynald ketus.


"Enggak dari rumah sakit baru ke time zone," kata Dewa sambil asyik memainkan game di ponselnya.


"Kak, tahu enggak sih, kak Bara punya cewek tahu," mata Reynald langsung melebar mendengar ucapan Dewa.


Pasalnya di kutub utara itu jarang deket sama cewek.


Jangankan deket, kenal cewek aja mungkin itu orang enggak pernah.


Paling deket palingan sama Dea.


"Lo enggak bercanda kan?" tanya Reynald tidak percaya.


Dewa mengangguk antusias lalu menyerahkan ponselnya yang menunjukkan foto Sela waktu di time zone kemarin.


"Nih fotonya," kata Dewa menunjukkan foto Sela.



Cantik juga dia, batin Reynald menatap lekat foto Sela.


"Apa dia temen kuliahmu?" Dewa mengangguk, senyum miring tercetak di bibir Reynald.


"Kak buruan cari cewek, masak kalah sama kak Bara yang dingin gitu," ejek Dewa membuat Reynald mendengus sebal.


"Bodo amat," kata Reynald lalu kembali menatap laptopnya.


"Atau kalau enggak sama kak Jessy aja gimana, dia kan juga cantik," kata Dewa menggoda kakaknya.


"Lo urusin aja si Laura," kata Reynald kesal karena Dewa terus saja menggodanya.


"Atau kakak aja sama Laura kalau enggak mau sama kak Jessy," Reynald langsung melempar bantal sofa ke wajah Dewa.


"Gue enggak sudi sama cewek itu," kata Reynald marah saat Dewa menjomblangi dengan Laura.


Dewa terkekeh melihat wajah kakaknya yang kesal.


"Ehh, gue minta dong nomor ceweknya Bara," kata Reynald membuat Dewa mengangkat sebelah alisnya.


"Buat apa?" tanya Dewa penasaran.


"Jangan- jangan mau diembat ya," Dewa tidak henti- hentinya menggoda Reynald.


"Apaan sih lo, buruan mana nomornya," paksa Reynald pada Dewa.


"Gue enggak punya," kata Dewa membuat Reynald melotot kesal padanya.


"Besok gue minta sama orangnya," kata Dewa sambil menahan tawa melihat wajah kakaknya yang merah karena kesal.


○○○


Clay sedang mengadakan rapat terbuka dengan para desainer terkenal dari berbagai kalangan negara.


Tiga hari lagi waktunya untuk penilaian busana, karena itu Clay butuh briefing untuk merancang segalanya.


"Tuan, jika ada perusahaan yang mengeluarkan lebih dari satu rancangan busana bagaimana?" tanya salah satu desainer.


"Itu tidak masalah, lebih bagus jika semua karyanya bisa masuk final untuk peragaan busana nanti," jawab Clay.


"Tuan, anda memberikan daftar 10 kriteria dalam penilaian setiap rancangan busana,"


"Jika ada busana yang hanya memenuhi 9 kriteria apakah bisa dipertimbangkan?" tanya tim penilaian.


"Menurut kalian jika sebuah mahakarya tercipta dengan sangat sempurna dengan mahakarya yang sederhana, mana yang akan jadi seni memikat banyak masyarakat?"


"Tentu mahakarya sempurna akan memiliki daya pikat dan ketertarikan sendiri pada masyarakat sedangkan mahakarya sederhana terlihat apa adanya dan bagaikan pajangan semata," kata Clay membuat mereka mengangguk mengerti.


"Lantas tuan, apa yang perlu kita siapkan selama tiga hari ke depan sebelum penilaian busana ke setiap perusahaan?" tanyanya pada Clay.


"Pertama, buat surat resmi untuk dikirimkan pada setiap perusahaan yang telah lolos tahap awal ini, kedua, kita akan melakukan penilaian langsung ke perusahaan, ketiga melakukan semua persiapan untuk acara puncak dan terakhir melakukan pameran untuk busana yang telah memenangkan acara ini," kata Clay memberitahukan rencana untuk acara besar ini.


"Kalian semua sudah paham dengan tugas masing- masing?" tanya Clay pada semua tim.


"Sudah tuan," jawab mereka serentak. Clay tersenyum senang, semoga tahun ini acaranya berjalan lancar.


♡♡♡


Bara masih setia menunggu Sela selesai menangis.


Sela menghapus air matanya lalu menatap Bara yang duduk di sampingnya.


"Kenapa anda tidak memberitahu jika ayahnya Gabriela di rumah sendirian," kata Sela dengan suara serak karena lama menangis.


"Apa pentingnya buat kamu, Gabriela yang anaknya saja tidak memedulikannya, kenapa kamu sangat peduli padanya," kata Bara membuat Sela kembali menunduk.


"Anda tidak pernah merasakan rasanya kehilangan seorang ayah, saat saya masih remaja, beliaulah yang selalu menjadi ayah saya,"


"Beliau yang selalu menjaga saya dan Gabriela, selalu melindungi saya, dan beliau juga yang selalu menjadi wali saya saat pengambilan rapot, karena ibu yang sakit keras," tangis Sela mulai turun kembali.


Bara tidak tega melihat air mata yang dia saksikan sendiri jatuh dari mata Sela.


Rasanya sangat perih dan sakit.


Apa gadisnya sesedih itu di masa remajanya.


Bara berpikir sejenak, andai jika Sela tidak dipertemukan dengannya pada waktu itu, apa yang akan terjadi dengan ibunya.


Apakah Sela akan hidup sebatang kara seperti Rendy.


Dia cewek yang kuat, dia bekerja demi menghidupi ibunya.


Bara kagum akan sifat Sela yang sangat kuat dalam memikul beban ini sendiri.

__ADS_1


"Disaat semua anak selalu pergi dan menggandeng tangan ayahnya untuk pergi ke sekolah, beliaulah yang rela mengulurkan tangannya untuk menggandeng bocah kecil ini,"


"Disaat saya hanya memanggil nama ibu, beliau juga yang mau dipanggil ayah oleh saya," Sela semakin menunduk.


Bara ingin sekali memeluk gadisnya, menyalurkan segala kekuatan untuk gadisnya.


"Sesulit apapun hidup jangan pernah menyesali apa yang pernah membuatmu tersenyum," kata Bara pelan pada Sela.


Bara menepuk pelan punggung Sela menyalurkan kekuatan pada gadisnya.


"Apa saya boleh memelukmu?" tanya Bara membuat Sela menoleh menatap wajah Bara.


"Anda sudah melakukannya tadi dan baru bertanya sekarang," ketus Sela membuat Bara menahan tawanya.


Wajah Sela sangat lucu saat sedang marah begini.


"Lalu bagaimana, apa boleh saya memelukmu?" tanya Bara sekali lagi meminta izin pada Sela.


Sela berdiri di depan Bara dan menatap sengit padanya.


"Enggak untuk pelukan yang kedua kalinya," kata Sela penuh penekanan lalu pergi dari kamar menuju kamar atas.


"Ya tuhan padahal udah izin aja enggak dibolehin, apalagi kalau gue tadi tiba- tiba meluk tanpa izin sama dia, mungkin yang ada gue kena tendang sama dia," guman Bara sambil baring di tempat tidur dan senyam- senyum enggak jelas.


"Susahnya dapetin hatimu," gumamnya lirih lalu keluar dari kamar menuju kamarnya atas.


.


.


.


Bara sedang duduk di kursi kerjanya menatap lekat monitor komputernya.


Sudah hampir 15 menit Sela dicuekkan begitu saja.


Menyebalkan.


Sela juga lupa membawa ponsel barunya.


Jadi tidak ada hal lain yang bisa Sela lakukan.


Sekarang bukan wakutnya untuk pemotretan, jadi Dea tidak memanggil Sela.


Ingin sekali Sela membantu yang lain disaat sibuk seperti ini.


Tapi tidak ada satu hal yang bisa Sela bantu.


Bara berjalan terburu- buru sambil membawa beberapa berkas keluar dari ruangannya tanpa pamit atau menoleh pada Sela.


"Ya tuhan sebenarnya aku ngapain disuruh ikut kalau ujung- ujungnya cuma dibuat pajangan gini," gerutu Sela kesal.


Sela menyandarkan punggungnya di sofa dan menghembuskan napasnya.


"Andai aja ada Rendy," gumam Sela seketika teringat Rendy.


Sela menatap jam dinding yang menempel di dinding, pukul 9 pagi.


Sela berdiri, dia berniat untuk melihat- lihat di sekeliling perusahaan untuk menghilangkan rasa bosan.


Sela menaiki lift untuk turun ke lantai paling dasar.


Sela sudah berada di lobi dan menatap sekitar, berharap Bara tidak ada di lantai bawah.


Sela sudah keluar dari lobi perusahaan lalu menatap jalanan yang penuh lalu lalang orang lewat.


Sela menatap ke seberang jalan, ada beberapa penjual makanan di pinggir jalan.


Sepertinya enak pikir Sela langsung berjalan menuju seberang jalan.


Sela menatap jajanan yang masih mengepulkan asap dan aromanya sangat sedap.



Sela menatap gemas pada roti- roti yang baru saja disajikan.


"Bu beli roti isi peanut nya 2, isi coklat 2 sama yang ini 2 ya bu," pesan Sela sambil menunjuk roti yang berada di dalam etalase.


"Iya bentar ya saya bungkuskan," kata ibu pembeli membungkuskan roti pesanan Sela.


"Ini," katanya sambil memberikan roti pesanan Sela.


"Berapa bu semua?"


"5 dolar,"


Sela merogoh sakunya dan melihat uangnya hanya ada 3 dolar.


"Emm bu, uang saya hanya 3 dolar, emm saya ambil uang dulu ya bu nanti saya balik lagi," kata Sela sambil memberikan uangnya yang hanya 3 dolar.


"Berapa kurangnya bu?" tanya seseorang di belakang Sela yang tiba- tiba memberikan selembar uang.


"Eh," kaget Sela.


"2 dolar," katanya cowok itu langsung memberikan 2 lembar uang pada ibu penjual kue.


"Makasih, nanti akan saya ganti," kata Sela sopan pada cowok yang baru dikenalnya.


"Untuk cewek cantik tidak perlu mengganti," katanya menggoda Sela.


Sela tertawa pelan, lalu mereka berdua duduk di bangku taman.


"Yaudah kalau gitu belikan semua roti itu untukku," canda Sela pada cowok yang baru dia kenal.


"Ok cantik," katanya langsung berjalan kembali ke kedai yang tadi jualan roti, Sela melotot tidak percaya.


"Ya tuhan, padahal aku cuma bercanda," kata Sela sambil mengamati cowok itu yang kembali dengan sekantong plastik berisi roti.


"Ya tuhan kenapa semua dia beli," kata Sela menutup mulutnya saat tahu cowok itu membeli semua roti yang ada di etalase.


"Nih," katanya memberikan sekantong plastik roti pada Sela.


"Ya tuhan, tuan saya hanya bercanda kenapa anda membeli semua rotinya," kata Sela protes.


Cowok itu tertawa renyah melihat wajah Sela yang melihat begitu banyak roti.


"Apa kamu selalu terlihat cantik begini?" tanyanya membuat Sela mengangkat alisnya.

__ADS_1


"Apa tuan bekerja di perusahaan ini?" tanya Sela karena tidak pernah lihat wajahnya.


Cowok tampan itu memandang perusahaan ATF yang menjulang tinggi hingga menutupi taman hingga membuatnya teduh.


"Tidak," jawabnya sambil menatap wajah Sela.


"Lalu?" tanya Sela sambil memakan rotinya tanpa menawari cowok tampan itu.


Cowok tampan itu tersenyum melihat wajah Sela yang menggemaskan saat memenuhi mulutnya dengan roti.


"Hanya sekedar jalan- jalan, mencari udara segar," jawabnya sambil menatap lalu lalang orang bekerja di perusahaan Bara.


"Lantas, kamu sendiri apa kerja di perusahaan ini?" tanya balik cowok tampan itu.


"Tidak," jawab Sela tidak begitu jelas karena roti dalam mulutnya.


"Oh ya nama tuan siapa?" tanya Sela sambil menelan rotinya.


"Kenalin saya Reynald," katanya sambil menjulurkan tangannya.


"Sela," kata Sela ganti memperkenalkan tanpa menyambut uluran tangan Reynald.


Reynald tersenyum manis sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jas hitamnya.


"Apa kamu kenal Bara?" tanya Reynald sambil menatap gedung tinggi di depannya.


"Iya," jawab Sela.


"Apa hubunganmu dengannya?" Sela berhenti mengunyah lalu menatap ke depan.


Reynald menatap Sela dari samping, terlihat sangat cantik.


○○○


"Reno udah 3 hari kita kayak orang gelandangan, Bara kok enggak nyariin kita ya?" tanya Rendy sambil menatap keluar jendela.


"Yang butuh kita kenapa tuan Bara yang nyari," jawab Reno membuat Rendy mengangguk paham.


"Bener juga lo Ren," katanya sambil beralih menatap ke depan.


"Renooo berhentiii," teriak Rendy dengan keras hingga


Citttttt


Dugh


"Awww," teriak Rendy karena kepalanya terbentur dashboard depan.


"Tuan enggak papa?" tanya Reno khawatir karena benturannya terdengar cukup keras jadi Reno takut jika Rendy amnesia nantinya.


"Lo kira gue kepentok di kasur, benjol tau kepala gue," marah Rendy padahal dia yang teriak Reno yang dimarahi.


Orang tampan mah bebas.


"Lagian si tuan teriak- teriak gitu ngapain?" kata Reno sebal dengan sikap Rendy ini.


"Reno lihat deh ada penjual butter tart," kata Rendy seperti anak kecil dan melupakan sakit pada kepalanya.


Rendy langsung turun dari mobil dan menghampiri penjual butter tart yang sekarang jarang sekali ditemui.


"Ya tuhan beritahu saya, sebenarnya dia usia berapa? Rasanya saya sedang mengajak anak TK jalan- jalan," keluh Reno karena sikap Rendy yang seperti anak kecil.


Rendy kembali dengan jalan tergesa- gesa.


"Reno minjem uang lo dong entar gue ganti, bapak butter tartnya gue kasih black card enggak mau, minta yang lembaran," Reno menutup wajahnya malu dengan sikap Rendy.


"Ya tuhan emang penjual keliling mana yang menggunaka kartu saat pembayaran," kata Reno merasa putus asa.


Dengan terpaksa dan menahan kesal, Reno memberikan 5 dolar untuk Rendy.


"Kok cuma 5 dolar sih, gimana kalau 10 dolar ada enggak?" Reno melotot tidak percaya dengan ucapan Rendy.


"Anda ingin membeli penjualnya atau butter tartnya?" tanya Reno kesal dengan Rendy.


10 dolar itu banyak banget, mau dibuat apaan coba.


Kalau sekedar beli butter tart mah 2- 5 dollar cukup.


"Lo kok marah sama gue?" kata Rendy ganti marah pada Reno.


"Tuan ini jadi beli apa enggak?" teriak bapak penjual butter tart pada Rendy.


"Bentar pak masih cairin uang dulu," jawab Rendy setengah berteriak.


"Buruan Ren mana yang 5 dolarnya?" kata Rendy seperti seorang pemalak.


Reno dengan terpaksa merogoh sakunya mengambil uang 5 dolar untuk membeli butter tart kembali.


Rendy langsung berlari kembali menghampiri bapak penjual butter tart untuk mengambil kuenya.


"Ya tuhan saya seperti mempunyai seorang putra berumur 5 tahun," gumam Reno pasrah.


Rendy kembali dengan dua kantong plastik di tangannya dan berlari layaknya anak kecil.


"Ya tuhan, dia bukan cuma beli kuenya bahkan gerobaknya dia beli, kenapa dia beli butter tart sebanyak itu," heran Reno yang melihat Rendy tersenyum girang mendapatkan apa yang dia beli.


Rendy masuk ke dalam mobil dan meletakkan satu kantong plastik di kemudi belakang dan satunya lagi di taruh di pangkuannya.


"Tuan, anda ingin jualan butter tart atau bagaimana? Kenapa banyak sekali?" kata Reno sambil menahan air liurnya saat melihat butter tart yang dimakan Rendy.



"Gue mau makan semuanya, bentar lagi nyampe kantor, jadi sebelum gue diomeli, perut gue harus penuh," katanya sambil menggigit butter tartnya.


Reno yang hendak mencomot satu langsung di pukul tangannya oleh Rendy.


"Lo enggak boleh minta," katanya sambil menatap tajam Reno.


"Ya tuhan mungkin ini ujian menghadapi anak balita," gumam Reno lirih sambil melajukan mobilnya menuju perusahaan Bara.


▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎


Maaf ya semua, kemarin enggak up😁insyaallah hari ini klau bisa up 2 eps buat kalian😚.


Oh ya jangan lupa ya buat like, komen dan kasih hadiah buat Rendy biar bisa ganti uangnya Reno🤣bercanda.


Hadiahnya buat author dong, biar bisa lanjutin cerita gokil mereka.

__ADS_1


Doain ya semoga hari ini bisa up 2 eps, maaf klau nunggu lama🙏🙏


__ADS_2