
□■□■
Bara baru saja selesai menemui dan mengobrol bersama dengan CEO Spanyol.
Ia begitu lelah hingga ingin sekali bertemu dengan Sela.
Dengan langkah cepat ia berjalan menuju ruangannya untuk melihat Sela.
"Bar," panggil Rendy membuat Bara berhenti dan berbalik menatap wajah cengengesan Rendy.
"Gue balik dulu ya," pamit Rendy pada Bara.
"Balik apa ke apartemen Laura?" tebak Bara yang sudah tahu jika saudaranya ini sekarang bucin sekali pada Laura.
Karena itu Bara mendukung, karena apa, dengan begitu pesaing untuk mendapatkan Sela berkurang satu.
"Iya gue mau jenguk dia, tadi siang dia bilang enggak enak badan," kata Rendy membuat Bara tersenyum.
"Ok, kabari gue kalau Laura udah persalinan," kata Bara lalu berjalan menuju ruangannya tanpa melihat ekspresi Rendy saat ini.
"Apa dia bilang, persalinan? Persalinan kucing apa, buat aja belum? Heh," kata Rendy sembari menutup mulutnya karena berkata kasar.
"Jangan Ren jangan, bedosa banget mulutmu ini," kata Rendy lalu dengan semangat 45 nya ia berjalan menuju lift dan buru- buru menuju apartemen Laura.
Sedangkan Bara dengan girangnya masuk ke dalam ruangannya.
Kenapa sepi sekali?
Apa Sela tidur?
Dengan cepat Bara membuka pintu kamarnya.
Kosong.
Bara memeriksa ke kamar mandi, dapur, perpusatakaan dan juga balkon.
Jawabannya sama, kosong juga.
Kemana dia pergi?
Apa Sela pulang ke rumah?
Tapi kenapa tidak memberitahunya?
Bara langsung menelpon ponsel Sela yang kemarin baru saja ia belikan.
Tidak terjawab.
Bara terdiam, kenapa pikirannya sekarang mendadak mengarah pada Walles.
Dengan cepat Bara menyingkirkan pikiran buruknya.
Tidak mungkin, itu tidak akan terjadi.
Bara berusaha tetap tenang dan pergi ke rumah untuk memeriksa Sela.
.
.
.
Sedangkan di apartemen Laura, Rendy terus memencet belnya, tapi tidak ada tanda- tanda Laura akan membukanya.
Apa terjadi sesuatu dengan Laura?
Rendy seketika panik saat hampir 10 menit dirinya di depan pintu Laura dan tidak ada jawabannya.
Rendy juga lupa sandi yang pernah diberikan oleh Laura.
"Duh belum tua aja udah pikun gue, gimana entar pas nikah. Semoga aja gue enggak lupa sama istri gue sendiri nanti," gumam Rendy yang masih bercanda disaat waktu genting begini.
"Kira- kira waktu itu berapa ya nomornya, kok gue mendadak amnesia gini sih," gerutu Rendy sambil berjalan mondar- mandir di depan pintu.
Rendy mengkhawatirkan jika Laura di dalam sana kenapa- napa.
Rendy berusaha kuat untuk mengingat baik- baik password yang pernah Laura berikan.
"Nah gue inget," teriak Rendy kala dia mengingat nomor passwordnya.
Rendy langsung masuk dan memeriksa Laura di dalam kamarnya.
Kosong.
Rendy memeriksa seluruh penjuru kamar dan ruangan Laura.
Dan semuanya kosong.
Kini Rendy sudah sedikit parno, pikirannya melayang entah kemana.
Deg
Rendy melihat secarik kertas di atas nakas, dengan cepat ia mengambilnya.
"Apa maksud dari angka ini?" tanya Rendy yang tak mengerti.
"Arghh kenapa gue bego disaat genting gini sih," teriak Rendy frustasi lalu berlari keluar dari dalam kamar Laura.
Ia akan bertanya pada Bara mungkin dia bisa membantunya.
Dengan kecemasan dan emosi yang begitu kalut Rendy mengendarai mobilnya begitu cepat menuju rumah.
Cittt
Rendy langsung berlari untuk menemui Bara.
Bersamaan dengan itu Bara keluar dari dalam rumah dengan wajah sangat panik.
"Ren Sela hilang,"
"Bar Laura hilang," kata mereka bersamaan membuat Bara mengernyitkan alisnya.
__ADS_1
"Bar lo tahu enggak maksud dari angka ini?" tanya Rendy sembari memberikan secarik kertas itu pada Bara.
Bara mencermati dengan baik setiap angka yang Laura tulis.
"Ini adalah kode. Jika mereka dalam bahaya," kata Bara dengan wajah yang sudah memerah karena ini pasti kelakuan Walles.
"Bahaya? Maksud lo?" tanya Rendy tak paham dengan apa yang dimaksud Bara.
Cittt
Mobil merchedes berhenti tepat di depan rumah Bara.
"Bara," panggil Jessy yang langsung berlari ke arah Bara diikuti Reynald di belakangnya.
"Gawat Bar, Sela dan Laura diculik oleh Walles," kata Jessy dengan mata yang sudah sedikit sembab.
"Apa?" teriak Bara dan Rendy secara bersamaan.
"Bukan hanya itu Dewa pun juga menjadi korban Walles, dan semua terekam jelas di sini," kata Jessy sembari menunjukkan bolpoin hitam yang ternyata adalah bolpoin yang sengaja dulu Bara berikan pada Jessy untuk mengawasi Walles dan Reynald.
Jessy menyalakan tombol kecil yang berada di bolpoin tersebut.
Klik
"Halo, bagaimana apa kalian sudah menyiapkan semua senjata saya?
"besok pukul 8 malam kita akan beraksi, selanjutnya akan saya kabari persiapan lainnya," Jessy mematikan rekaman tersebut.
"Ini semua gara- gara lo tahu enggak," kata Bara sembari menghampiri Reynald dan memukul tepat di rahangnya.
Bugh
"Apa salah gue bangsat," teriak Reynald tak terima saat Bara memukulnya tanpa alasan.
"Gue sudah peringati lo berkali- kali, kalau Walles adalah buronan Amerika yang kabur beberapa tahun yang lalu, tapi apa lo malah bergaul dengannya," bentak Bara dengan emosi yang sudah sulit dikendalikan.
"Terus lo nyalahin gue atas kejadian ini semua?" tanya balik Reynald kini dengan nada yang sangat tinggi.
"Udah- udah kenapa kalian malah berantem, sekarang buruan kita pergi ke kantor polisi sebelum kita tertinggal jejak Walles," kata Jessy melerai mereka untuk berhenti bertengkar.
"Kenapa harus ke kantor polisi? Itu akan memperparah keadaan," tanya Reynald yang belum mengerti.
"Nanti kamu juga akan tahu," kata Jessy dan mereka semua langsung bergegas pergi ke rumah Peter untuk melihat kemana Walles akan membawa mereka pergi.
○●○●
Sela memutuskan untuk kembali ke kantor Bara dengan menaiki taksi malam.
Semoga saja Bara tidak tahu tentang dirinya yang akan menjemput Sandra dan Dewa.
Sela berjalan menuju parkiran sekilas ia melihat jam tangannya.
Pukul 07.45 GMT- 5
Semoga saja Bara masih berada di kantor dan belum menyadari jika Sela baru saja dari bandara.
Entah kenapa hari ini begitu menyebalkan.
Ponsel yang tiba- tiba saja mati lalu penerbangan dari London ditunda dan lebih parahnya lagi tidak ada tiket sama sekali.
Sela melihat sekeliling sembari mencari mobil Bara.
Kenapa tinggal beberapa mobil.
Apa Bara sudah pulang dulu.
Cittt
Sela berbalik lalu beberapa orang berbaju hitam turun dari mobil.
Perasaan Sela sudah tidak enak.
Dengan sekuat tenaga Sela berlari untuk sampai ke lantai 1.
Tapi siapa sangka jika parkiran ini begitu luas dan terlebih cahaya begitu redup.
Happ
"Aahhhh," teriak Sela saat tubuhnya diangkat begitu saja oleh orang- orang berbaju hitam ini.
"Diem," bentak mereka saat berhasil memasukkan Sela ke dalam mobil.
"Lepasin, siapa kalian?" teriak Sela pada mereka yang bertopeng.
"Halo cantik," sapa Walles sambil melambaikan tangan. Sela melotot tak percaya jika Walles yang menculiknya.
Mereka mengikat tangan Sela dengan sangat kencang agar tidak bisa melarikan diri.
"Apa yang kamu inginkan?" bentak Sela pada Walles dengan sangat keras.
Walles tertawa pelan lalu menyalakan ponselnya.
Terlihat Walles sedang melakukan vidio call pada seseorang.
"Halo tuan,"
"Mana Laura," tanya Walles seketika ponsel langsung mengarah pada wajah Laura.
"Selaa," teriak Laura dengan air mata yang sudah membanjiri pipi cantiknya.
Sela melebarkan kedua matanya tak percaya saat melihat kondisi Laura.
Kedua tangan yang diikat dan rambut yang acak- acakan dan yang lebih parah lagi, Laura mengenakan jaket yang dilengkapi bom aktif.
"Tuan apa yang anda lakukan dengan putri anda sendiri" Walles semakin tertawa mendengar pertanyaan Sela.
"Dia bukan putriku, hanya anak tiri. Lagian selain dia enggak becus buat jadi penerus ku, dia selalu membuat keonaran terlebih setelah mengenalmu," kata Walles kini beralih dengan nada serius.
"Apa kau kira aku tidak tahu jika Laura telah menyalin semua file tentang kejahatanku? Aku tahu cantik," Sela melebarkan matanya saat Walles mengetahui rencananya.
"Jadi, menurutlah dan temani kawanmu di sana sampai Bara datang untuk menjemputmu, jadi diam dan menurutlah," kata Walles pada Sela sambil menepuk pelan kepala Sela.
"Dasar ayah brengsek," kata Sela pada Walles.
__ADS_1
Plak
"Selaaa," teriak Laura saat Walles menampar dengan keras pipi Sela.
"Jaga ucapanmu sebelum aku membunuhmu di sini," ancam Walles pada Sela. Sela melirik Walles dengan kilatan mata yang sangat tajam.
"Percayalah, kau akan menyesal telah melakukan ini semua..,"
Plak
"Selaaa, udah Sel cukup, jangan bantah perkataannya, turuti saja perintahnya," teriak Laura yang masih bisa mendengar obrolan papanya dan Sela yang sedang bertengkar.
Walles mematikan sambungan teleponnya lalu memerintahkan anak buahnya menuju gedung tua kontruksi sesuai rencananya.
.
.
.
Sedangkan di lain tempat, Bara dan lainnya sedang berada di kantor polisi untuk meminta bantuan mereka.
Bahkan Bara meminta agar pihak polisi mengerahkan segala kantor polisi yang ada di negara Kanada untuk mau membantunya.
Dan benar saja, mereka mau membantu Bara dengan cara memantau mobil Walles dari rekaman cctv area lalu lintas.
Di mana mereka semua bisa melihat rekaman cctv lalu lintas.
"Pak buruan cari mobil Walles sebelum dia melukai mereka berdua," kata Bara yang terus mendesak polisi itu untuk mencarinya.
"Sabar tuan, saya sedang mencari jaringannya," kata polisi itu sembari melihat rekaman cctv di jalan raya yang terekam.
"Kalian semua, lihatlah pada layar dengan jeli untuk menemukan mobil Walles," perintah polisi mengintruksi pada anggotanya untuk melihat monitor.
Bara dan lainnya juga ikut menatap layar untuk melihat kemana Walles membawa pergi Laura dan Sela.
"Perhatian area lalu lintas, audi hitam dengan mobil selundupan plat nomor V6443- 3099 tempat terakhirnya berada di kantor ATF Aldebaran jalan Bungsan Tronto dan mereka kabur ke jalan raya setelah 10 menit berada di kantor ATF," lapor salah satu anggota saat memeriksa rekaman cctv.
Bara melebarkan kedua matanya, jadi mereka menculik Sela saat masih berada di kantornya.
Astaga Bara bagaimana bisa kamu lalai dalam mengawasi Sela.
Belum lagi Bradsiton sedang berada di Jerman, lalu bagaimana caranya Bara bicara nanti.
Di bahkan juga sudah berjanji pada Robert untuk mengawasi dan menjaga Sela.
"Bar tenangin diri lo dulu, kita lihat dulu mereka membawa Sela kemana?" kata Jessy mencoba menenangkan Bara yang terlihat sudah panik dan bingung.
"Semuanya harus memperhatikan dengan seksama," intruksi kepala keamanan pada seluruh anggotanya.
"Kantor polisi Tronto, tolong periksa situasi lalu lintas di jalan raya," intruksi kepala keamanan pada kantor polisi Tronto.
"Departemen pengaduan mewakili departemen kepolisian dari ruang pemantauan ada mobil berhenti secara ilegal di kantor ATF pukul 07.45 , 5 pria keluar dari mobil merchedes dengan plat 5LAN051 berbaju hitam," lapor dari departemen pengaduan pada departemen kepolisian.
"Kalian semua fokuskan pada mobil merchedes dengan plat 5LAN051, abaikan dua mobil yang mereka gunakan untuk mengecoh kita," intruksi kepala keamanan sedikit berteriak agar mereka mendengar dengan jelas.
"Ketua mengatur posisi berhasil," teriak salah satu anggota membuat Bara dan lainnya langsung menghampiri untuk melihatnya.
"Mobil merchedes dengan plat 5LAN051 berada di gedung kontruksi tua," namun kepala keamanan berhenti berbicara saat 3 pria keluar dari mobil tanpa korban yang mereka bawa.
"Tidak tepat sasaran, mereka telah mengalihkan perhatian kita, cepat periksa lagi mobil dengan plat 5LAN051," kata kepala keamanan pada anggotanya.
"Maaf tuan Bara kita akan berusaha dengan keras untuk membantu anda," kata kepala keamanan pada Bara agar dia bisa sedikit tenang.
"Bar tenangin diri lo dulu..,"
"Gimana gue tenang kalau Sela dalam bahaya," bentak Bara pada Jessy membuat Reynald maju mendekati Bara.
"Biasa aja enggak usah bentak cewek gue," kata Reynald emosi saat tahu Jessy dibentak oleh Bara.
Jessy menarik Reynald agar tidak memancing emosi Bara.
Rendy menarik Bara untuk sedikit menjauh dari Reynald.
Tom & jerry seperti mereka tidak bisa disatukan seperti ini jadi harus ada jarak.
"Ketua mengatur posisi berhasil," teriak salah satu anggota membuat Bara dan lainnya berlarian untuk melihat.
"Lapor merchedes dengan plat 5LAN051 telah ditemukan, mereka berada di jalur lalu lintas menuju Gwancheong dengan korban bersama mereka,"
Seketika semua langsung beralih pada rekaman cctv di jalan raya Gwancheong.
"Saya memeriksa riwayat Walles jika hari ini dia baru saja bertemu Robert di hotel VIP dekat perusahaan Reynald," lapor salah satu anggota.
"Apa? Robert?" kata Bara tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
Tidak mungkin kan jika Robert berkhianat padanya dan membantu Walles.
□■□■
Sedangkan di negara Jerman ada Bradsiton dan Pram yang sedang duduk manis bersantai di dekat kolam renang sembari menyeduh kopi panas.
"Tuan Pram, ternyata benar dugaan kita selama ini, jika Walles adalah Felix, buronan Amerika yang kabur beberapa tahun lalu," Pram nampak tidak terkejut sama sekali.
"Bagaimana anda yakin jika itu Felix?" tanya Pram dengan ekspresi yang tidak berubah.
"Saya dan Robert yang merupakan petugas agen FBI menyelidiki data Walles dimana itu semua berkaitan kuat dengan data- data Felix. Setelah kabur dari tahanan dan membunuh istrinya, ia terbang ke Kanada dengan bantuan teman mafianya, Jack,"
"Setelah itu Felix memutuskan untuk mengoperasi wajahnya dan hingga kini Walles adalah Felix yang kita cari selama ini. Dia mengubah semua status dengan yang baru dan menikahi janda beranak satu lalu menetap di Tronto,"
"Demi keamanannya, setelah operasi malamnya Felix membakar rumah sakit itu bersama kawanannya agar tidak meninggalkan jejak sedikitpun," jelas Bradsiton pada Pram.
Pram hanya menganggukkan kepalanya paham.
"Lalu selang beberapa tahun ia merangang perusahaannya sendiri. Lalu merambat ikut kerjasama dengan putraku, tapi itu tidak berselang lama saat Bara mengetahui jika Walles juga bekerja sama dengan Reynald,"
"Setelah putus kontrak dengan putraku, Walles fokus bekerja bersama Reynald, tapi kejahatannya tidak sampai di situ, ia juga mengubah perusahaan yang ada di Jerman atas nama dirinya,"
"Menggelapkan uang perusahaan Reynald lalu juga menyelundupkan beberapa senjata terlarang dari Italia dengan bantuan Jack," kata Bradsiton panjang lebar menjelaskan pada Pram.
Keduanya lalu diam, mereka saling memikirkan solusi untuk masalah ini.
__ADS_1
"Lalu bagaimana?" tanya Pram sambil menatap Bradsiton.