Sekretaris Canduku

Sekretaris Canduku
Penembakan 2


__ADS_3

□■□■


Bara mengajak Rendy dan lainnya ke rumah untuk membawa senjata.


Barangkali nanti di sana Walles bertindak lebih membahayakan setidaknya Bara dan lainnya mempunyai senjata untuk bisa melawan mereka.


"Gimana kalian udah ambil senjatanya?" tanya Bara pada Rendy dan Reynald dan ada juga Reno.


"Sudah," jawab mereka serempak. Semua Bara minta untuk memakai anti peluru di dalam baju dan luar, hal itu untuk mengantisipasi jika Walles melakukan serangan.



Karena Walles yang merupakan Felix itu sendiri, mantan dari seorang mafia dan sekarang berubah menjadi seorang psikopat buronan.


"Jes lebih baik lo di rumah aja," kata Bara pada Jessy.


"Iya Jes itu akan bahaya buat lo," kata Reno sembari memasang anti pelurunya.


Reynald yang selesai memasang anti peluru dan membawa senjatanya beralih menatap Jessy.


"Kamu di rumah aja ya, biar aku sama yang lain yang selamatin mereka," kata Reynald sembari menangkup kedua pipi Jessy.


"Kamu harus hati- hati ya dan kamu harus janji kalau kamu dan Bara bisa bekerja sama," kata Jessy sembari melirik sekilas Bara.


Seakan berat untuk menjawabnya, Reynald hanya menganggukkan kepalanya.


Reynald mencium kening Jessy sangat lama lalu menatap Bara.


"Untuk hari ini kita lupain semuanya, kita kerja tim," kata Reynald membuat Rendy dan Reno tersenyum lalu diikuti Bara.


"Baik sekarang kita berangkat," pamit Bara pada Jessy.


Bara langsung menuju mobilnya diikuti yang lainnya.


Jessy menatap kepergian mereka seakan begitu berat untuk membiarkan mereka mengatasi kejahatan Walles.


Karena Walles bukanlah seorang manusia biasa melainkan monster yang sangat bengis.


Sekarang giliran Jessy yang akan bertindak sesuai rencana.


.


.


.


Bara melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata- rata mungkin 105 km/ jam.


"Bar gue tahu lo sayang tuhan, tapi lo jangan ngajak mati gue entar yang ada bukannya nyelamatin Sela sama Laura malah kecelakaan di jalan," kata Rendy mencoba untuk mencairkan suasana dalam mobil yang sangat menegangkan.


"Diem lo, nyawa mereka dalam bahaya," kata Bara dengan dinginnya. Reynald yang tadinya cuek bebek diam- diam tersenyum samar.


"Nyawa gue juga dalam bahaya lo ajak ngeprank malaikat gini," balas Rendy yang selalu suka mencari keributan dengan Bara.


"Pegangan yang kuat," intruksi Bara saat ia menambah kecepatan mobilnya. Seketika semua berpegangan sangat erat.


"Wah gila, sebelum perang jantung gue udah diajak uji andrenalin aja," gumam Rendy sambil memejamkan kedua matanya takut.


10 menit mereka telah sampai di lokasi, yaitu di gedung tua kontruksi yang dulu pernah kebakaran.



Mereka turun dari mobil, terlihat di ujung gedung ada mobil yang dibuat untuk menculik Sela.


"Bar apa enggak sebaiknya kita panggil polisi aja, siapa tahu kita butuh bantuan mereka?" tanya Reynald saat melihat gedung tua di depan mereka.


"Jangan itu akan beresiko besar, kalau bisa kita aja yang lawan mereka, dan semoga saja nanti ada bantuan yang datang meski itu terasa sangat mustahil," kata Bara di akhir kalimatnya dengan pelan.


Karena apa Bara menghubungi ponsel papanya dan entah kenapa tidak biasanya ponsel papanya mati.


Bara juga mencoba untuk menelpon Robert tapi tidak ada jawaban sama sekali.


"Gue yakin kalau Walles bakal pasang dua sniper buat ngancem kita, jadi gue minta Rendy sama Reno, kalian cari dua sniper itu mungkin mereka akan bertempat di ujung balkon gedung atau di sisi kanan dan kiri balkon," kata Bara pada Rendy dan Reno.


"Ok Bar kita bakal cari, terus gimana sama kalian berdua? Apa kalian bisa ngatasi anak buah Walles?" tanya Rendy yang sedikit was- was karena apa mereka hanya sedikit sedangkan anak buah Walles bejimbun.


Bara hanya tersenyum menanggapi ucapan Rendy hingga


Cittt


Cittt


Cittt


Citt


Antara 5- 7 mobil warna hitam yang merupakan mobil para bodyguard datang menyusul Bara.


"Biarkan mereka masuk terlebih dahulu untuk memberi kita jalan menuju balkon," kata Bara pada Reynald dan Rendy.


Tanpa aba- aba pun, bodyguard Bara yang begitu banyak turun dari mobil dan langsung menyerbu masuk ke dalam dengan diam- diam untuk memberikan jalan Bara menuju balkon.


"Bar bodyguard lo banyak kenapa enggak sekalian minta bantuan mereka buat nyerang Walles?" tanya Reynald yang tak paham- paham.


"Lo harus inget 3 tahanan berada dalam tangan Walles, dua sniper di atas akan siapa buat ledakin kepala lo, jadi jangan buat Walles akan bertindak nekat," kata Bara memberi penjelasan pada Reynald.


Plok


Bara menoleh salah satu bodyguard memberi isyarat untuk masuk, itu tandanya sudah aman.


"Kalian siap?" tanya Bara pada mereka bertiga. Ketiganya mengangguk lalu masuk ke dalam gedung tua itu.


"Ya tuhan serasa mau perang militer gue," gumam Rendy lirih yang berjalan di belakang Reno.


Bara memberi isyarat agar berpisah, jika dia akan ke atas balkon dan Rendy juga Reno mencari keberadaan dua sniper itu.


Bara dan Reynald langsung berlari menuju atas balkon kala mendengar suara tawa dari Walles.

__ADS_1


"Tunggu ya penyelamat kalian akan datang sebentar lagi," ejek Walles sembari berjalan di depan mereka bertiga.


"Walles," teriak Bara saat sampai di atas balkon.


Plok plok plok


"Sang pahlawan sudah datang, lihatlah 3 mainanku ini," kata Walles sembari menunjuk Sela, Laura dan juga Dewa.


Bara melebarkan kedua matanya saat Sela memakai rompi yang dilengkapi dengan bom aktif begitu juga Laura.


Bara melihat Laura dengan mata yang sudah sembab, Sela dengan sudut bibir yang sudah berdarah mengering dan Dewa yang dipasangi alat setrum di tubuhnya.


"Keparat lo Walles," teriak Reynald emosi saat melihat adiknya memakai rompi yang terdapat banyak kabel untuk menyetrumnya.


Bara menahan bahu Reynald saat ingin maju melawan Walles.


"Tenangin diri lo, jangan buat mereka dalam bahaya," kata Bara kembali mengingatkan pada Reynald.


"Hahahaha kenapa kalian terlihat tidak begitu berdaya. Ok sebentar, akan ku buka lakban mereka agar kalian bisa mendengar suara rintih kesakitan mereka," kata Walles lalu melepaskan dengan kasar lakban di mulut mereka bertiga.


"Brengsek," teriak Sela pada Walles saat lakbannya dibuka. Walles hanya tersenyum tipis.


Plak


"Walles," teriak Bara saat melihat Walles menampar pipi mulus Sela.


Walles semakin tersenyum lebar melihat Bara dengan itu ia semakin menggodanya.


Walles menarik rambut Sela dengan kuat hingga mendongak ke atas.


"Bagaimana, apa kamu tidak kasian dengan wanitamu?" tanya Walles pada Bara.


"Shit. Keparat kau Walles," umpat Bara begitu emosi saat melihat Walles dengan semena- mena menghajar Sela.


"Sudah Sela jangan melawannya atau dia akan semakin menyakitimu," kata Laura yang berada di samping Sela merasa iba karena pipi Sela yang sudah memar dan kemerahan.


Plak


"Diam kamu, anak pungut sepertimu tidak pantas ikut campur urusanku," Walles tanpa segan menampar Laura yang merupakan anak tiri Walles.


Bara dan Reynald tidak bisa melakukan apapun selain diam di tempat dan menahan diri untuk tidak membunuh Walles.


"Lepaskan tangan kotormu dari Sela dan apa maumu," kata Bara membuat Walles tersenyum.


"Tidak ada hanya bersenang- senang saja," jawab Walles dengan santainya membuat Bara lagi dan lagi menggeram kesal.


Sedangkan di sisi balkon sebelah kanan Reno dan Rendy telah menemukan dua sniper yang berjaga.


Rendy dan Reno mengikat kedua orang itul lalu menggantikannya.


Rendy bisa melihat Laura yang mengenakan ransel di lengkapi bom aktif.


Rasa ingin menghajar Walles begitu membludak dalam diri Rendy.


"Rendy tahan diri lo," kata Reno memperingati Rendy saat tatapannya tak lepas dari Walles.


"Tahan diri lo jangan sampai terpancing sama ucapan Walles,"


"Lo ngomong apaan sih, kayak baca mantra aja komat- kamit gitu,"


"Astaga cuman berjarak 1 meter aja dia enggak denger, apalagi pas naik motor,"


"Reno lo harus fokus, oke,"


"Sedari tadi gue juga ngomong itu tolol. Andai aja lo tentara, udah mati ketembak duluan lo pasti," gerutu Reno dengan sikap Rendy yang selalu bolot.


Bara berjalan satu langkah membuat Walles tersenyum miring.


Prok prok prok


Seketika anak buahnya mengepung Bara dan Reynald.


"Sial," umpat Bara saat anak buah Walles mengepung mereka dengan jumlah yang begitu banyak.


"Walles jangan mengulur waktu lagi, apa yang lo mau?" tanya Bara yang sudah tidak tahan dengan semua permainan Walles.


"Jangan coba- coba bergerak, lihatlah ke atas, dua sniperku siap menembakmu, dan lihat anak buahku yang begitu banyak, lalu," Walles tidak melanjutkan ucapannya.


"Kemarilah kalian," kata Walles sembari melambaikan tangan.


Gabriela dan Jenifer.


Seketika mereka terkejut dengan kedatangan dua orang ini.


Tapi yang lebih mengejutkan lagi adalah Jenifer yang bersama Walles dan Gabriela.


"Jenifer, apa yang kamu lakukan?" tanya Sela tak percaya.


Jenifer tersenyum manis lalu berjalan menghampiri Sela.


"Kenapa kamu kaget dengan kejutan ini?" tanya Jenifer sembari membelai pipi Sela dengan pistol yang ia pegang.


"Jenifer, jauhkan tanganmu dari Sela," teriak Bara membuat Gabriela tersenyum senang saat melihat Bara yang terlihat tersiksa.


"Kau tahu akulah yang telah membunuh ibumu," seakan petir menyambar diri Sela dan dunia seakan runtuh begitu saja.


"Psikopat," teriak Sela tepat di depan wajah Jenifer.


Plak


Jenifer tanpa segan menampar wajah cantik Sela. Laura yang berada di samping Sela merasa tidak berdaya dan hanya menangis.


"Keparat kalian semua," teriak Bara yang hendak maju menghampiri Jenifer namun seketika semua anak buah Walles menangkap Bara dan Reynald.


Kini Bara dan Reynald tidak berdaya untuk menolong mereka.


Harapan mereka kini tinggal Rendy dan Reno.

__ADS_1


"Jangan berteriak di depanku, kamu tahu," kata Jenifer sambil mencengkeram kuat pipi Sela.


"Untung Sandra jauh darimu, jika tidak mungkin dia akan menjadi psikopat sepertimu," kata Dewa sambil menatap tajam Jenifer.


Jenifer hanya tertawa lalu menekan tombol setrum di tubuh Dewa hingga ia berteriak kesakitan.


"Arghhhh," teriak Dewa saat tubuhnya disetrum. Reynald yang melihat itu ingin sekali menendang muka Jenifer.


"Jangan bandingkan aku dengan gadismu, kau tahu," kata Jenifer dengan mata yang penuh kebencian.


Dewa terlihat sedikit lemah karena setrum yang ada pada tubuhnya.


Gabriela mengeluarkan pistol dari jaketnya lalu pisau yang selalu menjadi andalannya.


"Sepertinya akan sangat menyenangkan saat aku bisa bermain- main dengan gadismu," kata Gabriela memancing emosi Bara, tapi Bara berusaha dengan kuat untuk tidak melihat Gabriela.


"Aku sudah mendapatkan barang yang ku mau kini tinggal bermain- main dengan milikmu," kata Walles sembari mengangkat chips yang ia ambil dari Sela dan Dewa.


*Wush


Wush


Wush*


Seketika semua orang menatap ke atas dimana ada 2 helikopter.


Bradsiton dan Pram.


"Papa," gumam Bara dengan mata berbinar saat melihat ada bantuan dan harapan untuk bisa menyelamatkan Sela.


"Kakek," gumam Reynald saat melihat kakeknya dan Bradsiton yang membuka pintu helikopter dan terlihat mereka berdiri menatap ke bawah.


"Walles lepaskan mereka dan menyerahlah sebelum kau akan menyesal," teriak Bradsiton menggunakan speaker.


"Tidak semudah itu Bradsiton," jawab Walles sembari menarik Sela untuk lebih dekat dengannya.


Sedangkan Jenifer dan Gabriela masing- masing berjaga pada Laura dan Dewa.


"Walles jangan berbuat nekat," teriak Bradsiton menggunakan speakernya.


"Kau tahu saat aku menjatuhkan menantumu, bom ini akan meledak," kata Walles membuat mata Bara melotot tak percaya.


"Jadi jangan berani- beraninya kalian mendekatiku," kata Walles mengancam Bradsiton dan Pram karena Walles tahu pengawal mereka bukanlah orang sembarangan melainkan agen FBI.


Sedangkan di tempat lain ada dua tentara yang datang entah dari mana bertukar posisi dengan Rendy dan Reno.



"Pergilah dan selamatkan kawan kalian, saya yang akan menggantikannya bersama rekan saya," kata orang berbaju hitam dan menyeramkan itu.


Melihat Rendy dan Reno seperti tak percaya, mereka langsung mengeluarkan kartu identitas FBI.


Dengan cepat Rendy dan Reno pergi meninggalkan dua snipernya dan berniat untuk meminta bantuan para bodyguard.


Kini sniper diambil oleh dua agen FBI yang telah diperintahkan oleh Robert.


"Lapor komandan, prajurit 090 area sisi balkon sudah berada dalam posisi," lapor mereka pada Robert menggunakan HT.


Sela mendongak ke atas untuk melihat Bradsiton.


"Walles hentikan perbuatanmu sebelum aku bertindak," ancam Bradsiton yang geram dengan Walles karena terus mendorong Sela ke tepi balkon.


"Tidak semudah itu, memang aku sudah mendapatkan barangku tapi aku akan bermain- main dengan milik putramu," kata Walles sembari menodongkan pistol pada kepala Sela.


"Keparat kau Walles, hentikan semua permainan ini atau aku akan membunuhmu," teriak Bara dengan sangat keras membuat Walles tertawa keras.


"Kau saja tak berdaya untuk menyelamatkan gadismu lalu bagaimana kau akan membunuhku?" tanya Walles mengejek Bara.


Walles hendak menekan tombol aktif pada ransel Sela dimana itu mengaktifkan bomnya.


"Walles kumohon jangan lakukan itu, kumohon, aku akan melakukan semua perintahmu," teriak Bara saat Walles hendak menekan tombol pada ransel Sela.


"Oh ya?" tanya Walles yang langsung diangguki oleh Bara.


Klik


"Sayangnya terlambat," kata Walles saat tombol aktif itu ditekan dan waktu pun berjalan dimulai 60 detik.


"Brengsek kau Walles," teriak Bara saat ingin berlari menghampiri Sela namun anak buahnya menahan Bara.


"Sela kau ingat nak, bagaimana papa mengajarimu menjinakkan bom kala di London?" teriak Bradsiton yang sudah sangat takut saat waktu sudah berjalan.


20 detik lagi.


Sela mendongak ke atas berusaha untuk menyakinkan pada Bradsiton jika semua akan baik- baik saja.


Seakan tersadar jika tangan Sela masih diikat kuat oleh Walles jadi tidak ada cara lain selain pasrah untuk bisa menghindari bom ini.


"Walles kumohon biarkan aku memeluknya agar dia tidak ketakutan," kata Bara dengan nada memohon.


Gabriela dan Jenifer yang mendengar hal itu seakan tertawa melihat usaha Bara yang sangat lemah.


Dan juga payah.


Waktu tinggal sedikit dan Walles menghitungnya mundur.


3


2


1


Walles mendorong Sela dari balkon dengan senyum yang lebar.


"Selaaaaaaa,"


Daarrrrrrrrr

__ADS_1


__ADS_2