Sekretaris Canduku

Sekretaris Canduku
Mamud Ngidam


__ADS_3

《♡♡♡》


Pesta sudah berakhir sejak tadi.


Papa dan mama juga sudah kembali ke Kanada untuk merayakan kabar gembira ini.


Dan kini tinggal Bara dan Sela yang masih duduk manis di belakang rumah.


Bara tidur di pangkuan Sela dengan tangan yang tak hentinya mengusap perut Sela.


"Sayang apa kamu tahu, betapa bahagianya aku mendapat hadiah diusiaku ini, bahkan aku tidak akan melupakan hadiah istimewa ini," kata Bara membuat Sela membelai rambut Bara.


"Tadinya kak Dea dan Laura yang memaksa untuk memeriksanya, sedangkan aku takut jika hasilnya negatif," kata Sela sambil menatap ke depan.


"Mungkin aku tidak bisa memberikan hadiah ini di hari ulang tahunmu.Tapi ternyata Tuhan memberkati, hadiah ini sudah direncanakan untukmu," Bara menatap wajah Sela yang tersenyum ke arahnya.


"Apa kau tahu, di luaran sana banyak sekali laki- laki yang berlomba untuk bisa mendapatkanmu, tapi takdir mengatakan jika hanya satu orang yang berhak memilikinya,"


"Dan itu aku," Sela tersipu malu mendengar ucapan Bara.


Bara lalu bangun dari baringnya dan meraih Sela dalam pelukannya.


"Jika orang lain mengatakan kamu sudah menjadi ratu karena di tangan laki- laki yang tepat, itu salah,"


"Seharusnya mereka mengatakan jika aku sudah menjadi seorang raja paling tinggi setelah mendapatkanmu," Sela hanya tersenyum mendengar ucapan Bara.


"Ayo masuk aku ngantuk," rengek Sela manja membuat Bara merasa gemas dan mencium pipi tirusnya.


"Ayo istriku tersayang kita tidur," kata Bara yang langsung membopong Sela ke dalam rumah.


Mereka tidak tahu jika ada seseorang yang sejak tadi berdiri di dekat jendela melihat kebahagiaan Bara.


"Gue enggak pernah lihat lo sebahagia ini, semoga lo selalu bahagia," gumam Rendy lalu menutup gordennya untuk beranjak tidur.


.


.


.


Tit tit tit


Bara meraba ke atas nakas untuk mematikan alarmnya.


Ia meraba king size sampingnya.


Kosong?


Seketika Bara langsung bangun dan melihat sekeliling kamar.


Kemana Sela pergi?


Ceklek


Terlihat Sela mengenakan jubah mandi itu berarti dia baru saja mandi pagi.


"Sayang," teriak Bara membuat Sela sedikit berjengkit karena terkejut.


Bara langsung membopong Sela dan membawanya ke king size.


"Kenapa sih? Aku mau make up nih," kata Sela kesal saat Bara membawanya ke king size dan memangkunya.


"Kamu kalau mau mandi bangunin aku dulu, nanti kalau kamu kenapa- napa gimana? Apa susahnya sih tinggal bangunin aja," marah Bara sambil memegang erat pinggang Sela.


"Ya masak kamu mau nemenin aku mandi, lagian juga aku bisa jaga diri," sangkal Sela.


"Mulai besok pokok mau mandi, naik lift, naik mobil kamu harus sama aku," kata Bara tak terbantahkan membuat Sela mengerucutkan bibirnya.


"Sayang itu demi kebaikan kamu, aku gak pengin kamu kenapa- napa, jadi,"


"Nurut ya?" kata Bara membujuk agar Sela mau di dampingi Bara seenggaknya 24 jam kalau bisa.


"Tapi ada syaratnya?" Bara menatap wajah cantik Sela yang baru saja mandi sambil menganggukkan kepalanya.


"Aku pengin hari ini jalan- jalan," Bara tersenyum lalu mencium sekilas bibir Sela.


"Mau jalan- jalan kemana? Italia, London, Korea, atau mau shopping?" Sela menggelengkan kepalanya.


Sela mengalungkan kedua tangannya di leher Bara, itu tandanya ia sedang merayu.


"Aku pengin jalan- jalan di sekitaran sini aja tapi," Sela menatap Bara yang terlihat sangat penasaran.


"Sama papa Reno juga Rendy," Bara langsung memasang wajah asamnya saat Sela menyebutkan tiga laki- laki yang menjadi saingannya itu.


"Sayang kenapa harus ngajak mereka, kita kan bisa jalan- jalan berdua," tolak Bara membuat Sela tidak kehabisan akal.


Ia mengulum bibir Bara sebentar lalu kembali memohon.


"Plis boleh ya jalan- jalan sama mereka, yang minta kan bukan aku tapi ini," kata Sela dengan gemasnya sembari menunjuk perutnya yang masih datar karena baru 2 bulan.


"Iya boleh," seketika Sela langsung memeluk erat Bara.


"Tapi cium dulu," kata Bara membuat Sela langsung ******* bibir seksi Bara.


Tapi Bara dengan jahilnya membuka ikat jubah mandi Sela dan mengusap perut datarnya.


Bugh


"Kebiasaan dehh," kata Sela kesal membuat Bara tertawa lalu kembali mengikat jubah mandinya.


"Buruan telpon papa, aku mau ganti baju dulu," kata Sela turun dari pangkuan Bara dan menuju walk in closet.


"Jangan pakai baju yang aneh- aneh," teriak Bara mengingatkan agar Sela memakai baju yang sedikit longgar.


Bara langsung menelpon papanya sesuai permintaan istrinya.


"Halo pa,"


"Apa?"


"Kemarilah, cucumu ingin jalan- jalan bersamamu,"


"Benarkah? Ok 10 menit lagi papa datang,"


Tit


Panggilan berakhir.


"Aisss pak tua ini kenapa begitu bersemangat sekali," gumam Bara sambil menatap ponselnya.


"Sayang udah selesai?" tanya Sela yang sudah siap dan rapi.


"Udah. Sini peluk dulu," kata Bara sambil merentangkan kedua tangannya.

__ADS_1


Sela sedikit berlari lalu memeluk erat Bara.


"Udah sana mandi dulu, aku siapin sarapannya," kata Sela setelah mencium pipi kiri Bara.


"Jangan sampai turun tangga atau naik lift tanpa aku," teriak keras Bara saat Sela sudah keluar kamar.


Selang beberapa menit Sela dan Bara sudah selesai sarapan.


Rendy dan Reno juga sudah selesai.


Kini tinggal menunggu Bradsiton datang.


"Bara kamu sudah telpon papa beneran kan?" tanya Sela dengan nada kesal.


"Iya sudah sayang, mungkin papa lagi nunggu mama," kata Bara sambil mengusap puncak kepala Sela.


"Papa datang," teriak Bradsiton dari balkon membuat semua orang menoleh.


"Yeayy papa dateng, loh mama mana?" tanya Sela saat tidak melihat Rose datang bersama Bradsiton.


"Mamamu ada urusan sayang, mungkin nanti akan nyusul," kata Bradsiton yang memeluk erat menantunya.


"Udah- udah jangan peluk mulu," kata Bara menjauhkan Sela dari papanya.


"Ayo pa berangkat sekarang," ajak Sela yang langsung menggandeng tangan Bradsiton dan turun ke lantai bawah.


"Sabar bro, saingan lo bukan cuma gue, tapi papa juga," ejek Rendy sambil menepuk bahu Bara.


"Gue juga masih jadi saingan lo," tambah Reno membuat Bara harus banyak- banyak bersabar.


.


.


.


.



Di sinilah mereka sekarang.


Krustyland


"Sayang kita ngapain kesini?" tanya Bradsiton saat mereka telah sampai di tempat.


"Nanti papa juga tahu, ayo masuk," kata Sela yang langsung menarik Bradsiton masuk ke dalam.


"Sebenarnya suaminya gue atau papa?" gumam Bara yang langsung mengikuti Sela dan papanya.


"Ren perasaan gue kok enggak enak ya?" kata Rendy saat menatap pintu masuk.


"Mana itu wajahnya tengil banget lagi," kata Rendy mengomentari boneka yang jadi pintu masuknya.


"Kita enggak boleh ketipu sama covernya yang unyu- unyu gini, siapa tahu dalemnya macan, ya kan?" kata Rendy mengingatkan pada Reno.


"Kok gue ngerasa de javu ya Ren," kata Reno sambil menggaruk tengkuknya.


"Semoga aja kejadian 3 tahun lalu enggak keulang lagi," gumamnya lalu mereka berdua masuk dengan hati yang getar- getir.


Dan kalian tahu gimana reaksi adik kakak ini?


"Nah kan nah, apa gue bilang," kata Rendy saat melihat roll coaster dan wahana ekstrim lainnya.


"Reno sebelum Sela lihat kita, ayo kita balik kanan," kata Rendy yang langsung menarik Reno untuk balik keluar.


"Rendy Reno kalian mau kemana?" teriak Sela saat melihat mereka berdua berbalik.


"Sel kayaknya kit aww," teriak Rendy kesakitan saat Bara mencubit lengannya.


"Kenapa? Kalian enggak mau?" tanya Sela yang sudah berubah menjadi sendu.


"Rendy Reno papa minta tolong, kalian ikut main ya? Kasian kakak ipar kalian lagi pengin main," kata Bradsiton memohon pada kedua putranya itu.


"Iya pa," jawab mereka berdua dengan nada pasrah.


Sela dan Bradsiton membeli tiket untuk masuk.


"Ya tuhan belum lahir aja udah sama ngeselinnya kayak bapaknya, gimana kalau udah lahir," gerutu Rendy sebal.


"Makin susah yang pasti," sahut Reno sambil berjalan menyusul lainnya.


Mereka sudah mendapat tiket masuk.


"Pa kita main itu ya," kata Sela langsung menunjuk wahana yang ingin ia naiki.



"Enggak boleh," bantah Bara langsung saat Sela memilih wahana itu.


"Sayang itu tinggi banget emang kamu berani?" tanya Bradsiton pada Sela khawatir dan Sela hanya menganggukkan kepalanya.


"Pa," kata Bara kesal saat Bradsiton menuruti permintaan Sela.


"Siap- siap buat ngeprank malaikatnya," kata Rendy yang mengikuti Sela.


"Jantungnya dipegangin, takut terbang di atas," kata Reno sambil menepuk bahu Rendy.


Mereka lalu naik dengan posisi Sela paling depan, 2R posisi kedua dan Bara sama Bradsiton nomor tiga.


"Pa kenapa papa biarin sih Sela duduk di depan, mana enggak ada yang jaga lagi, nanti kalau tiba- tiba macet gimana terus....,"


"Udah deh Bar diem aja kamu, papa lagi netralin detak jantung yang udah tua nih," kata Bradsiton yang sibuk sendiri.


Wahana perlahan berjalan dan Sela terlihat sangat bersemangat sekali.


Dan


"Aaaaaaaa Bara, papa mau turun," teriak Bradsiton saat wahan berjalan cepat.


"Kan papa yang nuruti tadi," kata Bara menyalahkan papanya.


Sedangkan Rendy dan Reno sibuk membungkam mulutnya.


"Aaaaaaaaaaaaa, gue enggak tahan kalau enggak teriak," kata Rendy setelah melepaskan tangannya.


"Ya tuhan, dari sekian banyak roll coaster kenapa harus yang jalannya di dalam terjal gini sih, mana belokannya udah kayak belokannya rossi lagi," teriak Reno yang benar- benar kesal sekali.


"Yang relnya lurus aja udah berhasil ngeprank malaikat mungkin yang sekarang ini udah berhasil ngeprank komplotannya," kata Rendy setelah perlahan wahana berhenti.


"Yeayyy seru enggak?" tanya Sela begitu bahagia setelah wahana berhenti.


"Seru buat Sela dan malaikat," jawab lirih Rendy yang berpegangan sama dinding.

__ADS_1


"Pa sekarang kita naik itu ya," kata Sela kembali menunjuk wahana yang mungkin semua orang ini akan membantahnya.



"Enggak," bantah Bara paling depan, bukannya ia takut cuma ia cemas akan Sela.


"Pa, Bara tuh," kata Sela mengadu pada Bradsiton.


"Udah Bar, kita turuti saja," kata Bradsiton pada Bara.


"Inget pa istri kita di rumah," kata Rendy mencoba untuk membujuk Bradsiton.


"Kalau papa mah udah tua, jadi kapan lagi kan bisa naik wahana ini," jawaban Bradsiton benar- benar good.


"Aissss orang tua ini, apa dia enggak ingat berapa usianya," dumel Bara lalu langsung menyusul mereka berdua.


"Jadi gimana?" tanya Rendy pada Reno.


"Mau gimana lagi, naiklah. Kapan lagi kita bisa ngeprank malaikat, ya enggak?" kata Reno dengan semangatnya membuat Rendy menggaruk keningnya.


Mereka sudah naik tinggal menunggu wahana dijalankan.


Perlahan wahana mulai berjalan dan naik ke atas dengan kemiringan 90°.


"Aaaaaa Tuhan, hamba cuma bisa pasrah," teriak Rendy saat wahana mulai naik ke atas.


"Gue percaya kalau wahana ini cuma ditakdirkan buat Sela sama komplotannya malaikat," teriak Reno pada Rendy.


"Gue kira tiga tahun lalu enggak bakal keulang lagi di Kanada, ehh malah uji nyali di negara lain," kata Rendy sambil berpegangan erat pada besi di depannya.


Perlahan wahana sudah berhenti, mereka turun dengan wajah pucat pasi kecuali Bara dan Sela.


"Gue heran sama Bara, dia itu orang atau patung es sebenarnya, naik wahana tingginya udah hampir selangit ekspresinya datar banget," dumel Rendy yang kini sedang duduk di lantai.


"Gue enggak heran kalau dia dapet istri yang nyatanya juga gemar banget buat ngeprank malaikat," tambah Reno yang sedang menatap Sela begitu senang.


"Gue berharap kalau kelak anak mereka udah lahir, jangan sampai kita balik lagi kemari, gue udah tua nanti enggak bakal banyak tingkah deh," kata Rendy sambil mengusap dadanya.


.


.


.



Setelah puas bermain, di sinilah mereka sekarang.


Mercato Notturno


Ya semacam pasar malamlah.


"Sayang kamu mau makan apa?" tanya Bara pada Sela yang sejak tadi masih sibuk keliling.


"Pa Sela pengin makan nanaimo bars," adu Sela pada Bradsiton.


"Iya ayo kita beli," kata Bradsiton langsung menuju stand nanaimo.


"Tapi Sela maunya Rendy sama Reno yang bikinin," Bara hanya bisa menghela napas pelan dan menahan senyumnya.


"Kita?" kata Rendy dan Reno bersamaan sambil saling menatap.


Alhasil mereka berdualah yang membuatkan nanaimo bars buat Sela dan seketika pelanggan mendadak begitu antri panjang.


Setelah selesai beli nanaimo sekarang Sela kembali keliling untuk mencari jajanan lainnya.


"Pa Sela pengin makan ayam bakar," kata Sela minta pada Bradsiton.


"Iya ayo kita beli," sejak tadi Bara hanya diam dan membawakan tas milik Sela.


Sedangkan Sela sejak tadi terus menggandeng tangan papanya.


Seolah ia seperti tidak mempunyai seorang suami.


"Semoga aja ya Ren, kali ini kita enggak jadi tukang ayam bakar," gumam Rendy sambil berjalan pasrah mengikuti Sela.


"Masih mending jadi tukang ayam bakar dibanding gue harus uji adrenalin sambil ngeprank malaikat," kata Reno yang diangguki oleh Rendy.


"Bang beli ayam bakar," kata Bradsiton pada penjualnya.


"Iya tuan, mau yang dada apa paha?" tanya penjualnya.


"Saya maunya paha sebelah kanan," seketika penjual juga pembeli di dekat situ menatap Sela heran dan bingung.


"Tapi nona, bagaimana bisa saya membedakan paha kanan dan kiri, semua terlihat sama," kata penjualnya seketika membuat Sela cemberut.


"Sayang bukannya rasanya sama aja mau paha kanan atau kiri?" kata Bradsiton mencoba membujuk Sela.


"Sela maunya paha sebelah kanan," rengek Sela yang sudah mulai nangis.


Seketika semua bingung dan panik saat Sela merengek dan akan menangis.


"Udah kita bakar ayam sendiri di rumah," kata Bara yang langsung mengangkat tubuh Sela untuk pulang.


.


.


.


Mereka telah sampai di rumah.


Bara menunduk untuk melihat Sela yang berada di pelukannya.


Tertidur pulas.


"Apa Sela tertidur?" tanya Bradsiton saat tidak ada suara Sela. Bara mengangguk dan langsung mengangkatnya masuk ke dalam kamar.


Rendy Reno dan Bradsiton masuk ke dalam rumah dengan langkah yang benar- benar lelah.


Seketika ketiga pria ini langsung ambruk di atas sofa karena kelelahan.


Laura dan Dea keluar dari lift dan melihat para suami mereka tertidur di sofa begitu juga mertuanya.


Rose yang baru saja selesai dari dapur melihat suaminya tergeletak di atas sofa.


"Mama kapan datang?" tanya Bara saat keluar dari lift.


"Tadi sore. Bara kenapa dengan adik dan papamu?" tanya Rose sambil berjalan mendekat ke arah sofa untuk melihat mereka.


"Sejak pagi Sela mengajak mereka jalan- jalan," jawab Bara singkat tanpa menjelaskan sebabnya.


"Tapi kenapa muka mereka sedikit pucat? Apa jalan- jalannya begitu mengerikan?" gumam Rose lirih membuat Bara menahan senyumnya.

__ADS_1


__ADS_2