Sekretaris Canduku

Sekretaris Canduku
Unboxing


__ADS_3

♡♡♡♡


Bara baru saja selesai mandi.


Dan kalian tahu apa, dia hanya mengenakan jubah mandi warna hitam dan rambut yang masih basah.



Oh my good.


Damagenya bund.


"Sayang aku sudah menyiapkan air hangat untukmu," kata Bara sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.


"Hmm iya makasih," kata Sela sedikit gugup lalu menyambar kotak yang berisi baju ke kamar mandi.


Di dalam kamar mandi Sela terdiam sejenak.


Berpikir bagaimana caranya memulai, rasanya suasana malam ini memang sedikit beda.


Apalagi Bara juga tidak memaksanya.


"Sayang, apa kau baik- baik saja?" tanya Bara dari luar karena Sela yang terdiam cukup lama.


"Oh iya sebentar," jawab Sela lalu mulai mandi di bath up yang penuh dengan bunga mawar.


"Tenangin dirimu Sel, malam ini akan cepat berlalu," gumam Sela pelan sambil memakai lulur agar tubuhnya harum.


Setelah selesai mandi, Sela langsung keluar kamar dengan sudah mengenakan baju yang Rose belikan.



Sela berdiri di ambang pintu walk in closet sembari menatap Bara yang sedang minum wine yang papanya berikan tadi.


Sela menghirup napas lalu merilekskan dirinya.


Perlahan Sela berjalan menghampiri Bara yang duduk di dekat jendela.


"Kenapa kamu minum wine malam ini?" tanya Sela sembari memeluk leher Bara dari belakang.


Bara ingin sekali tersedak namun ia urungkan saat Sela dengan manisnya memeluk dia dari belakang.


Bara mencium lengan Sela menghirup aroma yang selalu menjadi candu tersendiri buat Bara.


"Aku hanya ingin minum," jawab Bara santai sambil kembali menenggak winenya.


Sela lalu melepaskan pelukannya dan beralih duduk di pangkuan Bara.


Bara menghembuskan napasnya dengan susah payah saat Sela dengan manjanya duduk di pangkuannya.


"Tidurlah lebih dulu kamu pasti sangat capek," perintah Bara sembari memegangi pinggang ramping Sela.


"Aku akan menunggumu," jawaban Sela memang biasa tapi tidak dengan hatinya Bara.


Ok Bar tenangin diri lo, batin Bara sambil kembali meminum winenya untuk menetralkan detak jantungnya.


"Sayang, jika aku tidak ingin punya anak terlebih dahulu, apa kamu akan marah?" tanya Sela sembari mengalungkan tangannya di leher Bara.


"Kenapa? Apa kamu tidak ingin punya anak denganku?" tanya Bara dengan nada yang terdengar sangat marah.


"Bukan begitu hanya saja aku ingin lebih menghabiskan waktu untuk kita berdua," jawab Sela membuat Bara tidak jadi marah.


"Kenapa, apa kamu cemburu jika nanti aku lebih menyayangi mereka dibanding kamu?" tanya Bara sambil menahan senyumnya.


"Iyalah, pasti perhatian dan kasih sayangmu lebih besar ke mereka dibanding aku," kata Sela mulai merajuk.


"Ya tuhan sayang, kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu. Papa dan mama aja sayang sama kamu melebihi sayangnya ke aku, begitu juga aku yang sangat menyayangimu. Jadi, kasih sayangku ke kamu tidak akan berkurang sedikitpun meski anak kita nanti sudah datang," kata Bara memberi pemahaman pada Sela sambil membelai rambut panjangnya.


Sela menatap mata Bara dengan lekat sedangkan Bara sejak tadi memalingkan wajahnya.


"Sayang bisakah kamu dengan tidak terus bergerak?" tanya Bara dengan suara seraknya karena menahan sesuatu.


"Memang kenapa?" tanya Sela yang semakin menggoda Bara dengan terus bergerak.


"Jangan membuatku terpancing untuk menerkammu," kata Bara memperingati Sela untuk tidak menggodanya.


Sela mengangkat dagu lancip Bara untuk menatap dirinya.


"Oh jadi kamu akan mengabaikan istrimu, bahkan aku sudah berdandan cantik hanya untukmu," marah Sela saat Bara sejak tadi terus memalingkan wajahnya.


Bahkan Bara juga tidak memuji penampilannya.


"Lalu kenapa kamu marah sayang?" tanya Bara diiringi tawa karena gemas dengan sikap Sela.


"Apa kamu tidak tahu sedari tadi di kamar mandi aku begitu gugup, ditambah mama memberikan baju untuk dikenakan malam ini dan mama bilang jika baju ini khusus dikenakan pengantin baru untuk malam pertama," kata Sela yang bercerita layaknya anak kecil membuat Bara semakin gemas.


Tak


Bara meletakkan gelasnya di meja lalu membopong tubuh istrinya menuju king size.


Lalu membaringkan Sela dengan pelan.


"Jadi istriku ini marah hah?" tanya Bara sambil membelai pipi tirus Sela.


"Kamu....,"


"Apa kamu tahu betapa susahnya aku sejak tadi menahan diri untuk tidak menerkammu? Sebelum nikah aja aku sudah menahan dengan sabar saat tidur bersamamu, tapi tidak untuk malam ini," kata Bara membuat Sela terdiam.


Bara lalu ******* pelan bibir manis Sela mengulum dan juga mencecap salivanya.


Semakin lama ciuman mereka semakin panas dan juga dalam dengan Bara yang semakin melesakkan lidahnya untuk bergerilya di dalam mulut Sela.


Perlahan tangan Bara turun untuk melepas ikatan baju rendra Sela.


Untuk memberi jeda Bara melepaskan ciumannya.


"Malam ini kamu begitu cantik sekali sayang," puji Bara membuat Sela memalingkan wajah karena malu.

__ADS_1


Bara lalu beranjak untuk berdiri. Perlahan ia melepas jubah mandinya dengan pandangan yang tak lepas dari Sela.


Kini Bara hanya memakai underwearnya lalu kembali untuk mencium bibir manis Sela.


Sela mengalungkan kedua tangannya di leher Bara menikmati ciuman yang Bara berikan.


Srekk


"Bara," pekik Sela terkejut saat Bara dengan sekali hentakan merobek baju rendranya.


Dan kini Sela hanya memakai sesuatu yang hanya menutupi bagian sensitifnya.


"Kau sekarang milikku sayang," bisik Bara sembari menjilat daun telinga Sela.


Bara kembali mencium bibir manis milik Sela dengan sedikit menuntut dan brutal.


Sepertinya nafsu Bara seakan membludak untuk malam ini setelah sekian lama selalu menahan diri kala berdekatan dengan Sela.


Keduanya sudah sama- sama telanjang dan malam semakin panas.


Waktu menunjukkan pukul 2 pagi dan mereka melakukannya tanpa melihat waktu.


Mau bagaimana lagi karena pestanya berlangsung lama membuat mereka harus berdiri untuk menemui para tamu.


Tapi hal itu tidak menghalangi mereka untuk melakukan apa yang seharusnya para pengantin lakukan saat di malam pertama.


Sela sempat kewalahan saat tidak bisa mengimbangi permainan Bara yang sangat kuat.


Bara begitu agresif dan juga tidak kenal lelah.


"Sayang kau ingin mandi sekarang atau nanti?" tanya Bara yang kini sudah ambruk di atas tubuh Sela.


"Nanti saja, rasanya semua badanku sakit," keluh Sela sembari memeluk punggung kekar Bara.


Cup


Bara mencium sekilas leher jenjang Sela lalu mengangkat kepalanya.


"Itu tandanya kita harus melakukan ronde kedua," kata Bara sambil menatap Sela yang saat ini terlihat begitu seksi.


Pelipis dan leher yang berkeringat membuat Sela terlihat semakin seksi dengan mata yang sejak tadi terpejam.


"Tidak atau aku akan membunuhmu," ancam Sela saat Bara ingin melakukannya lagi.


Ingat! Bagi seorang Aldebaran 'Larangan' adalah suatu 'Perintah'


Jadi, tunggu apalagi.


"Ok, semangat buat dedek bayinya," teriak Bara menyemangati dirinya sendiri dan kembali menyerang Sela tanpa ampun.


.


.


Tit tit tit


Bara melihat ke samping, ada Sela yang tertidur dalam pelukannya masih tertidur pulas.


Dengan pelan Bara meletakkan kepala Sela di bantal lalu menyingkap selimut tebalnya.


"Yessss yes yess yes," kata Bara dengan lirih dan sangat bersemangat.


Kalian tahu apa yang Bara lihat?


Ada bercak merah di sprei putih, itu tandanya semalam ia benar- benar sedang bercinta dengan Sela.


"Huhhhh bahagianya," kata Bara sembari guling- guling dan melupakan Sela yang masih tidur di sampingnya.


Oh my good, apa Bara sebahagia itu.


*Bugh


Dugh*


"Awwww," rintih Bara kesakitan saat dia terjatuh dari atas king size.


"Bahkan saking bahagianya punggung gue enggak kerasa sakit sama sekali," gumam Bara sambil memegangi punggungnya dan perlahan bangun.


Bara kembali menatap wajah istrinya yang masih pulas.


"Kasihan sekali, pasti semalam sangat melelahkan," gumam Bara sambil mengenakan jubah mandinya.


Bara akan mandi dan setelah itu dia akan memasak untuk istri tercintanya.


Di dalam kamar mandi pun Bara melompat- lompat girang dan menyanyi bagai di konser.


Astaga, terkadang orang terlalu bahagia hingga melupakan siapa dia sebenarnya dan di mana dia sekarang.


Selesai mandi Bara kembali melihat wajah pulas istrinya.


"Ya tuhan istri siapa dia, kenapa begitu cantik sekali," puji Bara pada wajah cantik Sela yang sangat pulas sekali tidurnya.


"Kalau dulu bangun tidur cuma bisa natap dia, kalau sekarang mah, mau diterkam mau dimakan suka- suka gue," gumamnya lalu kembali menghampiri Sela di king size.


Cup


Bara mencium punggung polos Sela lalu merambat ke leher jenjang Sela.


"Baraaaa aku mau tidur," kata Sela dengan suara serak orang tidur.


"Kenapa kamu cantik bangett sihhhhh," rengek Bara sambil kembali meluk tubuh Sela dengan gemasnya.


"Kan gue enggak jadi masak karena lihat wajahnya," gerutu Bara yang tidak bisa fokus saat dia berdekatan dengan Sela.


Bara lalu beranjak dari king size sebelum dia terpancing untuk kembali menerkam Sela dan akan memasak untuk istri tercintanya.


□■□■

__ADS_1


3 jam sebelum masuk kantor polisi


Kalau dua pengantin tadi sibuk malam pertama beda cerita sama dua bujangan ini.


Rendy dan Reno.


Kalian tahu apa yang sedang mereka lakukan di waktu dini hari?


Duduk di taman berdua layaknya pasangan yang sedang galau merana sembari minum wine.


Karena sibuk memikirkan dua pengantin yang mungkin sekarang ini sedang malam pertama.


"Ren menurut lo mereka lagi ngapain ya?" tanya Rendy pada Reno yang sejak tadi hanya diam.


"Entah, kepala gue rasanya kosong kayak enggak ada otaknya," jawab Reno membuat Rendy tambah jengkel.


"Kalau itu mah dari dulu gue juga tahu kali," kata Rendy ketus.


"Lo tahu enggak rasanya hati gue mati rasa saat tahu beberapa jam tadi Bara sama Sela mengucap janji suci," adu Rendy pada Reno.


"Bukan cuma mati rasa tapi juga enggak ada hati nurani," ketus Reno membalas ejekan Rendy.


"Bisa- bisanya ya kita malem- malem gini kayak orang gila di taman, berdua lagi," kata Rendy seakan baru menyadari sesuatu.


"Lah lo baru sadar," kata Reno menanggapi ucapan Rendy.


"Ren gue tahu kita harus kemana?" kata Rendy sembari menarik tangan Reno entah kemana.


"Kemana? Enggak usah bikin onar deh Ren karena di tinggal malam pertama sama Sela," gerutu Reno tapi tetap mengikuti kemana Rendy membawanya.


"Diem lo," bentak Rendy dengan langkah yang sempoyongan untuk mencari taksi.


.


.


.


Di sinilah mereka sekarang ini.



Kantor polisi.


Bukan ditangkap karena melakukan kejahatan melainkan masuk dengan sendirinya dengan keadaan mabuk.


Entah mereka ini setor nyawa atau bagaimana, yang jelas mereka dengan niat sendiri masuk ke dalam kantor polisi.


"Maaf tuan apa ada yang bisa saya bantu?" tanya salah satu polisi kala melihat dua bujangan ini masuk ke dalam kantor.


"Pak tempat mau curhat di mana?" tanya Rendy sambil berkali- kali menggelengkan kepalanya untuk menyadarkan dirinya.


"Maaf tuan, sepertinya kalian berdua mabuk, mari akan saya antar pulang," kata polisi itu hendak membawa Rendy dan Reno keluar.


"Tunggu," kata seseorang membuat mereka berhenti.


"Komandan," kata polisi itu saat tahu yang memanggil adalah komandannya.


"Tuan Rendy, tuan Reno," kenal komandan itu saat tahu mereka adalah putra Bradsiton.


"Biar saya aja yang melayani mereka," kata komandan itu sembari menggandeng tangan Rendy untuk masuk ruangannya.


"Jadi, ada masalah apa tuan hingga kalian berdua datang kesini?" tanya komandan pada mereka berdua.


"Jadi gini pak, bapak tahu kan gimana sakitnya ditikung sama temen sendiri?" tanya Rendy membuat komandan mengernyitkan kedua alisnya.


"Maksudnya?" tanya komandan tidak mengerti kemana arah pembicaraan mereka berdua.


"Gini pak, ibaratkan bapak diposisi kita, terus bapak punya cewek kan, cantik banget nih dia, dan bapak suka sama dia sejak lama, ehh tiba- tiba temen bapak datang gitu aja deketi dia akhirnya mereka berdua nikah," kata Reno bercerita panjang lebar membuat komandan memijat pangkal hidungnya.


"Bentar- bentar sepertinya masalah ini sangat rumit, saya ambil soda dulu," kata komandan mengambil soda di kulkas yang berada di ruangannya.


Komandan lalu meletakkan tiga soda di atas meja dan mereka meminumnya bersama.


"Sekarang lanjutin cerita kalian," perintah komandan saat merasa lega.


"Sekarang kita yang ganti tanya bapak, kira- kira bagaimana perasaan bapak kalau di posisi kita?" tanya Rendy yang sudah meminum habis sodanya.


Komandan tampak berpikir lalu menenggak habis sodanya.


"Bentar saya akan ambilkan soda lagi," katanya lalu kembali mengambil soda.


"Ini minum," katanya sembari membuka tutup kaleng soda.


"Ahhhh," suara mereka saat soda itu membasahi tenggorokan.


"Kenapa masalah anak jaman sekarang begitu rumit," gumam komandan sepertinya mereka berdua sedikit mabuk karena minum soda dengan jumlah yang banyak.


"Karena itu pak kami melapor kesini tentang masalah kita. Menurut bapak kita harus bagaimana?" tanya Rendy yang kini sudah meletakkan kepalanya di atas kepala karena merasa sangat berat.


"Mau gimana lagi, apa aku harus menangkap mereka karena telah menikung kalian, hal konyol apa itu," gumam komandan yang juga setengah mabuk.


"Bahkan itu tidak terdaftar dalam golongan kejahatan, bagaimana bisa polisi menangkap mereka," kata komandan memberitahu Rendy dan Reno.


"Bapak enggak tahu rasanya ditikung teman, rasanya lebih menyakitkan dibanding melihat pasangan selingkuh," kata Reno sambil memijat pelipisnya.


"Saya tidak pernah merasakan ditikung teman, karena saya yang selalu menikung mereka," gumam komandan sebelum ia teler dan tak sadarkan diri.


Polisi yang tadi menemui Reno dan Rendy di depan merasa penasaran saat mereka bertiga tidak keluar.


Lalu polisi itu berniat untuk melihatnya takut terjadi sesuatu dengan mereka.


Ceklek


Mereka bertiga sudah teler dengan banyak kaleng di lantai.


Komandan yang tidur di sofa, Reno dan Rendy yang tergeletak di lantai.

__ADS_1


"Astaga, bagaimana bisa mereka mabuk- mabukan di kantor polisi," gumam polisi itu yang tak habis pikir dengan mereka bertiga.


__ADS_2