
♡♡♡♡
Lihatlah
Hari bahagia ini telah tiba.
Tepat di kediaman Bradsiton Arganta.
Di mana dua insan yang akan disatukan dengan ikrar yang mereka ucapkan.
Momen yang bersejarah dan sangat sakral bagi siapapun.
Bahkan mereka berharap bisa bersatu hingga tua nanti.
Dan mempunyai banyak keturunan sebagai generasi penerus mereka.
Saat hari bahagia ini, siapapun orangnya, orang tua, kerabat, sahabat, saudara, dan orang dekat lainnya, pasti akan merasakan hal yang sangat bahagia ini.
Bahkan saat mengucapkan janji suci di hadapan mereka semua.
Percayalah kau akan meneteskan air mata kebahagiaan disaat itu juga.
Semua urusan tentang dekorasi dan segalanya telah selesai.
Dan semua terlihat sangat sempurna karena kerja keras mereka semua.
Kini tinggal menunggu para mempelai pria dan wanita mengucap janji suci di atas altar.
Bradsiton dan Rose sudah bersiap dengan pakaian formal masing- masing.
Senyum merekah dan kebahagiaan terus mereka rasakan.
Begitu bahagianya mereka hari ini.
Bradsiton melihat ke halaman luar.
Banyak agen FBI yang berjejer untuk berjaga mulai dari gerbang utama hingga pintu masuk.
Tamu undahan juga masuk sangat tertib dan disiplin.
Ditambah lagi pakaian yang mereka kenakan begitu serasi dan kompak menambah nuansa membahagiakan untuk malam ini.
Tak lupa juga para wartawan yang duduk di antara karpet merah menuju pintu masuk untuk menunggu seseorang yang penting untuk malam ini.
"Pa mama enggak nyangka kalau Bara bakal nikah secepet ini," kata Rose sambil memeluk lengan suaminya.
"Iya ma, perasaan baru kemarin papa main sama Bara yang baru berusia 5 tahun, kini dia udah tumbuh jadi laki- laki besar yang sangat tampan," kata Bradsiton sukses membuat Rose meneteskan air mata.
"Seberuntung itu Bara bisa dapatkan wanita sempurna seperti Sela," gumam lirih Rose membuat suaminya melebarkan bibirnya.
Seketika para agen FBI hormat dengan kompak saat dua mobil hitam dari dua negara ini memasuki gerbang utama.
Presiden AS dan Kanada.
Ya itulah tokoh utama yang sejak tadi wartawan tunggu kedatangannya.
Mereka turun dari mobil dan saling berjabat tangan lalu berjalan melewati karpet merah dan disambut hangat oleh Bradsiton dan Rose.
"Selamat malam pak presiden," sapa Bradsiton berjabat tangan pada dua presiden yang ia undang malam ini sebagai saksi di pernikahan putra mereka.
"Wah saya senang sekali bisa menghadiri pernikahan putramu," kata presiden Amerika saat melihat dekorasi pernikahan Aldebaran.
"Saya yang sangat senang sekali akan kedatangan anda berdua sudah berkenan untuk datang malam ini di acara pernikahan putra kami," kata Bradsiton benar- benar sangat bahagia sekali malam ini.
"Tunggu apalagi mari kita masuk," kata Bradsiton pada kedua tokoh utama malam ini.
Langkah demi langkah mereka sangat diawasi ketat oleh para wartawan dan tamu undangan.
Kini tinggal menunggu pengantin pria dan wanita.
Di sisi lain ada Bara yang merasa sedikit gelisah dan ragu.
"Bar lo yang nikah kok gue yang deg- deg an ya," kata Rendy mencoba untuk mencairkan suasana.
"Diem lo, jantung gue serasa mau keluar dari tempatnya," kata Bara pada Rendy.
"Coba lo latihan sekali lagi," pinta Reynald yang ditolak mentah- mentah oleh Bara.
"Enggaklah ngapain, semaleman gue udah hapalin tuh mantra yang amat sakral, rasanya mulut gue udah ngilu meski cuma ngucap gitu," kata Bara karena dia benar- benar udah menghapal hal itu semaleman.
"Ehh dua presiden dari dua negara udah dateng, tunggu apalagi yuk keluar sekarang," ajak Reynald memberitahu Bara.
"Bentar- bentar, penampilan gue gimana? Gue udah sip belum, cocok kan bersanding sama Sela di pelaminan nanti," kata Bara sambil merapikan jasnya dan menggoda Rendy yang sejak tadi meliriknya tajam.
"Udah- udah lo udah lebih dari kata perfect, ayo kita keluar sekarang," kata Reynald sambil menarik tangan Bara tapi Bara menolaknya.
"Tunggu bentar, rambut gue udah rapi belum wajah gue gimana?" tanya Bara sambil mengaca pada kedua mata Rendy.
"Rasa ingin memancal wajahmu," gumam lirih Rendy sambil menarik tangan Bara untuk keluar dari kamar.
"Bentar- bentar," kata Bara saat sampai di depan pintu membuat Reynald dan Rendy menghela napas.
"Apalagi sih Baraaaa," kata Rendy dan Reynald geram sekali dengan Bara.
"Gue kebelet banget ke toilet," rengek Bara mencari banyak alasan karena saking gugupnya.
"Enggak usah banyak alesan," kata Rendy langsung menarik tangan Bara dibantu oleh Reynald.
Kedua pria ini mendampingi Bara menuruni tangga menuju altar.
Di sana sudah terlihat kedua orang tuanya juga dua orang penting yang Bara minta.
__ADS_1
"Wah pa anak kita tampan banget ya," kata Rose berbisik pada Bradsiton saat Bara berjalan menuju altar.
"Papanya aja kayak gini udah pasti keturunannya enggak bakal gagal dong," bangga Bradsiton membuat Rose menepuk pelan bahu Bradsiton.
Lalu di sisi lain ada Sela yang merasa sangat- sangat gugup dan gemetar sekali.
Rasanya ini seperti di dunia imajinasi atau sekedar halusinasi.
Ahh, kenapa bisa secepat ini.
"Sela," panggil Laura saat membuka pintu dan bersamaan dengan tukang fotografer yang selesai memotret.
Wow lihatlah Sela begitu cantiknya dengan gaun desain dari mertuanya secara langsung.
Sangat memukau dengan kerlipan berlian yang menghiasi gaun Sela.
"Ya tuhan Sel lo cantik banget," kata Laura sambil melihat Sela dari atas hingga bawah.
"Bener- bener seperti seorang ratu," puji Jessy sambil mengangkat dagu lancip Sela.
"Kalian jangan berlebihan, aku sekarang benar- benar sangat gugup," adu Sela membuat Jessy langsung memeluk dirinya.
"Apa sekarang kamu masih gugup?" tanya Jessy lalu Laura ikut memeluk Sela agar dia lebih rileks.
"Tidak aku lebih tenang sekarang," kata Sela lalu Jessy dan Laura menggandeng tangan Sela untuk turun ke bawah karena semua sedang menunggu dirinya.
"Kamu siap?" tanya Jessy yang diangguki oleh Sela.
Dengan perlahan mereka keluar kamar membawa Sela menuruni tangga.
Lihatlah, hari ini sosok seorang ratu menjadi pusat perhatian semua orang.
Kecantikannya begitu menyihir semua orang yang menatapnya.
Banyak para wartawan yang memotret Sela saat menuruni tangga.
Bahkan Bara benar- benar tak percaya jika yang Jessy dan Laura gandeng sekarang ini menuju altar adalah Sela.
Lihatlah dia bukan seperti manusia melainkan bidadari.
Sangat cantik sekali.
Sela sangat terkejut saat mengetahui seseorang di samping Bradsiton sedang duduk di kursi roda.
Tanpa permisi air mata itu turun begitu saja mengiringi langkahnya menuju altar.
Ayah Gabriela sedang tersenyum kearahnya dan juga meneteskan air mata.
Ingin sekali rasanya Sela memeluk sosok seorang ayah yang kini sedang duduk di kursi roda itu.
Ternyata dia adalah wali dari Sela.
Rasanya Sela tak lagi bisa mengucapkan rasa di hatinya saat ini.
Meski dia bukan ayah kandungnya.
Bara menggenggam erat kedua tangan Sela saat sampai di atas altar.
"Apa kamu yang membawanya kemari?" tanya Sela dan Bara hanya tersenyum manis dan mengangguk.
"Bagaimana mempelai pria dan wanita, kalian siap untuk mengucap janji suci?" tanya Pendeta itu pada kedua mempelai.
"Kami siap," jawab Bara dengan sangat tegas.
"Ikuti ucapanku," kata Pendeta sembari menjabat tangan mempelai pria dengan membaca sebuah kitab besar.
"Sela Gabriela Maxiton, aku mengambil engkau menjadi seorang istriku, untuk saling memiliki dan juga menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, dan pada waktu sehat maupun sakit. Untuk selalu saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Allah yang kudus, dan inilah janji setiaku yang sangat tulus," Bara telah selesai mengucap janji suci kini giliran Sela.
"Aldebaran Bradsiton Arganta, aku mengambil engkau menjadi seorang suamiku, untuk saling memiliki dan juga menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, dan pada waktu sehat maupun sakit. Untuk selalu saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Allah yang kudus, dan inilah janji setiaku yang sangat tulus,"
Janji suci telah selesai diikrarkan, kini sorak sorai, tepuk tangan, senyum bahagia seakan semua mewakili perasaan dua mempelai ini.
"Sekarang kalian sah menjadi suami istri di dalam hukum ataupun agama," kata pendeta sontak membuat Bara langsung melompat kegirangan dan beberapa tamu undangan sempat tertawa melihat tingkah lucunya.
"Sekarang, mari kita nikmati pesta malam ini," teriak Bradsiton pada para tamu undangan.
Mereka langsung menuju ke beberapa stand untuk menikmati pesta malam ini yang akan berlangsung selama 7 hari 7 malam.
Apa kau iri? Sama aku juga.
Siapa wanita yang bisa berdiri di samping para lelaki hebat seperti Sela.
Pernikahan yang dikawal ketat oleh agen FBI.
Pernikahan yang disaksikan secara langsung oleh kedua pemimpin negara yang berbeda.
Pesta pernikahan yang menjadi sorotan banyak media karena dihadiri oleh dua presiden dari dua negara dan menjadi pesta pernikahan paling mewah di Kanada selama sejarah hidup.
Bahkan ditambah lagi pesta pernikahan ini berlangsung selama 7 hari 7 malam lamanya.
It's good.
Dan mendapatkan seorang suami yang hebat seperti Aldebaran yang pastinya menjadi idaman para wanita di luaran sana.
Tak lupa juga Sela yang mendapatkan seorang mertua yang sangat- sangat menyayanginya.
Oh ya, mendapatkan mahar yang begitu mehong dan sangat membagongkan.
Black card, perhiasan, make up, tas, kunci mobil Lamborgini, dan juga high heels yang dilapisi langsung oleh emas dengan 24 karat.
Oh tuhan, adakah wanita yang seberuntung Sela di luaran sana.
Kemungkinan hanya sedikit.
__ADS_1
Bara menyambut para tamu undangan yang datang silih berganti sembari memeluk erat pinggang ramping istrinya.
"Sayang apa kau lelah?" tanya Bara pada Sela.
"Tidak," jawab Sela karena dia sangat bahagia untuk hari ini bisa bertemu kembali dengan sosok yang menjadi pengganti ayahnya.
Ayah Gabriela.
"Ok semua, malam ini kita akan menyanyikan sebuah lagu khusus untuk mempelai pria dan wanita," kata Rendy yang sudah naik ke atas stand di mana di sana ada alat musik yang telah disediakan.
Ternyata Rendy tak sendiri, Reno Jessy Laura dan juga Reynald pun ikut naik ke atas backstage.
Musik dimulai dengan suara Rendy yang ternyata sangat- sangatlah merdu.
Diikuti Laura lalu Jessy.
Sela benar- benar bahagia sekali bisa memiliki mereka semua.
Karena terhanyut dengan suasana dan juga lagu yang mereka bawakan, semua tamu undangan ikut menyanyi bersama.
Bersamamu aku hadir
Selamanya hingga akhir
Terima kasih 'tuk semua rasa yang kau berikan untukku
I'm gonna marry you
I know that you'll be mine
I'm gonna give my world
You're the only one
Tell them everything
This is just beginning
Jangan tinggalkan aku
Di saat ku jatuh
You're the only one
Tanpa disadari air mata Sela kembali jatuh saat melihat para sahabatnya menyanyi di pernikahannya.
"Sekarang kau milikku, tak akan kubiarkan kamu menangis di saat bersamaku," bisik Bara tepat di dekat Sela.
Sela menatap Bara lalu mengangguk dan tersenyum manis.
Pesta sudah berlangsung selama 4 jam lamanya.
Sela dan Bara juga sudah berdiri sangat lama untuk menyambut para tamu yang datang dan ingin berfoto.
Juga meladeni banyaknya wartawan yang ingin melakukan pemotretan.
Kini Bara dan Sela akan pulang ke rumahnya Bara dengan menaiki mobil yang dikawal oleh bodyguard.
Karena para agen FBI sudah undur diri sejak 2 jam yang lalu karena kedua presiden ini juga tidak bisa berlama- lama lagi.
"Sayang besok kamu kemari lagi ya," kata Rose yang sedang mengantarkan Sela dan Bara di halaman untuk pulang.
"Iya ma, Sela sama Bara pamit pulang dulu ya pa ma," pamit Sela yang langsung dipeluk oleh Rose lalu Bradsiton.
"Pa ma Bara pamit pulang dulu ya," pamit Bara pada kedua orang tuanya.
"Hati- hati son," kata papanya sambil memeluk putranya.
"Duh yang mau malam pertama nih," teriak Reynald menggoda dua pengantin baru ini.
"Uhuiiii asyiknya buat dedek," teriak Reno yang semakin membuat Sela bertambah malu.
"Puasin dah lo," teriak Rendy yang sejak tadi diam saja.
"Diem lo semua, berisik tahu enggak," kata Bara lalu membukakan pintu untuk Sela dan melajukan mobilnya menuju rumah.
♡♡♡
Bara dan Sela sudah sampai di rumah tepat pukul 24.30 GMT- 5
Hari ini memang sangat melelahkan bagi mereka berdua.
Bara lalu melepaskan jas hitamnya dan juga melepaskan sepatunya.
Melihat Sela yang terlihat sangat lelah membuat Bara mengurungkan niatnya untuk meminta kewajiban Sela.
Dengan langkah pelan Bara menghampiri Sela yang sedang duduk di depan cermin mencoba untuk melepaskan gaunnya yang terlihat sangat kesulitan.
Sela terkejut saat Bara mengambil alih resletingnya dan membantu Sela membuka gaunnya.
"Malam ini beristirahatlah, aku sedikit tidak enak badan juga," bisik Bara membuat Sela melihat pantulan cermin di depannya.
Terlihat jika Bara sedang berbohong padanya. Sedangkan dalam lubuk hatinya dia sangat menginginkannya malam ini.
"Aku akan mandi dulu," kata Bara setelah selesai membukakan resleting gaun Sela.
Sela berpikir sejenak, dia juga sangat lelah saat ini.
Tapi kewajibannya sebagai seorang istri jauh lebih penting.
Bahkan Bara juga tak memaksanya.
Sela lalu membuka kotak yang diberikan mamanya.
Baiklah, mulai hari ini dia adalah seorang istri dari Aldebaran.
__ADS_1
Sudah semestinya ia menjadi istri yang baik untuknya.