Sekretaris Canduku

Sekretaris Canduku
Please Jangan Bengek


__ADS_3

□□□


Bara menghampiri Sela yang duduk di lantai setelah Gabriela pergi.


"Hey," kata Bara berjongkok di depan Sela, dengan pandangan sedikit kabur karena air mata, Sela mendongak menatap wajah Bara.


"Your okay?" tanya Bara yang tidak ditanggapi Sela.


Bara menghapus air mata Sela lalu menangkup wajahnya dan mencium dengan sangat lembut kedua mata Sela yang sedikit sembab.


"Ayo kita pulang," kata Bara sambil membopong Sela menuju parkiran.


Sela yang merasa sudah tidak punya lagi tenaga hanya diam saja sambil mengalungkan kedua tangannya ke leher Bara.


Bara mendudukkan Sela di kemudi lalu memasangkannya sabuk pengaman.


Bara memutari mobilnya lalu melajukan mobilnya untuk pulang ke rumah.


Selama perjalanan Bara hanya diam tidak berniat untuk bertanya ataupun mengajak Sela mengobrol.


Bara menyalakan musik relaksasi, tidak berapa lama Sela tertidur.


Bara menatap ke samping terlihat Sela sudah tidur dengan tenang, mungkin karena menangis tadi.


Bara menepikan mobilnya lalu mengatur jok mobil menjadi terbaring agar Sela tidur dengan nyaman.


Bara mengambil selimut di jok belakang lalu menutupi tubuh Sela.


Bara kembali menjalankan mobilnya untuk pulang ke rumah.


Bener sih ekspresi dari luar Bara emang biasa aja.


Tapi kalau ditanya gimana sama organ bagian dalemnya.


Jangan ditanya lagi, rasanya jantungnya kini sedang berdetak seperti drum.


Hatinya seakan berpindah tempat perutnya seperti mengeluarkan ribuan kupu- kupu.


Mungkin ini indahnya jatuh cinta.


.


.


.


.


.


Setelah selesai membersihkan kolam juga mengurus hamster, Rendy memutuskan untuk belanja.


Rendy dan Reno sedang di antar pak Asep ke minimarket untuk belanja bulanan.


Mereka sudah sampai, Rendy dan Reno langsung turun dari mobil lalu masuk ke dalan supermarket.


Sedangkan pak Asep menuju parkiran supermarket.


Rendy berjalan langsung menuju tempat sayuran segar.


"Tuan sayurannya beli apa aja?" tanya Reno sambil mengikuti Rendy dari belakang.


"Udah lo ambil aja semua jenis sayuran, Bara enggak bakal marahi kita enggak," suruh Rendy dan Reno hanya mengangguk paham.


Sekitar 20 menitan mereka mengelilingi supermarket untuk belanja.


Setelah mengantri panjang untuk ke kasir juga nunggu lama banget karena belanjaan mereka yang begitu banyak akhirnya mereka selesai juga.


"Reno mobil kita mana?" tanya Rendy kebiasaan membuat Reno mendengus sebal.


"Kan mulai kambuh amnesianya, masak anda lupa, kita tadi berangkat kan dianter pak Asep," kata Reno yang untungnya inget kalau mereka dianter pak Asep.


Kalau enggak mungkin Rendy akan nangis- nangis kayak waktu itu mengira jika mobilnya hilang.


"Oh iya ya, yaudah kita naik bus kota aja yuk," kata Rendy mengajak Reno.


"Iyadeh," kata Reno sambil mengikuti Rendy dari belakang menuju halte untuk menunggu bus kota.


Untungnya jarak halte dari minimarket tidak begitu jauh, jadi mereka tidak terlalu capek.


Rendy membawa 5 kantong plastik besar sedangkan Reno membawa 6 kantong plastik besar, gimana enggak capek, masih jalan lagi buat sampai ke halte bus.


"Ehh serahin uang lo," kata dua orang berpenampilan seperti preman menghadang Rendy dan Reno.


"Abang mau rampok saya?" tanya Rendy dengan santainya sambil meletakkan kantong plastiknya di tepi jalan.


"Yaiyalah pakai nanya lagi," kata orang berbadan gempal itu dengan wajah yang garang.


"Tapi saya enggak punya uang bang," kata Rendy malah mengajak kedua preman mengobrol dengan santai.


"Ini tuan Rendy gimana sih, mau dirampok kok malah premannya diajak ngobrol," batin Reno yang bingung dengan ketiga orang ini.


"Alah jangan banyak alasan lo, buktinya lo belanja banyak banget itu," kata preman itu sambil menunjuk kantong plastik belanjaan.


"Ya itu kan pakai ini bang, kalau di sini uang saya banyak, tapi kalau uang lembaran saya enggak punya," kata Rendy sambil menunjukkan black cardnya yang membuat Reno melotot tidak percaya.


"Yaudah buruan ambil uangnya di atm," perintah preman berbadan tinggi itu.


Rendy melihat kanan kiri seberang jalan tidak terlihat ada atm.


"Tapi kan di daerah sini atm jauh bang gimana cara ngambil uangnya," dua preman itu juga ikut mencari keberadaan atm.


"Oh bentar- bentar gue cariin di google maps atm terdekat," kata preman bertubuh gempal itu mengeluarkan ponselnya.


"Bener juga lo atm paling deket ada di jalan Crombe dan itu lo berdua harus naik bus kota" Rendy tersenyum senang membuat Reno menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena bingung.


"Nah itu abang tahu. Yaudah sekarang gini aja, abang tunggu sini biar saya ke atm dulu buat ambil uangnya, entar saya balik lagi kesini, gimana?" tanya Rendy membuat kedua preman itu berdiskusi.


"Yaudah kalau gitu kita tungguin di sini, lo berdua buruan ambil uangnya," kata preman berbadan tinggi membuat Rendy tersenyum renyah.


"Ehh tapi bang, kan saya enggak punya uang lembaran, cuma bawa kartu, terus kita naik bus ongkosnya mana?" tanya Rendy membuat dua preman itu menggaruk kepala mereka yang botak.


"Iya juga ya, masak lo enggak bawa uang receh gitu?" Rendy menggeleng dengan polosnya.

__ADS_1


Preman berbadan gempal itu merogoh saku celananya mengeluarkan beberapa lembar uang.


"Yaudah nih pakai uang gue aja, entar balikin lagi tapi," kata preman itu memberikan uang pada Rendy.


"Masak cuma 10 dolar sih bang, ya kurang lah, berangkatnya 10 dolar terus entar balik laginya ke sini 11 dolar, terus saya nanti balik ke rumah 10 dolar, jadi total semuanya 32 dolar, kurang ini," kata Rendy merinci ongkos naik bus.


"Banyak banget sih ongkosnya," protes preman itu.


"Oh yaudah kalau enggak mau ngasih, jadi nanti saya enggak perlu balik lagi ke sini nganterin uangnya," kata Rendy mengambil kantong plastiknya hendak pergi.


"Ehh iya- iya ini gue kasih lagi," kata preman itu menarik tangan Rendy dan memberinya uang lagi.


"Nih gue lebihin uangnya, jadi total semuanya 50 dolar, buruan gih ambil uangnya," kata preman itu memberikan semua uangnya.


Rendy tidak henti- hentinya tersenyum sambil menghitung uangnya.


"Yaudah saya ambil uangnya, abang berdua tunggu sini, ok," kata Rendy berpesan pada mereka berdua.


Rendy kembali berhenti lalu berbalik menatap kedua preman itu.


"Bang," panggil Rendy pada kedua preman itu.


"Apaan?" teriak preman bertubuh gempal.


"Sini deh," kata Rendy sambil melambaikan tangannya.


Dengan polosnya kedua preman itu sedikit berlari menghampiri Rendy dan Reno.


"Tolong dong bantu bawain sampai ke halte, saya capek banget bawanya," keluh Rendy dan dengan patuhnya dua preman langsung mengambil alih belanjaan Rendy juga Reno.


Setelah sampai di halte, tidak lama bus sudah datang.


"Bentar ya bang, saya mau ambil uang dulu, abang berdua tunggu sini dulu," kata Rendy berpesan pada dua preman itu.


"Ok, kita tungguin buruan ambilnya," Rendy hanya mengacungi jempol lalu masuk ke dalam bus diikuti Reno di belakangnya.


Reno duduk di samping Rendy sambil mengamati kedua preman itu dari dalam bus.


"Tuan apa anda akan memberikan mereka uang?" tanya Reno memastikan jika Rendy tidak sedang bercanda.


"Ya enggaklah," jawab Rendy membuat Reno bernapas lega.


"Buaya mau dikadalin," gumam lirih Rendy membuat Reno tersenyum samar mendengarnya.


Bus sudah pergi begitu saja menuju tujuannya.


Sedangkan dua preman itu duduk di halte sambil mengamati kepergian bus kota yang membawa Rendy dan Reno.


"Bang kayaknya ada yang salah deh sama kita dan dua orang itu," kata preman bertubuh tinggi itu merasa ada yang janggal.


"Iya- ya gue juga merasa kayak ada yang aneh, tapi apa?" kata preman bertubuh gempal juga bingung.


"Bang, bukannya niat awal kita tadi mau rampok dua orang itu,"


"Iya, terus?"


"Terus tadi abang ngapain kasih uang ke mereka?"


"Buat ongkos naik bus,"


"Bener juga lo, udah gitu uangnya gue kasih semua lagi ke mereka berdua," kata preman bertubuh gempal sambil menggaruk kepalanya yang botak.


"Bukannya dapet duit yang ada kita yang dirampok," gumam preman itu merenungi nasib mereka berdua.


.


.


.


.


.


Cittt


Mobil sport warna hitam milik Bara terparkir di depan rumah.


Bara bergegas turun dari mobil lalu memutari mobilnya untuk membopong Sela.


Bara membopong Sela masuk ke dalam rumah, dengan dibantu bodyguard Bara masuk ke dalam lift menuju lantai paling atas.


Bara membawa Sela ke dalam kamarnya.


Dengan sangat hati- hati Bara membaringkan Sela di king sizenya.


Bara lalu menutup tubuh Sela dengan selimut tebalnya.


Bara menatap wajah cantik Sela yang sedang tertidur.


Bara mencium kening Sela dengan lembut dan lama lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Hari ini benar- benar sejarah bagi Bara saat mendengar secara langsung dari mulut Sela kalau


"Ya aku jatuh cinta sama tuan Bara," kata Bara di dalam kamar mandi sambil menirukan ucapan Sela saat berdebat dengan Gabriela tadi.


Bara tersenyum kesenangan, dia bernyanyi dalam kamar mandi untuk mengungkapkan kebahagiaannya.


Andai Rendy sama Reno tahu hal ini pasti mereka bakal patah sepatah patahnya.


Membayangkan wajah keduanya saja membuat Bara tersenyum kesenangan.


Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, Bara menatap sekilas Sela yang masih tertidur pulas.


Bara tersenyum senang lalu keluar dari kamar untuk mengecek hukuman duo R.


Sedangkan di luar Rendy dan Reno baru saja sampai di rumah dengan di antar taksi.


"Apa Bara sudah pulang?" tanya Rendy pada bodyguard yang berjaga.


"Sudah," jawab bodyguard itu, buru- buru Rendy juga Reno masuk ke dalam rumah.


Karena mereka belum memasak untuk Bara dan juga Sela untuk nanti malam.

__ADS_1


Mereka berdua menaiki lift menuju lantai dua.


"Gara- gara ngobrol sam tuh preman, jadi lama kan kita pulangnya, mana belum masak lagi," gerutu Rendy sambil bersandar di dinding lift.


"Yang penting kan kita enggak jadi dirampok tuan," kata Reno yang berjongkok karena sangat lelah membawa belanjaan yang sangat banyak ini.


Ting


Pintu lift terbuka dengan sedikit berlari Rendy dan Reno menuju dapur.


"Reno buruan siapin bahan- bahannya gue yang akan masak," kata Rendy yang langsung mengambil talenan juga pisau.


"Apa anda yakin?" tanya Reno takut karena Rendy bukan ahli di bidang dapur tapi di bidang tempur.


Contohnya kayak tadi ngobrol santai sama perampok.


Bisa lolos kan.


"Udah buruan bawa sini," kata Rendy meminta sayuran pada Reno.


Ting


Pintu lift terbuka menampilkan Bara yang terlihat fresh juga cool berjalan menuju dapur melihat Rendy.


"Apa sudah selesai masaknya?" tanya Bara sambil melihat keadaan dapur.


"Baru juga sampai udah lo tanya selesai, lo kira gue peri apa yang bisa langsung sulap nyiapin makanan," gerutu Rendy sambil melirik sinis Bara.


"Yaudah bentar lagi gue bantu, gue mau liat hamster kesayangan gue dulu," kata Bara menuju taman di samping kolam renang.


"Enggak Sela enggak hamster, semua dibilang kesayangan, dasar buaya," gumam Rendy lirih.


"Rendyyyyyyyyy," teriak Bara membuat Rendy sedikit terkejut lalu berlari menghampiri Bara di taman diikuti Reno.


"Kenapa hamster gue tinggal satu yang empat kemana?" tanya Bara sambil memegangi hamster yang kini tinggal satu.


"Ya tuhan gue kira apaan. Gue lupa kasih tahu lo, yang empat gue kubur tuh tinggal satu," kata Rendy membuat Bara melotot marah.


"Kenapa lo kubur?" tanya Bara marah.


"Karena mereka mati makanya gue kubur, gimana sih lo, masak hamster mati gue goreng," jawab Rendy ikutan kesal pada Bara.


"Itu bukan mati dodol, hamsternya sedang hibernasi kenapa lo kubur," kata Bara merasa frustasi menghadapi dua orang ini.


"Apa? Hibernasi?" kata mereka berdua yang juga ikutan berteriak.


Rendy langsung menggali kuburan kecil hamster tadi.


Dan hamster putih itu sudah lemas tak berdaya, Rendy mengangkatnya dan menunjukkannya pada Bara.


"Kalau ini udah mati apa masih hibernasi?" tanya Rendy pada Bara melihat hamster yang tadi sudah mereka kubur mati.


"Semedi," jawab Bara ketus lalu masuk ke dalam rumah sambil membawa hamster yang kini tinggal sisa satu.


"Ren kasian banget ya hamsternya, pas bangun- bangun dia udah di alam yang beda," gumam Rendy sambil menatap sendu hamster putih di tangannya.


Rendy mengembalikannya lagi, lalu kembali masuk ke dalam rumah untuk melanjutkan kegiatan memasak mereka.


Rendy menatap Bara yang sedang asyik bermain dengan hamster kesayangannya.


"Sela mana?" tanya Rendy dari arah dapur karena tidak melihatnya.


"Tidur kenapa?" jawab Bara yang terdengar ketus.


"Di mana?" tanya Rendy membuat Bara tersenyum jahil.


"Di kamar gue, kenapa?" tanya balik Bara membuat Rendy melotot lalu berjalan menghampiri Bara dengan pisau dapur di tangannya.


"Awas aja lo sampek macem- macem sama calon istri gue, gue cincang tubuh lo," Bara hanya tertawa renyah mendengar ancaman Rendy.


"Gue enggak macem- macem kok, cuma tidur sekamar aja," kata Bara membuat kepala Rendy merasakan panas.


"Apa lo bilang?" teriak Rendy merasa kesal pada Bara.


"Tuan Rendy," panggil pak Asep yang keluar dari lift berjalan menghampiri Rendy.


"Ada apa pak?" tanya Rendy.


"Tuan Rendy kenapa enggak bilang kalau udah pulang," kata pak Asep dengan napas yang terengah- engah.


"Emang kenapa pak?" tanya Rendy dengan polosnya.


"Apa tuan lupa, tadi kan berangkat saya antar lalu kenapa anda pulang naik taksi," Rendy menepuk keningnya baru ingat.


"Astaga pak saya lupa, maafin saya ya pak," kata Rendy merasa bersalah sama pak Asep.


"Lo gimana sih Ren, gue suruh pak Asep buat anter lo biar sepeda atau mobil gue enggak lo tinggal di toko, ini dianterin berangkatnya malah pulang naik taksi," kata Bara mulai mengomeli Rendy.


"Ya sorry kan gue lupa tadi," kata Rendy.


"Udah pak Asep darah saya rasanya tiba- tiba naik, mulai sekarang jangan satukan mereka berdua kalau enggak yang ada orang- orang bakal kerja dua kali kalau enggak gitu mereka bikin ulah," kata Bara sambil memijat keningnya.


"Tuan anda kan tahu sendiri mereka berdua, mau dipisahin kayak gimanapun, ujung- ujungnya nanti barengan lagi," kata pak Asep yang sudah hapal dengan Rendy dan Reno.


"Tuan Rendy, anda sedang masak apa?" tanya Reno berteriak dari arah dapur.


"Nasi goreng," jawab Rendy dengan santainya.


"Lantas kenapa nasinya masih putih tidak berubah warna sediktipun, malah wajannya yang berubah warna jadi hitam lekat," kata Reno membuat Rendy langsung berlari menuju dapur untuk melihat.


"Kan apa saya bilang pak, bentar lagi bisa- bisa dapur saya yang bakal berubah warna jadi hitam lekat," kata Bara pada pak Asep.


▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎


**Halo semuanyaaa


Maaf ya di daerah saya seharian tadi lampunya padam jadi saya tidak bisa update.


Karena saya lihat banyak yang terhibur sama tingkah 2R jadi saya selipin tingkah gila mereka berdua.


Semoga aja bisa menghibur kalian semua.


Terima kasih banyak sudah setia buat nunggu🙏💜

__ADS_1


Saya akan berikan yang terbaik buat cerita ini untuk menemani waktu kalian**.


__ADS_2