Sekretaris Canduku

Sekretaris Canduku
Perhatian Ini Uwu


__ADS_3

○○○


Pukul 19.00 (GMT-5)


Rendy dan Reno sedang berada di toko hewan untuk membeli hamster seperti pesanan Bara.


"Reno kita udah dari toko ujung sana sampai ujung sini belum nemu hamster juga, lo sebenarnya tahu enggak sih hamster itu gimana?" kesal Rendy karena hampir 45 menit mereka memutari toko hewan untuk mencari hamster putih.


"Saya sih tahu cuma buat nyari yang sama persis kayak di gambar ini, susahnya minta ampun," kata Reno sambil melihat entah hamster atau tikus yang berada di dalam etalase dengan mencocokkan gambar di ponselnya.


"Kenapa harus orang bego coba yang disuruh beli hamster, udah tahu gue enggak tahu mana hamster mana tikus," dumel Rendy yang sejak tadi menggerutu dari toko ujung hingga toko akhir yang kini mereka kunjungi.


"Tuan, kalau yang ini hampir mirip sama yang digambar, cuma yang ini punya kumis 5 yang disini kumisnya cuma 3, ini cacat atau emang dicukur sama orangnya?" tanya Reno yang meneliti kumis hamster atau tikus yang berada di dalam etalase dan di ponselnya.


"Udah Reno lo jangan tanya gue lagi, mau hamster itu dicukur kek dicrimbat kek, terserah lo beli aja itu yang di etalase," kata Rendy yang sudah kesal karena menunggu Reno sejak tadi mencari yang mirip di gambar tidak ada yang sama.


Reno membawanya ke kasir setelah selesai mereka keluar, ternyata di luar hujan sedang turun.


"Duh gimana pulangnya kalau hujan gini?" tanya Rendy sambil melihat kanan kiri.


"Yaudah tuan, kita pesan driver taksi online aja, lagian kita juga enggak bawa payung," kata Reno yang langsung diangguki oleh Rendy.


Rendy bergegas memesannya, tidak berapa lama taksi datang.


Sopir taksi turun dan mengantarkan dua payung untuk Rendy dan Reno.


"Tuan yang pesan?" tanya bapaknya pada Rendy yang dijawab dengan anggukan.


Rendy dan Reno langsung bergegas masuk ke dalam taksi karena hujan semakin lebat.


"Di perumahan elit dekat kantor ATF ya pak," kata Reno memberitahukan alamatnya.


"Baik tuan," taksi melaju di bawah guyuran hujan yang turun lumayan deras.


Rendy dan Reno saling diam tanpa ada yang berbicara satu sama lain. Hujan sudah reda dan taksi juga sudah hampir sampai.


Taksi memasuki pekarangan rumah Bara yang sangat luas. Bahkan sopir taksi ini beberapa kali berdecak kagum akan rumah mewah yang ia masuki ini.


Taksi berhenti tepat di depan pintu rumah. Rendy dan Reno bergegas turun, banyak dari para bodyguard yang menatap mereka.


"Ini pak ongkosnya," kata Reno memberikan uang pada sopir taksi.


"Kembaliannya tuan,"


"Ambil aja," taksi lalu keluar dari pekarangan rumah Bara.


Rendy dan Reno masuk ke dalam rumah untuk memberikan hamster pesanan Bara.


"Tuan," panggil Reno pada Rendy yang sibuk bermain ponsel.


"Kok kita enggak masuk garasi ya sebelum masuk rumah," kata Reno membuat Rendy mendengus sebal.


"Kita kan naik taksi Reno," kesal Rendy sambil menekan tombol lift menuju lantai 2.


"Tapi kok ada kunci mobil di saku saya," spontan Rendy mendongak dan menatap ke depan, seperti teringat sesuatu.


Karena kalau mereka pulang kunci mobil tidak boleh di bawa sampai ke dalam rumah, di garasi ada tempat untuk menyimpan kunci mobil itu sendiri.


"Berarti kita berangkat bawa mobil dong tadi," teriak Rendy panik karena yang ditinggal di toko hewan adalah mobil kesayangannya.


"La terus kenapa tuan pesan driver taksi online tadi," kata Reno dengan wajah polosnya yang faktanya adalah dia yang menyarankan untuk memesan drive taksi online.


"Kan lo tadi yang nyuruh," kata Rendy kesal dengan Reno.


"Itu artinya," kata Reno menggantungkan ucapannya.


"Mobil gue masih di depan toko hewan," teriak Rendy yang langsung berlari ke depan lalu disusul oleh Reno.


"Pak Asep, tolong anterin saya," teriak Rendy yang langsung masuk aja ke dalam mobil diikuti Reno.


"Kenapa tuan?" tanya pak Asep yang langsung masuk ke dalam mobil untuk mengantarkan Rendy.


"Mobil saya ketinggalan di toko hewan," jawab Rendy membuat pak Asep tidak percaya.


"Astaga," kata beberapa bodyguard yang mendengar ucapan Rendy.


"Buruan pak, nanti mobil saya dibawa orang," kata Rendy mulai panik dengan sendirinya.


Mobil pak Asep melaju mulai meninggalkan halaman rumah Bara dan kembali ke toko hewan tadi.


"Ya tuhan, bagaimana bisa tuan Rendy lupa jika dia membawa mobil," kata bodyguard yang berjaga di depan pintu rumah.


"Kemarin di minimarket bawa sepeda keluar dari minimarket panik nyariin mobil, sekarang bawa mobil sendiri pulang malah pesen drive taksi online," mereka tertawa jika mengingat kejadian di minimarket malam itu.


"Apa kalian tahu Rendy?" tanya Bara yang tiba- tiba keluar.


"Maaf tuan, tuan Rendy sedang kembali untuk mengambil mobilnya," jelas salah satu bodyguard.


"Di mana?" tanya Bara.


"Toko hewan, karena di sana hujan tuan Rendy memesan drive taksi online dan baru ingat jika dia tadi membawa mobil sendiri," kata bodyguard itu sambil menahan tawanya.


"Astaga bagaimana bisa dia seceroboh itu, bisa- bisa mobil gue hilang satu- satu kalau Rendy tiap hari bawa mobil keluar selain ke kantor," gumam Bara yang kembali masuk membuat beberapa bodyguard tertawa pelan mendengar ucapan Bara.


Kalau di kantor beda urusannya, ada bodyguard yang menyiapkan mobil di depan lobi jadi saat mereka akan pergi tinggal masuk mobil aja tanpa harus jalan ke parkiran kantor.


Jadi kemungkinan Rendy tidak akan lupa jika dia membawa mobil, tapi beda urusannya kalau Rendy dan Reno udah disatuin buat pergi ke suatu tempat, kalau enggak mobilnya ditinggal ya pulang jalan kaki.


Itulah uniknya 2R.


●●●


Bara menuruni tangga dengan dasi ditangannya dan jas hitam juga tas kerjanya.


Bara melihat Gabriela sedang menyajikan sarapan di meja makan.


Lalu di mana Sela?


"Tuan," panggil Gabriela ketika melihat Bara turun dan kerepotan membawa dasi, tas dan juga kemeja di tangannya.


"Di mana Sela?" tanya Bara langsung pada Gabriela.


"Sela pergi ke rumah sakit bersama bodyguard," kata Gabriela yang memang tadi di pesani oleh Sela untuk mengatakannya pada Bara.


"Tuan, mari kita sarapan saya sudah menyiapkan semuanya," kata Gabriela mengajak Bara untuk sarapan bersama.


Bara sedikit melirik pada meja makan, ada rendang sapi kesukaannya.


"Bagaimana kamu tahu kalau saya menyukai makanan Indonesia?" tanya Bara membuat Gabriela gugup dan terlihat kebingungan.


Bara lalu pergi begitu saja meninggalkan Gabriela sendiri.


"Hiiihhh dasar bos gila, sombong banget sih jadi orang," dumel Gabriela lalu duduk di meja makan berniat untuk memakan masakan Sela sendiri.


Bara turun ke bawah dan langsung masuk ke dalam mobil lamborgininya yang sudah disiapkan oleh bodyguard.


"Pak Asep, tolong bungkuskan masakan di meja makan, saya akan membawanya ke kantor," kata Bara pada pak Asep.

__ADS_1


"Baik tuan," pak Asep bergegas masuk untuk membawakan masakan Sela pada Bara.


Pak Asep melihat Gabriela sedang memakan sendirian di meja makan dengan sangat lahap.


Pak Asep langsung mengambil rantang makanan dan memasukkan makanan kesukaan tuannya dengan cepat sebelum Gabriela memakannya.


"Loh pak makanannya mau dibawa kemana?" tanya Gabriela pada pak Asep.


"Maaf nona tuan meminta untuk dibawa ke kantor," kata pak Asep dengan cepat memasukkan semua makanan ke rantang.


Gabriela hanya menatap sup buntut yang tersisa dan sayuran lainnya.


Pak Asep buru- buru turun ke bawah untuk memberikan rantang makanan pada Bara.


"Ini tuan," kata pak Asep lalu memutari mobil menuju kemudi.


"Pak antarkan saya ke rumah sakit dulu," perintah Bara pada pak Asep.


Tanpa banyak berbicara pak Asep langsung melajukan mobilnya menuju rumah sakit punya Bara


.


.


.


.


.


Sela sedang menatap ibunya yang masih belum juga bangun.


Sela menggenggam tangan ibunya dan berkali- kali menciumnya.


Sedangkan Rendy hanya menatap Sela iba, terlihat sekali jika Sela begitu merindukan ibunya.


Asal kalian tahu meski Rendy sifatnya itu konyol, ceroboh dan yang pasti pelupa, tapi hatinya lembut banget.


Dia sensitif banget sama hal- hal sepele yang membuat dirinya merasa kasihan.


Bahkan dulu pernah saat Rendy belum mendapatkan mobil dari Bara, dia rela jalan kaki dan uangnya dia berikan semua pada pengemis.


Soft boy banget sih sayangnya sifatnya yang pelupa kadang bikin greget juga gemes sama Rendy.


Ceklek


Pintu terbuka menampilkan Bara dengan tas, dasi, dan kemeja di tangannya terlihat sangat kerepotan.


"Kenapa tuh muka udah kayak diusir dari rumah?" tanya Rendy yang menatap penampilan Bara yang tidak rapi.


"Diem lo," ketus Bara sambil melemparkan semua bawaannya ke Rendy dan berjalan menghampiri Sela yang duduk di samping brankar ibunya.


"Dasar bos gila," gerutu Rendy sambil kembali merapikan kembali rambutnya.


"Keluar lo," kata Bara pada Rendy dengan terpaksa dengan langkah gontai Rendy keluar dari ruangan.


Bara duduk di pinggir brankar tepat di depan Sela. Bara menatap ibu Sela yang masih belum juga terbangun.


"Siapa yang suruh kamu datang ke sini tanpa pamit saya," kata Bara tanpa menatap wajah Sela.


Sela langsung menunduk merasa jika dia bersalah atas kejadian kemarin malam.


"Maaf," hanya kata itu yang terucap dari mulut Sela sambil menunduk.


Bara menatap Sela yang merasa sangat bersalah. Perlahan Bara mengangkat dagu Sela pelan agar wajah Sela menatap mata Bara.


"Lain kali jangan diulangi," kata Bara pelan membuat rona merah pada pipi Sela kembali muncul.


Sela langsung mengalihkan tatapannya menghindari kontak mata dengan Bara.


"Saya akan membantu tuan untuk bersiap," kata Sela langsung mengambil perlengkapan Bara yang tergeletak di sofa.


Bara tertawa pelan sambil mengalihkan tatapannya ke arah lain.


Sela mulai memasangkan dasi pada Bara tanpa menatap mata Bara. Lalu membantu Bara memakaikan jasnya.


"Sudah," kata Sela lalu kembali duduk di kursi samping brankar ibunya.


"Apa kamu mau ikut ke kantor?" tanya Bara pada Sela karena hari ini kuliah libur.


Sela hanya mengangguk pelan lalu mengambil tas kecilnya dan juga jaketnya dan mencium kening ibunya.


Dan sikap sekecil itu tidak terlepas dari penglihatan Bara.


Bara keluar dari ruangan terlihat Rendy sedang bermain game dan menggerutu saat dia kalah.


"Lo pergi ke kantor sendiri aja, Sela sama gue," kata Bara pada Rendy.


"Mana bisa Sela berangkat sama gue, jadi ke kantor juga sama gue," tolak Rendy yang tidak mau jika Sela semobil sama Bara.


"Sini balikin black card gue," kata Bara pada Rendy.


"Tuan saya duluan," pamit Rendy langsung berlari pergi meninggalkan Bara dan Sela.


Bara tertawa pelan melihat sikap Rendy, ancaman black card memang selalu ampuh untuk menjahili Rendy.


.


.


.


.


.


Bara dan Sela tiba di kantor, terlihat banyak wartawan yang sudah menunggunya di depan pintu masuk.


Sela menatap banyaknya wartawan yang datang, Sela tidak ingin dirinya menjadi bahan perbincangan di sosial media.


Sela langsung mengambil masker di dalam tasnya, masker yang selalu Sela bawa kemanapun saat dia bersama Bara dan tidak lupa topi hitamnya.


"Kenapa?" tanya Bara pada Sela yang langsung memakai masker kala tahu ada banyak wartawan.


"Saya terlalu cantik untuk jadi bahan perbincangan di sosial media," kata Sela dengan percaya dirinya membuat Bara tersenyum samar.


Padahal Bara ingin sekali jalan berdampingan dengan Sela tanpa Sela harus memakai masker, agar semua orang tahu kalau yang di sampingnya adalah


"Ayo tuan, kita turun," kata Sela mengajak Bara untuk segera turun. Bara hanya mengangguk dan turun dari mobil.



Para bodyguard langsung saling berpegangan tangan dan membentuk lingkaran untuk menghalangi wartawan agar tidak menyerang Bara dan Sela.


Bara terlihat begitu berkarisma juga begitu tampan, jadi banyak wartawan teralihkan dengan memilih memotret Bara daripada wawancara.


Itulah kelebihan dari ketampanan seorang Aldebaran. Banyak pasang mata karyawan merasa iri kala melihat Sela bisa berjalan di samping Bara.

__ADS_1


Bara menaiki lift menuju lantai atas, Sela baru membuka maskernya dan bernapas lega.


"Kenapa kamu tidak suka saat ada wartawan?" tanya Bara sambil menatap Sela yang menyisir rambutnya ke belakang.


"Saya tidak suka menjadi bahan perbincangan di sosial media," jawab Sela apa adanya, emang dia tidak suka jika digosipkan sana- sini.


Ting


Pintu lift terbuka Bara langsung menarik pelan tangan Sela keluar dari lift tapi Sela melepaskan genggaman tangan Bara.


"Saya enggak buta, enggak usah pegangan tangan," kata Sela agar karyawan lain tidak menatapnya.


"Selaaa," teriak Dea pada Sela, Sela menyambut dengan senyuman pada Dea.


Dea memeluk Sela erat, seakan sudah lama tidak bertemu.


"Kebetulan kamu ke sini, hari ini ada pemotretan untuk percobaan beberapa gaun," kata Dea pada Sela. Bara masih setia menunggu dua hawa ini selesai curcol.


"Oh yaa, yaudah sekarang aja kita ke studio," kata Sela hendak pergi dengan Dea.


"Ehh tunggu, kamu sarapan dulu," kata Bara menarik tangan Sela pelan menuju ruangannya dan meninggalkan Dea sendiri.


"Kak Dea, nanti aku ke sana," Dea hanya mengacungkan jempolnya dan kembali ke studio.


"Duduk," kata Bara lalu mengambil rantang makanan yang dibawakan pak Asep di meja kerjanya.


Bara membuka satu persatu rantang makanan dan Sela melihat jika isinya semua masakan yang tadi pagi Sela masak.



"Kenapa anda membawanya kemari?" tanya Sela yang masih sibuk menyiapkan sarapannya.


"Kenapa? Saya ingin sarapan denganmu," jawab Bara dengan santainya tanpa memikirkan wajah Sela saat ini.


"Lalu bagaimana dengan Gabriela? Apa dia sudah sarapan?" tanya Sela mengkhawatirkan Gabriela di rumah.


"Apa kamu sengaja meninggalkan saya dengan Gabriela?" tanya Bara dengan nada ketus sambil menyodorkan sarapan untuk Sela.


Sela hanya diam dan menatap Bara yang mulai memakan sarapannya.


"Kenapa, apa kau ingin disuapi?" tanya Bara membuat Sela langsung mengambil makanannya.


Bara melirik sekilas Sela yang menunduk dan memulai makanannya. Bara tersenyum disela makannya.


Rasanya Bara ingin terus dekat dengan Sela seperti ini, meski Sela mungkin tidak tahu jika jauh dilubuk hati Bara yang paling dalam, hanya ada satu nama yang terus mengisi hatinya.


Sela.


Mereka telah selesai sarapan dan Sela sudah membersihkan bekas sarapan mereka berdua.


"Nanti malam sepertinya kita tidak akan pulang, karena saya harus mempersiapkan proposal juga menunggu kain datang dari Italia, jadi kemungkinan nanti malam akan sangat sibuk," jelas Bara membuat Sela bergeming dan memikirkan Gabriela di rumah.


"Lalu bagaimana dengan Gabriela?" tanya Sela yang selalu menanyakan keadaan sahabatnya itu.


Sampai- sampai Bara merasa bosan mendengar Sela terus bertanya tentang Gabriela Gabriela dan Gabriela.


"Tenanglah, di rumah aman banyak bodyguard juga yang menjaga," kata Bara mencari alasan untuk membujuk Sela.


Sela perlahan menganggukkan kepalanya.


"Kalau begitu saya permisi dulu untuk ke studio foto, mungkin kak Dea sudah menunggu," kata Sela pamit untuk ke studio foto.


"Cepatlah kembali," kata Bara membuat Sela bergegas keluar sebelum semburat merah kembali muncul di wajahnya.


Bara tertawa melihat sikap Sela yang selalu blushing hanya dengan ucapan Bara.


Bara langsung menuju meja kerjanya untuk segera menyelesaikan proposalnya karena dua hari lagi dia akan terbang ke AS.


Bara berhenti sejenak dan berpikir sesuatu, saat dia ke AS, apa dia mengajak Sela saja ikut bersamanya, emang sih ini cuma nyerahin proposal bukan puncak dari acaranya, cuma rasanya jauh dari Sela kayak gimana gitu.


Bara meraih ponselnya dan mengirimkan pesan pada Rendy untuk memesankan tiket pesawat 1 lagi.


Setelah selesai, Bara kembali melanjutkan mengerjakan proposalnya. Agar dia bisa pergi ke studio foto untuk melihat Sela pemotretan.


Tidak terasa Bara sudah menatap layar laptopnya begitu lama. Sudah pukul 7 malam, Bara akan melihat Sela sebentar di studio foto.


Bara berjalan menuju studio foto kosong lalu kemana Sela dan Dea.


Bara menuju ruangan Dea, terlihat Dea sedang mengukur kain di meja.


"Dea di mana Sela?" tanya Bara pada Dea karena tidak menemukan Sela di studio foto.


"Maaf tuan, Sela bilang dia mengantuk jadi saya menyuruhnya untuk tidur di kamar saya," kata Dea membuat Bara langsung berjalan menuju kamar Dea.


Bara membuka kamar Dea terlihat Sela tertidur di atas tumpukan kain masih lengkap dengan gaun pemotretannya, terlihat tidak begitu nyaman, namun terlihat sangat cantik.



Bara mengangkat Sela untuk dibawa ke ruangannya.


"Dea, saya pergi," kata Bara lalu keluar dari ruangan Dea sambil membopong Sela.


"Ya tuhan, rasanya si tuan enggak bisa jauh- jauh dari Sela," gumam Dea melihat sikap Bara yang tidak bisa jauh dari Sela, terlihat Bara yang terus mencari Sela kala Sela tidak terlihat oleh matanya.


Banyak karyawannya yang memuji, memotret atau bahkan melompat kegirangan kala melihat Bara membopong Sela yang tertidur.


Terlihat begitu tampan dan mereka berdua sangat cocok.


Bara menatap wajah Sela yang masih tertidur, di ruangan Bara ada kamar luas, kenapa dia memilih tidur di atas tumpukan kain yang jelas tidak nyaman untuk tidur.


Terkadang Bara juga heran dengan Sela yang selalu berbeda dari cewek lainnya, selalu merasa jika dia merepotkan orang lain dan terlalu sungkan pada orang lain.


Dan satu Sela terlalu baik pada sahabatnya atau orang terdekatnya, itu membuat Bara semakin takut jika Sela dicelakai oleh orang terdekatnya.


Bara membaringkan Sela di kamarnya dengan sangat pelan, lalu melepaskan high heelnya, Bara melotot tidak percaya saat jari kaki Sela terluka.


Bara bergegas mengambil air hangat dan handuk kecil untuk mengobati kaki Sela yang bengkak.


Bara mengelap pelan jari kaki Sela, sepertinya luka Sela sudah lama tapi karena terkena gesekan high heels membuat lukanya kembali terbuka.


Setelah selesai Bara mengambil kotak P3K dan menutup luka Sela. Bara tidak habis pikir dengan Sela, kenapa dia selalu terluka ketika pulang dari kampus.


Setelah selesai Bara menyelimuti Sela dan menyalakan penghangat ruangan karena sekarang lagi musim dingin.


Bara menyalakan semua lampu di kamarnya, takut jika dimatikan lampunya Sela akan mengalami keguncangan yang hebat seperti beberapa hari yang lalu.


Bara baru teringat, dia akan membawa Sela ke Peter untuk melakukan psikiater, Bara akan membantu Sela untuk sembuh dari pobianya.


Bara menutup kamarnya dan kembali kerja sambil menunggu kain pesanannya datang dari Italia.


Ting


Ponsel Bara berbunyi menandakan ada satu notifikasi. Bara membaca satu pesan yang masuk membuat Bara tersenyum smirk membaca isi dari pesan orang- orangnya.


Semua sudah datang dan mereka berada pada posisi masing- masing, seperti yang anda perintahkan.


-------☆☆☆------------

__ADS_1


__ADS_2