
□■□■
Mereka pulang dari Jerman tepat pukul 1 dini hari.
Tadinya Reynald sudah menyiapkan kamar khusus untuk mereka.
Tapi Bara tidak bisa tinggal di sana, karena besok dia ada acara yang sangat padat.
Sampai di rumah pun Sela masih mendiamkan Bara karena insiden di pernikahan Jessy tadi.
Bahkan Bara tidak diajak bicara sedikitpun.
Sela langsung masuk ke dalam kamar tanpa memedulikan Bara yang terus mengikutinya.
"Dasar semua laki- laki, ada cewek cantik aja langsung deketi," gerutu Sela ketika sampai di dalam kamar.
Bara masuk ke dalam kamarnya, lebih baik ia membersihkan diri dulu baru menemui Sela.
Sedangkan Sela baru saja selesai mandi dan bersiap untuk tidur karena malam sudah begitu larut.
Sela mematikan lampunya dan naik ke atas queen sizenya.
Tidak berapa lama pintu kamarnya terbuka pelan, Sela mendengarkan dengan baik langkah orang tersebut.
Hingga ada gerakan di atas queen sizenya membuat Sela semakin takut.
Ia juga ikut masuk ke dalam selimut Sela dan memeluk pinggang rampingnya.
"Apa kamu sudah tidur?" wiuh ternyata Bara, apa Bara, Sela langsung berbalik untuk memastikannya dan benar.
"Ngapain sih kesini, kamar kamu kan di sana," kata Sela sembari mencoba melepaskan lingkaran tangan Bara yang berada di perutnya namun tidak bisa.
"Gimana mau tidur tenang coba kalau calon istrinya ngambek gini," goda Bara berbisik tepat di telinga Sela membuat dia menjadi sedikit geli karena deru nafas Bara.
Bara semakin memeluk erat Sela dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Sela, aroma tubuh Sela sangatlah candu bagi Bara.
"Bagaimana bisa kamu berpikir jika kamu bukan calon istriku, hampir setiap hari kita tidur bersama bahkan tinggal seatap sudah lama, papa dan mama juga udah kenal kamu," gumam Bara pelan yang masih bisa didengar oleh Sela.
"Tapi kamu bisa kapan saja meninggalkanku dan bersama wanita lain karena tidak ada status yang jelas tentang hubungan kita," kata Sela membuat Bara menarik senyum lebar di bibirnya.
"Ya tuhan sayang, aku tidak pernah ingin meninggalkanmu, jika mau 3 tahun kemarin mungkin aku sudah menikah jika tidak karena menunggu dirimu," kata Bara yang ada benarnya juga.
Sela menghembuskan napasnya pelan, begitu tulusnya cinta Bara padanya.
"Bahkan sebelum aku melamarmu aku tidak pernah dekat pada wanita manapun," kata Bara membuat Sela teringat akan kelakuan Bara pada Laura dan Gabriela.
"Bagaimana bisa kamu mengatakan itu, kemarin yang pergi ke club sama Laura siapa, Rendy. Terus yang tidur bareng Gabriela 3 tahun lalu siapa?" kata Sela mengungkit masalah lainnya.
Ternyata benar ya, saat kita berdebat dengan wanita, hal yang perlu kamu lakukan hanya diam dan mendengar.
Jangan menjawab atau mencoba untuk mengalahkannya, karena perempuan akan mencari masalah yang bahkan 3 tahun lalu bisa mereka ungkit kembali untuk menyudutkanmu.
Luar biasa perempuan kan.
"Sayang, sekarang sudah malam, jangan berdebat atau aku akan menerkammu, sebisa mungkin aku selalu menahan diri saat tidur bersamamu," bisik Bara yang artinya itu adalah sebuah ancaman yang Sela harus waspadai.
Tapi ternyata kita salah, Sela malah berbalik untuk menatap Bara meski dengan ruangan sedikit remang- remang.
"Apa benar semua yang kamu katakan tadi, jika kamu tidak pernah mendekati wanita lain selain diriku?" Bara hanya mengangguk sembari menutup matanya.
Bukannya apa jika dia membuka mata takut hal lain terjadi karena melihat Sela yang begitu cantik saat malam hari.
Sela tersenyum menggoda entah apa yang sedang ia pikirkan.
Sela membelai rambut Bara lalu turun ke rahang Bara yang begitu seksi dan berakhir memeluk bahunya sambil menatap lekat Bara.
"Sayang sudah malam tidurlah sebelum kamu menyesal nanti," peringati Bara saat dia berusaha menahan napas ketika Sela menggoda dirinya.
Sela tersenyum simpul, ternyata benar jika laki- laki tidak bisa jika tidak tergoda.
"Kamu gini aja udah luluh gimana nanti kalau sama perempuan lain waktu mereka godain kamu," ejek Sela membuat Bara terpaksa membuka matanya.
Kan bener, Bara sangat menyesal telah membuka matanya, lihatlah betapa cantiknya wanita di depannya ini.
Bara menarik tengkuk Sela dan mencium bibir ranumnya.
Sela memejamkan kedua matanya menikmati permainan Bara yang memangut dan mengulum bibirnya.
Bara merasa jika gairah dalam dirinya tak bisa dikendalikan saat mencium bibir merah Sela.
Tapi jika tidak dihentikan itu akan semakin meresahkan.
Bara lalu mengakhiri ciumannya di leher jenjang Sela dan memeluk Sela erat.
"Kita lanjut jika sudah menikah," gumam Bara pelan dengan kedua mata yang terpejam.
Sela tersenyum di dada bidang Bara menyembunyikan rona merah di pipinya.
"Aku mencintaimu," gumam Sela yang menyembunyikan wajahnya di dada bidang Bara.
Bara yang belum tidur sepenuhnya dan masih mendengar ucapan Sela tersenyum lebar karena ini kali pertama Sela mengatakan hal semanis itu.
Bara lalu menarik selimut dan menutupi seluruh badan mereka.
.
.
.
Sedangkan di negara yang berbeda.
Di bumi yang sama.
Ada Jessy dan Reynald yang berada di dalam kamar.
Biasa, malam pertama, hehe.
Pesta telah usai pukul 2 dini hari.
Kini Jessy sedang membersihkan make upnya.
Ceklek
Reynald masuk ke dalam kamar dengan senyum devil andalannya.
"Sayang," panggil Reynald menghampiri Jessy lalu memeluknya dari belakang.
"Hmm," kata Jessy karena dia sudah sangat lelah berdiri untuk tamu sebanyak itu.
Reynald menunduk lalu menyembunyikan wajah tampannya di ceruk leher Jessy.
"Sayang tadi kan aku liat Sela tidak lagi pakai cincin dari Bara, bukannya tahun lalu sebelum ke London Bara sempet lamar Sela," kata Jessy menanyakan hal yang sedari tadi membuat dirinya penasaran.
"Terus?" tanya Reynald dengan posisi masih sama di ceruk leher Sela.
"Ya kan aneh gitu, waktu aku tanya kata Sela udah kembali sama tuannya, maksudnya dibalikin gitu? Maksudnya Sela nolak lamaran Bara gitu?" tanya Jessy sambil menghapus lipbamnya.
"Sayang ini udah malam kapan kita buat dedeknya," kata Reynald beralih memeluk perut ramping Jessy.
__ADS_1
"Hih jawab dulu, Bara pasti nikahin Sela kan?" tanya Jessy ingin mendengar jawaban dari Reynald.
"Sayang, kamu temen deketnya Bara, masak kamu enggak yakin sama dia. Meski aku baru deket akhir- akhir ini, tapi aku yakin jika Bara bersungguh- sungguh untuk menikahi Sela," kata Reynald menjelaskan sambil melihat pantulan wajah istrinya dari cermin.
"Tapi kapan, entar Sela direbut orang baru tahu rasa dia," kata Jessy kesal, dan dia juga tidak menyadari jika Reynald sudah melepas jasnya dan bersiap untuk menerkam Jessy.
Jessy berbalik untuk menatap Reynald, tapi Jessy terkejut saat Reynald sudah mode on dengan membuka kancing kemejanya satu persatu sambil menatap Jessy.
"Emm bentar aku mau mandi dulu ya," kata Jessy yang langsung berlari menuju kamar mandi membuat Reynald lagi dan lagi menunggu.
"Ya tuhan kapan malam pertamanya kalau gini, yang ada keburu pagi nanti," dumel Reynald lalu merebahkan dirinya di king size sambil mendengar suara gemericik air dari kamar mandi.
Ceklek
Jessy sudah selesai mandi, Reynald melirik dari sudut matanya.
Oh good, lingerie merah memang sangat menggoda.
Jessy sedikit malu jadi dia menutupi lingerienya dengan handuk tebal.
Reynald langsung menghampiri Jessy dan membalik badan Jessy agar berhadapan dengannya.
"Malam ini kamu begitu cantik sekali sayang," kata Reynald sambil menatap lekat Jessy dan perlahan melepaskan handuk besar itu yang menutupi lingerienya.
"Apa kamu siap?" tanya Reynald pada Jessy untuk meminta izin darinya. Sedikit ragu Jessy mengangguk.
Tanpa menunggu lagi Reynald langsung membopong Jessy menuju king sizenya.
Dengan perlahan Reynald membaringkan Jessy dan mencium kedua pipi tirusnya.
"Aku mau melakukannya," kata Jessy sambil mengalungkan kedua tangannya pada leher Reynald.
Reynald mencium bibir kenyal milik Jessy dengan sangat lembut dan pelan.
Perlahan ciuman itu beralih ke daun telinga Jessy dan meninggalkan bekas di sana.
Lalu beralih menuruni leher jenjang yang sangat mulus dan memenuhi dengan tanda merah.
Reynald lalu melepaskan ciumannya dan melepas semua kancing bajunya.
Di mana roti sobek yang selalu diidamkan banyak wanita terlihat begitu jelas di mata Jessy.
Jessy memalingkan wajahnya membuat Reynald tersenyum menggoda.
"Sekarang ini milikmu, jadi kenapa kamu malu," goda Reynald membuat Jessy menyembunyikan rona merahnya di dada bidang Reynald.
Srekk
Jessy terkejut saat Reynald yang sudah merobek lingerienya dengan kasar.
"Rey," marah Jessy karena tubuhnya kini sudah terpampang jelas di depan Reynald.
"Aku akan melakukannya sampai pagi sayang," bisik Reynald di daun telinga Jessy dan menjilatnya membuat Jessy tanpa sadar mendesah.
■□■□
Rendy baru saja datang di kantor setelah pagi tadi dia mengantarkan Laura ke bandara.
Laura terbang ke Jerman untuk menemui ibunya yang kini sedang menjalani pembebasan dari tahanan setelah kemarin berada di pengadilan bersama Bradsiton.
Tadinya Rendy ingin menemaninya tapi si kutu kupret Bara malah nyuruh dia ke kantor.
Andai membunuh enggak masuk penjara, ingin rasanya Rendy menggantung hidup- hidup Bara di menara eiffel.
Ting
Brak
Rendy membuka pintu masuk dengan sangat kasar membuat Bara sedikit berjengkit.
"Lo mau ngapain panggil gue kesini?" tanya Rendy yang duduk di sofa sembari memasang wajah kesalnya.
Bara berjalan menghampiri Rendy dan duduk di depannya.
"Temeni gue jalan- jalan yuk," kata Bara sukses membuat Rendy melebarkan kedua matanya.
"Lo enggak ada kerjaan lain apa selain gangguin gue?" tanya Rendy mulai marah.
"Emang kenapa, lo mau honeymoon sama Laura," kata Bara membuat Rendy mendengus sebal.
"Dari banyaknya orang di dunia ini, kenapa harus gue yang lo ajak, kan Reynald atau Reno kek," kata Rendy yang tak habis pikir dengan Bara.
"Tuh gue juga ngajak Reno," kata Bara dan benar saja tidak berapa lama pintu terbuka dan menampilkan Reno datang dengan senyum khasnya.
"Astagaaa Baraaaa, lo mending buruan nikah sama Sela biar lo punya kerjaan, gue capek tahu enggak lo ganggu mulu," kata Rendy sambil merebahkan dirinya di sofa besar.
"Emang kenapa sih, gue kan cuma ngajak jalan- jalan lo," kata Bara mencari alasan.
"Ren mending lo temeni aja dia gue capek sama dia," kata Rendy sambil merangkul bahu Reno.
"Gimana kalau kita bertiga jalan- jalannya?" tanya Reno pada Rendy menawarkan idenya.
"Aduh ini lagi, tambah gila gue kalau sama kalian berdua," kata Rendy sambil guling- guling di lantai.
"Ya tuhan mending gue tadi ikut Laura ke Jerman daripada di sini sama dua somplak ini," kata Rendy dengan sangat frustasi.
Bara dan Reno lalu berjongkok menghampiri Rendy.
"Sudahi galaumu mari kita jalan- jalan," kata Bara sambil menarik tangan Rendy dibantu Reno untuk bisa berdiri.
Dengan langkah terpaksa Rendy berjalan karena paksaan mereka berdua.
.
.
.
.
Tiga laki- laki ini berjalan- jalan hingga malam tiba.
Dan tentu saja dengan Rendy yang terus mengomel dan menggerutu.
"Udah ayo kita pulang, gue udah capek jalan sedari tadi," kata Rendy yang terus- terusan mengeluh meminta pulang.
"Bentar lah Ren gue belum dapet boneka yang gue mau," kata Bara terus saja mencari alasan.
"Bar usia lo berapa sih, kenapa harus boneka yang harus lo dapetin, dapetin Sela kek atau siapa gitu, usia udah tua tapi kelakuan kayak bocah," kata Rendy yang benar- benar kesal dengan Bara.
Kring kring kring
Ponsel Rendy berbunyi dan terdapat nama Bradsiton yang tertera di layar.
"Ehh papa," seketika semua mendekat kearah Rendy untuk mendengarkan obrolan mereka berdua.
"Halo pa,"
__ADS_1
"Rendy di mana kamu?" bentak Bradsiton dengan suara sangat keras hingga ketiga laki- laki ini terkejut.
"Rendy ada di jalan pa,"
"Buruan pulang, ada polisi cari kamu," seketika mereka bertiga saling menatap dan melebarkan mata saat mendengar kata polisi.
Tut tut tut
"Halo pa, pa," kata Rendy saat teleponnya sudah dimatikan dengan sepihak.
"Ehh buruan pulang kayaknya papa marah banget sama lo," kata Bara yang langsung masuk ke dalam mobil diikuti Rendy dan Reno.
.
.
.
.
Bara telah sampai di kediaman Bradsiton dan ternyata benar ada banyak mobil polisi yang terparkir di depan rumah.
"Ren lo buat masalah apaan sih sampai polisi cari lo," kata Bara bertanya pada Rendy yang terlihat panik juga takut bingung semua campur aduk.
"Gue enggak ngelakuin apa- apa," kata Rendy dengan sangat pasrah dan berjalan seakan tidak ada tenaga.
"Ya tuhan, ulang tahun bukannya dapet kejutan malah jadi tahanan di kantor polisi, nasib gue gini amat ya tuhan," gumam Rendy sambil berjalan masuk ke dalam rumah.
"Emang sekarang ulang tahun lo?" tanya Bara dan Reno secara bersamaan.
"Yaiyalah, lo lagi Ren masak ulang tahun sendiri lupa, kita kan samaan tanggalnya," kata Rendy yang juga kesal dengan Reno lupa akan ulang tahun dirinya sendiri dan Rendy yang nyatanya bersamaan.
Ceklek
Kenapa lampunya gelap sekali, lalu di mana polisinya.
Mereka lalu menaiki lift untuk ke lantai paling atas, siapa tahu mereka semua sedang menunggu di sana.
Ting
Mereka telah sampai di lantai paling atas tapi sama sepi tidak ada siapa- siapa dan lampu juga sedikit remang- remang.
"Coba kita ke taman siapa tahu papa di rumah taman," kata Bara lalu Rendy menurutinya dengan kembali turun ke lantai bawah dan menuju taman.
Lap
Lap
Lap
"Surpriseeeee," teriak mereka semua membuat Rendy dan Reno terkejut.
Rendy melihat ada tulisan besar dengan ucapan selamat ulang tahun 2R, Rendy dan Reno.
Bara lalu menghampiri Sela yang bersama papa dan mamanya.
Terlihat ada banyak sekali wartawan, teman kantor, bahkan dua pengantin yang kemarin baru saja menikah, dan yang pasti ada Laura.
"Selamat ulang tahun son," kata Bradsiton sambil merentangkan kedua tangannya.
Rendy dan Reno berlari bersama dan menabrak Bradsiton dengan memeluknya erat.
"Papa enggak lupa?" tanya Rendy sambil menatap wajah Bradsiton, Bradsiton menggelengkan kepalanya.
"Ini semua buat kita pa?" tanya Reno dan diangguki oleh Bradsiton.
"Terus polisinya mana?" tanya Rendy membuat semua orang langsung tertawa.
"Enggak ada, itu para wartawan yang papa minta untuk mengendarainya," kata Bradsiton membuat Rendy dan Reno tidak bisa berkata- kata.
"Sekarang make a wish dulu, kasihan tuh Laura dari tadi nunggu kamu," kata Rose membuat Rendy tersenyum malu.
Rendy dan Reno lalu menghampiri Laura dan make a wish.
"Doa terbaik untukmu," gumam Laura saat Rendy dan Reno meniup lilinnya secara bersamaan.
Rendy lalu mencium kening Sela membuat semua orang berteriak histeris.
"Udah jangan goda Laura dulu, papa punya sesuatu buat kamu," kata Bradsiton membuat Rendy dan Reno menghampirinya.
"Ini," kata Bradsiton sambil memberikan dua berkas. Tanpa banyak tanya mereka langsung membukanya.
Kartu keluarga?
Rendy lalu membacanya dengan teliti dan apa yang ia baca.
Rendy Bradsiton Arganta
Reno Bradsiton Arganta
"Ini seriusan pa?" tanya Rendy tak percaya dan Bradsiton hanya mengangguk.
Di mana itu tandanya mereka berdua resmi menjadi anggota keluarga Bradsiton atau lebih tepatnya putra dari Bradsiton Arganta.
"Terus punya lo apa Ren?" tanya Rendy yang sejak tadi diam saja.
"Ren ini beneran?" tanya Reno sambil memberikan berkasnya pada Rendy.
Di situ tertera jika mereka berdua telah memiliki sebuah perusahaan sendiri seperti Bara dan Bradsiton dengan nama 2R Fashion Style.
"Kita punya perusahaan sendiri ini pa?" tanya Rendy pada Bradsiton masih tak percaya.
"Iya jadi kembangkan dengan baik agar kalian bisa seperti kakak kalian," kata Bradsiton seketika membuat hati Bara sedikit geli saat mendengar kata kakak.
"Yeayyy sekarang lo jadi kakak kita," sorak sorai Rendy sambil memeluk Reno senang lalu memeluk erat Bradsiton dan Rose.
"Ehh sudah- sudah sekarang semuanya kumpul sini," spontan mereka semua langsung mendekat kearah Bradsiton.
"Kamera zoom," perintah Bradsiton pada para wartawan yang sejak tadi sibuk mengabadikan momen manis ini.
"Emang kenapa pa?" tanya Bara bingung yang mewakili pertanyaan semua orang.
"Negara tetangga kita Indonesia hari ini sedang merayakan hari raya idul fitri, jadi ayo kita hargai mereka yang selalu setia menemani cerita kita," kata Bradsiton membuat mereka mengangguk paham.
"Kami keluarga besar Sekretaris Canduku mengucapkan," kata Bradsiton mengawali lalu mereka mengatakannya dengan serentak.
"Selamat hari raya idul fitri minal aidzin wal faidzin mohon maaf lahir dan batin," kata mereka serentak dengan sangat kompak.
"Terima kasih banyak buat kalian yang selalu menunggu kisah kehidupan kita di sini, kami merasa sangat bahagia saat kalian selalu menanti cerita manis kehidupan kami," kata Bradsiton mewakili mereka semua.
"Oh ya saya minta maaf jika kebobrokan saya dan saudara saya Reno membuat kalian lelah tertawa, kita berdua hanya ingin menghibur kalian semua," kata Rendy membuat mereka tertawa.
"Tapi mereka sebel sama lo buat onar mulu," kata Bara membuat semua orang tertawa.
"Udah jangan ganggu mereka, biarin para readers rayain idul fitri," kata Bradsiton membuat semua bubar dan menikmati pestanya.
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
__ADS_1