
Setelah adegan kecil di depan butik, dengan sangat terpaksa Arumi membawa Leon masuk ke dalam. Sebuah keputusan yang akhirnya Arumi sesali di waktu sekarang.
Gadis cantik itu sedang sibuk menggambar sketsa untuk model keluaran terbarunya dua bulan lagi. Hal itu sebenarnya berjalan lancar-lancar saja dan tanpa kendala apapun. Hanya ada satu gangguan kecil yang sejak tadi mengganggu konsentrasi Arumi yaitu pandangan seorang pemuda yang saat ini sedang duduk di hadapannya sambil bertopang dagu dan senyum-senyum tidak jelas.
"Sabar, Aru! " Gadis itu mengingatkan dirinya untuk ke sekian kali dalam hati. Jangan sampai ia mengumpat kasar dan menendang bokong Leon saat ini juga untuk keluar dari dalam ruangan kerjanya.
Satu detik. Dua detik. Tiga detik.
BRAK!!!
Arumi menggebrak meja dengan keras. Pemuda di depannya tersentak dan reflek meloncat naik ke atas kursi.
"Ada apa, Aru ?" Leon bertanya dengan raut wajah yang masih nampak terkejut. Mata pria itu terbelalak keheranan.
"Bisakah kau untuk tidak menggangguku ?" Gadis itu meletakkan pensil yang ia pakai di atas meja. Tak ada nada ramah dalam ucapannya. Ketus.
"Siapa yang mengganggumu ? Aku bahkan tidak pernah bersuara sejak tadi," ucap Leon membela diri.
Arumi mendengus kasar. Pemuda di depannya memang sangat-sangat menyebalkan. Entah kenapa, ia bisa jatuh cinta dengan sosok lelaki seperti ini.
"Ya. Kau jelas menggangguku !" Arumi bersikukuh pada anggapannya.
"Tidak. Aku sama sekali tidak begitu," ujar Leon tak mau kalah.
"Jelas sekali bahwa kau menggangguku, Leon! " balas Arumi yang mulai sedikit jengah. Dinginnya AC bahkan tidak cukup untuk menenangkan bara api yang mulai menyala panas di dalam hatinya.
"Memangnya, dengan apa aku mengganggumu ?" tanya Leon tak mengerti.
__ADS_1
"Pandanganmu !" jawab Arumi dengan cepat.
Pemuda di hadapannya terdiam sejenak sebelum melancarkan tawa di detik berikutnya. Mata Arumi melotot melihat reaksi menyebalkan tingkat dewa Leon.
"Puffttt... Kau terganggu jika aku memandangimu, Aru ?" Leon kembali bertopang dagu dengan sebelah tangannya.
"Tentu saja. Memangnya, ada apa di wajahku sampai-sampai kau harus melihatku seperti itu? " seru Arumi yang semakin bertambah kesal.
Leon menarik punggungnya ke belakang hingga bersandar pada sandaran kursi. Pemuda itu melipat kedua tangannya di depan dada dengan senyum tampan yang selalu terlihat manis.
"Tidak ada." Leon menggeleng. "Aku hanya ingin membayar waktu yang selama ini sudah ku lewatkan tanpa melihatmu, Aru! Itu saja, " lanjutnya kembali.
Arumi merasa tersentuh dengan ucapan Leon. Meski pemuda itu menyampaikannya dengan wajah yang terlihat ceria, Arumi bisa merasakan ketulusan dalam setiap kata yang di keluarkan Leon.
"Kau melamun? " Leon melambaikan tangannya di hadapan Arumi yang nampak tertegun memandanginya.
Arumi segera tersadar dan kembali memasang wajah kesal untuk menghadapi Leon.
Pemuda itu menggeleng. "Tidak. Aku ingin di sini! " tolak Leon tegas.
Arumi menghela napas berat. Leon benar-benar sangat keras kepala. Entah turunan dari siapa.
"Kau hanya akan menggangguku saja jika kau tetap di sini. Apa kau tidak bisa mengerti? "
Leon beranjak dari kursinya dan berpindah ke sofa. Pemuda itu membaringkan tubuh jangkungnya di sana dengan kedua tangan yang ia pakai sebagai bantalan kepala.
"Aku akan tidur di sini. Dengan begitu, aku tidak akan membuatmu merasa terganggu," ujarnya seraya tersenyum.
__ADS_1
Kedua bahu Arumi luruh. Gadis itu bersandar pasrah di sandaran kursi kerjanya. Napasnya kian berat ketika melihat Leon benar-benar memejamkan mata.
"Kenapa lelaki ini terlalu keras kepala ?" batin Arumi sambil memijit pangkal hidungnya.
Waktu berlalu tanpa terasa. Sudah pukul 5 sore dan sekarang Arumi sudah bersiap untuk pulang. Gadis itu memasukkan beberapa barangnya ke dalam tas lalu bergegas keluar. Jemari Arumi yang bergerak membuka pintu tertahan ketika ekor matanya menangkap sosok pemuda dengan rambut brunettenya yang khas masih terlelap di sofa.
Perlahan, Arumi mendekat. Ia menekuk kedua lututnya sembari menatap wajah Leon yang terlihat begitu damai dalam tidurnya. Dengkuran halus terdengar samar di pendengaran Arumi. Membuat jemari lentiknya bergerak tanpa sadar dan menyisir rambut Leon dengan lembut.
Gadis itu tersenyum kecil. Leonnya masih lelaki yang sama ketika ia mengenal pemuda itu di pulau Moorea. Bulu matanya yang lentik, hidungnya yang mancung dan alis yang tegas agak kecoklatan. Semua itu tetap sama kecuali rahang pria itu yang mulai di tumbuhi rambut-rambut halus. Ah ! Leon sudah semakin terlihat dewasa meski sikapnya tetap saja kekanakan.
Jemari gadis itu bergerak menyusuri setiap jengkal wajah Leon. Tak ada yang terlewat satu pun. Dahi, alis, mata, hidung dan kini bergerak menyusuri bibir pemuda itu yang agak sedikit terbuka.
Jantung Arumi berpacu sedikit lebih cepat. Ia takut Leon bisa saja tiba-tiba terbangun dan memergokinya. Namun, jemarinya juga tak ingin di ajak untuk bekerja sama. Antara logika dan perasaan rindu yang membuncah, tentu saja logika yang akan kalah.
"Apa yang kau lakukan, Aru? " gumam Leon masih dengan masa terpejam. Tangan pria itu sudah menangkap pergelangan tangan Arumi sehingga napas gadis itu sempat terhenti beberapa saat.
Arumi berusaha melepaskan cekalan tangan Leon dari pergelangannya. Namun, bukannya terlepas justru cekalan itu semakin erat. Arumi pun memutuskan untuk berdiri dan itu merupakan sebuah kesalahan besar yang tak pernah Arumi duga.
Dalam sekali sentak, gadis itu terjatuh dan mendarat tepat di atas Leon. Mata Arumi terbelalak bukan main ketika kedua lengan Leon sudah memeluknya dengan begitu erat.
"Aku sangat merindukanmu, Aru !" gumam Leon dengan mata yang belum juga ia buka.
"Apa kau bisa merasakannya ?" Leon merapatkan kepala Arumi ke dadanya. Membiarkan gadis itu mendengarkan ritme detak jantungnya yang baru bisa berfungsi normal kembali setelah menemukan alasannya untuk tetap berdetak.
Arumi terdiam. Keinginan dirinya untuk melupakan Leon semakin runtuh. Bagaimana ia sanggup melupakan ketika hanya dengan cara seperti ini saja sudah membuat Arumi luluh ? Leon bahkan tidak perlu bersusah-susah seperti Irgi. Leon bahkan tidak perlu memohon sambil berlutut. Cukup dengan cara yang sederhana namun penuh dengan makna, Arumi sudah hampir menyerah untuk membenci Leon lebih lama lagi.
"Kau tidak tahu apa yang sudah ku lalui tanpamu, Aru !" lanjut Leon dengan suara yang lirih.
__ADS_1
"Memangnya, apa yang sudah kau lalui? " Tanya Arumi yang pasrah berbaring di atas dada Leon.
"Banyak. Sesuatu yang tak akan pernah kau duga sebelumnya," jawab Leon.