
Suara ombak yang beradu dengan karang terdengar begitu kokoh, kuat dan mampu memberi debaran dalam dada orang yang mendengarnya. Sepasang kekasih dengan Cinta yang semakin menguat berkat kesakitan demi kesakitan yang mereka lalui tengah berdiri bergandengan tangan menatap laut biru yang lepas dengan si wanita yang menyandarkan kepalanya di bahu sang pria.
Tenang. Hening. Nyaman.
Mata keduanya tertutup menikmati embusan angin sore di bawah langit jingga Pulau Moorea. Sebuah Pulau Indah tempat di mana segalanya di mulai. Di mana awalnya tawa datang menghibur kemudian berganti sakit saat janji hanya menjadi sekadar janji. Sebuah Pulau yang menjadi saksi di mana dua hati yang saling memupuk Cinta bertemu dan menemukan pelabuhan mereka masing-masing kemudian akhirnya saling menyakiti.
Bukan karena mereka tak lagi saling menaruh hati. Bukan pula karena mereka tak lagi saling mencintai. Keadaan. Status. Keluarga. Tiga hal itulah yang harus memisahkan mereka kemudian mempertemukan mereka kembali pada akhirnya.
Leon mengecup jemari Arumi. Di lihatnya pergelangan tangan gadis itu yang masih menyisakan sedikit goresan bekas luka karena sayatan pisau yang turut menyayat hati Leon waktu itu. Wajah Leon berubah sedih. Ingatan kejadian itu masih melekat kuat dalam otaknya.
"Apa ini masih sakit?" tanyanya dengan suara lembut penuh kasihnya. Ibu jarinya mengusap pelan bekas luka itu.
Arumi menggeleng. "Tidak," jawabnya singkat.
"Ku mohon! Jangan lakukan hal seperti ini lagi di masa depan, Aru! Melihatmu terluka adalah sesuatu yang akan menyakitiku dua kali lebih sakit di banding lukamu." Leon mencium bekas luka itu. Agak lama. Dan, Arumi hanya diam memperhatikan.
Keberuntungan darimana yang sedang menaungi hidup Arumi yang selalu penuh dengan air mata ini? Bahagia itu terlalu jauh untuk Arumi bayangkan di masa lalu. Tapi, sekarang? Bahagia itu datang dengan gulungan ombak yang begitu besar. Membawa Arumi dalam gejolaknya yang membuat Arumi benar-benar hanyut.
"Terima kasih karena telah memilihku, Leon!" lirih Arumi yang berusaha membendung air matanya.
"Bukan kau yang harusnya berterimakasih. Tapi aku." Leon membawa gadis itu ke dalam pelukannya.
***
Malam harinya, Arumi terbangun berkat deringan ponsel yang berada di bawah bantalnya. Gadis itu berusaha membuka mata meski terasa begitu berat. Lelahnya belum kunjung pergi hanya dengan beristirahat selama dua jam. Dapat Arumi tahu ketika ia melirik jam di atas nakas yang baru menunjukkan pukul 1.30 dini hari.
Keluarlah! Kenakan gaun yang berada di atas meja.
Arumi langsung terperanjat begitu membaca pesan dari Leon. Segera ia bangun dari tempat tidur dan mulai memicingkan mata mencari gaun yang di sebutkan Leon dalam pesannya.
Mata gadis itu lalu terkunci pada sebuah kotak berwarna merah maroon dengan pita di atasnya. Cukup besar. Sedang tergeletak manis di atas meja tepat di samping vas bunga mawar yang cantik. Senyum Arumi mengembang. Melangkah tidak sabaran mendekati meja kemudian membuka kotak di atasnya dengan rasa penasaran yang luar biasa.
Arumi takjub. Di dalam kotak itu terdapat sebuah gaun cantik berwarna biru malam dengan hiasan glitter yang memenuhi bagian bawahnya lengkap dengan sebuah heels yang berwarna senada. Tanpa perlu di perintah, Arumi berlalu menuju ruang ganti. Memasang gaun yang hanya sebatas lutut itu lantas memoles sedikit make-up di wajah bantalnya.
Selesai berdandan, ia menelepon Leon. Tak di angkat. Selang beberapa detik, sebuah pesan kembali masuk.
Keluar dari resort. Kau akan menemukan penunjuk jalan yang akan membawamu padaku.
Gadis itu melipat kedua bibirnya. Jantungnya memompa dua kali lebih cepat. Entah kejutan apa yang sedang Leon persiapkan untuknya.
Begitu membuka pintu resort untuk keluar, Arumi lagi-lagi di buat terperangah sekaligus senang ketika mendapati ada banyak lilin di sepanjang jalan setapak di hadapannya. Sebuah amplop berwarna merah tertempel di gagang pintu. Arumi meraihnya. Membuka dan membaca isi surat itu dengan cepat.
Ikuti lilinnya!
Senyum Arumi merekah. Dengan langkah pelan, ia menyusuri sepanjang jalan yang hanya di hiasi lilin. Langkah Arumi terhenti begitu menemukan sebuah foto dirinya tepat di belokan jalan. Sebuah foto yang entah kapan itu di ambil. Foto yang menampakkan ia sedang tersenyum lebar.
Entah sejak kapan aku mulai jatuh cinta pada senyum itu. Yang aku tahu, hanya senyum itu yang bisa membuatku terus terbayang wajah pemiliknya.
__ADS_1
Air mata Arumi luruh dalam sekejap begitu ia membaca tulisan di bawah gambar dirinya itu. Cepat-cepat ia hapus dan kembali melangkah. Sekitar dua meter dari foto yang pertama, terdapat foto lagi. Kali ini, raut wajahnya terlihat sedih. Ia tertunduk.
Maaf jika terkadang aku melukaimu. Demi Tuhan! Itu bukan inginku. Hanya saja, terkadang aku sedikit bertingkah egois dan menganggap kebohongan akan lebih baik asal kau tetap bersamaku.
Arumi menyeka air matanya lagi. Ia kembali melanjutkan langkah. Dan, ada sebuah foto lagi. Foto yang sepertinya di ambil ketika dia sedang berada di butiknya di Indonesia.
Maaf jika aku menjadi penyebab sakitmu, Aru! Menjadi penyebab luruhnya air matamu dari sepasang mata indah yang selalu aku rindukan. Namun, percayalah! Ketika kau terluka, lukaku jauh lebih parah dari yang kau derita.
Langkah Arumi terayun lagi. Dan sekarang, ia telah memasuki sebuah ruangan yang juga hanya di hiasi lilin. Temaram. Ada gambarnya yang berada di tengah-tengah ruangan dengan cahaya lilin yang berpendar menyinarinya. Ada tulisan lagi.
Dan untuk semua luka yang aku sebabkan. Untuk semua tangis yang aku tumpahkan. Maukah kau memberiku satu kesempatan untuk menebus segalanya? Izinkan aku menghukum diriku sendiri dengan mencintaimu selamanya. Izinkan aku untuk membayar segala kesalahanku dengan membahagiakanmu seumur hidup.
Arumi Liem...
Will you marry me?
Arumi tak sanggup berkata-kata lagi begitu dentingan suara piano terdengar. Dan dalam waktu yang bersamaan, lampu menyala serentak menerangi ruangan yang tampak seperti aula itu. Leon duduk di sana. Tepat di sebelah fotonya yang berukuran besar sambil menyanyikan sebuah lagu dari 'Ed Sheeran' yang berjudul 'Perfect'.
I found a love for me
Darling, just dive right in
And follow my lead
Well, I found a girl, beautiful and sweet
'Cause we were just kids when we fell in love
Not knowing what it was
I will not give you up this time
Darling, just kiss me slow, your heart is all I own
And in your eyes, you're holding mine
Baby, I'm dancing in the dark with you between my arms
Barefoot on the grass, we're listenin' to our favorite song
When you said you looked a mess, I whispered underneath my breath
But you heard it, darling, you look perfect tonight
Well, I found a woman, stronger than anyone I know
She shares my dreams, I hope that someday I'll share her home
__ADS_1
I found a love, to carry more than just my secrets
To carry love,…
Arumi terpaku di tempat. Yang bisa gadis itu lakukan hanyalah menangis sembari membekap mulutnya. Ini semua terlalu Indah untuk di sebut kenyataan. Apa yang harus Arumi lakukan demi menunjukkan rasa terima kasihnya karena telah di cintai pria sesempurna Leon?
Dia hanya wanita dengan masa lalu yang kelam. Hanya seorang perempuan yang dulunya di anggap tak lebih berharga dari sebuah batu kerikil di jalanan. Dan Leon? Dia seseorang yang begitu berkilau. Terlalu tinggi untuk bisa di jangkau oleh sebongkah batu tak berharga sepertinya. Namun, siapa sangka jika kilauan itu sendiri yang menghampirinya. Menyelimutinya dengan pendaran cahaya yang begitu Indah. Memeluk kerapuhannya dalam sebuah terang yang mampu merubah segalanya. Batu tak berharga itu kini ikut bersinar. Berbagi cahaya dengan sang pemilik yakni pemuda bersurai brunette dengan tawa lepas yang membuat Arumi terpana untuk pertama kali.
Begitu lagu selesai, pemuda itu berjalan pelan menghampiri Arumi. Tanpa berkata apa-apa, ia berlutut di hadapan gadis itu. Merogoh sebuah kotak beludru berwarna biru dari dalam saku jas yang ia kenakan dan membukanya tepat di depan sang pemilik hati.
"Aru, setelah semua yang kita lalui. Setelah semua tangis dan tawa yang sudah kita lewati. Maukah kau untuk terus mengiringi langkahku dan berbagi cerita hidup yang bahagia sampai akhir bersamaku? Dengan segala kerendahan hati, maukah kau menikah denganku?"
"Yes, I will! I will!" angguk Arumi dengan sangat bahagia.
Cincin bertahtakan berlian itu tersemat di jari manisnya. Di pasangkan oleh seorang pemuda yang saat ini sudah menjelma menjadi pria dewasa. Arumi memeluk pria itu begitu ia berdiri. Bergumam terima kasih berulang kali karena segala hal yang telah Leon korbankan untuknya.
Dalam tangis bahagia sepasang kekasih itu, gemuruh tepuk tangan tiba-tiba mengagetkan mereka. Banyak orang yang tiba-tiba datang. Duke Xander, Zack, Jonathan, Devan dan Selina, Charlie dan orang tuanya, serta Inessa. Semuanya hadir malam ini.
"Selamat, Nak!" Jonathan menghambur memeluk putrinya penuh rasa haru. Ia tak menyangka bahwa nasib malang putrinya akan berubah seindah ini. Hah, andai saja Nancy di sini. Tentu perempuan itu juga akan sangat bahagia melihat betapa bahagianya putri mereka malam ini.
"Selamat untuk kalian!" Duke Xander datang mendekat. Ia menepuk bahu Leon lalu berpindah memeluk Arumi singkat.
"Maaf karena dulu aku sempat meragukanmu! Dan, terima kasih karena telah memenuhi permohonanku!" ucapnya pada Arumi.
Gadis itu hanya bisa tersenyum. Dan, Duke Xander menanggapinya dengan anggukan kecil sebelum berlalu dari sana.
Tak ada yang tahu bahwa pria datar nan dingin itu menangis. Bahagianya adalah ketika melihat putranya bahagia. Ia melangkah menjauh dari sana. Keluar untuk menumpahkan rasa harunya dengan menatap langit malam penuh bintang di atas sana.
Greysha! Andai kau di sini! Kau pasti akan sangat senang karena aku telah berhasil menjadi Ayah yang baik untuk putra kita. Aku berhasil mengantar Leon ke dalam bahagianya. Kau bangga padaku, bukan?
**End...
Apakah harus ada bonus chapter?
Comment bagi yang mau ya!
Dan, Terima kasih telah mengikuti perjalan Arumi dan Leon sampai di sini!
Saya selaku Author sangat mengucapkan terima kasih untuk comment kalian yang mendukung karya ini. Pun, dengan yang mengatakan bahwa novel ini membosankan, alurnya itu-itu aja atau apapun comment yang agak membuat mental saya down...
But, It's okay. Sebelum memutuskan berbagi cerita yang menumpuk di otak dan menyalurkan hobi menulis saya yang masih sangat amatir, saya memang sudah mengetahui konsekuensi itu. Dan, saya cukup terima-terima saja. Ya, walaupun kadang baper juga sih! Hehehehe...
Intinya, terima kasih yang sudah menyayangi saya, Aru dan Leon. 1000 Cinta untuk kalian. Luph you tomat!!! 😘😘**
__ADS_1