
Leon merasa perasaannya tidak enak sejak kemarin. Bukan tidak enak pada badannya yang memang masih sakit. Melainkan tidak enak pada hati dan perasaannya entah karena hal apa. Ia takut jika terjadi sesuatu yang buruk pada gadis Asia kesayangannya yang sangat susah untuk ia temui.
Menuruti perasaan gundah yang terus mengusik hati, Leon memutuskan menelepon Zack. Meminta sahabat sekaligus kakak tirinya itu untuk mengantarnya ke kediaman keluarga Aldric lagi.
Leon berganti pakaian secepat mungkin. Kemudian, ia berjalan menuruni tangga dan menemukan Claire yang sedang berbincang dengan Duke Xander di ruang tamu. Curiga dengan topik percakapan mereka, Leon memutuskan untuk menguping dengan mengendap-endap diam-diam dan bersembunyi di balik pilar rumah yang cukup untuk melindungi keseluruhan tubuhnya.
"Gadis Asia itu tidak akan mengusik hubunganmu dengan Leon lagi. Dia akan kembali ke Indonesia hari ini juga," kata Duke Xander datar.
Wajah Claire langsung bersinar cerah. Senyumnya terkembang begitu lebar ketika mendengar kabar paling membahagiakan sepanjang hidupnya itu.
"Apa Uncle serius ?" tanya Claire memastikan.
Duke Xander tersenyum tipis seraya mengangguk. Leon yang bersembunyi dan mendengar semua percakapan mereka langsung lemas tak berdaya. Mata sayunya kembali berkaca-kaca. Susah payah Leon mengumpulkan kembali kekuatan yang hampir luruh semuanya. Pemuda itu keluar dari tempat persembunyiannya dan langsung melabrak ayah dan calon istrinya.
"Apa yang sudah Daddy lakukan ? Apa Daddy mengusir Arumi dari negara ini ?" bentak Leon tak terima.
Duke Xander dan Claire sontak berdiri karena kaget. Claire segera menghampiri Leon dan berniat memeluk calon suaminya itu.
"Honey ! Ada apa ?"
"Pergi kau !" Leon mendorong Claire hingga perempuan itu terpundur hingga menabrak punggung sofa di belakangnya.
"Apa yang kau lakukan, Leon ?" Duke Xander marah. Tak terima perlakuan kasar Leon kepada Claire.
"Apa yang Daddy lakukan pada Arumi ?" Leon bertanya balik.
"Daddy tidak melakukan apa-apa, Leon !" ucap Duke Xander.
"Bohong ! Daddy berbohong !" balas Leon tak terima.
"Kau tidak mempercayai Daddy ?"
"Memangnya, sejak kapan omongan Daddy bisa di percaya ?" tanya Leon sinis.
Duke Xander mendengus marah. Amarahnya semakin bertambah mendidih mendengar perkataan menyindir Leon.
"Kau !" Duke Xander menggeram sembari mengangkat tangannya. Bersiap menampar putranya sendiri.
"Ayo pukul !" Leon menantang dengan gagah berani.
"Hentikan !" suara Zack berhasil menghentikan tamparan Duke Xander yang sudah hampir mendarat keras di pipi Leon. Kedua pria itu menoleh ke sumber suara.Pun, dengan Claire. Perempuan itu juga melakukan hal yang sama.
__ADS_1
Zack melangkah mendekat pada ayah dan adik tirinya. Pemuda itu menutup matanya seraya menghela napas lemah. Ia berdiri di tengah-tengah Duke Xander dan juga Leon.
"Sampai kapan kalian akan terus bertengkar seperti ini ? Tidakkah kalian lelah ?" tanya Zack jengah. Berada di tengah-tengah perselisihan Leon dan Duke Xander benar-benar menguras baik tenaga maupun pikirannya.
"Beritahu anak keras kepala ini agar tidak selalu membangkang perkataanku, Zack !" ucap Duke Xander kesal.
"Justru Daddy yang harusnya berhenti mengekangku seperti hewan peliharaan yang harus selalu menuruti perintah Daddy !" sahut Leon tak mau kalah.
"Stop !!!" Zack berteriak menengahi. "Leon ! Lebih baik kau ikut aku !" kata Zack sambil menarik tangan Leon untuk pergi.
"Zack ! Siapa yang menyuruhmu membawa Leon pergi ?" tanya Duke Xander yang reflek membuat Zack menghentikan langkahnya.
"Tidak ada," jawab Zack datar.
"Kau pikir kau punya hak ?" Duke Xander bertanya kembali.
"Ya. Aku berhak. Aku kakaknya !" jawab Zack yang berhasil membungkam telak mulut Duke Xander. "Ayo !" Zack kembali menarik tangan Leon dan segera pergi dari sana.
* * *
" Aru ! Apa kau yakin tidak ingin kami mengantarmu ke bandara, Sayang ?" kata Isabella sembari membelai lembut surai hitam nan panjang milik Arumi.
"Tidak perlu, Aunty. Jika kalian semua mengantarku ke bandara, aku takut tidak akan kuat menahan kesedihan lebih dari ini," jawab Arumi lirih. Sepasang matanya menatap Charles, Isabella dan Charlie bergantian.
"Terima kasih, Aunty !" jawab Arumi tulus.
"Kabari aku jika kau sudah sampai. Kau mengerti ?" Charlie berusaha tetap tegar yang nyatanya tetap gagal karena air mata gadis tomboy itu tetap saja lolos tak tertahankan.
"Tentu saja," Arumi tersenyum dan memeluk Charlie sambil tersenyum lirih.
"Uncle ! Aru pamit, ya !" Kini Arumi beralih pada Charles.
"Ya. Jaga dirimu baik-baik," tutur Charles sambil mendekap Arumi singkat.
"Aru akan sangat merindukan kalian semua," lirih gadis itu. Ia kemudian menyeret kopernya dan membiarkan supir keluarga Aldric memasukkannya ke bagasi mobil. Ia pun masuk ke kursi penumpang bagian belakang lalu melambaikan tangan sebelum menutup rapat pintu mobil.
Isabella dan Charlie saling berpelukan sambil menangis melepas kepergian Arumi. Pun dengan Charles. Pria itu matanya sudah memerah dan berusaha untuk tetap tegar meski hatinya terasa sangat berat.
Sementara di dalam mobil yang mulai bergerak keluar dari gerbang, Arumi juga ikut menangis. Ia semakin terisak dalam sembari membekap mulutnya sendiri agar tak mengeluarkan suara.
"Leon, bukankah itu Arumi ?" Zack yang berpapasan dengan mobil yang Arumi tumpangi sontak terkejut.
__ADS_1
"Benarkah ?" Leon bertanya memastikan.
"Iya benar. Itu Arumi. Sepertinya gadis itu benar-benar ingin pergi," ucap Zack yang sudah menghentikan mobilnya.
"Kalau begitu, susul dia ! Jangan sampai Aru pergi, Zack ! Dia tidak boleh meninggalkan aku seperti ini ! Tidak boleh !" Leon mulai histeris sendiri.
Zack segera memutar arah mobilnya. Melaju dengan kecepatan tinggi untuk menyusul mobil yang Arumi tumpangi.
"Nona Aru ! Sepertinya, ada yang mengikuti kita," ucap supir yang menyetir mobil yang di tumpangi Arumi.
"Oh ya ?" Arumi segera berbalik dan melihat sebuah Lamborghini hitam sedang mengekori mereka dari belakang.
Siapa orang itu ? Gumam Arumi dalam hati.
Tak lama kemudian, ponselnya berdering. Ada nama Leon yang tertera di sana. Arumi kini sudah tahu siapa mobil yang mengikutinya itu. Pasti Leon.
"Ada apa ? Kenapa kau mengikutiku ?" tanya Arumi sinis.
"Aru ! Kau mau kemana ? Ku mohon ! Jangan tinggalkan aku !" suara khawatir Leon terdengar begitu panik.
"Berhentilah, Leon ! Tolong jangan mengikutiku lagi. Bukankah sudah ku katakan agar kau melupakan aku ?"
"Tidak ! Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah melakukan hal itu."
"Kau harus, Leon ! Kau sudah akan menikah dengan Claire ! Tolong jangan mengganggu hidupku lagi."
"Aku hanya akan menikah denganmu, Aru ! Bukan dengan Jane !"
Arumi berusaha untuk tetap kuat. Ia tidak ingin luluh dengan setiap perkataan Leon yang terdengar begitu jujur dan bersungguh-sungguh.
"Aku ingin pulang ke Indonesia bukan tanpa alasan, Leon !" ucap Arumi sembari berusaha menahan sesak di dalam dada.
"Alasan apa ? Beritahu aku ! Apapun alasanmu, aku tidak peduli. Kau, tidak akan kemana-mana, Aru !"
Arumi memejamkan matanya. Rasa sesak itu semakin bertambah. Bahkan, kini jantungnya terasa di remas ribuan tangan yang tak terlihat. Sakit.
"Aku memutuskan kembali pada mantan suamiku, Leon !" tukas gadis itu berbohong. "Jadi, tolong ! Berhentilah mengikutiku !" sambungnya lagi.
Ponsel Leon terjatuh begitu saja. Zack yang melihat hal itu pun segera menepikan mobilnya. Ia menyentak bahu Leon yang terlihat begitu sangat syok.
"Apa yang terjadi ?"
__ADS_1
Mulut Leon terbuka. Sangat ingin menjawab pertanyaan Zack namun tidak bisa. Pemuda itu hanya berbicara lewat air matanya yang kembali terjatuh. Leon menggeleng. Dan sepersekian detik berikutnya, pemuda itu sudah menjerit histeris di dalam pelukan Zack. Mobil Arumi pun kini sudah menghilang dari jangkauan pandangan mereka. Menyisakan luka untuk Leon yang tak mungkin akan sembuh dalam waktu yang singkat.