
Matahari tenggelam bergantikan malam dengan kerlap-kerlip lampu di sepanjang jalan yang membuat suasana kian terasa romantis. Jemari Leon yang menggenggam erat jemari Arumi masih memberi kehangatan yang sama untuk gadis itu. Kehangatan yang nyaris tak pernah Arumi peroleh dari orang-orang yang mengaku keluarga namun justru menyakiti.
Mereka berhenti di sebuah bangku dan duduk di sana. Leon yang juga baru pertama kali menemukan sumber kebahagiaan selama 25 tahun hidupnya, tak pernah sedikitpun menyurutkan senyum ketika bersama gadis asia itu.
Seperti saat ini, manik cokelat miliknya hanya berpusat pada wajah teduh Arumi yang menenangkan. Sesuatu di dalam hatinya bergejolak, seolah ingin meluap dari dalam seperti kupu-kupu yang beterbangan.
"Apa ?" Ucap Arumi memecah keheningan. Gadis itu mulai salah tingkah karena sejak tadi, Leon hanya menatap lekat pada dirinya. Entah apa yang begitu menarik dari dirinya hingga Leon bisa sebetah itu memandanginya.
"Tidak ada." Leon menjawab dengan tangan yang kini menopang dagu. Masih menatap Arumi lekat dengan bibir tersenyum tidak jelas.
Arumi mengatupkan kedua bibirnya menahan tawa. Di liriknya kiri kanan orang-orang yang berlalu lalang dengan perasaan sedikit malu. Tangan lainnya yang bebas tak di genggam Leon, bergerak mencubit lengan pria berambut brunette itu.
"Hentikan, Leon ! Apa kau ingin di tertawakan orang-orang ?" Ujar Arumi setengah berbisik. Tampak sekali gadis itu berusaha menahan senyum.
"Kenapa ? Memangnya apa yang ku lakukan sampai-sampai aku harus malu ? Katakan !" Sahut pria itu acuh. Sama sekali tak bergeming dari posisinya meski sudah di hadiahi cubitan dari Arumi.
"Jangan memandangiku seperti itu, Leon ! Aku malu." Ujar Arumi menutup wajahnya.
"Kenapa kau harus malu ?" Tanya Leon. Ia melepas tangan Arumi yang menutupi wajah gadis itu dan memegangnya erat.
"Memangnya, di wajahku ada yang lucu sampai-sampai kau memperhatikanku seperti ini ?"
__ADS_1
"Tidak ada." Leon mengendikkan bahunya.
" Lalu, apa yang kau lihat ?" Arumi merubah posisi duduknya menjadi berhadapan dengan Leon.
"Apa yang salah dengan seorang lelaki yang mengagumi kecantikan kekasihnya sendiri, hmm ?" Seru Leon dengan ekspresi santai. Khas Leon seperti biasa.
Sepertinya, Arumi membutuhkan dokter jantung sekarang juga. Sepertinya, jantung kecil di dalam dadanya mulai berulah lagi. Detakannya bahkan jauh lebih kencang di banding hari-hari kemarin. Yang ini terlalu cepat dan membuat Arumi kesulitan untuk mengontrol lebih lama lagi.
"Aku bukan kekasihmu, Leon." Arumi membuang wajahnya ke arah lain. Namun, jelas sekali terlihat senyum bahagia yang tercetak sempurna di wajah cantik itu.
"Kau masih belum mau menerimaku ?" Leon menghela napas, melepaskan kedua tangan Arumi dari genggamannya dan membiarkan gadis itu menjelaskan apa yang ingin dia katakan.
"Ku rasa, kita terlalu cepat untuk masuk ke fase itu, Leon. Kita bahkan belum saling mengenal dengan benar. Bagaimana bisa kita bersama jika kita saja belum terbuka satu sama lain ?" Lirih Arumi pelan seraya menggigit bibir bawahnya. Sepasang jemari lentik yang di lepas Leon tadi saling bertautan menahan gugup.
Arumi menoleh dengan wajah yang tiba-tiba saja berubah muram. Tentu penyebabnya adalah karena Leon memintanya untuk bercerita mengenai kisahnya. Itu berarti Arumi harus mengungkapkan kisah masa lalu yang pahit yang sudah susah payah dia lupakan.
Manik hitam itu tampak berkaca-kaca. Di hirupnya udara malam sebanyak yang dia mampu lalu membuang pandangannya lagi ke arah lain. Perlahan namun pasti, air mata kembali berguguran di wajah cantiknya.
"Jika kau merasa berat, sebaiknya tidak usah. Aku tidak akan memaksamu jika kau merasa tidak siap untuk melakukannya." Lirih Leon khawatir. Pria itu mengelus perlahan pundak Arumi agar gadis itu merasa sedikit terhibur.
Dalam hati Leon, ia merasa bahwa hidup Arumi mungkin memang begitu berat. Alasan apalagi yang gadis itu miliki sehingga harus terdampar di daratan Prancis dan hanya menumpang pada seorang teman tanpa kerabat dekat satu pun kecuali kisah sedih di balik itu semua ?
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Leon. Jika kau ingin tahu, maka akan kuceritakan. Ini juga akan menjadi kesempatan untukmu mempertimbangkan segalanya sekali lagi. Apa kau tetap ingin menjalin hubungan denganku atau tidak." Seru Arumi dengan tawa miris di akhir kalimat.
"Tidak akan ada yang bisa merubah keputusanku, Aru ! Aku mencintaimu, aku ingin bersamamu. Apapun masa lalumu, akan ku terima." Jawab Leon meyakinkan.
"Baiklah." Arumi mendesah samar. Menatap langit malam yang sunyi tanpa bintang di atas sana, dengan kristal bening yang masih menggenang di pelupuk mata.
"Ibuku adalah istri simpanan ayahku." Arumi mulai mengawali cerita.
"Tapi, jangan menilai ibuku buruk dulu, Leon." Gadis itu terkekeh kecil menahan perih di hati. "Meski ibuku adalah istri kedua, tapi ibuku saat itu benar-benar tidak tahu bahwa ternyata ayahku sudah menikah lebih dulu dengan wanita lain.Beliau baru tahu bahwa ternyata ayah sudah menikah ketika usiaku menginjak 3 tahun. Saat itu, karena marah ibu pergi meninggalkan ayah. Tapi...." Ucapan Arumi terputus. Suara tangisnya mulai terdengar terbata-bata karena harus menceritakan kisah lama memilukan itu.
"Tidak usah di teruskan. Aku tidak ingin membuatmu bersedih begini. Maafkan aku." Ucap Leon menyesal. Dengan penuh kasih sayang, kedua lengannya memeluk erat tubuh Arumi. Membawa gadis asia itu ke dalam dekapannya yang terasa begitu menenangkan. Ia bahkan sesekali mencium puncak kepala Arumi yang bersandar di dadanya.
"Akan ku lanjutkan." Gadis itu menghapus air matanya lalu melepas pelukan Leon.
"Kau yakin ?" Tanya Leon dengan tatapan cemas.
Arumi hanya mengangguk lalu menarik napas dalam-dalam untuk mengumpulkan kekuatan kembali.
"Ibu membawaku ke korea waktu itu, tapi saat usiaku 5 tahun, ibu mulai di diagnosa menderita kanker stadium 2. Dan saat penyakit itu semakin parah, ibu akhirnya menghubungi ayah dan memohon padanya untuk merawatku. Dan, tepat di ulang tahunku yang ke-7, ibu meninggal." Tangis gadis itu kembali meledak. Setiap detail di malam kelam itu masih membayang di benak Arumi.
Ia masih mengingat dengan jelas bagaimana ibunya membantu dia meniup lilin untuk terakhir kali. Dan setelah itu, beliau menghembuskan napas terakhir dan meninggalkan putri tersayangnya sendirian di dunia. Putri yang amat di kasihi dengan sepenuh hati. Di detik terakhir pun, Nancy masih meminta maaf pada Arumi karena tidak bisa lagi menemani Arumi untuk melewati hari-hari yang mungkin saja berat di masa depan.
__ADS_1
Nancy merasa bersalah untuk semua itu. Ia merasa bersalah karena harus melewatkan pertumbuhan putrinya karena sudah tahu bahwa waktunya tidak lama lagi. Ia merasa bersalah karena harus melewatkan saat pertama putrinya masuk sekolah di waktu dulu. Ia merasa bersalah karena tidak akan ada di saat anak gadisnya mulai mengalami cinta pertama dan patah hati untuk pertama kali. Dan dia merasa bersalah, karena tidak akan ada untuk menyerahkan putrinya pada lelaki yang baik di hari pernikahan Arumi nanti.
Terlalu banyak hal yang Nancy sesali di saat terakhir. Namun, yang membuat dia tenang di kala meregang nyawa adalah doa seorang gadis kecil berusia 7 tahun yang meminta pada Tuhan agar ibunya pergi dengan damai tanpa rasa sakit seperti hari-hari yang sudah dia lalui. Ya, di malam itu, ketika Nancy selesai membantu Aru meniup lilin, Arumi sudah tahu bahwa ibunya sudah bersiap untuk pergi. Gadis itu hanya tersenyum di dalam tangisnya melepas kepergian sang ibu menghadap sang pencipta.