
Suara seperti sesuatu yang berat terjatuh entah di mana tak juga membuat konsentrasi Irgi memikirkan keberadaan Arumi teralih. Pria itu masih berusaha menduga-duga, dimana kira-kira Arumi berada. Ia ingin segera menjemput gadis itu kembali ke tempat di mana seharusnya dia berada. Di kediaman keluarga Antonio tanpa seorang pun yang akan mengganggunya lagi.
"Tuan !" Salah seorang pelayan berlari menghampiri Irgi di dalam kamar. Napas pelayan itu naik turun dengan wajah pias nyaris tanpa darah.
"Ada apa ?"
"Nyonya Beverly ..."
"Ada apa dengan Lily ?"
"Nyonya Beverly jatuh dari tangga."
"Apa ?"
Tanpa basa-basi, Irgi terburu-buru keluar dari dalam kamar, berlari menuruni tangga dan sudah menemukan Beverly yang pingsan tak sadarkan diri dengan kepala berdarah.
"Cepat siapkan mobil !" Perintah Irgi setengah berteriak. Pria itu segera mengangkat tubuh Beverly, menggendongnya dan membawa perempuan itu secepat mungkin menuju ke rumah sakit.
* * *
"Bagaimana keadaan istri saya, Dok ?" Tanya Irgi cemas. Yang ia lakukan sejak tadi hanyalah mondar-mandir tidak jelas menunggu Dokter selesai menangani istrinya.
"Nyonya Beverly baik-baik saja. Kepalanya terluka karena membentur lantai. Tetapi hanya luka ringan. Tidak ada luka yang serius." Jawab dokter wanita itu dengan senyum bersahaja.
"Lalu, bagaimana dengan kandungan istri saya ?"
"Kandungannya juga baik-baik saja. Anda tidak perlu khawatir berlebihan."
Irgi menghela napas lega saat mendengarkan ucapan dokter itu. Syukurlah bayinya tidak kenapa-kenapa. Hal itulah yang sebenarnya paling Irgi khawatirkan di banding apapun. Masa bodoh dengan Beverly. Asal bayi di dalam kandungan perempuan itu sehat-sehat saja maka Irgi tak peduli dengan luka lain yang Beverly derita.
"Irgi ! Bagaimana kondisi Beverly ?" Nyonya Katherine yang baru saja tiba langsung mencecar Irgi dengan pertanyaan. Raut wajahnya jelas menunjukkan kecemasan yang luar biasa.
"Lily baik-baik saja." Irgi menjawab dengan dingin. Sejak mendengar sendiri kebenaran dari mulut Beverly, Irgi tidak lagi merasa harus menaruh hormat kepada kedua mertuanya.
__ADS_1
"Apa bayi kalian juga baik-baik saja ?" Kali ini Tuan Jo yang bersuara. Sama seperti Irgi, yang dia pedulikan hanyalah bayi di dalam kandungan Beverly.
"Ya. Bayinya juga baik-baik saja."
"Aku akan masuk melihat putriku." Ucap Nyonya Katherine seraya bergerak ingin membuka pintu.
"Tunggu ! Ada yang ingin ku bicarakan dengan kalian." Ucap Irgi sambil menahan pergelangan tangan Nyonya Katherine. Membuat Nyonya Katherine dan Tuan Jo mengernyit bingung.
Wajah Irgi tampak begitu datar namun di penuhi oleh aura keseriusan. Kilatan amarah jelas dapat di baca Tuan Jo di kedua bola mata milik menantunya. Entah apa yang mendasari hal itu, Tuan Jo tahu bahwa Irgi pasti sudah mengetahui sesuatu.
Jika itu benar, maka Tuan Jo tentu akan bersukacita. Karma ternyata datang lebih cepat dari perkiraannya.
"Ada apa ?" Tanya Tuan Jo datar. Mereka sedang berada di kantin rumah sakit dan duduk saling berhadapan.
"Kenapa kalian membantu Lily lari dengan pria lain di hari pernikahan kami dan malah mengkambinghitamkan Arumi sebagai pelaku penculikan ?"
"Apa ? Apa yang kau bicarakan ?" Desis Nyonya Katherine terbelalak. Darimana Irgi tahu rahasia yang sudah dia simpan dengan rapi selama ini ?
Tubuh Nyonya Katherine bergetar menahan amarah. Ia mendengus kesal seraya berdecak.
"Apa itu alasan kenapa putriku bisa jatuh dari tangga ? Karena kau bertengkar dengannya ?" Kini Nyonya Katherine memulai serangan balik untuk melumpuhkan Irgi. Dia hanya berharap, agar pria bodoh yang begitu menggilai putrinya itu agar tetap bersikap bodoh. Bukan malah menjadi sok pintar dan mencaritahu seperti ini.
"Bukan itu penyebabnya, Nyonya Kathe !" Desis Irgi membantah. Ia bahkan sudah memanggil ibu mertuanya dengan sebutan Nyonya dan bukannya Mama lagi.
"Lalu apa ? Jangan mencoba beralasan dan lari dari kesalahan, Irgi !"
"Bukankah itu kalian ? Kalian yang selama ini lari dari kesalahan dan malah melemparnya pada Arumi." Sergah Irgi geram. Telunjuk pria itu mengacung tepat di wajah kedua mertuanya tanpa peduli pada batas kesopanan yang seharusnya dia tunjukkan pada orang yang lebih tua. Baginya, baik Nyonya Katherine dan Tuan Jonathan tidak ada yang layak untuk memperoleh hal itu darinya.
"Apa yang ingin kau ketahui, Irgi ?" Ucap Tuan Jonathan menengahi. Tak seperti Nyonya Katherine yang tersulut amarah, Tuan Jonathan terlihat lebih tenang dan bisa menguasai situasi.
"Anda barusan sudah mendengar pertanyaan saya, bukan ?"
Tuan Jonathan memperbaiki posisi duduknya. Menghela napas sebentar sebelum menjawab. " Ya. Semua yang kau pikirkan itu benar. Kami membantu Lily kabur di hari pernikahan kalian dan membujuk Arumi menggantikannya sekaligus mengakui cerita penculikan yang sudah kami siapkan."
__ADS_1
"Apa kalian sudah tidak waras ? Mengorbankan gadis sebaik Arumi dan malah membela kelakuan bejat putri kalian yang lain ? Apa itu masuk akal ?"
"Tidak. Itu tidak masuk akal. Aku mengakuinya." Tuan Jo lagi-lagi menjawab dengan ringan tanpa beban.
"Jo !" Pekik Nyonya Katherine tak terima. Jonathan sudah benar-benar kelewatan. Suaminya itu sudah berada di luar batas.
"Ada apa, Kathe ? Bukankah kita memang melakukannya ? Lagipula, Lily saja sudah mengakui. Kenapa kita masih saja harus berbohong ?"
"Kau sudah benar-benar tidak ingin melihatku dan Lily ?" Ancam Nyonya Katherine memperingatkan.
"Aku sudah kehilangan segalanya sejak Arumi pergi meninggalkan rumah. Jika kalian juga pergi, maka tak akan ada bedanya untukku." Tuan Jonathan menyeringai. Seharusnya, tingkah ini dia tunjukkan sejak dulu. Jika saja dia bisa seberani sekarang di masa lalu, tentu dia masih bisa melihat senyum teduh milik Arumi setiap hari.
Rasa bersalah karena tidak bisa menjalankan amanah dari Nancy untuk menjaga putri semata wayang mereka juga tidak akan menghantuinya seperti mimpi buruk seperti ini. Kini Jonathan menyesal ketika dia baru tersadar bahwa waktu sudah berlalu begitu banyak dan kini dia telah kehilangan segalanya.
"Jo, kau sadar dengan yang kau katakan ?" Perasaan Nyonya Katherine mulai tak karuan. Antara cemas, takut, dan merasa khawatir jika Jonathan benar-benar menyuruhnya pergi mulai menggerogoti perlahan-lahan dirinya. Mau tinggal di mana dia jika Jonathan benar-benar menendangnya keluar dari rumah ?
"Aku akan menceraikan, Beverly." Kata Irgi dengan lantang. Menghentikan perdebatan sepasang suami istri yang tampaknya memang tak pernah harmonis di depannya ini.
"Apa ? Berani sekali kau !" Nyonya Katherine bangkit berdiri. Satu tamparan kuat dari tangannya mendarat telak di pipi kanan Irgi.
Pria bermata sipit itu terkekeh kecil. Di pegangnya pipi yang terasa panas akibat sentuhan tidak berperasaan dari ibu mertuanya sendiri dengan santai.
"Apapun yang terjadi, aku akan menceraikan Lily tepat saat bayiku lahir. Akan ku pastikan hak asuh berada di tanganku dan bukannya di tangan Beverly." Ucap Irgi yakin.
"Aku tidak akan pernah membiarkannya." Sahut Nyonya Katherine.
"Terserah anda, Nyonya ! Aku tidak peduli dengan perkataan anda. Biar bagaimanapun, aku punya segudang bukti untuk membuat pengadilan menjatuhkan hak asuh kepadaku dan bukannya Beverly."
Nyonya Katherine tidak bisa berkata-kata lagi. Sementara Jonathan hanya mengangguk sambil tersenyum seolah-olah mendukung perbuatan Irgi. Pria bermata sipit itu jadi bingung sendiri. Sebenarnya, Ayah mertuanya sedang berpihak pada siapa ? Dirinya atau Beverly ?
Irgi
__ADS_1