Senja Di Moorea

Senja Di Moorea
SDM#68


__ADS_3

Hari sudah malam ketika Arumi kembali ke mansion. Charles, Isabella dan Charlie sedang bersantai di ruang keluarga sambil menonton TV. Arumi melangkah pelan, memperhatikan keluarga kecil itu dari kejauhan. Tanpa sadar, gadis itu tersenyum sekaligus menangis. Tersenyum karena pekerjaan Charles akan kembali, namun menangis karena itu artinya dia harus kembali ke Indonesia. Meninggalkan keluarga yang selama beberapa bulan ini sudah menganggapnya seperti putri sendiri. Sebuah pengorbanan yang Arumi rasa sepadan untuk keluarga sebaik mereka.


Arumi kini melangkah naik ke atas kamar tidurnya. Gadis itu langsung menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang sambil menatap langit-langit kamarnya. Tasnya ia letakkan begitu saja di sampingnya. Tak lama kemudian, bunyi notifikasi pesan masuk pada ponsel yang masih berada di dalam tas membuat perhatian gadis itu teralih. Arumi pun bergegas mengambil ponselnya dan membuka pesan yang baru saja masuk.


Duke Xander :


Pekerjaan Charles Aldric sudah ku kembalikan. Sebaiknya, penuhi janjimu secepatnya juga. Jangan membuatku menunggu.


Arumi menghela napas lalu menyimpan ponselnya di atas nakas. Gadis itu kemudian beranjak keluar kamar ketika suara sorakan terdengar dari lantai bawah. Arumi yang penasaran pun memutuskan untuk turun ke bawah, melihat apa yang sebenarnya sudah terjadi.


"Ada apa ini ?" tanya Arumi ketika sudah sampai di ruang keluarga. Tempat sumber kebisingan itu berasal.


Melihat Arumi yang berdiri tak jauh dari mereka, Isabella menghampiri dan langsung memeluk Arumi. Wanita itu meneteskan air mata bahagianya.


"Aru, Uncle-mu naik jabatan !" kata Isabella senang.


"Oh ya ?" tanya Arumi memastikan.


"Ya. Baru saja bos Uncle-mu menelepon dan bilang bahwa Uncle-mu naik jabatan ! Ini benar-benar kabar yang mengejutkan !" jawab Isabella.


Arumi turut tersenyum bahagia. Dia pun menghampiri Charles untuk memberi pria yang sudah ia anggap sebagai ayah sendiri itu sebuah ucapan selamat.


"Uncle !" panggil Arumi.


"Aru !" sahut Charles tersenyum.


Arumi segera menghambur ke dalam pelukan Charles. Gadis itu meneteskan air mata namun dengan cepat di sekanya.


"Selamat Uncle ! Aru ikut senang !" ucap gadis itu tulus.

__ADS_1


"Ya. Terima kasih, Sayang !" sahut Charles sambil melerai pelukan mereka.


"Kalau begitu, bukankah hal ini harus di rayakan ?" imbuh Charlie yang duduk di atas meja.


"Baiklah ! Ayo bersiap-siap ! Kita makan malam di luar !" ujar Charles antusias.


"Yey !" Charlie bersorak senang. " Aru ! Ayo cepat kita bersiap !" lanjut Charlie sembari menarik tangan Arumi untuk ke atas.


Selepas kepergian Charlie dan Arumi, Isabella pun menghampiri suaminya dan mencium bibir suaminya singkat. Senyum bahagianya masih terpampang jelas di wajah cantiknya.


"Sayang, apa menurutmu tidak ada hal yang sedikit aneh ?" tanya Charles pada istrinya. Pria itu memang sudah merasa ada sesuatu yang ganjil sejak bosnya menelepon dan mengatakan bahwa dia di panggil untuk bekerja kembali dan malah akan naik jabatan satu tingkat lebih tinggi dari jabatan sebelumnya sebagai permintaan maaf.


"Aneh kenapa ?" Isabella balik bertanya.


"Kenapa tiba-tiba Mr. Hemsworth memanggilku untuk bekerja kembali dan malah naik jabatan setelah beberapa hari yang lalu dia sendiri yang memecatku atas permintaan Duke Xander ?" tutur Charles curiga.


Isabella ikut berpikir keras. Benar kata suaminya. Kenapa semua terdengar begitu di buat-buat ? Seolah-olah, semua ini hanya sebuah permainan yang di kendalikan oleh seseorang. Orang yang tentunya memiliki kekuasaan yang sangat besar yaitu Duke Xander. Namun, pertanyaannya adalah, apa yang di incar oleh pria itu ?


Charles pun mengangguk. " Ya. Aku rasa juga seperti itu," balas Charles.


"Tapi kenapa dia tiba-tiba mengembalikan pekerjaanmu ?" tanya Isabella bingung.


"Entahlah ! Semoga saja alasannya bukanlah sesuatu yang buruk," jawab Charles yang sebenarnya juga tak memiliki jawaban untuk pertanyaan itu.


Sampai di sebuah restoran yang di rekomendasikan Charlie, mereka berempat pun masuk dan memesan meja. Semuanya menikmati makan malam hari ini dengan di selingi candaan dan kejahilan Charlie. Semuanya terlihat begitu sangat bahagia.


"Kalian senang ?" Charles bertanya pada keluarganya saat perjalanan pulang.


"Tentu saja, Dad !" sahut Charlie sumringah. Gadis itu tersenyum lebar mengingat dirinyalah yang paling banyak makan di antara semuanya.

__ADS_1


"Dan kau Aru ?" tanya Charles pada Arumi yang sedari tadi hanya terdiam sepanjang perjalanan pulang.


"Tidak, Uncle !" geleng gadis itu lemah.


"Kenapa ? Apa ada sesuatu yang terjadi lagi ?" sergah Isabella cepat. Wanita itu menengok ke kursi belakang dan menatap Arumi dengan tatapan penuh kecemasan.


"Aru tidak terbiasa makan makanan mentah, Aunty !" jawab gadis itu jujur.


Sontak Charles dan Isabella langsung tertawa. Begitu pun dengan Charlie. Memang, restoran rekomendasi Charlie adalah restoran jepang. Hanya Sushi dan Sashimi yang Charlie pesan untuk makan malam mereka. Makanan favoritnya seorang diri tanpa berpikir bahwa mungkin saja anggota keluarganya ada yang tidak suka dengan menu itu. Arumi yang memang tidak suka makanan jepang pun hanya bisa gigit jari karena malu untuk memesan menu lain lagi. Tentu saja, itu juga tak lepas dari ulah tidak peka Charlie.


Tadi, ketika pelayan resto bertanya apa ada pesanan lagi atau tidak, Arumi baru ingin bersuara untuk memesan menu lain. Namun naas, Charlie sudah lebih dulu menyahut dan mengatakan bahwa pesanan mereka sudah cukup. Alhasil, Arumi hanya pasrah dan menyimpan dendamnya di dalam hati.


Sampai di rumah, Arumi meminta izin untuk beristirahat terlebih dulu. Alasannya, karena dia sudah mengantuk. Padahal, alasan sejujurnya adalah untuk memikirkan alasan bagaimana caranya memberitahu pada keluarga Aldric bahwa dirinya akan kembali ke Indonesia sesuai permintaan Duke Xander.


Pria angkuh itu sudah menepati janjinya. Maka untuk sekarang, Arumi juga harus melakukan hal yang sama.


* * *


Arumi berangkat kerja pagi ini dengan di antar Charlie. Berhubung gadis itu kuliah siang khusus hari ini, maka ia pun berinisiatif menawarkan tumpangan pada sahabat baiknya.


"Apa kau yakin akan baik-baik saja ?" Charlie melirik singkat Arumi yang duduk di sampingnya.


Arumi menghela napas. Pertanyaan ini, entah sudah yang ke berapa kali Arumi dengar sejak tadi pagi berada di meja makan. Ia pun menoleh dan menatap Charlie yang masih fokus menyetir.


"Iya, Charlie ! Aku yakin. Apa kau tidak lihat bahwa aku sudah sembuh sekarang ?"


"Iya. Kau sudah sembuh. Tapi hanya luka fisikmu saja. Tapi, bagaimana dengan luka di hatimu ?" Charlie mengomel.o0mon


Aru kembali menghela napas. Perkataan Charlie berhasil membuat dia mengingat kembali kejadian beberapa hari yang lalu.

__ADS_1


"Jangan khawatir, Char ! Aku lebih kuat dari yang kau tahu. Percayalah !" ucap Arumi meyakinkan.


Gadis yang sedang fokus menyetir itu sedikit bisa tenang karena jawaban Arumi. Charlie bernapas lega, walaupun hatinya masih sedikit ragu.


__ADS_2