
Selepas kepergian mantan kakak ipar bersama tunangannya, Arumi memilih kembali ke dalam ruangan miliknya. Gadis itu menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi yang empuk sambil memejamkan mata sebentar.
Kehadiran Darius yang secara kebetulan ternyata juga menetap di negara ini membuat Arumi sedikit merasa bimbang. Dia takut jika suatu saat Darius bisa saja mengingkari janjinya dan memberitahu dimana keberadaan Arumi pada Irgi. Apalagi, besar kemungkinan Irgi akan datang ke negara ini jika pernikahan Darius nanti di adakan. Lantas, Arumi harus melakukan apa ?
Gadis itu memejamkan mata sambil memijit pangkal hidungnya. Mungkin dia tak akan segelisah ini jika saja tak mendapatkan email dari Irgi setiap hari yang selalu mengatakan hal yang sama.
Arumi dimana kau ? Aku merindukanmu ! Kembalilah padaku !
Kata-kata itu selalu memenuhi email Arumi setiap hari namun tak pernah di gubris gadis itu sedikit pun. Jika dulu dia enggan membalas karena berpikiran bahwa itu bisa saja Beverly yang berniat menjahilinya, namun kini alasan dia enggan membalas adalah karena kini dia memang merasa Irgi sudah bukan siapa-siapa lagi di hatinya.
Pria itu sudah tersingkir sepenuhnya dari hati Arumi karena keberadaan Leon yang menggesernya secara perlahan. Tapi kini pemuda itu juga seperti menghilang bak di telan bumi. Tak pernah memberi kabar sedikit pun padahal Arumi sudah berkubang dalam genangan rindu selama berhari-hari tanpanya.
"Aru !" Kembali, seorang rekan kerja Arumi melongokan kepalanya pada pintu ruangan Arumi yang terbuka setengah.
"Ya, ada apa ?" Tanya Arumi setengah kaget.
"Ada orang yang mencarimu !" Katanya.
"Siapa ?"
"Miss Savich."
"Di mana dia sekarang ?"
"Di ruangan Nyonya Nastya."
"Baik ! Katakan padanya bahwa sebentar lagi aku akan ke sana."
Rekan Arumi tadi mengangguk dan kembali merapatkan pintu ruangan Arumi. Sementara gadis Asia itu masih betah bersandar di sandaran kursi dengan deru napas yang terdengar lemah.
Sekitar 5 menit lamanya berdiam di kursi, Arumi memutuskan segera menemui Claire. Mungkin nona muda cantik sekaligus selebritis itu ingin melihat kembali gaun indahnya yang sekarang sudah jadi seratus persen walau tenggat waktunya masih terbilang lama.
"Aru !" Panggil seseorang yang membuat langkah Arumi menuju ke ruangan Nyonya Nastya terhenti.
Gadis Asia itu menoleh dan menemukan sosok Claire yang berlari kecil menghampirinya kemudian memberi pelukan singkat untuk Arumi. Arumi turut membalas pelukan Claire dengan senyum sumringah.
"Ku pikir kau sedang berada di ruangan Nyonya Nastya." Kata Arumi.
"Aku tadi melupakan ponselku di mobil. Jadi, aku harus kembali lagi untuk mengambilnya." Ujar Claire sambil memamerkan ponselnya pada Arumi.
"Ada apa kau kemari ?" Tanya Arumi.
"Aku ingin kau mengukur secara langsung ukuran jas untuk calon suamiku." Jawab Claire dengan senyum lebarnya.
__ADS_1
"Apa calon suamimu akhirnya setuju untuk melakukan pengukuran secara langsung ?" Tanya Arumi penasaran. Nada suaranya jelas terdengar turut berbahagia untuk Claire.
"Ya. Dia akhirnya setuju." Jawab Claire bertepuk tangan.
Arumi terkekeh kecil menyaksikan tingkah menggemaskan Claire. Sepertinya perempuan cantik itu benar-benar sangat bahagia.
"Dimana dia sekarang ?"
"Di ruangan Nyonya Nastya. Ayo kita kesana !" Claire langsung menggandeng tangan Arumi menuju ke ruangan Nyonya Nastya untuk segera bertemu dengan calon suaminya. Sementara Arumi kembali tersenyum menanggapi Claire tanpa curiga sama sekali terhadap niat jahat Claire yang terselubung.
"Tunggu dulu !" Claire menahan tangan Arumi yang hendak mendorong pintu ruangan Nyonya Nastya.
Gadis itu menoleh menatap Claire dengan tatapan heran.
"Ada apa ?"
"Ada yang ingin ku sampaikan sebelum kau bertemu dengannya."
"Apa ?"
"Jangan sampai kau jatuh cinta pada calon suamiku saat melihatnya nanti, Aru ! Berjanjilah !" Ucap Claire yang terdengar sangat serius.
"Tentu saja tidak Claire ! Apa kau pikir aku sudah gila dengan menyukai calon suami temanku sendiri ?" Jawab Arumi terkekeh.
"Ya." Jawab Arumi sambil memutar bola matanya jengah.
Gadis itu kemudian melanjutkan mendorong pintu ruangan Nyonya Nastya. Dan...
DEG !
Bagai di hantam batu besar tepat di ulu hatinya, senyum Arumi seketika surut saat melihat siapa calon suami yang Claire maksud. Seluruh tubuhnya bergetar hebat menahan gemuruh rasa sakit yang kian bergejolak ingin meruntuhkan Arumi.
Saat ini. Tepat di hadapannya duduk seorang pemuda berambut brunette dengan mata cokelatnya yang selalu Arumi rindukan setiap hari seperti orang kehilangan akal. Pemuda itu tertunduk seolah tak berani menatap mata Arumi yang mulai menghunus tatapan tajam ke arahnya meminta penjelasan.
"Aru ! Ini dia calon suamiku. Namanya Leon Wyatt Wellington. Tampan bukan ?" Claire duduk di sebelah Leon sambil menggamit lengan pria itu dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Leon.
"A-aku permisi ke toilet sebentar." Kata Arumi sambil terburu-buru meninggalkan ruangan Nyonya Nastya. Ruang di dadanya tak cukup menampung semua rasa sesak karena melihat bagaimana mesranya Claire bersama Leon.
Claire tersenyum penuh kemenangan. Rencananya untuk membalas Arumi berjalan dengan sangat mulus.
Beberapa jam yang lalu di kediaman Leon
Duke Xander membuka pintu kamar Leon dan membuat pemuda yang sedang tiduran di atas sofa itu terkesiap.
__ADS_1
"Dad ? Ada apa ?" Tanyanya datar sambil kembali melanjutkan kegiatannya bermain PS sendirian.
"Claire ada di bawah. Ganti pakaianmu dan ikut dengannya fitting baju pengantin kalian !" Perintah Duke Xander tak kalah datar.
"Tidak. Aku tidak mau." Tolak Leon tegas.
"Jika kau tidak mau, maka Daddy akan menambah masa hukumanmu hingga satu bulan. Kau mau ?"
"Dad !"
"Kau boleh memikirkan keputusanmu dulu. Daddy beri waktu 15 menit. Jika dalam 15 menit kau tidak turun, maka Daddy anggap kau menyetujui untuk menambah masa hukumanmu." Kata Duke Xander yang tak dapat di bantah lagi.
Leon hanya mendengus kasar sambil meninju bantalan sofa di sampingnya. Jika sudah begini, maka lebih baik Leon menuruti permintaan Ayahnya untuk menemani Claire daripada harus menunggu 20 hari lagi demi bisa bertemu Arumi.
Tak memakan waktu banyak untuk bersiap. Sekitar 10 menit kemudian Leon sudah turun dengan mengenakan kemeja berwarna biru tua yang di padukan dengan celana jeans berwarna hitam.
Duke Xander hanya melirik putranya sekilas sebelum kembali fokus pada majalah bisnis yang sedang dia baca.
"Uncle, kami pamit !" Kata Clara dengan suara selembut mungkin. Pencitraan di depan calon mertua.
"Berhati-hatilah !" Pesan Duke Xander.
Sampai di butik yang di maksud Claire, Leon langsung terbelalak saat menyadari bahwa butik ini adalah butik tempat Arumi bekerja. Bagaimana ini ? Leon sudah meneguk susah payah salivanya. Dia benar-benar belum siap melihat ekspresi wajah Arumi jika gadis Asia itu mengetahui segala kebohongannya.
"Ayo masuk !" Ajak Claire sambil menarik tangan Leon yang masih mematung di depan mobil.
"Tidak. Aku sedang tidak berselera untuk bersandiwara bersamamu hari ini Jane. Lain kali saja." Tolak Leon sambil berbalik hendak naik ke mobil.
"Leon ! Kita sudah di sini. Kenapa justru kau malah ingin pulang ?" Tanya Claire sambil menahan tangan Leon.
"Aku tidak peduli !" Tegas Leon yang menghempas kasar tangan Claire dari lengannya.
"Jika kau berani pergi, maka aku akan mengadukan sikapmu pada Ayahmu." Ancam Claire bersungguh-sungguh.
"Apa-apaan kau ?"
"Aku serius Leon ! Kau tahu akibatnya jika Duke Xander tahu bukan ?" Tanya Claire sinis seraya melipat kedua tangannya di depan dada. Seringai licik jelas tersungging di sudut bibirnya.
"Ku bilang, aku tidak peduli !" Desis Leon yang sudah berhasil membuka pintu mobil.
"Pergilah jika kau sudah tidak ingin melihat sahabatmu lagi." Sahut Claire yang membuat gerakan Leon untuk menaiki mobil menjadi urung.
"Apa maksudmu ?"
__ADS_1