Senja Di Moorea

Senja Di Moorea
SDM#97


__ADS_3

Leon berusaha menyembunyikan kesedihannya. Pria itu tetap mencoba tegar di tengah badai perasaan sakit yang meronta hendak di lepaskan.


"Aru !" Leon tertunduk. "Aku dan Claire tidak jadi menikah. Aku bahkan sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi dengannya. Jadi, tolong ! Berhentilah menyiksaku seperti ini !" lanjut Leon.


Arumi begitu terkejut dengan pengakuan Leon. Untuk sesaat, hatinya yang mendung mendadak cerah saat Leon mengucapkan kata-kata itu. Akan tetapi, akal sehat gadis itu kembali. Bagaimana jika Leon lagi-lagi membohonginya ? Dulu, pemuda itu mengatakan tidak memiliki kekasih sewaktu mendekati Arumi. Dan, setelah Arumi memberikan hatinya, semua baru terungkap bahwa ternyata Leon sudah bertunangan bahkan akan menikah dengan Claire.


Ingatan itu masih membekas di hati Arumi. Ia takut kejadian yang sama akan terulang lagi. Bagaimana jika Leon ternyata sudah menikah dan hanya akan menganggap Arumi sebagai simpanan saja ? Demi apapun ! Arumi tidak ingin merendahkan dirinya dengan menjadi selingkuhan hanya karena dia begitu mencintai Leon.


"Aku tidak peduli. Pergilah dari sini ! Kisah kita sudah selesai, Leon ! Pulanglah ke negaramu ! Tidak ada apa-apa yang bisa kau dapatkan di negara ini !" kata Arumi yang berusaha melawan hatinya yang begitu merindukan sosok Leon.


"Kau dengar ? Aru sudah mengusirmu ! Pergi dari sini !" Irgi turut bersuara. Ia merangkul Arumi dengan mesra dan gadis itu terpaksa menerimanya tanpa keberatan meski sebenarnya ia sangat membenci hal itu.


"Aru ! Tolong jangan seperti ini !" Leon masih berusaha memohon.


"Leon !" Seorang pria menghampiri mereka. "Sudah cukup untuk hari ini. Ayo kita pulang !" Alarick yang sudah tidak tahan melihat Leon mengemis seperti itu di hadapan Arumi akhirnya turun dari mobil.


"Tidak, Rick ! Aku harus bicara dengan Aru !" tolak Leon dengan cepat.


"Leon ! s'il te plait, ne te gêne plus ! "(tolong jangan mempermalukan dirimu lagi !)


Alarick mulai berdialog dalam bahasa Prancis. Ia tak ingin pria yang berada di samping Arumi tahu isi percakapan mereka. Sementara, Alarick tahu bahwa Arumi sendiri tentu saja masih paham dengan bahasanya.


"Je m'en fiche, Rick ! Je ferai n'importe quoi tant qu'Arumi reviendra." (Aku tidak peduli, Rick ! Akan ku lakukan apapun asal Arumi kembali.) Leon bersikukuh pada pendiriannya.


Alarick mendengus kasar.


"Vous n'obtiendrez rien d'autre que le rejet aujourd'hui, Léon! Veuillez suivre ma parole !" (kau tidak akan mendapat apa-apa selain penolakan hari ini, Leon ! Tolong turuti kata-kataku !) ucap Alarick dengan sungguh-sungguh.

__ADS_1


Leon menghela napas berat. Ia menoleh menatap Arumi yang masih terlihat begitu marah. Tak lama kemudian, ia menganggukkan kepalanya dan mengabulkan permintaan Alarick.


"Pour cette fois, j'obéis à vos paroles. Mais rappelles-toi! C'est la première et la dernière fois, Rick !" (Untuk kali ini ku turuti perkataanmu. Tapi ingat ! Ini pertama dan terakhir kalinya, Rick !)


Leon melangkah cepat menuju ke mobil dan masuk ke dalam kursi penumpang bagian depan. Alarick menyusul beberapa saat setelahnya. Usai mobil Leon menjauh dari sana, Arumi segera melepas rangkulan tangan Irgi dari pundaknya. Mundur beberapa langkah dari mantan suaminya itu dengan tatapan penuh kebencian.


"Kak Irgi juga harus pergi dari sini !" usir Arumi.


"Aru ? Bukankah tadi kau bilang bahwa kau ingin kembali padaku ? Apa-apaan sikapmu ini ?" tanya Irgi dengan heran. Rasa senang yang baru beberapa saat yang lalu ia rasakan kini kembali menguap seketika.


"Apa Kak Irgi tidak sadar kalau aku hanya memanfaatkan kakak ?"


Irgi tertawa sumbang menanggapi kalimat sinis Arumi. Sejak kapan gadis polos yang ia kenal bisa berubah selicik ini dan memanfaatkan orang lain dengan tujuan tertentu seperti ini ?


"Jangan bercanda denganku, Aru ! Aku tidak suka !" geram Irgi dengan nada yang menahan amarah.


"Jangan mengungkit masa lalu, Aru !" ucap Irgi dengan tangan terkepal.


"Memangnya kenapa ? Apa yang salah dari semua itu, Kak ?" tanya Arumi menantang.


"Masuklah ! Aku akan pergi sesuai permintaanmu !" putus Irgi setelah beberapa saat terdiam demi meredam emosinya.


Arumi menuruti perkataan Irgi. Gadis cantik itu melangkah buru-buru masuk ke dalam butik tanpa melirik ke arah Irgi lagi bahkan sekali pun. Pria itu merasa bersedih sekaligus marah pada dirinya sendiri. Semua ini terjadi akibat ulahnya sendiri. Di tambah lagi, muncul pria lain yang sepertinya memiliki tekad yang sama dengannya dalam mendapatkan Arumi.


Siapapun pria itu. Dari mana pun asalnya. Irgi yakin bahwa pada akhirnya Arumi pasti akan kembali lagi dalan pelukannya dan bukan pada pria itu.


* * *

__ADS_1


Sepuluh hari berlalu. Arumi sedang berada di rumah sakit untuk menjenguk Jonathan yang kondisinya semakin membaik dari hari ke hari. 4 hari lagi, jika kondisinya benar-benar sudah stabil, Jonathan bisa kembali pulang. Tentu saja hal itu kabar yang sangat-sangat menggembirakan mengingat ia berencana untuk tinggal bersama Arumi dan memulai segalanya dari awal lagi.


"Ayah yakin kau akan suka dengan rumah baru kita, Aru !" ucap Jonathan tersenyum.


"Tentu saja ! Aru akan suka di manapun kita tinggal, Ayah !" balas Arumi tertawa. Ia masih setia menyuapi makan siang untuk ayahnya yang tak berhenti mengoceh tentang kehidupan baru yang akan mereka berdua jalani setelah ini.


Gugatan cerai Jonathan sudah di terima Katherine meski belum mendapatkan kabar lebih lanjut dari wanita itu. Namun, Jonathan sepertinya tidak terlalu peduli akan hal itu. Baik Katherine setuju atau tidak, perceraian itu akan tetap terjadi.


"Kau di sini rupanya ! Apa yang terjadi padamu ?" Katherine datang dan masuk begitu saja ke dalam kamar perawatan milik Jonathan bersama Beverly yang perutnya sudah semakin membesar. Mungkin, tak lama lagi perempuan itu akan melahirkan.


"Katherine ? Lily ? Kalian tahu darimana aku ada di sini ?" Jonathan terkesiap dengan wajah tak percaya. Ia tak menyangka bahwa dua wanita licik itu akan menemuinya di rumah sakit.


"Aku menyewa seseorang untuk melacak keberadaanmu ! Sebenarnya, apa yang terjadi ? Kenapa kau bisa di rawat di sini ?" Katherine mendekat dan membelai wajah Jonathan.


Pria itu berpaling dan menyingkirkan tangan Katherine dari wajahnya.


"Pergilah dari sini ! Kita sudah tidak memiliki urusan apa-apa lagi," kata Jonathan.


"Apa maksudmu ?"


"Bukankah kau sudah menerima surat cerai dariku ?"


"Aku menolaknya, Jo ! Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah mau menandatangani berkas perceraian itu !" tolak Katherine tegas.


"Ayah !" Senyum Arumi tenggelam saat ia membuka pintu dan melihat dua wanita yang paling melukai hatinya selama ini sudah berdiri di hadapannya.


"Kau ? Bagaimana bisa kau ada di sini ?" geram Beverly marah.

__ADS_1


__ADS_2