Senja Di Moorea

Senja Di Moorea
SDM#33


__ADS_3

"Terima kasih, Aru !" Claire mencium pipi Arumi singkat lalu bergegas keluar dari butik. Perempuan cantik itu berjalan keluar seraya mengenakan kacamata hitam yang sejak tadi dia bawa di dalam tasnya.


Salah satu dari dua bodyguard gadis cantik itu dengan sigap membukakan pintu mobil untuk nona muda mereka. Menunduk penuh hormat menunggu sang majikan masuk.


Sebelum masuk ke mobil, Claire masih melambaikan tangan pada Arumi. Tersenyum cantik menampilkan jejeran gigi putihnya yang rapi yang juga di balas Arumi dengan lambaian tangan dan senyum yang tak kalah menawan.


Setelah Claire pergi, Arumi kembali menutup pintu butik dan melanjutkan aktifitasnya kembali bekerja. Tak ada hal istimewa yang terjadi hari ini. Semua berjalan biasa-biasa saja hingga Arumi nyaris bosan.


Pria gagah berambut brunette yang biasanya datang sepulang Arumi bekerja, nampaknya hari ini juga tidak datang. Gadis itu bahkan sengaja pulang sedikit terlambat dengan harapan barangkali Leon akan muncul di detik-detik terakhir. Namun, hingga pukul 6 sore tak ada tanda-tanda pria itu akan muncul.


Arumi menggigit bibir bawahnya seraya tertunduk. Di liriknya jam yang melingkar di pergelangannya lalu memutuskan untuk pulang. Mungkin, Leon tak datang karena sedang sibuk. Setidaknya, itu hal paling optimis yang bisa Arumi percayai terlepas dari kemungkinan bahwa pria itu sudah menyerah dan memutuskan melupakan Arumi.


"Kenapa kau lemas begitu ? Habis di gigit vampir ?" Tegur Charlie yang sedang asyik membaca novel di ruang tamu ketika Arumi melintas hendak naik ke atas dengan wajah lesu khas orang kehilangan semangat.


Arumi berhenti di tempat. Di tengoknya Charlie yang mengangkat alis menunggu jawaban karena penasaran di atas sofa. Ia lalu merubah haluan langkahnya dan memilih duduk di sebelah sahabatnya itu.


"Ada apa, Aru ? Kau benar-benar habis di gigit vampir, hah ? Berapa banyak darahmu yang di hisapnya sehingga kau bisa selemas ini ?" Charlie menyikut Arumi yang duduk bersandar di sebelahnya.


"Jangan banyak bertanya hal yang tidak masuk akal, Charlotte." Tutur Arumi dengan mata terpejam.


"Charlie, Aru ! Charlie !" Ujar Charlie mengingatkan.


"Kalau bukan di gigit vampir, lalu kau kenapa bisa selemas ini ?" Lanjutnya.


"Entahlah ! Mungkin karena lelah." Jawabnya lemah.


Charlie mengangkat bahunya acuh. Kemudian membuka kembali halaman tebal buku novel yang dia baca dan seolah tak peduli pada hal yang menimpa Arumi.

__ADS_1


"Bilang saja ini karena kau menyesal sudah menolak Leon." Gumam Charlie nyaris tak terdengar.


"Apa katamu ?" Arumi mendesis galak. Matanya yang semula terpejam sudah terbuka kembali dengan tatapan horor melotot. Suara kecil Charlie rupanya masih bisa dia dengar meski tak begitu jelas.


"Apa ? Memangnya apa yang ku katakan ?" Tanya Charlie yang berpura-pura tidak tahu.


"Char, jangan memancingku."


"Memangnya kau ikan ? Untuk apa aku memancingmu ?" Charlie kembali mengangkat bahunya acuh. Matanya masih fokus pada novel 'Pride and Prejudice' yang sedang dia baca.


"Kau sedang memancing kekesalanku, Charlie ?"


Charlie menoleh sebentar, tersenyum pada Arumi sebelum merubah raut wajahnya menjadi datar dan kembali fokus pada novelnya.


"Untuk apa aku memancing kekesalan orang yang memang sudah kesal ? Jangan mengkambinghitamkan aku, Aru."


* * *


Leon menghela napas panjang. Pria berusia 25 tahun itu sudah terlihat begitu gagah dengan setelan jas formal berwarna hitam dengan dasi kupu-kupu dengan warna senada. Di sampingnya, duduk seorang perempuan cantik yang terlihat begitu bahagia dan sesekali menimpali pembicaraan tiga orang dewasa yang duduk bersama mereka menikmati makan malam bersama.


Ya, ada Claire bersama kedua orang tuanya yang sedang memenuhi jamuan makan malam Duke Xander malam ini. Ketiga orang tua itu terlihat begitu asyik membicarakan konsep pernikahan antara Leon dengan Claire yang sekitar dua bulan lagi akan di gelar besar-besaran. Tentunya, pernikahan ini akan menjadi salah satu pernikahan yang akan menjadi pusat perhatian satu negara. Karena, orang tua Claire sudah mengundang awak media untuk meliput pernikahan putri mereka setelah sebelumnya pesta pertunangan hanya di gelar secara rahasia.


Meski awalnya Duke Xander menolak karena pria itu memang tidak suka menjadi bahan pemberitaan, pada akhirnya dia menyetujui juga. Bukan karena dia luluh. Lebih ke arah karena Raphael Savich, ayah Claire sudah membagikan undangan pernikahan Claire pada awak media tanpa sepengetahuan Duke Xander.


"Leon, ajak Jane jalan-jalan ke taman ! Daddy dan orang tua Jane ingin membicarakan hal yang penting."


Leon yang sejak tadi hanya tertegun diam dan tak berniat bergabung dalam pembahasan mereka hanya mengangguk. Berdiri dan melangkah lebih dulu, sebelum di susul Claire di belakangnya.

__ADS_1


"Kau masih tidak terima pada perjodohan ini ?" Tanya Claire, sesaat setelah keduanya duduk di bangku taman yang di penuhi banyak aneka bunga yang indah.


Leon terkekeh sinis. " Bukannya kau sudah sangat tahu jawabannya ?"


"Apa kau benar-benar tidak ada niat untuk belajar mencintaiku, Leon ?" Suara Claire terdengar begitu lirih. Seolah-olah, itulah ungkapan hatinya yang sebenarnya.


"Tidak." Jawab Leon tanpa berpikir.


Hari Claire terasa mencelos pedih. Segitu tidak sukanya kah Leon padanya sehingga pria itu bahkan tanpa berpikir untuk menjawab pertanyaan Claire ? Leon bahkan tidak berpikir bahwa ucapannya bisa saja melukai hati Claire karena mendengarnya.


"Apa kau mencintai gadis lain, Leon ?"


Pertanyaan itu berhasil membuat Leon yang sedari awal enggan menatap wajah cantik Claire kini terfokus juga pada gadis itu.


"Haruskah ku jawab ?"


"Tentu saja. Aku berhak tahu."


"Aku rasa itu bukan urusanmu, Jane." Sinis Leon dengan seringai tipis.


"Tapi, aku tunanganmu."


"Tunangan yang di pilihkan ayahku. Bukan karena mauku." Bentak pria itu marah.


Leon muak mendengar kata-kata itu berulangkali dari mulut Claire. Tunangan ? Apa istimewanya kata-kata itu ? Bertunangan bukanlah lambang bahwa kau sudah memiliki orang itu sepenuhnya. Dan itu yang Leon rasakan sekarang.


Mungkin dia memang berstatus tunangan resmi Claire. Namun, pemilik hatinya tetap saja gadis asia yang ia temui di pulau Moorea dulu. Gadis yang sama, yang telah mematahkan hatinya sebanyak dua kali.

__ADS_1


Sementara Claire yang berdiri di sampingnya berusaha membuang muka. Berpaling dari pria yang sebentar lagi akan ia miliki tubuhnya karena ikatan pernikahan tapi sayangnya, tidak dengan hatinya. Claire tahu bahwa sudah ada nama gadis lain yang bertahta di hati calon suaminya. Dan, Claire berjanji akan mencaritahu siapa gadis yang lancang itu dan memberinya pelajaran setimpal karena sudah merebut pria yang hanya boleh menjadi miliknya.


__ADS_2