
"Apa ini, Lily ?" Irgi melempar kasar foto-foto milik Beverly bersama seorang pria bule tepat di wajah perempuan yang sedang asyik bersantai di atas ranjang itu. Beverly yang sedang dalam kondisi tak siap menerima amarah Irgi langsung reflek terbangun. Mendelik marah pada Irgi yang menatapnya penuh dendam.
"Apa-apaan kau ?" Teriak Beverly tak terima akan perlakuan kasar Irgi.
"Kau yang apa-apaan ? Siapa pria itu ?" Balas Irgi dengan suara yang tak kalah kencang. Jarinya menunjuk pada lembaran foto yang baru saja dia lempar dan kini nampak berserakan di atas tempat tidur.
Beverly mengikuti arah telunjuk Irgi. Sepersekian detik berikutnya, mata perempuan yang sedang hamil itu langsung membulat sempurna.
"Da-darimana kau dapatkan foto-foto ini ?" Tanya Beverly gugup.
"Kau tidak perlu tahu darimana aku mendapatkannya, Lily. Yang perlu aku tahu sekarang adalah apa hubunganmu dengan pria itu ?"
"Aku tidak memiliki hubungan apapun dengannya, Irgi. Sungguh !" Beverly segera berdiri, merangkul lengan Irgi yang langsung di tepis pria itu.
"Cukup membohongiku, Lily ! Aku sudah muak. Katakan yang sejujurnya ! Siapa pria itu ? Apa benar dia kekasihmu ?" Irgi kembali membentak. Rahang pria itu terlihat mengerat seiring luapan emosi yang kian menguasainya.
Beverly menyaksikan foto-foto dirinya yang berserakan di atas ranjang dengan tatapan geram. Kedua tangannya terkepal kuat. Otaknya tak habis pikir, darimana Irgi bisa mendapatkan foto-foto dirinya bersama dengan Matthew ? Terlebih lagi, semua foto itu adalah foto-foto mesra yang mustahil Irgi dapatkan jika tidak mendapat bantuan dari seorang ahli.
"Apa kau memata-mataiku ?" Pandangan geram Beverly kini beralih pada Irgi. Ia sudah bisa menduga bahwa Irgi selama ini pasti sudah mencari tahu tentang dirinya.
"Ya. Aku memata-mataimu." Angguk Irgi. Pria itu berkacak pinggang__menatap Beverly tak kalah geram.
__ADS_1
Tawa sinis lolos dari bibir Beverly. Perempuan itu kemudian duduk di kursi meja rias dengan kaki menyilang dan tangan yang di lipat di depan dadanya. Tatapannya masih saja tajam menantang Irgi. Tak ada rasa takut, apalagi rasa bersalah yang terpancar di wajah Beverly.
"Lalu, kenapa kau harus menanyakan hal yang sudah kau ketahui jawabannya, Sayang ? Bukankah harusnya kau sudah tahu ?" Beverly balas bertanya dengan alis terangkat. Percuma berdalih jika Irgi sudah tahu semuanya.
Satu-satunya pilihan yang tersisa pada posisinya yang kini sudah tersudut hanyalah mengaku. Toh, dia masih punya kartu As lain yang bisa dia mainkan untuk menekan Irgi.
Irgi ikut tertawa. Kepala pria itu menggeleng tak percaya akan kelakuan wanita yang sudah setengah mati ia perjuangkan namun nyatanya tak layak untuk mendapatkan itu semua.
"Jadi, Arumi benar bahwa kau dan orang tuamu sudah membohongiku tentang cerita yang sebenarnya terjadi di hari pernikahan kita dulu ?"
"Kalau iya, kau mau apa hah ?" Beverly menyeringai. Ucapannya terdengar begitu santai layaknya orang yang menganggap hal yang di lakukannya bukanlah perbuatan yang salah.
"Kau perempuan licik, Lily !" Geram Irgi dengan suara rendah. Telunjuknya mengacung menunjuk-nunjuk wajah tidak tahu malu Beverly.
"Lalu, apa yang akan kau lakukan pada wanita licik ini, Sayang ? Bukankah kau yang sangat ingin bersama wanita licik ini ?"
Irgi memalingkan muka dari hadapan Beverly. Pria itu memejamkan mata dan berusaha mengatur napasnya yang sudah naik turun. Seandainya saja Beverly sedang tidak mengandung darah dagingnya, maka Irgi bisa menjamin bahwa telapak tangannya pasti sudah memberikan bekas kemerahan di pipi putih Beverly.
"Kau sadar dengan yang kau lakukan selama ini, Lily ?" Irgi kembali berputar, menghadap Beverly yang masih terlihat begitu angkuh menghadapinya.
"Apa ?"
__ADS_1
"Selama kita menjalin hubungan, kau sudah mengkhianatiku. Dan yang lebih parah lagi, kau mengkambinghitamkan adikmu sendiri dan menjadikannya pelampiasan amarahku yang seharusnya tertuju padamu. Kau benar-benar perempuan tak berperasaan."
"Sekarang, kau menyalahkan aku ? Lucu sekali." Beverly terkekeh. " Kalau kau sedikit saja menaruh kepercayaan pada adikku yang malang itu, tentu kau tidak akan memperlakukannya seperti itu. Jangan menyalahkan aku untuk kesalahan yang kau perbuat sendiri."
Kembali Irgi ikut tertawa sinis. Perempuan yang sudah ia cintai secara membabi buta nyatanya tak lebih dari seorang penjahat tak tahu diri. Bagaimana bisa seorang kakak mengorbankan adiknya sendiri demi nama baiknya ? Belum lagi, Beverly seperti tak mau di salahkan dan malah memutar balikkan fakta seolah Irgi yang benar-benar bersalah dalam kasus ini.
"Itu semua karena kau dan orang tuamu yang sudah menipu aku, Lily ! Jika saja kalian tidak membuat drama penculikan itu, tentu saja aku tidak akan pernah berbuat hal jahat pada Arumi."
"Kau menyalahkan aku dan orangtuaku lagi ?" Beverly berdiri dari kursinya. Perempuan itu mendekati Irgi. Menepuk-nepuk pipi Irgi perlahan sambil tersenyum meremehkan.
"Ku pikir kau pria yang cerdas sayang." Lanjut Beverly.
"Apa maksudmu ?"
"Pakai otakmu !" Beverly menunjuk-nunjuk kepala Irgi. Membuat pria itu semakin bertambah geram terhadapnya. "Jika kau pintar, seharusnya kau tidak langsung mempercayai omongan kedua orang tuaku. Kau sudah mengenal Arumi lama. Apa menurutmu, gadis yang bahkan keluar rumah sekalipun sangat jarang bisa merencanakan penculikan sesempurna itu ? Darimana dia mendapatkan relasi untuk melakukan kejahatan sedangkan kita berdua sama-sama tahu bahwa teman saja dia tidak punya ?"
"Pakai otakmu untuk berpikir, Sayang !" Beverly lagi-lagi mengejek Irgi dengan tawanya. Perempuan itu kemudian mencium pipi Irgi singkat lalu keluar dari kamar itu meninggalkan Irgi dengan wajah merah padam.
"Sial !" Irgi menghela seluruh peralatan Make Up milik Beverly yang tertata rapi di atas meja rias menggunakan tangannya. Seketika, seluruh Make Up mahal itu terburai di lantai. Beberapa parfum mahal tampak pecah dan di abaikan oleh Irgi begitu saja yang saat ini sudah duduk di tepi tempat tidur sambil menjambak rambutnya frustasi.
"Aru ! Kau di mana ?" Teriak Irgi putus asa. Yang ingin di lakukannya kini hanyalah menemukan Arumi terlebih dulu. Memohon maaf sebesar-besarnya pada gadis itu dan memintanya untuk kembali. Irgi tak lagi peduli akan keberadaan Beverly. Dia hanya ingin jika bayinya lahir nanti, wanita yang akan merawat dan membesarkan bayi itu adalah Arumi dan bukannya Beverly.
__ADS_1
Bagi Irgi, Beverly tak pantas lagi berada di sisinya. Wanita itu tak lebih dari sekedar sampah yang harus ia jauhkan sejauh mungkin dari kehidupannya. Kini dia baru sadar. Dua tahun bersama Arumi cukup bagi gadis itu untuk mengambil hatinya yang dulu hanya bergetar karena Beverly.