Senja Di Moorea

Senja Di Moorea
SDM#73


__ADS_3

Usai mendengar cerita Ronald, Frederick memutuskan untuk menemui Leon. Sampai di depan kamar keponakannya itu, Frederick mengetuk pintu perlahan. Tak ada jawaban, sehingga Frederick memutuskan untuk masuk tanpa permisi.


Suasana kamar tidur yang luas itu begitu gelap. Frederick lalu menekan saklar lampu di dekat pintu dan menemukan keponakannya tengah meringkuk di atas tempat tidur dengan tatapan kosong.


"Leon ! Apa yang terjadi ?" tegur Frederick dengan nada prihatin.


Merasa tak asing dengan suara yang kini bertanya padanya, Leon memutuskan menoleh dan mendapati sosok Frederick tengah berdiri di tepi ranjang dengan wajah teduhnya yang bersahaja.


"Uncle !" pekik Leon yang langsung bangun dan memeluk Frederick dengan begitu erat.


"Hahahaha.... Jangan terlalu kencang, Son ! Aku tidak bisa bernapas," ujar Frederick tertawa.


"Maaf, Uncle ! Aku terlalu senang melihat Uncle ada di sini," ucap Leon meminta maaf sambil melepas pelukannya.


"Ada apa dengan wajahmu ? Kenapa kau terlihat begitu pucat ? Kau sakit ?" tanya Fred sembari menangkup wajah Leon. Berpura-pura tidak tahu apa-apa padahal dirinya sudah mengetahui semuanya dari Ronald.


Senyum Leon mendadak surut. Berganti dengan tatapan nanar yang begitu menggetarkan hati Frederick. Sejak kapan keponakannya yang terkenal sebagai pematah hati perempuan menjadi selemah ini ?


"Katakan, Leon ! Apa yang terjadi ?" Fred mendesak Leon bercerita dengan mulutnya sendiri. Ia ingin mendengar cerita lengkapnya dari sang narasumber langsung.


"Apa salah jika aku jatuh cinta pada perempuan yang bukan dari kalangan atas, Uncle ?" tanya Leon dengan tatapan sayu. Keputusasaan merasuk semakin dalam ke jiwanya. Hampir memporak-porandakan Leon hingga tak bersisa.


Frederick menghela napas. Jika di tanya siapa yang paling memahami perasaan Leon saat ini, maka itu adalah dirinya. Kenapa ? Karena kisah Frederick sama persis dengan kisah yang saat ini Leon alami. Jatuh cinta pada seorang gadis tanpa memandang status dan berakhir dengan terhalang restu dari orang tuanya dulu.


"Tidak. Kau tidak salah ! Tidak ada hal yang salah dan benar jika itu menyangkut urusan cinta, Leon !" Frederick mulai memasang wajah serius. Ia kemudian menuntun Leon untuk duduk di tepi ranjang dengan tangan yang merangkul bahu keponakannya itu. Lagi, pria dengan warna rambut yang sama dengan Leon itu menghela napas.


"Lalu kenapa aku harus melalui ini, Uncle ? Kenapa aku tidak bisa hidup bersama orang yang aku cintai ? Malah, sekarang gadis itu sudah pergi. Dia memilih kembali pada mantan suaminya di banding hidup bersamaku," tukas Leon frustasi. Pemuda itu menjambak rambutnya berulang kali sambil menangis.

__ADS_1


"Apa kau benar-benar mencintai gadis itu ?" tanya Fred lagi.


Leon mengalihkan tatapannya dari lantai menuju ke Frederick yang duduk di sampingnya. Pemuda berambut brunette itu tertawa sumbang.


"Apa menurut Uncle aku yang seperti ini tidak mencintainya ?" Leon balik bertanya.


Frederick tersenyum. Ia sudah tahu apa jawaban dari pertanyaan itu.


"Jangan khawatir ! Jika dia memang di lahirkan untukmu, maka dia akan tetap kembali padamu, Leon ! Yang namanya tulang rusuk, tidak akan pernah tertukar dengan milik orang lain. Kau mengerti ?" Fred menepuk keras pundak Leon.


Leon hanya mengangguk. Ia tak tahu harus bereaksi seperti apa. Dia ingin percaya pada perkataan pamannya, namun hal itu juga terdengar terlalu mustahil untuk bisa terwujud.


"Kau tidak mempercayai omongan Uncle ?" Fred menyenggol bahu Leon dengan bahunya.


"Apa hal itu mungkin jika kami sekarang bahkan sudah berbeda benua, Uncle ?"


"Dia berasal dari Asia, Uncle ! Tepatnya di sebuah negara yang bernama Indonesia !" jawab Leon.


Frederick terbatuk seketika. Pria itu tersedak ludahnya sendiri usai mendengar penuturan Leon. Indonesia, Leon bilang ? Astaga ! Itu terlampau jauh dari perkiraannya. Sia-sia nasehat kata-kata mutiaranya tadi. Yang namanya tulang rusuk yang terlanjur hanyut di bawa arus laut, tidak akan pernah kembali. Semua nasehat puitisnya tadi tidak ada gunanya. Bahkan, justru terdengar seperti lelucon.


Tapi, tunggu ? Apa kupingnya tidak salah dengar ? Leon bilang benua Asia kan tadi ? Oke. Kini Frederick sudah menemukan biang masalahnya. Bukan karena perbedaan kasta yang menjadi masalah utama dalam hal ini. Melainkan sesuatu yang lain.


"Kalau begitu, lebih baik kau lupakan saja dia," putus Frederick kemudian.


"Apa ? Apa Uncle sudah gila dengan menyuruhku melakukan hal itu ?" Leon menatap Fred nyalang.


"Mau bagaimana lagi ? Jarak antara kalian sudah terlampau jauh. Belum lagi, kau bilang wanita itu ingin kembali pada mantan suaminya kan ? Itu artinya, kau sudah tidak memiliki harapan," sahut Frederick santai.

__ADS_1


"Uncle ! Jaga bicara, Uncle !" Leon mendesis memperingatkan. "Tidak ada satu orang pun yang boleh memiliki Aru selain aku. Hanya aku yang mencintai dan di cintai Aru ! Bukan yang lain !"


"Itu alasan yang terlampau konyol, Leon ! Kau yang gila !"


"Ya. Aku memang sudah gila. Dan ku rasa, sebentar lagi aku juga akan mati, Uncle ! Hidup tanpa Arumi benar-benar menyiksa aku !" kata Leon putus asa.


"Baik. Terserah kau saja. Lakukan apa yang kau inginkan !" Frederick keluar dari kamar Leon. Tak ingin melanjutkan perdebatan ini lagi dengan keponakannya itu. Setelah menutup rapat pintu kamar Leon kembali, Fred melangkah menuju tangga dengan senyum miring di sudut bibirnya.


"Kau mendengarnya kan ?" tanya Frederick pada seseorang yang sudah menunggunya di dekat tangga.


Duke Xander berbalik menghadap sang kakak. Wajah pria itu masih tetap datar tanpa ekspresi.Aksi mengupingnya barusan, ternyata di ketahui oleh Frederick. Dasar detektif !


"Kau benar-benar akan membunuh putramu secara perlahan, Xander ! Apa kau yakin tak akan menyesalinya ?"


"Apa pedulimu, Fred ?" balas Duke Xander dingin.


"Dia keponakanku juga. Tentu aku peduli padanya. Apa salahnya jika kau merestui saja hubungan Leon dengan gadis itu ," ucap Fred tak kalah dingin.


Duke Xander mendengus kasar dan memilih melangkah menuruni tangga. Enggan melanjutkan perdebatan dengan Fred yang pastinya punya banyak peluru untuk membombardir dirinya.


"Ini bukan zaman kita lagi, Xander ! Harusnya, kau lebih bisa berbuat bijak kepada putramu di banding Daddy kita dulu !" teriak Frederick yang langsung menghentikan langkah Duke Xander.


Pria dingin itu berbalik menatap kakaknya dengan nyalang. Rahangnya mengetat menahan amarah.


"Tahu apa kau ? Apapun yang kulakukan sekarang itu semua demi kebaikan Leon ! Demi kebahagiaannya ! Kau yang hanya bisa berlari dari tanggung jawab di masa lalu tidak berhak mengomentari keputusanku," teriak Duke Xander tak terima.


"Oh ya ? benarkah ? Jadi sekarang kau ingin menyalahkan aku atas keputusan kelirumu sendiri ?" Fred jelas tak mau kalah.

__ADS_1


Duke Xander melengos. Ia memilih membuat telinganya seolah tuli dan kembali meneruskan langkahnya. Masa lalu itu sudah selesai. Tak ada gunanya kisah itu kembali di sangkut-pautkan dengan kejadian sekarang.


__ADS_2