
Frederick memperhatikan bagaimana sibuknya Duke Xander mempersiapkan segala hal yang berhubungan dengan pernikahan Leon yang akan di gelar secara mewah di taman belakang mansion tanpa berniat membantu sedikit pun. Pria itu hanya bisa menghela napas panjang, ketika mengingat kembali segala usahanya selama beberapa minggu belakangan untuk meyakinkan Duke Xander tak pernah sekali pun di gubris oleh adik keras kepalanya itu.
Duke Xander menatap Frederick yang tengah melihatnya dari atas tangga. Duke Xander tersenyum sinis. Mengisyaratkan bahwa pada akhirnya dialah yang berdiri terakhir sebagai seorang pemenang. Frederick pun menangkap maksud dari Duke Xander dengan sangat baik sehingga dia memutuskan untuk naik ke atas. Berniat untuk menghindar sekaligus menghampiri Leon yang sudah hampir dua hari tak kunjung keluar kamar.
"Leon ! Kau di dalam ?" Frederick mengetuk pintu kamar Leon.
"Leon ! Ini Uncle ! Buka pintunya untukku, Son !" teriak Frederick sedikit agak keras.
Fred lalu memutar knop pintu namun sepertinya terkunci dari dalam. Perasaan pria itu mulai sedikit khawatir. Takut jika ada apa-apa dengan Leon di dalam sana. Tidak biasanya Leon bertindak seperti ini. Kalaupun pintunya terkunci, pemuda itu pasti akan tetap menyahuti teriakan Frederick dan berkata bahwa dia masih hidup di dalam sana.
Frederick segera mencari keberadaan Ronald. Hanya kepala pelayan itu yang memiliki kunci duplikat setiap kamar dan ruangan di dalam mansion besar ini. Karena percuma jika ingin di dobrak. Pintu kokoh itu sudah di desain sedemikian rupa untuk menghindari kerusakan dari hal-hal semacam itu.
"Ronald !" Frederick berteriak ketika menemukan Ronald sedang berada di taman belakang. Menata kursi-kursi untuk tamu serta hiasan di setiap sudut pesta.
"Ada apa, Tuan Fred ?" Tanya Ronald bingung. Dapat ia lihat bahwa napas Frederick seperti terengah-engah karena terlalu banyak berlari.
"Aku membutuhkan kunci kamar Leon. Sekarang !" kata Frederick bersungguh-sungguh.
Menyadari kepanikan yang terpatri jelas di wajah Fred, Ronald segera melangkah terburu-buru menuju kamarnya.
"Ikut saya !" katanya pada Fred.
Frederick lalu mengikuti langkah Ronald dari belakang dengan wajah gelisah. Ia takut jika keponakan bodohnya itu akan melakukan hal yang tidak-tidak.
"Kalian mau kemana ?" Zack yang kebetulan berpapasan dengan keduanya bertanya heran.
__ADS_1
"Ikut kami, Zack !" ajak Frederick tanpa menghentikan langkahnya.
Zack segera menurunkan pot bunga yang sedang ia bawa. Meneriaki salah seorang bodyguard untuk menggantikan tugasnya membawa pot bunga itu ke taman belakang sementara dirinya sudah berlari mengejar Frederick dan Ronald.
"Apa ada masalah, Uncle ?" tanya Zack bingung.
"Adik bodohmu tidak menyahut sejak tadi ketika ku panggil. Pintu kamarnya juga terkunci dari dalam. Uncle takut jika si anak manja itu melakukan hal bodoh !" tukas Frederick menjelaskan.
Zack dan Ronad yang sama-sama mendengarkan penjelasan Frederick ikut merasa gelisah. Ronald pun masuk ke dalam kamarnya. Mengambil kunci cadangan kamar Leon dan bergegas berlari naik ke atas. Pun, dengan Zack dan Fred. Kedua laki-laki itu berusaha menyetarakan langkah mereka dengan langkah Ronald.
"Cepat sedikit, Ronald !" kata Frederick ketika melihat Ronald yang sedang berusaha mencari-cari yang mana kunci kamar Leon dari sekian banyaknya anak kunci yang berada di tangannya.
Tak lama kemudian, pintu kamar itu akhirnya terbuka. Hal pertama yang menyapa mereka adalah bau alkohol yang begitu sangat menyengat di indra penciuman mereka. Frederick masuk lebih dulu. Memeriksa setiap sudut kamar dan akhirnya menemukan Leon sudah terkapar di lantai mini bar yang berada di dalam kamar pemuda itu. Mini bar tersebut tersembunyi di balik rak buku. Dan jika kita menekan sebuah tombol yang ada di dinding, ruangan tersebut akan berputar dan bertukar posisi. Rak buku akan bersembunyi dan bar mini tersebut akan keluar.
"Astaga, Leon !" pekik Fred seraya mengangkat kepala Leon.
"Kau minum berapa banyak, Anak Bodoh ?" geram Frederick khawatir.
Perlahan, tangan Leon terlihat bergerak. Suara erangan khas orang mabuk terdengar dari mulutnya. Ketiga orang itu bernapas lega karena Leon akhirnya sadar juga.
"Apa kau ingin bunuh diri, Anak Bodoh ?" tanya Fred dengan nada kesal.
Mata Leon terbuka. Ia tersenyum menanggapi pertanyaan dari pamannya. Lalu, sepersekian detik berikutnya pemuda itu muntah.
"Howeekkk..." Darah segar keluar dari dalam mulut Leon.
__ADS_1
"Leon ! Kau tidak apa-apa ?" tanya Zack panik. Ia sudah menyeka mulut Leon dengan cardigan rajut miliknya, namun muntahan darah itu belum juga berhenti.
"Howeekkkk...." Leon muntah lagi. Namun, kali ini volumenya jauh lebih banyak.
"Leon ! Apa yang terjadi ? Ku mohon ! Jangan muntah lagi," ucap Zack yang memohon dengan mata berair.
Leon kembali tersenyum dengan mata yang mengalirkan air mata. Rasa sakit pada perutnya yang bagai di iris-iris di dalam sana tetap tak sebanding dengan rasa sakit karena kehilangan Arumi yang ia rasakan. Tak lama kemudian, Leon kembali tak sadarkan diri.
"Bantu aku ! Kita harus segera membawanya ke rumah sakit," ucap Frederick.
"Naikkan Leon ke punggungku, Uncle ! Biar aku yang menggendongnya sampai ke mobil !" Zack menghapus air mata yang keluar kemudian berjongkok membelakangi orang-orang itu.
"Tuan Muda Zack ! Anda yakin sanggup membawa tubuh Tuan Muda Leon seorang diri ?" tanya Ronald memastikan. Menurutnya, menggotong tubuh Leon bersama-sama akan jauh lebih mudah.
"Naikkan saja, Ronald !" ucap Zack dengan nada setengah kesal. "Berdebat di sini hanya akan semakin membuang waktu. Leon butuh pertolongan secepatnya," lanjutnya lagi.
Frederick membangunkan Leon dengan di bantu Ronald. Mereka meletakkan pemuda bersurai brunette itu di punggung Zack lalu membantu Zack untuk berdiri.
"Hati-hati, Zack !" kata Frederick mengingatkan. Zack mengangguk dan berjalan cepat dengan menggendong adik tirinya di belakang punggungnya. Frederick memimpin jalan. Berteriak di tengah tangga untuk menyuruh seseorang menyiapkan mobil.
"Siapkan mobil sekarang ! Tuan Muda kalian sedang sekarat !" teriak Frederick. Salah seorang supir dengan tanggap langsung berlari ke garasi untuk mengeluarkan mobil. Sementara Duke Xander masih terdiam di tempatnya. Mematung menyaksikan Zack membawa Leon di belakang punggungnya dengan mulut bersimbah darah melewatinya.
Frederick berhenti sebentar di hadapan adiknya. Dengan tatapannya yang tajam tak seperti biasa, Fred berkata tepat di depan wajah Duke Xander.
"Tidak akan ada acara pernikahan dalam dua hari ke depan. Berdoa saja, semoga pesta yang sudah kau siapkan jauh-jauh hari, tidak akan berubah menjadi upacara pemakaman."
__ADS_1
Duke Xander terpundur mendengar ucapan frontal kakak kandungnya yang sekarang sudah kembali berjalan menyusul Zack dan Leon. Pria datar nan dingin itu mengikuti setiap langkah Fred melalui sepasang matanya yang mulai berair. Ada apa dengan Leon ? Apa yang terjadi pada putranya ?