
Inessa masih berusaha memproses perkataan Duke Xander yang baru saja memasuki indra pendengarannya. Ia tak percaya kalimat itu akan keluar dari mulut Duke Xander.
"Apa yang anda katakan barusan ?" tanya Inessa untuk mengkonfirmasi apa yang baru saja ia dengar.
"Aku bilang, aku akan memasukkan nama Leon ke daftar keluargaku secara hukum sekaligus akan mengakui keberadaannya sebagai putra sahku di depan media," ucap Duke Xander mengulang kata-katanya.
"Ta-tapi kenapa ?" tanya Inessa yang masih kesusahan mencerna setiap perkataan Duke Xander.
Duke Xander menghela napas berat. "Aku baru sadar bahwa tingkah lakuku selama ini sudah sangat keterlaluan. Untuk itu, aku ingin meminta maaf kepadamu dan juga Zack. Aku hanya ingin memberikan Zack apa yang seharusnya menjadi miliknya meski dia tidak akan bisa mendapatkan gelar kebangsawanan karena bukan anak dari hasil perkawinan yang sah seperti Leon," ucapnya panjang lebar.
Mata Inessa sudah berkaca-kaca. Demi apapun, ia sangat bahagia karena pada akhirnya Duke Xander mau mengakui Zack sebagai putranya.
"Cukup dengan anda mengakuinya sebagai anak saja, sudah sangat cukup bagi saya. Terima kasih banyak, Duke !" ucap Inessa penuh dengan rasa syukur sembari mengusap air matanya yang sudah lolos dan membasahi pipi putihnya. Perempuan itu benar. Ia tak meminta harta Duke Xander sepeser pun baik dulu maupun sekarang. Wanita baik itu hanya ingin putranya mendapat pengakuan dari ayah kandungnya sendiri. Berharap, agar putranya bisa merasakan kasih sayang dari Duke Xander yang tentu saja berbeda dari kasih sayang yang ia beri sebagai seorang ibu.
"Aku akan mengajak Zack untuk pindah ke mansionku. Apa kau keberatan untuk itu ?" tanya Duke Xander sedikit tidak enak.
"Tidak. Tidak sama sekali, Duke !" geleng Inessa cepat. Untuk apa ia keberatan ? Inessa justru senang karena itu berarti bahwa Duke Xander benar-benar sudah menerima Zack sepenuhnya.
"Tapi, Mom ! Mommy akan tinggal sendirian jika aku pindah. Apa aku bisa tetap di sini saja, Dad ?" tanya Zack seraya menggenggam tangan Inessa.
"Tidak apa-apa, Zack ! Kau tinggallah bersama ayahmu ! Jika kau merindukan mommy, kau masih bisa kemari untuk menginap sesekali," bujuk Inessa seraya mengelus wajah tampan sang putra.
"Bagaimana, Zack ?" Duke Xander bertanya memastikan keputusan Zack.
"Baiklah !" angguk Zack kemudian.
* * *
"Bagaimana, Aru ? Apa butiknya ramai tadi siang ?" tanya Devan penasaran. Saat ini, dirinya bersama dengan Selina sedang makan malam di apartemen Arumi.
"Ya. Lumayan. Ini semua berkat Selina juga. Jika bukan karena dia yang memakai baju buatanku dan mempromosikannya di IG, tentu pelangganku tak akan sebanyak itu," jawab Arumi tersenyum.
"Itu juga karena pakaian rancanganmu yang memang bagus, Aru ! Aku saja suka memakainya," imbuh Selina yang masih lahap memasukkan steak daging ke dalam mulutnya.
"Pelan-pelan makannya, Sayang !" tukas Devan sambil mengelap sudut bibir Selina yang terkena saus dengan ibu jarinya.
"Terima kasih," kata Selina.
__ADS_1
"Jangan bermain romantis-romantisan di depan jomblo sepertiku !" Arumi berkata mengingatkan.
Devan dan Selina saling berpandangan sebelum kompak menertawakan Arumi.
"Makanya, kau juga harus segera membuka pintu hatimu untuk seseorang yang baru, Aru !" ujar Devan yang masih belum bisa meredakan tawanya.
"Entahlah ! Rasanya, untuk sekarang, aku masih belum ingin," jawab Arumi sembari mengangkat kedua bahunya.
"Kau masih belum bisa melupakan pemuda Prancis itu, Aru ?" tanya Selina dengan tatapan polosnya.
"Pemuda Prancis ? Yang mana ?" Devan memiringkan posisi duduknya. Mendesak Selina untuk menceritakan sebuah kisah yang sepertinya tidak ia tahu.
"Kau tidak perlu tahu," jawab Selina sumringah.
"Aru ? Siapa yang di maksud Selina ? Bukan Irgi, 'kan ?" Rasa penasaran Devan sudah mencapai ubun-ubun.
"Bukan, Kak !" jawab Arumi tersenyum.
"Lalu ?" Devan masih mendesak.
"Hanya seseorang yang sudah resmi menjadi milik wanita lain," terang Arumi singkat.
"Sudahlah ! Lanjutkan saja makannya ! Jangan desak Arumi untuk bercerita lagi !" sahut Selina menengahi ketika melihat sinar di wajah Arumi mulai meredup. Selina tahu bahwa Arumi pasti sangat sedih karena sekali lagi cintanya kandas di tengah jalan.
"Tadi siang aku tidak sengaja bertemu dengan Irgi," kata Devan yang sudah mulai mengganti topik pembicaraan.
"Oh ya ?" Mata Arumi terbelalak tak percaya.
Devan mengangguk. "Dia baru saja kembali dari Paris. Dan katanya, Darius mengatakan bahwa pria itu pernah bertemu denganmu, di sana," terang Devan.
"Lalu ?"
"Irgi mendatangi tempatmu bekerja dulu selama di Paris dan orang-orang mengatakan bahwa kau sudah kembali kemari."
"Apa kak Devan memberi tahu di mana keberadaanku ?" tanya Arumi yang mulai gusar. Ia tidak ingin bertemu dengan Irgi lagi.
"Tidak. Untuk apa aku mengatakannya ? Dia bilang, dia akan mencarimu ke rumah Ayahmu besok ! Irgi mengira bahwa kau masih tinggal di sana !"
__ADS_1
Arumi memejamkan mata seraya menggigit bibir bawahnya. Jika Irgi mencari dia ke rumah Jonathan, maka hal itu secara tidak langsung akan membuat Jonathan, Katherine, dan Beverly tahu bahwa dirinya sudah kembali ke Indonesia.
"Jangan cemas ! Aku yakin mereka tidak akan menemukanmu !" ujar Selina menenangkan.
"Mudah-mudahan saja," ucap Arumi penuh harap.
* * *
" Di mana Arumi ?" Irgi menerobos masuk ke kediaman keluarga Liem dan melewati Beverly berserta ibunya yang masih kebingungan dengan kedatangannya yang tiba-tiba.
"Kenapa kau mencari Arumi kemari ? Bukannya gadis sialan itu sudah menghilang ?" tanya Katherine bingung. Ia berusaha mencegat Irgi untuk menggeledah rumahnya namun sepertinya sia-sia.
"Jangan bohong ! Aku tahu kalau kalian pasti menyekap Arumi di suatu tempat, bukan? Katakan dimana tempatnya ?"
Irgi masih berjalan terburu-buru dan membuka setiap pintu ruangan di area lantai satu kediaman keluarga Liem sembari memanggil-manggil nama Arumi.
"Apa yang sedang kau cari, Irgi ? Kenapa kau menggeledah rumahku seenaknya seperti itu ?" Jonathan datang dengan wajah yang kurang bersahabat. Tentu saja semua itu karena ia mengetahui sikap tidak sopan Irgi dari salah satu asisten rumah tangga yang bekerja di sana.
"Aku hanya ingin mencari Arumi, Om !" jawab Irgi dengan suara datar.
"Arumi ?Apa maksudmu dengan mencari Arumi di rumah ini ? Apa putriku sudah kembali ?" Mata Jonathan berpendar bahagia.
"Apa Arumi benar-benar tidak ada di sini ?" tanya Irgi memastikan. Menilik ekspresi yang di tampilkan oleh mantan ayah mertuanya, ia percaya bahwa Jonathan tidak mungkin berbohong.
"Darimana kau tahu bahwa Arumi di sini ?" Jonathan balik bertanya.
"Kemarin aku baru kembali dari Paris. Dan di sana, aku memperoleh informasi bahwa Arumi sempat tinggal di sana namun sekarang sudah kembali kamari."
"Apa kau yakin ?" Jonathan mendekat dan memegang kedua lengan Irgi tak percaya.
Irgi mengangguk ragu.
"Syukurlah ! Akhirnya, putriku sudah di sini lagi," ucap Jonathan dengan perasaan lega luar biasa.
Nyonya Katherine dan Beverly saling berpandangan geram. Kabar buruk bagi mereka jika Arumi kembali. Mereka tidak ingin gadis itu tinggal di rumah ini lagi. Mereka tidak ingin Arumi menjadi bagian dari keluarga Liem lagi.
"Baiklah ! Aku juga akan mencari Arumi kalau begitu !" kata Jonathan kemudian. Ia sudah tahu bahwa dirinya punya banyak salah kepada Arumi. Ia telah melukai hati putrinya itu begitu banyak demi mempertahankan dua wanita yang ternyata sudah memperdaya dirinya selama ini.
__ADS_1
Belakangan Jonathan tahu bahwa Beverly bukanlah anak kandungnya. Namun, meski begitu ia masih belum memberitahu hal itu baik kepada Beverly ataupun Katherine. Rahasia itu akan ia jadikan senjata mematikan untuk membunuh dua wanita itu suatu hari nanti. Kini, Jonathan hanya tinggal menunggu waktu itu untuk tiba.