
Setelah memperoleh hal yang cukup membuat Duke Xander syok berat dari Frederick, pria dingin itu memutuskan untuk kembali ke mansion. Ia lalu bergegas menuju ke kamarnya untuk mandi dan menuju ke ruang baca hanya dengan mengenakan jubah mandi untuk merenung di sana.
Beberapa menit kemudian, suara ketukan pintu terdengar dan menampilkan sosok Ronald dengan secangkir teh hijau di tangannya. Ia pun meletakkan teh tersebut di hadapan Duke Xander sebelum permisi untuk keluar kembali.
Duke Xander memijit ujung pelipisnya. Ia merenungi setiap perkataan yang tadi keluar dari mulut Frederick. Apa benar bahwa dia memaksa Leon untuk menikah dengan Claire hanya karena ingin putranya merasakan penderitaan yang dulu pernah ia rasakan ? Alih-alih membuat putranya bahagia, ia justru menjerumuskan putranya ke lembah penderitaan yang bahkan jauh lebih menyakitkan dari dirinya dulu.
Untuk sesaat, pikiran Duke Xander kini membawa pria itu kembali ke masa lalunya. Mengingat segala kenangan kelam yang dulu pernah singgah di hidupnya. Hingga pada akhirnya, ia tak hanya melukai satu wanita saja di masa itu, melainkan tiga wanita sekaligus. Greysha, Inessa dan Yuka. 3 perempuan yang berputar di hidupnya yang ia hancurkan dalam semalam.
Pada masa itu, sekitar 28 tahun yang lalu, Duke Xander memutuskan untuk kawin lari bersama dengan Yuka, gadis yatim piatu asal jepang yang ia cintai. Ia ingin mengikuti jejak sang kakak, Frederick yang sudah lebih dulu melakukannya dan ternyata berhasil. Namun, di tengah jalan Duke Xander berputar arah. Memikirkan bagaimana ia akan hidup susah saat keluar dari rumah, membuat ia urung untuk melakukan pelarian itu.
Malam itu, ia menjumpai Yuka di bandara yang sudah menunggunya selama hampir 2 jam. Gadis itu tersenyum menyambut kedatangan kekasih hatinya di saat pertama. Namun, detik berikutnya Yuka harus menelan pil pahit. Xander Syre Wellington baru saja mengatakan bahwa ia setuju untuk menikahi Greysha. Gadis pilihan orangtua pria itu dan meminta Yuka untuk pergi sendiri. Meski, Xander sudah mengatakan bahwa akan datang mencarinya suatu hari, namun Yuka tak ingin mendengar apapun lagi. Cukup ia tahu bahwa kekasihnya ternyata tak sebesar itu dalam memperjuangkannya.
Dengan perasaan hancur, Yuka akhirnya kembali ke jepang sendirian dengan membawa hatinya yang patah dengan susah payah.
Hancur Yuka, hancur pula pemuda yang bernama Xander itu. Pada malam yang sama, dengan keadaan mabuk berat, ia menodai sekeretarisnya sendiri yakni Inessa dan meminta perempuan itu untuk menggugurkan kandungannya jika ia tidak sengaja hamil karena perbuatan khilafnya. Tanpa perkataan maaf sedikit pun, ia meninggalkan Inessa di pagi hari tanpa peduli pada rasa sakit yang di derita Inessa karena ulahnya.
Sementara, Greysha yang menjadi calon istrinya juga tahu di malam yang sama bahwa calon suaminya tak mencintainya sebesar ia mencintai pria itu. Greysha mengikuti Xander sampai ke bandara dan mendengar semua perkataan Xander kepada Yuka yang mengatakan bahwa akan menceraikan Greysha tepat di usia pernikahan ke satu mereka nanti. Hati Greysha hancur sejak malam itu dan semakin bertambah hancur saat tahu bahwa Xander ternyata menghamili Inessa, sekretarisnya sendiri.
Hari-hari pun berlalu dengan sangat cepat. Greysha memantapkan hati untuk tetap tegar di hari anniversary pernikahannya yang ke satu bersama Duke Xander. Namun, perkataan cerai tak kunjung keluar dari mulut Duke Xander. Hingga, belakangan Greysha tahu bahwa Yuka ternyata sudah menikah dan menolak untuk kembali bersama Duke Xander. Entah harus bahagia atau justru ikut bersedih dengan patah hati yang di alami sang suami, Greysha tetap berusaha menjadi istri yang baik bagi Duke Xander. Berusaha menjadi wanita paling kuat hingga penyakit yang merenggut nyawanya datang tanpa ada satu pun keluarganya yang tahu. Greysha meninggalkan putranya dan suami yang sangat ia cintai dengan perasaan sedih. Sedih karena cintanya sampai detik terakhir tak pernah mendapatkan balasan.
* * *
"Ayolah, Leon ! Kau harus makan !" bujuk Zack putus asa.
Pemuda yang masih terbaring di ranjang rumah sakit tak mengindahkan permohonan Leon. Ia masih keras kepala untuk menyiksa dirinya sendiri.
"Son ! Makanlah ! Kau benar-benar bisa mati jika terus begini !" imbuh Frederick.
__ADS_1
Leon masih bergeming. Sikap keras kepalanya benar-benar mirip seseorang yang begitu ia kenal.
"Kau harus makan, Leon ! Jika kau tetap lemah seperti ini, bagaimana bisa kau menyusul gadis asia itu ke negaranya ?" Suara bariton Duke Xander yang baru tiba membuat semua orang tersentak tak percaya. Termasuk pemuda yang terbaring di atas brankar.
"Apa maksud Daddy ?" tanya Leon tak percaya.
"Apa perlu Daddy ulangi ? Kau tahu bukan, kalau Daddy paling tidak suka jika harus mengulang kata-kata ?" ucap pria datar itu sembari berjalan mendekat.
"Apa aku dan Claire batal menikah ?" tanya Leon ragu-ragu. Ia takut jika ayahnya hanya meminta ia untuk menjadikan Arumi simpanan. Seperti rencana gilanya selama ini yang mustahil untuk bisa terwujud.
"Ya. Daddy sudah membatalkan pernikahan itu," angguk Duke Xander meyakinkan.
"Tapi kenapa ?" Seolah mendapatkan kekuatan yang bersumber dari mana, Leon bangkit dan memaksakan diri untuk duduk. Zack yang melihat itu segera berinisiatif menaikkan sandaran brankar Leon hingga adiknya itu bersandar dengan nyaman.
"Tidak kenapa-kenapa. Hanya saja, Daddy baru sadar bahwa sikap Daddy selama ini sudah keterlaluan terhadapmu ! Maafkan Daddy !" Duke Xander tertunduk penuh penyesalan.
"Daddy tidak sedang mempermainkan aku, bukan ?" tanya Leon memastikan.
"Thanks, Dad !" ucap Leon bahagia. Duke Xander membalas pelukan itu tak kalah erat. Perasaan bahagia ikut memenuhi rongga dadanya. Mengangkat semua beban yang selama ini menggunung di dalam hati.
Zack mundur dan bergabung bersama Frederick di dekat sofa. Berdiri di sana dengan perasaan haru luar biasa. Andai saja, ia juga bisa mendapatkan pelukan seperti itu dari Duke Xander.
"Ayolah, Zack ! Jangan bermimpi !" suara hati pemuda itu memperingatkannya untuk tidak terlalu berharap.
"Kau tidak ingin bergabung dengan mereka ?" Frederick menyenggol bahu keponakan sulungnya.
"Tidak, Uncle !" geleng Zack sambil tersenyum kecut. Sungguh ! Dia sangat ingin. Namun, ia juga tahu bahwa Duke Xander tak akan mau melakukan itu.
__ADS_1
"Zack, kemarilah !" panggil Leon yang membuat Zack tersentak.
"Ha ?" jawabnya bingung.
"Kemarilah ! Daddy juga ingin memelukmu !" ucap Leon tersenyum.
Zack menatap Duke Xander meminta kepastian. Namun, pria datar itu justru menatap Leon dengan tatapan yang seolah menyiratkan nada protes. Zack kembali tertunduk sedih. Mimpi tetap hanya mimpi.
"Kemarilah !" suara datar nan dingin itu berseru hingga membuat Zack lagi-lagi tersentak tak percaya.
"Cepatlah ! Sebelum aku berubah pikiran !" ucap Duke Xander lagi. Kedua tangannya terbuka, menanti kehadiran Zack untuk masuk di dalamnya.
Zack sudah meneteskan air matanya dan segera berlari memeluk ayahnya itu. Mendekap dengan erat sambil menangis tersedu-sedu. Duke Xander menepuk punggung Zack dengan halus. Matanya ikut berkaca-kaca merasakan sebesar apa pemuda itu merindukannya. Rasanya begitu sesak. Kenapa ia bisa sebodoh itu selama ini ? Kenapa dia membiarkan putra sebaik Zack tumbuh tanpa kasih sayang darinya ? Inessa sungguh wanita yang hebat. Ia sudah membesarkan Zack dengan baik selama ini. Menjadikan putra mereka pria yang baik dan berhati begitu tulus.
Frederick ikut merasa terharu. Ia menaikkan kedua jempolnya untuk Duke Xander sebelum keluar dari ruangan itu. Fred ingin agar Duke Xander menikmati waktu berharga bersama anak-anaknya yang selama ini sudah banyak terlewat.
"Maafkan Daddy, Zack !" lirih Duke Xander dalam.
Pemuda yang ia peluk masih menangis tersedu-sedu. "Aku merindukan, Daddy ! Terima kasih karena sudah mau memelukku, Dad !" ucapnya dengan susah payah.
"Maafkan, Daddy karena baru melakukannya sekarang !" Duke Xander kian mengeratkan pelukannya ke tubuh bergetar Zack. Ia tak menyangka bahwa Zack ternyata merindukannya sampai sedalam ini.
Setelah semua berhasil menguasai perasaan masing-masing, kini Zack sudah menyuapi Leon yang makan dengan begitu lahap. Duke Xander yang menyaksikan itu benar-benar begitu sangat lega. Dua putranya bisa hidup dengan akur dan saling menyayangi satu sama lain meski sama-sama tahu kisah sedih di balik persaudaraan mereka.
"Kita akan ke apartemen untuk menemui ibumu, Zack ! Ada sesuatu yang harus Daddy bicarakan dengannya," ucap Duke Xander kemudian.
"Tentang apa, Uncle ?"
__ADS_1
"Daddy, Zack !" ujar Leon menyela seraya menoyor kepala Zack. Duke Xander hanya tersenyum kecil menanggapi.
"Nanti saja kau tahu," kata Duke Xander mengakhiri pembicaraan.